Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 33


__ADS_3

"Daddy," seru Ravindra saat Jean memasuki kamarnya. Ratu yang juga tau jika Jean masuk hanya diam sambil memakaikan baju Ravindra.


"Kita sarapan dulu yuk," ajak Jean. Ratu tetap diam.


"Mommy sayang," panggil Jean.


"Aku tidak lapar!" jawab Ratu singkat. Jean menghela napas lalu duduk di samping Ratu.


"Kamu marah sama aku?" tanya Jean. Ratu kembali diam. Jean memegang dagu Ratu dengan lembut dan dihadapkan ke wajahnya.


"Kamu punya mulut kan sayang?" tanya Jean lembut. Ratu menepis tangan Jean dengan kasar, membuat Jean tersentak.


"Dan kamu juga punya otak kan? Bisa mikir tidak?!" tanya Ratu balik. Jean langsung terdiam. Ia sadar, ini pertama kalinya ia membentak Ratu lagi. Karena Ratu telah melakukan kesalahan, pikirnya.


"Oke, aku minta maaf udah bentak kamu tadi," ujar Jean menyesal.


"Udah selesai, Ravindra makan ya? Biar Mommy yang suapi," ujar Ratu tanpa menanggapi permintaan maaf dari Jean. Ia lebih memilih mengajak bicara Ravindra.


"Ravin mau makan Mommy," balas Ravindra merentangkan tangannya pada sang Mommy. Ratu pun meraih tubuhnya.


"Ayo kita ke bawah." Ratu yang ingin keluar kamar bersama Ravindra. Namun dengan cepat Jean menahannya.


"Kamu dengerin aku ngomong tidak sih?!" Ratu melepas kembali tangan Jean.


"Apa harus aku dengerin ucapan kamu?" tanya Ratu balik menatap Jean.


"Bisa tidak hargai suami kalau ngomong?" Jean menatap Ratu tajam.


"Hargai kamu ngomong? Emangnya kamu hargai aku ngomong tadi?!"


SKAKMAT!


Jean langsung terdiam setelah mendengar ucapan Ratu.


"Ck, kalau tidak bisa menghargai orang lain jangan minta dihargai," ujar Ratu sinis lalu pergi keluar kamar.


"Aaaaarrgh! Kenapa jadi gini sih?!" teriak Jean frustrasi seraya menjambak rambutnya sendiri.


"Harusnya aku tadi juga dengerin penjelasan Ratu. Tapi pelipis Sofia juga bisa terbukti kalau dia- Arrgghh jadi pusing gini kan!"


Saat ini Ratu tengah menyuapi Ravindra di taman belakang sambil menemani Ravindra bermain bola. Sedari tadi pandangan Ratu menatap kosong ke depan. Entahlah, kini pikirannya terngiang-ngiang pada kejadian semalam dan tadi.


Untung saja Aira menyelamatkan dirinya dari susu beracun semalam, jika tidak mungkin saja bayi yang ada di dalam kandungan Ratu akan pergi untuk selamanya.


"Daddy." Ravindra berlari sempoyongan menghampiri Jean yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia memeluk kaki Jean. Jean tersenyum lalu meraih tubuh mungil putranya.


"Kenapa, nak?" tanya Jean mencium pipi kanan Ravindra.


"Ravin mau ikut Daddy," ujar Ravindra.


"Daddy kerja dulu. Ravindra sama Mommy ya, tidak boleh nakal," balas Jean lembut.


"Ravin ndak nakal kok, Daddy. Ravin jadi anak baik." Ravindra menggelengkan kepalanya.


"Pintarnya anak Daddy." Jean kembali mencium kedua pipi putranya. Lalu kembali menurunkan Ravindra didekat bolanya.


"Main bola!" seru Ravindra kembali bermain dengan bolanya. Jean tersenyum melihat keaktifan putranya.


Kini matanya menatap ke arah istrinya yang masih sama dengan tadi. Jean menghela napas lalu menghampiri dan berjongkok di hadapan Ratu. Ia menyentuh tangan Ratu, membuat sang empu tersadar dari lamunannya. Ratu pun langsung menatap Jean dengan datar.


"Udah sarapannya, sayang?" tanya Jean lembut. Ratu hanya diam, malas untuk membalas pertanyaan dari suaminya.


"Aku tau aku salah udah membentak kamu tadi. Aku minta maaf." Ratu menarik tangannya dari genggaman Jean lalu membuang muka. Ratu bukan tipe wanita yang lemah di depan orang lain, dan selalu mengalah. Ratu akan terus bersikukuh membela dirinya jika ia tidak bersalah.


