
Setelah habis bercinta bukannya merasa senang atau puas, Ratu merasa kesal dengan Jean, karena pria itu menyemburkan cairannya ke dalam rahim Ratu, padahal dia sudah mewanti-wanti agar Jean mengeluarkannya diluar. Bukannya kenapa, Ratu hanya takut dirinya hamil secepat ini, karena dia ingin Ravindra mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya. Apalagi umur Ravindra saat ini sedang aktif-aktifnya.
"Kenapa harus takut hamil sih, Mom? Padahal kan aku pingin punya anak lagi," tanya Jean heran.
Ratu mendongak menatap Jean. "Bukannya takut hamil dan aku mengerti kamu ingin memiliki anak lagi, Daddy. Aku pun juga ingin memiliki anak lagi seperti keinginan kamu, tapi untuk saat ini aku ingin menundanya hingga 1 atau 2 tahun lagi, karena aku tidak mau Ravindra nanti kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita," jelas Ratu sambil mengelus rahang Jean.
Jean menghela napas panjang, "Kamu tidak usah khawatir dengan hal itu sayang, kita pasti akan berbuat adil kepada anak-anak kita nanti," ucapnya menenangkan Ratu sambil mengeratkan pelukannya hingga tidak ada batas di antara mereka.
"Tapi--"
"Ussttt, kamu tidak ingat sayang? Ravindra juga ingin memiliki adik," ucap Jean.
Ratu mendengus, "Itu juga karena kamu yang rayu dia untuk meminta adik ke aku!" ketus Ratu.
Jean terkekeh, "Iya deh maaf sayang, tapi serius ingin memiliki anak lagi agar mansion kita bertambah ramai."
DOR! DOR! DOR!
Suara pukulan pintu membuat pasangan suami-istri itu tersentak.
"Mom, Dad. Buka pintunya!" teriak Ravindra dari luar. Jean segera beranjak dari ranjang, namun sebelum itu dia memakai boxernya terlebih dahulu dan jalan tergopoh ke arah pintu.
"Hai son, ini kan masih jam 10 malam. Kok sudah bangun?" tanya Jean berjongkok menyamai tinggi badannya dengan Ravindra.
"Ravin mau tidur sama Mommy dan Daddy," punya Ravindra dengan mata berkaca-kaca dan terlihat masih mengantuk. Semenjak umur 2 tahun dan setelah Ratu menyapihnya, Ravindra memang sudah tidur di kamarnya sendiri, dengan tujuan agar bocah tampan itu bisa mandiri, namun terkadang dia meminta untuk tidur bersama orang tuanya seperti sekarang ini.
"Mau tidur bareng Mommy dan Daddy?"
Ravindra mengangguk. Jean tersenyum memahami, dia mengangkat tubuh sang anak lalu membawanya ke ranjang.
"Loh kok sudah bangun sayang?" tanya Ratu.
"Mau tidur sama Mommy dan Daddy katanya," timpal Jean.
Ratu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Sini sayang, bobo sama Mommy."
Jean segera menaruh Ravin ke atas ranjang. Bocah itu langsung membaringkan tubuhnya di tengah-tengah dan memeluk Ratu. Jean ikut berbaring di samping putranya, belum beberapa menit Ravindra sudah tertidur pulas membuat Ratu dan Jean terkekeh gemas.
"Kamu juga tidur sayang," suruh Jean.
__ADS_1
"Iya, Daddy juga tidur."
Jean mengangguk, bibirnya terarah untuk mencium kening Ratu dan Ravindra secara bergantian sebelum masuk ke dunia mimpi.
Berbeda dengan keluarga kecil kakaknya, Medina sedang bersama dengan Putra di salah satu rooftop restoran ternama di kota Jakarta. Sepertinya Putra akan mengungkapkan perasaannya pada Medina.
"Ini untuk kamu, Din." Putra memberikan sebuket bunga mawar merah yang lumayan besar untuk Medina.
"Wah makasih kak," ujar Medina. Walaupun pun dihatinya bertanya-tanya, mengapa ia di ajak dinner romantis seperti ini oleh Putra. Memang satu tahun belakangan ini, sikap Putra terhadapnya sangat lah berbeda, pria itu seakan-akan ingin mendekat kepadanya, namun hal itu lah yang membuat Medina menjadi bingung.
