
"Are you kidding me? Please, jangan bercanda seperti itu, sayang." Mata Jean kembali berkaca-kaca, sungguh ia tak percaya dengan ucapan Ratu tadi. Perkataan perceraian itu bagai boomerang baginya!
"Aku serius, Jean." Jean melihat tidak ada kebohongan di mata Ratu.
"Tidak, Ratu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan kamu!" ujar Jean.
"Tapi aku tetap akan menceraikan kamu!" kata final Ratu.
"Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik. Jangan gegabah seperti ini, apa kamu tidak kasihan dengan Ravindra? Dia pasti akan kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya," ujar Jean.
"Tidak, Jean. Aku udah terlalu kecewa sama kamu. Kamu tau? Saat perempuan itu bilang aku dorong dia sampai pelipisnya terkena meja pantry, aku sama sekali tidak ngelakuin itu. Aku memang dorong dia tapi tidak sekencang dan membuat dia terbentur. Dia hanya berpura-pura dan sandiwaranya sukses buat kamu bentak aku, Jean!" Ratu sangat enggan menyebut nama Sofia.
"Hiks, kamu tau alasan aku dan menampar dia waktu pagi itu? Karena dia tega memasukkan obat penggugur kandungan ke dalam susu aku dan saksi yang melihat itu adalah Aira. Bahkan Aira membuang susu tersebut karena takut kandungan aku kenapa-kenapa." Ratu mulai terisak lagi. Jean langsung tercengang mendengar ucapan Ratu.
"Apa? Ja-jadi..."
"Dan saat aku nampar dia waktu sore hari Itu karena dia udah dorong Ravindra sampai dia jatuh dan nangis. Tapi apa yang aku terima dari kamu? Bahkan kamu menampar ku karena membela perempuan itu!" Ratu terisak semakin kencang.
"Maaf, sayang. Aku udah buat kamu sangat kecewa. Kamu memang pantas kalau bilang aku bodoh dan tolol. Aku emang bodoh lebih percaya dengan perempuan sialan itu," ujar Jean menggenggam tangan Ratu.
Ratu tersenyum getir dan segera melepaskan genggaman tangan Jean.
"Kepercayaan kamu mana ke aku, Jean? Aku selalu mengerti dan percaya sama kamu. Tapi kepercayaan kamu buat aku tidak ada sama sekali. Kita saling mengenal bukan baru setahun dua tahun. Kita udah kenal dari kecil, tapi kenapa kamu masih meragukan aku," ujar Ratu parau. Jean memejamkan matanya, merasakan dadanya yang mulai sesak.
"Kamu boleh hukum aku apapun yang kamu mau, asal kamu maafin aku. Seberat apapun akan aku terima, asalkan kita jangan bercerai," balas Jean memohon kini mata cokelat hazel miliknya sudah mengeluarkan air mata.
"Tidak, Jean. Kita akan tetap bercerai. Untuk Ravindra, dia akan ikut dengan aku nantinya. Aku akan segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan." Ratu menatap Ravindra yang sudah tertidur pulas sambil memeluknya.
"Jangan egois seperti itu, Ratu!" sentak Jean, wajahnya sudah merah padam serta tangannya mengepal kuat hingga buku-buku telapak tangannya pun memutih saking erat kepalan tersebut.
__ADS_1
"Ya itu aku! Aku memang egois. Maka dari itu, ayo kita pisah secara baik-baik, Jean," ucap Ratu. Ia memang egois, tapi egois untuk kebaikan hati dan mental tidak apa-apa kan?
Jean menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan wanita yang aku cinta dan sayang begitu saja."
"Kalau kamu sayang dan cinta sama aku, tolong lepaskan aku, Jean."
Jean tertawa, namun bagi yang mendengarkan itu adalah tertawa yang sangat menyakitkan.
"Itu tidak akan pernah terjadi Ratu!" teriak Jean. Ia merasa emosinya sudah meluap-luap dan tidak ingin menyakiti siapapun, apalagi disana ada Ravindra karena itu Jean memilih keluar dari ruang rawat Ratu. Di luar Jean berpapasan dengan mommy Zia dan mama Hani yang memang akan masuk ke ruangan Ratu.
"Kamu mau kemana, Jean?" tanya mommy Zia. Jean menatap mommy Zia, namun tidak ia tanggapi dan segera pergi. Membuat mommy Zia dan mama Hani bertanya-tanya, apalagi setelah ia melihat mata Jean memerah seperti orang yang baru saja menangis.
Jean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli orang-orang mengeluarkan sumpah serapah dan umpatan untuk dirinya. Sesampainya di rumah, Jean berlari menuju ke kamarnya.
