
Waktu pun cepat berlalu, kini sudah 2 bulan usia pernikahan Jean dan Ratu. Jean pun mulai nyaman dan rasa sayang pada Ratu mulai tumbuh di hatinya. Bukan sayang sebagai sahabat, rasa sayang antara wanita dan pria, tapi Jean belum mengungkapkan perasaannya itu kepada Ratu.
Karena hal itu Jean selalu over protektif terhadap Ratu, bahkan pernah ia menyuruh Ratu untuk berhenti berkuliah demi kebaikannya dan calon anak mereka. Tapi Ratu yang keras kepala itu, tentu saja menolaknya.
Galaxy Restaurant.
Malam ini Jean mengajak Ratu untuk dinner sekaligus ia akan mengungkapkan perasaannya kepada istrinya. Jean telah menyiapkan makan malam yang romantis untuk mereka berdua, ia sampai membooking satu restoran agar tidak satupun pengunjung yang menganggu mereka.
Ratu langsung speechless melihat yang ada di depannya, wanita mana yang tidak akan meleleh jika pria yang dicintai menyiapkan dinner romantis untuknya. Di depan sana, ada dua kursi lengkap dengan meja makan. Tidak ketinggalan di sepanjang jalan menuju meja makan di hiasi oleh lilin di sisi kanan dan kiri, sedangkan di tengahnya di taburi kelopak bunga mawar merah.
"Ayo duduk." Jean menarik kursi untuk Ratu.
Ratu mengangguk, tak lupa Jean memberikan buket bunga mawar yang cukup besar untuk Ratu.
"Ini untukmu."
"Terima kasih," ucap Ratu sambil menghirup aroma dari bunga mawar tersebut dan di balas senyuman manis oleh Jean.
Pandangan Ratu teralihkan pada makanan yang sudah tersaji di atas meja makan dari beef steak, risotto, salad sayur dan beberapa minuman.
"Oh ya, katamu tadi ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Ratu. Sedari tadi jantungnya berdegup begitu kencang, karena ia begitu nervous saat Jean mengajaknya dinner tiba-tiba seperti ini, apakah pria itu akan mengungkapkan perasaannya pada Ratu? Ratu sangat berharap akan hal itu.
"Kita makan dulu, baru aku beritahu kamu," suruh Jean.
Ratu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Jean. Lalu mereka berdua pun menyantap makanan yang telah dihidangkan di atas meja, sesekali Jean mencuri pandang ke arah Ratu.
Entah kenapa malam ini istrinya itu sangat cantik di mata Jean, sampai ia tak bisa melepaskan pandangannya pada Ratu. Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah selesai makan.
Jean mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Padahal ini bukan pertama kalinya Jean menyatakan cinta pada seorang perempuan, tapi kenapa dirinya sangat gugup? Ia pun bingung akan hal itu.
"Ratu," panggil Jean.
"Ya?" Ratu menatap Jean.
"Aku boleh jujur ke kamu?" tanya Jean dengan hati-hati
Ratu mengangguk ragu dan menunggu ucapan yang akan dilontarkan Jean.
"Aku suka denganmu, Ratu!" ucap Jean tegas tanpa terbata-bata.
DEG!
Jantung Ratu berdetak kencang sekaligus hatinya pun ikut berbunga-bunga mendengar ucapan Jean tadi. Akhirnya cintanya itu tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
"Ma-maksud kamu?" tanya Ratu gugup.
"Aku suka, ah ralat aku mencintaimu, Ratu. Entah kapan rasa ini tumbuh, aku pun tak tahu. Aku merasa nyaman saat di dekatmu dan aku tidak bisa jauh-jauh darimu, bahkan saat ada laki-laki mendekatimu aku begitu marah. Apakah itu yang namanya cemburu?" ucap Jean lagi sambil menatap lekat mata Aurora dengan tatapan penuh cinta.
"Apa kamu serius dengan ucapan mu itu?" tanya Ratu dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh ia sangat bahagia mendengarnya, Ratu berharap ini adalah nyata bukan mimpi.
"Tentu saja aku serius Ratu, apa di wajahku terlihat bercanda?" tanya Jean.
Ratu hanya menggeleng.
"Aku mencintaimu, Ratu. Apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?"
Ratu mengangguk, "Aku juga mencintaimu, Jean. Asal kamu tahu, aku sudah mencintaimu dari dulu," ucapnya sambil menunduk. Jean terkejut mendengar ungkapan Ratu, ia langsung mendekati Ratu dan berjongkok di depannya.
"Hei, lihat aku!" perintah Jean sambil menangkup kedua pipi Ratu. Ratu menatap Jean dengan mata yang sudah berlinang air mata.
"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" tanya Jean dengan lembut sambil menghapus air mata Ratu.
