
"Anda siapanya Ravindra ya?" tanya miss Xena, takutnya Ravindra akan diculik, karena sekarang lagi banyak kasus penculikan anak. Walaupun tadi ia sempat terkesima dengan wajah blasteran Jean yang sangat mencolok.
"Saya Jean, ayah dari Ravindra." Jean memperkenalkan diri pada miss Xena.
"Oh pantas saja wajah anda sangat mirip dengan Ravindra. Saya Xena, gurunya Ravindra," ujar miss Xena tersenyum genit. Jean hanya menanggapi dengan senyuman tipis, ia sudah kebal berhadapan dengan wanita seperti miss Xena.
"Kalau begitu kami permisi dulu Miss," pamit Jean.
"Ayo nak, kita pulang." Jean menggandeng tangan Ravindra.
"Bye Miss, bye Ning-ning." Ravindra melambaikan tangan ke arah miss Xena dan Ning-ning.
"Bye-bye Lavin dan om Jean," balas Ning-ning tersenyum lebar.
Mereka berdua berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Daddy kita mau kemana?" tanya Ravindra.
"Ravin maunya kemana?" tanya balik Jean melirik sekilas Ravindra lalu kembali fokus ke jalanan. Ravindra mengetuk-ngetuk kan jarinya di dagu seperti orang berpikir.
"Ravin mau beli mainan, boleh?" pinta Ravindra.
"Tentu saja boleh, nak. Mau beli mainan apapun atau sekalian toko mainannya pun Daddy akan belikan untuk Ravindra," ujar Jean.
"Kata Mommy, kita tidak boleh boros. Harus hemat biar nanti jadi orang kaya," ucap Ravindra polos. Jean langsung terkekeh geli mendengar ucapan putranya. Walaupun ia membelikan gedung mainan sekalipun untuk Ravindra, uang Jean tidak akan pernah habis.
"Iya nak, maafkan Daddy. Memangnya Ravin mau beli apa, hem?" tanya Jean lembut.
"Ravin mau robot Black Widow sama Hulk. Kemarin Ravin punya, tapi adek Ken rusakin mainan Ravin. Ravin tidak suka sama adek Ken!" jelas Ravindra cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, terlihat sangat menggemaskan.
Jean tersenyum. "Tidak boleh marah sama adiknya, mungkin adek Ken tidak sengaja," ujarnya sambil mengelus kepala Ravindra dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang stir mobil.
"Gimana kalau kita jemput adek Ken, biar Ravin sekalian beli mainan sama adiknya?" Tawar Jean.
"Boleh Dad," jawab Ravindra manggut-manggut.
Jean pun mengendarai mobilnya menuju mansion kakek Wang. Jean sudah tak sabar ingin bertemu dengan putranya yang satu lagi.
Beberapa saat kemudian tibalah mobil Jean di pekarangan mansion kakek Wang. Jean berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Ravindra.
"Ayo Dad, kita masuk!" Dengan semangatnya Ravindra mengajak Jean untuk masuk ke mansion kakek buyutnya sambil menggandeng tangan sang daddy.
"Iya nak," balas Jean tersenyum.
"Ken!" teriak Ravindra, suaranya menggema di mansion tersebut.
__ADS_1
Kendrick dan nenek Putri yang tengah menyuapi cicitnya itu langsung berjalan menghampiri Ravindra. Langkah mereka berdua langsung terhenti saat melihat seseorang yang sangat familiar bagi mereka. Terutama nenek Putri yang langsung speechless sampai makanan Kendrick yang ia pegang terjatuh berserakan di lantai.
"Nak Jean," lirih nenek Putri. Jean tersenyum dan segera menghampiri nenek Putri.
"Halo, Nek. Apa kabar?" sapa Jean seraya menyalami nenek Putri.
"Nenek baik. Kalau kamu apa kabar nak?" tanya nenek Putri dengan nada bergetar menahan tangis, ia tak menyangka akan bertemu dengan Jean setelah sekian lama.
"Aku juga baik, Nek," jawab Jean tersenyum. Ia beralih menatap ke arah bocah kecil seperti jiplakan dirinya sewaktu kecil, jika mommy Zia dan Daddy Marvin melihat Kendrick pasti mereka akan sangat heboh.
"Hai nak," sapa Jean dengan nada bergetar.
"Om siapa?" tanya Kendrick polos sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Dia Daddy kita, Daddy Jean!" Bukan Jean yang menjawab tapi Ravindra. Kendrick menatap nenek Putri meminta penjelasan.
"Benar kata kakak Ravindra, kalau Om ini adalah Daddy kamu, nak."
Kendrick kembali menatap Jean dengan mata yang berkaca-kaca, ia sudah lama ingin bertemu dengan sang Daddy.
"Ken tidak mau peluk, Daddy? Daddy rindu loh sama Ken." Jean berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya ke Kendrick. Dengan cepat Kendrick berlari dan memeluk leher Jean. Lalu Jean berdiri sambil menggendong Kendrick.