Lagi-lagi Jean menghela napas, ia menangkup kedua pipi Ratu, kemudian Jean mencium kening, kedua pipi serta bibir Ratu dengan lembut secara bergantian. Setelah itu ia beralih mengusap perut Ratu.

__ADS_1


"Daddy berangkat dulu ya, nak. Baik-baik di dalam ya jangan bikin susah Mommy." Jean mengecup perut Ratu lalu berlalu untuk pergi kerja.


Ratu kembali menangis saat Jean sudah tak terlihat. "Ya Tuhan, ini sakit sekali."


Mbok Inah dan Ayu yang melihat dari kejauhan pun menatap iba majikannya itu.


"Kasian Nyonya Ratu, Bu," ujar Ayu lirih.


"Mungkin ini ujian buat rumah tangga mereka, nak," balas mbok Inah. Mbok Inah dan Ayu mengetahui kejadian yang menimpa majikannya itu dari Aira tentunya.


"Nona Sofia bener-bener sudah keterlaluan," ujar Ayu geram. Mbok Inah menatap putrinya itu.


"Biarkan waktu yang menjawab semuanya nak. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."


...****************...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini hari berganti menjadi sore, tepatnya pukul 5 sore. Ratu kini tengah menemani putranya bermain di belakang rumah.


"Mommy sini, main sama Coco dan Cici," ajak Ravindra. Coco dan Cici adalah nama dari kelinci peliharaannya.


"Iya, nak." Ratu menghampiri putranya dan ikut berjongkok.


"Hai," sapa Sofia sok lembut menghampiri Ratu dan Ravindra.


"Mau ngapain lagi kamu? Belum puas udah dibelain suami saya?" tanya Ratu datar sambil berdiri.


Sofia tersenyum sinis. "Ya tentu saja belum dong. Aku baru puas kalau liat kamu itu pisah dengan kak Jean," jawabnya tanpa beban.


"Dasar wanita licik kamu!" sarkas Ratu.


"Yah walaupun aku licik, kak Jean tetap percaya kan dengan aku," balas Sofia membuat Ratu muak.


"Aku akan cari bukti kebusukan kamu biar Jean segera mengeluarkan kamu dari rumah ini!" sentak Ratu. Sofia tersenyum sinis lalu sedikit mendekati Ratu.


"Nakal!" teriak Ravindra sambil memukul kaki Sofia, membuatnya menatap Ravindra dengan tajam.


"Apa?" Ravindra seolah menantang gadis benalu ini.


"Kamu diem aja deh bocah kecil!" Sofia mendorong Ravindra hingga ia jatuh dan menangis. Ratu yang melihatnya pun tersentak.


"Ravindra!" pekik Ratu.


"Mommy!" tangis Ravindra kencang. Ratu mengangkat tubuh putranya dan menatap Sofia tajam.


PLAKKK!


Ratu menampar pipi Sofia dengan keras.


"Kamu boleh ngerusak hubungan saya sama Jean! Tapi jangan pernah kamu berani nyentuh atau nyakitin anak saya!" sentak Ratu yang mulai emosi. Ravindra memeluk leher sang mommy dan menyembunyikan wajahnya disana.


"Hiks Mommy," isak nya.


"Kamu nampar saya?" ujar Sofia mulai mendekati Ratu lagi. Ia mengangkat tangannya ingin menampar Ratu, namun dengan cepat Ratu mencengkram tangannya kuat sampai ia sedikit meringis.


PLAKKK!


"Ratu!" Tepat setelah Ratu menampar Bona lagi, Jean datang dan langsung membentaknya.


"Kamu apa-apaan sih hah?! Kenapa kamu jadi gini sekarang?!" ujar Jean sedikit emosi.


"Dia duluan yang buat masalah! Dia dorong Ravindra sampe jatuh dan nangis kayak gini!" ujar Ratu yang ikut emosi. Jean menatap Sofia seolah meminta jawaban.


"Hiks, tidak kak Jean, kak Ratu bohong. Tadi Ravindra jatuh sendiri waktu kak Ratu lagi ke dapur. Dan setelah itu kak Ratu langsung nyalahin aku dan juga nampar aku... hiks. Padahal kan aku baru saja lewat sini," jelas Sofia sambil terisak.


Ratu langsung membulatkan matanya mendengar ucapan dari Sofia. Ck, wanita ini benar-benar sangat pintar dalam bersandiwara.

__ADS_1


"Astaga Ratu, kamu kenapa jadi seperti ini sih." Jean mengusap wajahnya kasar.