"Sejak kita kelas 1 SMA, tapi sayangnya waktu itu aku hanya bisa mencintaimu dalam diam dan hanya bisa menguatkan hatiku ini di saat kamu mempunyai kekasih bahkan aku menahan diri untuk tidak menangis ketika melihatmu bermesraan dengannya. Kalaupun aku mengungkapkan perasaanku padamu, aku yakin pasti kamu akan mengira jika aku hanya bergurau semata," jelas Ratu tersenyum kecut.
__ADS_1
Jean merutuki dirinya, karena tidak mengetahui perasaan Ratu padanya karena ia selalu terfokus pada perempuan lain.
"Maafkan aku Ratu, maaf aku terlalu pecundang karena tidak mengerti tentang perasaanmu padaku," ucap Jean bersalah.
Ratu menggeleng seraya tersenyum, "Tidak apa-apa, Jean. Yang terpenting sekarang kamu sudah mengetahui perasaanku kepadamu."
Jean ikut tersenyum, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam dari dalam saku jasnya, lalu membukanya.
"Untuk wanita cantik yang ada di depanku saat ini." Kotak tersebut berisikan cincin yang bermatakan berlian yang sangat indah dan berkilauan.
"Ini untukku?" tanya Ratu berbinar.
"Iya ini untukmu. Anggap saja sekarang aku sedang melamar kamu, kamu mau kan terima lamaranku?"
Ratu mengangguk dan sedikit terkekeh. "Iya aku mau."
"Sekarang aku pasang ya cincinnya?"
Ratu mengangguk. Tangan Jean mengambil cincin tersebut dan memasangkannya ke jari manis Ratu yang sebelah kiri.
"Cantik. Apa kamu suka?" tanya Jean lembut sambil berdiri dan diikuti Ratu.
"Aku suka. Suka banget, terima kasih Jean," ujar Ratu terharu sambil melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Jean mengangguk lalu membawa Ratu ke dalam pelukannya.
"Sama-sama Ratu, memang seharusnya seperti ini yang harus kita jalani. Bukan seperti seorang sahabat lagi," balas Jean mengecup puncak kepala Ratu. Ia bernapas sangat lega, akhirnya perasaan itu ia ungkapkan juga kepada Ratu dan bahagianya lagi, Ratu memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Jean melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Ratu. "Maafkan untuk tindakan aku yang dulu yang merenggut kehormatan mu dan membuat dirimu harus menanggung atas perbuatanku itu," ucap Jean merasa bersalah.
"Jangan bahas itu lagi, Jean," balas Ratu.
"Tapi aku merasa sangat bersalah kepadamu, Ratu," ujar Jean menunduk. Ratu membuang napas kasar, tangannya terarah mengangkat wajah Jean.
"Aku sudah lama memaafkan kamu tentang itu Jean, mungkin jika kamu tidak melakukan hal itu kita tidak akan bisa bersama seperti sekarang ini. Anggap saja itu takdir dari Tuhan untuk menyatukan kita," ucap Ratu. Jean tersenyum, memang tak salah jika Tuhan mentakdirkan dirinya bersama wanita sebijaksana Ratu. Jean merasa beruntung akan hal itu.
...****************...
"Jean, kamu yakin akan ikut berkemah? disana cuacanya dingin kamu juga baru sembuh takutnya tambah parah sakitnya" khawatir Ratu, ia meletakan punggung tangannya di dahi lelaki itu mengecek apakah suhu panasnya sudah turun atau belum. Semalam demam Jean naik ke suhu 39° Celcius.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Buktinya saja aku udah tidak pusing sama mual lagi." Jean menggapai jemari Ratu yang masih berada di dahinya kemudian ia mengarahkan punggung tangan putih istrinya ke bibirnya lalu menciumnya. Tangan satunya ia gunakan untuk menyetir membuat hati Ratu berdesir.
Hari ini kampus mengadakan kemah selama 3 hari dan tentunya dengan persiapan yang sudah dirancang oleh seluruh anggota BEM.
"Kalau disana jangan jauh-jauh dari aku," ucap Jean tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.
"Kenapa memangnya kalau aku jauh-jauh?" tanya Ratu menoleh kearah Jean Jean mengelus punggung tangan Ratu dengan ibu jarinya disaat kedua tangan mereka saling bertautan.
"Tidak apa-apa sih, hanya saja akunya yang tidak bisa jauh-jauh dari kamu, nanti kalau di rayu sama laki-laki lain gimana?" ucap Jean posesif.
"Memang mereka berani rayu aku, istri dari Jean Alexander, ketua BEM Dandelion University yang paling di hormati di kampus?" tanya Ratu balik.
"Kalau mereka berani, berarti rumah sakit jalan terakhirnya!" ucap Jean tak main-main.
Ratu tertawa mendengar sikap posesif suaminya "Itu anak orang Jean, kalau kamu dituntut gimana?"