"Daddy kemana saja? Kenapa ndak pernah pulang?" tanya Kendrick lirih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jean, betapa ia sangat ingin di dekap oleh Daddy-nya. Ingatkan sejak lahir Kendrick memang belum sama sekali bertemu secara langsung dengan Jean. Walaupun kakek buyutnya beberapa kali memperlihatkan foto sang daddy kepadanya, tapi akan sangat berbeda jika sudah bertemu langsung seperti saat ini.
"Maaf ya, nak. Daddy kemarin sibuk bekerja. Daddy janji akan selalu ada untuk kak Ravindra dan Kendrick," balas Jean sambil mengelus rambut putranya. Kendrick melepas pelukannya, lalu menatap Jean.
"Iya beneran dong. Sini kakak Ravin juga Daddy gendong." Dengan senang hati Ravindra digendong oleh Daddy-nya. Jean mencium pipi Ravindra dan Kendrick secara bergantian, setetes air mata jatuh di pipinya. Ia tak bisa membayangkan Ratu membesarkan sendiri kedua putra mereka, tanpa dirinya.
Walaupun Jean tau banyak orang yang membantu Ratu merawat Ravindra dan Kendrick, namun peran seorang ayah sangatlah penting untuk pertumbuhan anak. Nenek Putri tersenyum haru, sedari tadi air matanya terus menetes.
"Ada apa nih? Kok Kakek tidak diajak." Kakek Wang baru pulang dari kantor, ia sengaja pulang cepat karena kakek Wang tau kalau Jean akan berkunjung ke mansion nya.
"Kakekkk!" ucap Ravindra dan Kendrick serempak.
"Kakek, akhirnya Daddy pulang. Daddy sudah tidak sibuk lagi!" ujar Ravindra girang.
Kakek Wang tersenyum. "Iya, nak. Sekarang Daddy kalian udah tidak sibuk kerja lagi dan bisa bermain bersama kalian."
"Yey asik bisa main-main bareng, Daddy!" Sahut Kendrick girang.
"Iya, Daddy akan selalu bermain sama kalian!" ucap Jean.
"Yey asik!" Seru Ravindra dan Kendrick.
"Ken, kita pergi ke Mall yuk sama Daddy. Kata Daddy tadi mau belikan kita mainan yang sangat banyak," ujar Ravindra mengajak Kendrick.
__ADS_1
"Mau! Ayo kita pergi, Dad!"
"Perginya nanti, Daddy kalian istirahat dulu. Kamu udah makan siang nak Jean?" tanya nenek Putri pada Jean.
"Belum, Nek," jawab Jean jujur.
"Ravin juga belum Nek," sahut Ravindra.
"Nah kan kalian belum makan siang, ayo makan siang dulu," ajak nenek Putri. Jean dan Ravindra mengangguk.
"Turun dulu yuk, nak. Daddy kalian mau makan," ujar kakek Wang yang melihat Jean sedikit kewalahan menggendong kedua putranya.
"Iya, Kek," balas Ravindra, lalu Jean menurunkan Ravindra, sedangkan Kendrick langsung memeluk erat leher Jean. Anak kedua Jean dan Ratu itu tidak mau lepas dari ayahnya.
"Ayo Ken juga," suruh kakek Wang.
Kendrick menggeleng cepat. "Ken ndak mau. Ken mau sama Daddy!"
"Tidak apa-apa, kek. Biar Ken aku gendong saja," ujar Jean, ia tau jika putra bungsunya itu sedang ingin bermanja-manja dengannya.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan."
"Iya, kek."
Sesampainya di ruang makan, di atas meja makan sudah tersedia beberapa lauk pauk disana yang sangat menggugah selera.
Jean duduk dengan Kendrick berada di pangkuannya, sedangkan Ravindra duduk di samping kanan Jean.
"Ken mau makan lagi?" tanya Jean. Nenek Putri yang membantunya mengambil nasi dan lauk pauk.
"Mau, Dad! Tapi suapi Ken," pinta Kendrick.
"Iya Daddy suapi, Ravin mau Daddy suapi juga?" Tawar Jean ke Ravindra.
"Mau Dad!"
Jean tersenyum dan mengangguk, kemudian ia menyuapi kedua putranya bergantian dengan dirinya juga.
"Oh ya kek, nek. Aku mau minta izin ajak anak-anak pergi ke Mall sekaligus main-main ke rumahku. Kalau istriku mencari mereka, beritahu saja dia jika anak-anak sedang bersamaku," ujar Jean disela-sela makan.
Kakek Wang dan nenek Putri mengangguk setuju untuk memberikan izin Jean quality time bersama kedua anaknya.
"Iya nak, nanti Nenek beritahu ke Ratu," balas nenek Putri.
"Terima kasih nek, kek."
__ADS_1
"Sama-sama."
...----------------...