Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 16


__ADS_3

Disisi lain, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ratu perlahan membuka matanya, ia menahan kepalanya yang terasa sangat pening.


"Eugghh aku dimana?" Ratu mengedarkan pandangannya, ia memandang sekeliling yang terasa sangat asing baginya. Terlintas di kepalanya, jika tadi ia dibawa oleh dua pria berbadan besar. Ratu panik dan beranjak dari tempat tidur.


"Tolong!" teriak Ratu mencoba mencari pertolongan sambil menggedor-gedor pintu kamar.


"Tolong aku siapapun diluar sana!" teriak Ratu lagi.


CEKLEK!


Seseorang pria berparas tampan berusia 30 tahunan masuk ke dalam kamar.


"Hai Ratu, sudah bangun?" sapa pria itu tersenyum miring.


"Pak Andrew!" pekik Ratu.


Andrew Gershon, dosen muda yang mengajar di Dandelion University, ia sudah lama memendam perasaannya terhadap Ratu, bahkan Andrew langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat awal bertemu dengan Ratu.


Ratu pun sudah mengetahui jika dosennya itu punya perasaan terhadapnya, namun ia hiraukan karena hatinya dulu hanya untuk Jean seorang dan Andrew lah si pengirim pesan misterius tersebut.


"Jadi anda yang menculik saya?"


"Yes it's me, Ratu," jawab Andrew santai.


"Lepaskan saya! Kenapa anda culik saya, Pak!" teriak Ratu.


Andrew tersenyum menyeringai. "Karena saya ingin kamu jadi milik saya, Ratu."


Pria di hadapannya ini memang sudah gila, pikir Ratu. Tak menyangka ia akan mendapatkan dosen yang sepertinya memiliki gangguan jiwa.


"Anda jangan gila, pak!" sentak Ratu emosi.


"Saya memang gila Ratu, gila karena kamu." Andrew tersenyum sambil mengelus pipi Ratu. Namun dengan cepat Ratu menghempaskan tangan laki-laki itu dari pipinya.


"Anda jangan macam-macam pak Andrew atau saya akan teriak!" Ancaman Ratu membuat Andrew tertawa.


"Silahkan saja teriak, tidak ada orang yang akan mendengarkannya. Kamar ini kedap suara dan rumah tetangga lumayan jauh dari rumah saya!"


"Anda sebenarnya mau apa sih, Pak?" Sepertinya Ratu salah melontarkan pertanyaan itu pada dosen gila di hadapannya ini.


"Mau saya ya?" Andrew mendekatkan wajahnya ke telinga Ratu.


"Kamu ceraikan Jean dan kamu akan hidup bahagia bersama saya. Kamu tenang saja anak yang ada di kandunganmu ini akan aku anggap seperti anakku sendiri," bisiknya membuat mata Ratu membulat sempurna.


Menceraikan Jean? Hell no, Ratu sangat mencintai Jean, melebihi apapun. Itu tidak akan pernah Ratu lakukan, sampai mati pun.


"Saya tidak akan pernah ceraikan, Jean!" ujar Ratu dengan lantang. Andrew langsung tersenyum sinis.


"Berarti kamu lebih senang ya aku kurung kamu disini? Oke dengan senang hati, kamu bakalan terus sama aku."


CUIH!


"Dasar bedebah! Anda itu tidak cocok jadi dosen dan manusia!" teriak Ratu seusai meludahi wajah Andrew.

__ADS_1


Andrew kembali mengeluarkan senyum seringainya, lalu ia mendekati Ratu.


"Anda mau apa? Jangan mendekat!" teriak Ratu ketakutan, ia melangkah mundur saat Andrew terus mendekatinya.


"Tenang honey, kita akan bersenang-senang dan membuat kamu puas," ucap Andrew.


"Jangan saya mohon, Pak." Ratu mulai menangis saat tubuhnya jatuh ke ranjang.


"Usst jangan takut, saya akan bermain lembut padamu," balas Andrew dengan lembut.


"Jangan. saya mohon, Pak." Ratu terisak dengan tubuh yang sudah sangat gemetaran dan berkeringat dingin. Andrew sekarang sudah sedikit menindih tubuh Ratu bahkan kedua tangan Ratu di kunci ke atas olehnya agar Ratu tidak bisa memberontak.


"Kita akan melewati malam yang panjang honey," ucap Andrew mengelus pipi Ratu dengan tangan kanannya. Ia memajukan wajahnya dan akan mencium bibir Ratu, Ratu menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri membuat ciuman Andrew jatuh pada pipinya.


"Diam, Ratu!" Andrew mencengkram pipi Ratu dan langsung mencium bibir Ratu dengan ganas.


"Eeummppttt." Ratu mengencangkan tangisannya. Setelah puas mencium bibir Ratu. Andrew beralih mencium bahkan menggigit leher Ratu dan sebuah kebetulan hari ini Ratu menggunakan baju blouse sabrina, hal itu membuat akses Andrew mengigit leher Ratu jadi lancar.


"Arrgghh jangan!" teriak Ratu terus memberontak.


BRAKKK!


"Hentikan!" teriak seseorang dari ambang pintu. Membuat Ratu dan Andrew terkejut dan menoleh.


"Jean!" pekik Ratu, ia sangat bahagia melihat suaminya datang menolong.


Andrew tidak mengetahui jika Jean bisa lolos masuk ke dalam rumahnya. Padahal ia sudah menyuruh bodyguard terbaiknya untuk menjaga rumah.


Jean dan Abimana memang telah memukul lebih dari 10 bodyguard yang berjaga di depan rumah Andrew. Bagi mereka berdua melawan 10 atau bahkan lebih bodyguard itu hanya kecil bagi mantan bad boy seperti Jean dan Abimana.