"Maaf Tuan saya menyela, memang yang salah itu nona Sofia, tadi Tuan muda memang didorong olehnya," ujar Ayu yang mencoba membela majikannya karena sedari tadi ia menonton cekcok antara Ratu dan Sofia.


"Diam kamu! Jangan ikut campur atau kamu saya pecat!" bentak Jean. Ayu pun langsung terdiam dan tertunduk ketakutan.


"Dasar bodoh!" desis Ratu menatap Jean.


"Bilang apa kamu tadi?" ujar Jean sedikit mendekati Ratu.


"KAMU BODOH, TOLOL DAN IDIOT JEANDRA!" teriak Ratu. Rahang Jean langsung mengeras tangannya pun sudah siap melayang untuk menampar Ratu.


PLAKKK!


Jean menampar pipi Ratu membuat semuanya terkejut, kecuali Sofia yang diam-diam tersenyum menyeringai saat melihat kejadian itu.


Jean pun juga ikut terkejut dengan apa yang ia perbuat tadi ke istrinya, tangannya pun sampai bergetar. Ini pertama kalinya Jean berbuat kasar pada Ratu. Sejak mereka bersahabat hingga menikah, Jean tidak pernah membentak bahkan melakukan kekerasan kepada Ratu.


"Terima kasih atas tamparan ini, Jean. Sampai kapanpun aku akan mengingatnya," ucap Ratu terisak seraya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Jean. Hatinya seperti teriris sebilah pisau, suaminya lebih membela orang lain daripada istrinya sendiri sampai pria itu pun bermain tangan kepadanya.


Ratu langsung berlari sambil menangis. Ravindra semakin menangis keras apalagi melihat Mommy-nya yang menangis.


"Ratu," lirih Jean. Ia langsung pergi menyusul istrinya ke lantai atas.


"Sayang." Jean mencekal tangan Ratu yang ingin masuk ke dalam kamar lain yang berada di sebelah kamarnya bersama Jean. Ratu langsung melepas cekalan tangan Jean dengan kasar.


"Apalagi? Hiks, belain saja terus gadis benalu kesayangan kamu itu. Kalau kamu belum puas tampar aku, ayo tampar lagi!" ucap Ratu emosi.


Jean menggeleng, matanya berkaca-kaca, "Aku minta maaf sayang, aku tadi tidak sengaja menampar kamu dan aku hanya ingin kamu tidak seperti ini. Sikap kamu berubah sayang," ujar Jean lembut.


"Aku tidak berubah, kamu yang berubah, Jean. Kamu itu bodoh, goblok atau gimana hah?! Aku tidak pernah bohongin kamu dengan semua ucapan ku. Kalau kamu tidak percaya cek Cctv di rumah ini!" sentak Ratu. Jean diam. Ia tertunduk, bingung harus menjawab apa.


"Dan buat apa kita pertahankan hubungan ini kalau kepercayaan kamu ke aku tidak ada sama sekali," lirih Ratu. Jean langsung menatap Ratu, sungguh ia tak mungkin melepaskan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Please jangan bilang seperti itu sayang," lirih Jean.


"Hiks Mommy, Ravin takut," isak Ravindra.


"Kita masuk ya nak," ujar Ratu parau lalu masuk ke kamar sebelah dan menguncinya. Jean hanya diam mematung di depan pintu kamar itu.


Beberapa saat kemudian, Jean berjalan cepat menuju ke pos keamanan untuk mengecek Cctv.


"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zain, salah satu penjaga keamanan di rumah Jean.


"Saya mau cek Cctv di taman belakang pukul 17.20 tadi," jawab Jean.


"Baik Tuan, mohon ditunggu." Zain pun mulai mengotak-atik komputer di depannya.


"Maaf Tuan, ternyata Cctv di taman belakang rusak dari 2 minggu yang lalu," ujar Zain.


"Apa kamu bilang, Cctv rusak?" teriak Jean marah.


"I-iya Tuan," jawab Zain takut melihat wajah majikannya yang sangat menakutkan jika sudah marah.


"Kalau rusak kenapa kamu tidak ganti hah? Kalau ada sarana dan prasarana di rumah ini yang rusak langsung kasi tau saya bukannya malah diam!" Sentak Jean.


"I-iya maaf Tuan," ujar Zain dengan tubuh yang bergetar.


Jean mengacak rambutnya frustasi. "Arrggghh sial!"


"Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, nanti kamu beli Cctv baru dan segera pasang!" titah Jean.


"Baik Tuan."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2