Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 48


__ADS_3

Malam harinya, Ratu telah siap untuk pergi dinner bersama dengan atasannya yang tak lain adalah Yuzen. Malam ini Ratu mengenakan balutan dress berwarna hitam dengan lengan off the shoulder yang membuat penampilan Ratu begitu elegan.


"Apa penampilanku tidak terlalu berlebihan?" Monolog Ratu memerhatikan penampilannya di depan cermin. Setelah menurut penampilannya sudah cukup, Ratu pun keluar dari kamarnya untuk izin dengan kakek dan neneknya.


"Nek, Kek." Walaupun tadi sempat marah dengan kakek dan neneknya, Ratu tidak bisa marah dengan sepasang lansia yang sangat berarti di hidupnya itu.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya nenek Putri.


"Ratu mau pergi makan malam bersama atasan Ratu di kantor, Nek," jawab Ratu. Nenek Putri dan kakek Wang saling pandang.


"Memangnya ada acara apa?" tanya kakek Wang, ia hanya tak ingin terjadi sesuatu pada cucunya itu nanti apalagi ada Jean di negara ini.


"Tidak ada acara kok, kek. Hanya makan malam biasa," jelas Ratu.


"Apa kalian dinner hanya berdua?" tanya selidik kakek Wang.


"Ya sepertinya begitu, Kek."


"Ya sudah kamu hati-hati ya? Cepat pulang, nanti anak-anak nyariin Mommy-nya," ucap nenek Putri.


Ratu mengangguk patuh, "Aku dinner nya di Rose Gold Restaurant. Jadi tidak jauh dari sini."


Setelah berpamitan Ratu pun keluar dari mansion karena di depan sudah ada Yuzen yang menunggunya. Yuzen yang melihat penampilan Ratu malam ini langsung terpukau, ia jadi tak sabar ingin menjadikan Ratu sebagai istrinya.


"Silahkan masuk." Yuzen membukakan pintu mobil untuk Ratu.


"Terima kasih, Tuan." Ratu masuk ke dalam mobil dan diikuti Yuzen yang masuk ke dalam mobil.


Jean dan kedua putranya baru sampai di mansion milik kakek Wang pada pukul setengah delapan malam, dua puluh menit setelah kepergian Ratu.


Jean membukakan pintu mobil untuk Ravindra yang berada di kursi penumpang depan, setelah itu membukakan pintu mobil untuk Kendrick yang berada di kursi belakang dan ternyata putra bungsunya itu tertidur. Jean menarik sudut bibirnya membentuk senyuman melihat putranya itu, sedetik kemudian Jean menggendong Kendrick dan membawanya ke dalam.


"Adik Ken tidur, Dad?" tanya Ravindra yang melihat sang adik digendong oleh sang daddy, bocah tampan itu tengah menenteng mainan yang dibelikan oleh Jean dengan kedua tangannya.


Jean mengangguk, "Iya, adek Ken sepertinya kelelahan makanya ketiduran," jelasnya.


"Malam Kek, Nek," sapa Jean dan Ravindra serempak pada kakek Wang dan nenek Putri yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Malam, akhirnya cucu dan cicit-cicitnya nenek pulang juga. Eh Kendrick tidur ya naa?" tanya nenek Putri pada Jean.


"Iya Nek, sepertinya dia kelelahan seharian jalan-jalan dan bermain bareng Daddy dan kakaknya," jelas Jean membuat nenek Putri dan kakek Wang tersenyum.

__ADS_1


"Iya sepertinya dia terlalu bersemangat karena sangat merindukan Daddy-nya," sahut kakek Wang dan nenek Putri mengangguk menyetujui ucapan suaminya itu.


"Iya bener sekali, Ba."


"Nenek, Kakek liat nih Ravin bawa banyak mainan dari Daddy," ucap Ravin memamerkan mainan yang ia bawa pada kakek dan nenek buyutnya.


"Wah, banyak sekali sayang. Ayo mainannya taruh di kamar dulu sekalian Ravin tidur juga ya? Adeknya juga udah tidur loh itu," suruh nenek Putri pada cicitnya itu.


"Baik, Nek."


Jean membawa Kendrick menuju ke kamar dan diikuti oleh Ravin. Dua bocah itu memang satu kamar namun beda tempat tidur. Jean membaringkan tubuh putranya dengan pelan takut jika Kendrick akan terusik nantinya.


Baru saja berbaring dan menutup mata, Ravindra sudah tertidur dengan pulas nya. Mungkin dia juga kelelahan setelah seharian jalan-jalan dan bermain dengan sang daddy dan adiknya. Jean yang melihat anak sulungnya itu tertidur langsung tersenyum.