"Hiks, Jean tolong aku," isak Ratu terdengar oleh Jean. Rahang Jean sudah mengeras, matanya juga memanas menahan emosi. Lalu ia berlari mendekati Ratu dan Andrew yang tengah menindih tubuh istrinya.


"BRENGSEK!"


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Jean menarik baju dan memukul Andrew dengan brutal. Membuat Andrew jatuh terkapar di lantai.


"Manusia sampah seperti Anda tidak cocok jadi dosen bahkan jadi manusia!" Hardik Jean. Andrew menghapus darah di sudut bibirnya sambil menatap Jean dengan tajam dan dingin.


Jean segera menghampiri Ratu di ranjang dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Jean lirih.


"Hiks a-aku takut Jean," isak Ratu sesenggukan. Jean membantu Ratu untuk berdiri. Ia merasakan tubuh istrinya bergetar hebat.


"Kamu tidak di apa-apain kan sama bajingan itu?" tanya Jean sambil menatap tajam Andrew.


"A-aku hampir diperkosa sama dia hiks, hiks," isak Ratu dengan bibir yang bergetar, saking tak kuat untuk menjelaskannya.

__ADS_1


Jean kembali memeluk erat istrinya yang ketakutan, ia menyembunyikan wajah Ratu di dadanya. Jean mencium kepala Ratu dengan memejamkan matanya sejenak. Jean yakin istrinya itu bakalan trauma lagi, padahal baru beberapa bulan ini Ratu sudah mulai melupakan kejadian waktu di gudang kampus dulu.


"Jangan takut lagi, ada aku disini," ujar Jean lembut.


Disana, Andrew melihat Jean dengan penuh kebencian. Ia mencoba berdiri dan mengambil sebuah pisau buah di atas meja. Tanpa Ratu dan Jean sadari Andrew mendekati mereka berdua yang tengah membelakanginya.


"Kamu harus mati Jean," gumam Andrew yang sudah gelap mata. Ia terus mendekat ke arah Ratu dan Jean.


Mata Ratu seketika membulat sempurna saat Andrew mendekati mereka dengan sebilah pisau. Ratu dengan sigap mengganti posisi dan menarik Jean agar menghindar, tapi sayang, pisau tersebut malah terkena ke lengan Ratu.


"Arrgghh!" teriak Ratu kesakitan.


"Ratu!" pekik Jean.


Tak lama Ratu jatuh pingsan dan dengan cepat Jean menahan tubuh istrinya.


"Sayang bangun!" ucap Jean panik sambil menepuk-nepuk pipi Ratu, berharap istrinya itu bisa tersadar.


Abimana dan Rivaldo yang masih berada dibawah sedang melawan anak buah Andrew langsung berlari ke lantai atas karena mendengar teriakan dari Jean.


"Lengan Ratu kenapa berdarah seperti itu, Jean?" tanya Rivaldo yang cemas melihat ada darah yang keluar dari lengan adiknya.


"Tadi lengan Ratu terkena pisau yang di bawa pria brengsek itu, yang sebenarnya ditujukan untuk menikam ku," geram Jean menatap tajam Andrew yang tengah diam mematung itu.


Dengan sigap Jean mengangkat Ratu keluar dari rumah mewah itu dan Rivaldo mengikut adik iparnya yang mengangkat Ratu keluar.


Sedangkan Abimana menatap tajam pria menjadi dosennya itu.


BUGH!


"Aww ssshh." Andrew langsung tersungkur saat Abimana memukul pipinya.


Ya itulah si Abimana. Pria ini adalah cowok yang bisa dibilang sangat kasar. Ia tidak memandang laki-laki atau perempuan. Abimana pun tidak akan segan-segan untuk memukul siapapun jika itu sudah menyangkut teman, sahabat, keluarga, dan terlebih perempuan yang ia cintai. Sama halnya juga dengan Putra.


"Cih, aku tidak menyangka kalau seorang dosen yang terhormat akan melakukan hal menjijikkan seperti ini, dasar psikopat" cibir Abimana.


"Itu lah saya. Siapa yang berani mengambil milik saya, saya akan melenyapkannya," balas Andrew. Abimana sangat geram mendengar ucapan Andrew, tanpa basa-basi lagi Abimana mencekik leher Andrew.


"Oh Anda berarti harus mati ditangan saya! Karena anda tadi sudah membuat istri dari sahabat saya terluka, itu artinya anda sudah mengusik harimau yang sedang tertidur dalam diri saya," ujar Abimana emosi. Andrew berusaha melepaskan cekikan Abimana.


"Anda itu memang tidak pantas hidup di dunia ini!" ujar Abimana menggebu sambil menguatkan cekikan nya membuat Andrew hampir kehabisan nafas.


"Berhenti!" Tiba-tiba polisi yang dibawa Rivaldo tadi datang. Abimana langsung melepas tangannya dari leher Lauren.


"Oh sial!" umpat Abimana.


"Uhuk! Uhuk!" Andrew langsung terbatuk-batuk.


"Saudara Abimana, anda tidak bisa main hakim sendiri," ujar salah satu polisi.


"Tolong bawa dia ke penjara Pak! Jangan lepasin dia, kalau perlu penjara dia seumur hidupnya," balas Abimana sambil menatap tajam Andrew.


"Baik, akan kami proses. Kalau begitu kami permisi." Segera para polisi tersebut membawa Andrew. Dengan langkah yang cepat Abimana keluar dari rumah milik dosen, eh ralat mantan dosennya tersebut, lalu ia pergi menuju ke rumah sakit tempat Ratu dibawa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2