"Siapa bilang anak kita? Mertua kamu tidak akan membiarkan anak laki-laki kesayangannya ini masuk penjara." Sombong Jean mendapat cebikan dari Ratu, ia lupa fakta bahwa Marvin mertuanya itu bisa mengendalikan pihak Kepolisian dengan kekuasaannya.
"Tampan sih tapi mengandalkan orang dalam," cibir Ratu.
"Tidak mengandalkan sayang, itu namanya memanfaatkan kekuasaan."
Ratu sangat tidak menyukai pemikiran seperti itu "Pernyataan kamu seperti itu namanya kamu merendahkan orang yang tidak punya kekuasaan, aku tidak suka pemikiran kamu yang kayak gitu!" kesal Ratu, ia melepaskan genggaman Jean dan membuang muka menatap jalanan Jean melirik Ratu apakah ada yang salah?
"Kamu marah?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Tidak? Tapi kamu seperti sedang marah padaku, gara-gara masalah tadi itu kan pendapat aku berdasarkan fakta, Ratu."
"Fakta yang kamu bilang itu melukai kebanyakan orang diluar sana, Jean."
Jean terdiam, "Jadi aku salah?" tanya Jean ketika mobilnya memasuki halaman kampus dan siap diparkirkan.
"Mikir sendiri!" ketus Ratu.
Jean mematikan mesin mobilnya ketika mobil sudah terparkir rapi di tempat parkiran, ia kemudian menoleh kesamping tepat pada wajah tidak bersahabat istrinya.
"Maks--"
"Aku duluan," pamit Ratu meninggalkan Jean yang masih didalam mobil dengan wajah bingungnya.
"Kok jadi gini? Sensitif sekali, apa itu efek dari kehamilannya?" monolog Jean, ia keluar dari mobil dan berlari untuk mengejar istrinya.
Ratu berdiri disamping Reza bersama anggota BEM lain yang sudah
berada di lapangan. Mereka sedang mendata mahasiswa-mahasiswi yang sudah dibagikan dimana bus yang akan mereka tempati.
Jean yang tentu juga berada di lapangan itu langsung mengepalkan tangannya kuat, Ratu memancing api cemburunya di pagi hari, ia berjalan kearah Ratu berdiri, "Aku mau ngomong," ucapnya datar mengundang atensi beberapa mahasiswa yang lain.
"Aku lagi sibuk!" jawab Ratu singkat dan kembali ke aktifitas sibuknya
"Ratu!" geram Jean menatap tajam manik Ratu. Ratu yang ditatap langsung bergidik ngeri
"Mau ngomong apa?"
"Tidak disini."
"Aku sibuk, memangnya kamu tidak sibuk juga?"
"Tentu saja aku sibuk, tapi aku butuh bicara denganmu!" sentak Jean marah.
Belum sempat keduanya meninggalkan lapangan salah satu Dosen yang akan mengikuti perkemahan itu sudah memberi instruksi untuk menuju bus masing-masing, pengurus BEM pun sudah selesai mendata.
"Ratu ayo, kita di bus yang sama," ajak Vina menghampiri Ratu yang masih berdiri berhadapan dengan Jean.
Dari kilatan matanya saja Ratu sudah tau Jean sedang menahan emosinya. Mau bagaimana lagi ia harus memberikan Jean sedikit pelajaran
"Ayo."
Ratu hendak berjalan namun tangannya dicekal Jean "Aku belum bicara, Ratu."
"Nanti saja." Jawaban Ratu lagi-lagi singkat membuat Jean ingin meledakan kemarahannya detik itu juga.
Dandelion University melaksanakan kemah di puncak bogor dengan banyaknya hamparan kebun teh di sepanjang jalan menjadikan tempat kemah kali ini sangat menenangkan untuk seluruh mahasiswa-mahasiswi.
Reza turun dari bus bersama Ratu kebetulan juga lelaki itu berada dalam satu bus, sedangkan Jean berada di bus lain bersama kedua sahabatnya. Ia melihat Ratu yang berpakaian cukup tipis membuatnya berinisiatif untuk memakaikan Ratu jaketnya.
"Nih pakai Tu, dingin disini." Ratu tersentak ketika jaket Reza sudah mendarat di bahunya.
"Tidak usah Reza, aku tidak apa-apa." Ratu hendak melepaskan jaketnya namun ditahan oleh Reza.
"Pakai saja Ratu." Setelah mengatakan itu Reza berjalan pergi dari hadapan Ratu.
Ratu hanya mengedikan bahu acuh pasalnya ia juga merasa hawa dingin menusuk sampai dalam tulangnya, yah pikirnya hitung-hitung rezeki anak sholeha.
Wanita itu tak tau saja sedari tadi ada yang memantaunya dengan tatapan tajam. Helaan nafas kasar keluar dari mulut pria itu mau emosi sekarang juga tak ada gunanya nanti makin parah perangnya. Tapi ia tak akan membiarkan istrinya disentuh siapapun apalagi oleh lelaki jahanam Reza.
...----------------...
__ADS_1