"Selamat tidur jagoan-jagoannya, Daddy. Semoga secepatnya kita bersama kembali." Jean mencium kening Ravindra dan Kendrick secara bergantian. Kemudian Jean keluar dari kamar putranya kembali ke ruang keluarga.


"Kedua putra kamu sudah tertidur, nak?" tanya kakek Wang setelah Jean duduk di sofa dekat dengannya.


"Sudah, kek." Mata Jean melihat ke sekeliling mansion seperti mencari sesuatu.


"Kamu cari siapa, nak? Ratu?" tebak nenek Putri dan Jean langsung mengangguk.


Tebakan nenek Putri benar, kedua orang lanjut usia itu lagi-lagi saling tatap, apa mereka akan jujur pada Jean?


"Tadi Ratu meminta izin keluar ke kami," jawab kakek Wang.


"Keluar kemana, kek?" tanya Jean lagi.


"Keluar dinner bersama dengan atasannya di kantor," sahut nenek Putri membuat Jean cukup terkejut.


"Mereka dinner hanya berdua?" Nenek Putri dan kakek Wang mengangguk membenarkan.


"Kata Ratu sih tadi begitu." Rahang Jean mulai mengeras tangannya pun terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih, nenek Putri dan kakek Wang yang melihat itu cukup cemas.


"Sial! Oh mulai bermain-main ya kamu sama aku, Ratu! Oke liat saja nanti hukuman apa yang pantas untukmu dan selingkuhan kamu itu," umpat Jean dalam hati.


"Mereka dinner dimana?" tanya Jean dengan raut wajah yang datar.


"Di Rose Gold Restaurant, tidak jauh dari sini," jawab nenek Putri. Tanpa menanggapi ucapan dari nenek Putri, Jean langsung berlari menuju keluar dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke restoran tempat keberadaan Ratu.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan cucu dan cucu menantu kita ya, Ba?" lirih nenek Putri yang khawatir dengan Ratu dan Jean.

__ADS_1


"Iya semoga saja, Ma," balas kakek Wang membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Namun setahunya, Jean itu orangnya cukup kasar dan keras jika ada yang berani mengusiknya dan orang-orang yang ia sayangi, semoga saja Ratu dan Yuzen tidak kenapa-napa nantinya, batin kakek Wang berharap.


Ratu dan Yuzen telah tiba di restoran tempat mereka akan dinner, Yuzen sudah memboking tempat untuk mereka.


"Silahkan duduk, Reyfa." Yuzen menarik kursi untuk Ratu.


"Terima kasih, Tuan. Saya bisa sendiri kok," ucap Ratu merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, Reyfa. Ayo duduk."


"Iya Tuan." Ratu duduk di kursi dan Yuzen duduk di kursi yang berhadapan dengan Ratu. Datang lah seorang waiters pria menyodorkan buku menu pada mereka, setelah memesan makanan dan minuman apa saja yang mereka inginkan, waiters itu pun pergi.


"Reyfa," panggil Yuzen.


"Ya Tuan?"


"Jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja aku Yuzen, karena kita sekarang berada diluar jam kerja," suruh Yuzen agar ia dan Ratu bisa lebih dekat lagi.


"Baik Yuzen," ucap Ratu. Yuzen tersenyum mendengarnya.


"Nah gitu dong, kan aku senang mendengarnya. Oh ya, Reyfa aku ingin menyampaikan sesuatu ke kamu."


"Apa?"


"Nanti saja setelah kita selesai makan," jawab Yuzen. Entah kenapa hal itu membuat hati Ratu menjadi was-was. Tak lama dua orang waiters membawa pesanan Ratu dan Yuzen.


"Ini pesanan anda Tuan, Nona."


Ratu malu saat dirinya disebut Nona oleh waiters itu karena dirinya bukan seorang Nona lagi, melainkan sudah menjadi seorang Nyonya yang sudah memiliki dua orang anak dan sudah pernah memiliki suami. Eh?


Sedangkan Yuzen hanya tersenyum, memang Ratu masih cocok disebut dengan Nona karena wajahnya masih baby face.


"Kalau gitu kami permisi."


"Baik terima kasih." Kedua waiters itu mengangguk lalu pergi dari meja Ratu dan Yuzen.


"Ayo dimakan, Rey."


Ratu mengangguk, lalu mereka berdua menyantap hidangan yang mereka pesan tadi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2