"Arrgghh sialan!" Jean melempar dan menendang semua barang-barang yang ada di atas meja, guci mahal yang ia belikan untuk Ratu pun habis hancur berkeping-keping. Bahkan tangannya berdarah karena menghantam cermin yang ada di kamarnya. Kamar yang tadinya rapi kini telah berubah seperti kapal pecah akibat Jean.
"Kamu jahat, Ratu! Kamu egois!" teriak Jean frustrasi. Lalu Jean menatap tajam foto pernikahannya dengan Ratu yang terpampang besar di kamar.
Di dalam ruang rawat Ratu, dua perempuan paruh baya tengah menangis yang tak lain mommy Zia dan mama Hani karena mendengar ucapan dari Ratu yang mengatakan akan menceraikan Jean.
"Apa tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik, nak?" tanya mommy Zia serak.
"Iya benar, Ratu. Jangan gegabah seperti itu. Ingat Ravindra, dia juga butuh kasih sayang dari Daddy-nya," timpal mama Hani, ia tak ingin cucunya menjadi korban dari keegoisan kedua orang tuanya. Ratu memejamkan matanya sejenak, apa keputusan yang diambil olehnya sudah benar atau tidak? Ratu benar-benar bimbang dan dilema saat ini.
"Tolong pikirkan tentang Ravindra, Nak," lirih mommy Zia menatap Ravindra yang tertidur di sofa.
...****************...
Sudah 1 bulan semenjak Ratu keluar dari rumah sakit Jean begitu gencar mendekatinya agar mendapatkan maaf dari Ratu. Namun Ratu terus menghindar dan menghiraukan suaminya. Ia pun sudah mengirim surat gugatan cerai ke Jean, entah pria itu sudah atau belum menandatangani surat tersebut, Ratu tidak peduli akan itu.
__ADS_1
"Aku harus segera pergi dari Indonesia, tidak mungkin aku disini terus dalam keadaan mengandung begini bisa-bisa ketahuan sama, Jean." Monolog Ratu sambil mengelus perutnya, sekarang kandungannya akan memasuki bulan ke tiga. Kini Ratu dan Ravindra tinggal di rumah orang tuanya.
"Kita pergi dari sini ya, nak? Maaf kalau Mommy egois karena pisahkan kamu dengan Daddy mu," lirih Ratu, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ratu berencana akan pergi ke Beijing, China. Ia disana akan tinggal bersama kakek dan neneknya atau orang tua dari papa Arkana.
Bahkan orang tua Ratu sudah mengetahui kebohongannya tentang dirinya yang pura-pura kehilangan janinnya. Mama Hani dan papa Arkana begitu marah serta kecewa dengan putrinya itu karena telah berani membohongi banyak orang. Tapi mereka tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Ratu dan mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga putrinya.
Ratu segera membongkar walk in closet untuk mengambil beberapa pakaian miliknya dan Ravindra serta dokumen-dokumen penting. Setelah itu ia memasukkannya ke dalam koper.
Suara pintu terbuka terlihat mama Hani dan Ravindra yang tertidur di dalam gendongannya.
"Kamu jadi pergi ke Beijing, nak?" Tanya mama Hani sedih.
"Iya jadi, Ma."
"Kamu sudah pikirkan ini semua dengan matang?" Tanya mama Hani lagi sambil menidurkan Ravindra di ranjang.
"Sudah, Ma," jawab Ratu dengan mantap.
"Mama tenang aja, Ratu pasti bisa jaga diri disana. Toh Ratu tinggal sama kakek dan nenek bukan dengan orang lain disana. Apalagi di rumah kakek kan penjagaannya sangat ketat, jadi Mama tidak usah khawatir," sambung Ratu yang mengerti dengan raut wajah ke khawatiran mamanya.
"Kamu tidak ke Sidney aja, nak? Disana kan ada kakak dan kakak ipar kamu yang bisa menjaga kamu," usul mama Hani menyuruh Ratu untuk ke Australia daripada China.
Ratu menggeleng. "Tidak, Ma. Ratu tetap milih China. Kalau Ratu ke Australia , Jean bisa cepat tau keberadaan aku, karena Daddy Marvin punya perusahaan disana."
Mama Hani menghela napas. "Terus sampai kapan kamu disana? Tidak mungkin kan selamanya kamu disana?"
"Mungkin setelah anak-anak aku sudah besar, Ma." Bahkan Ratu berharap tidak balik ke Indonesia lagi.
"Ya sudah, Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu. Mama janji akan sering-sering mengunjungi kalian kesana," ujar mama Hani lembut.
__ADS_1
"Iya, Ma," balas Ratu tersenyum tipis.
...----------------...