Sikap Putra berubah saat malam ketika Medina mabuk dan baru setelah 2 bulan kemudian pria itu berani mendekati Medina secara terang-terangan, tapi Putra belum juga mengungkapkan perasaannya karena alasan tidak ingin membuat Medina terkejut oleh karena itu Putra memilih untuk PDKT terlebih dahulu.
"Sama-sama Medina," balas Putra tersenyum manis sambil mengelus rambut Medina. Sang empu seketika meleleh di perlakukan seperti itu oleh pria yang dia cintai sejak dulu, Putra yang ia kenal pendiam dan cuek ternyata memiliki senyuman yang mematikan. Senyuman pria itu memang sering ia dapatkan setelah mereka dekat.
"Oh ya, katanya ada yang kak Putra mau bicarakan sama aku. Apaan ya kak?" tanya Medina penasaran.
"Em, gimana kalau kita makan dulu? Baru kakak kasi tau kamu."
Medina mengangguk, "Iya sudah kak."
Mereka berdua pun menyantap makanan yang telah dihidangkan di atas meja, sesekali Putra mencuri pandang ke arah Medina.
Putra mengambil napas lalu menghembuskan perlahan, ia sangat grogi saat ini. Padahal ini bukan pertama kalinya ia menyatakan perasaannya pada seorang perempuan, bahkan ia terkenal playboy, tapi entah kenapa ia gugup saat berhadapan dengan Medina, adik dari sahabatnya ini.
"Medina," panggil Putra menatap lekat mata Medina.
"Ya kak?"
"Kamu mau jadi pacar kakak?" Medina sangat terkejut dengan ucapan Putra, jantungnya bahkan kini berdegup sangat kencang.
"Hah? Kakak pasti bercanda kan?" tanya Medina masih tak percaya.
"Kakak tidak bercanda Medina, kamu mau kan?" tanya Putra sambil menggenggam kedua tangan Medina.
"Tapi aku tidak hanya jadi alat pelampiasan kakak kan?" tanya Medina balik dengan tatapan sendu karena dia tau background pria di hadapannya ini seperti apa. Putra cukup tersentak dan melongo mendengar ucapan Medina tadi. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu yang terlalu jauh.
"I-iya tidak lah Dina, bahkan kakak tidak pernah berpikiran seperti itu," ujar Putra meyakinkan Medina.
"Memang kak Putra suka sama aku?"
__ADS_1
"Iya Medina, kakak suka sama kamu."
"Sejak kapan?"
"Kakak nggak tau sejak kapan menyukai kamu, yang kakak inginkan sekarang kamu menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup kakak. Kamu mau kan?"
Ah, Medina berharap jangan ada orang yang membangunkan dia dari mimpi ini.
"Medina kok malah diam?"
"Ah i-iya, Medina mau kok," jawab Medina malu-malu.
"Kamu serius Din?" Tanya Putra dengan mata yang berbinar-binar.
Medina mengangguk. "Iya kak, sebenarnya Medina juga suka sama kak Putra sudah lama." Tentu saja Putra tidak terkejut dengan ucapan Medina tadi, karena ia sudah mendengarnya langsung ketika Medina sedang mabuk waktu itu.
Tanpa berlama-lama lagi, Putra langsung mendekap erat tubuh Medina.
"Kamu memang bukan yang pertama, tapi kakak yakin kamu akan jadi perempuan terakhir di hati kakak," lirih Putra. Medina sangat bahagia mendengarnya, akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Ia pun membalas pelukan Putra tak kalah eratnya.
Tanpa disadari Medina, Putra mengaitkan sebuah kalung emas putih berliontin inisial P di leher Medina. Putra pun melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Medina.
"Cantik!" celetuk Putra.
"Maksud kakak apa?" tanya Medina gugup.
"Itu kalungnya cantik," ucap Putra menatap kalung yang bertengger di leher Medina. Medina melihat dan memegang kalung tersebut.
"Ini kalung dari kakak?" tanya Medina kaget.
"Iya sayang, kamu suka?"
Medina tersenyum dan mengangguk, "Aku suka, suka banget. Terima kasih kak, kalungnya sangat cantik."
"Bagiku kamu yang tercantik, Din," puji Putra tulus membuat semburat merah muncul di kedua pipi Medina, dia merasa ada jutaan kupu-kupu terbang di dalam perutnya dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Putra.
"Kakak bisa saja deh."
Putra terkekeh dan mencium puncak kepala Medina.
__ADS_1
...----------------...