
1 minggu pun berlalu. Hari ini adalah hari akad nikah antara Jean dan Ratu.
Akad nikah mereka dilaksanakan pada pagi hari di mansion milik orang tua Ratu dan acara akad nikah Ratu dan Jean tersebut hanya dihadiri oleh kerabat terdekat saja.
Tak ketinggalan juga Rivaldi Wang, kakak kedua Ratu atau saudara kembar dari Rivaldo, datang jauh-jauh dari Australia hanya untuk menyaksikan adik perempuan satu-satunya itu menikah, ia datang bersama istri dan anak perempuannya yang baru berusia 2 tahun.
Rivaldi sempat terkejut dan marah pada Jean saat mengetahui apa yang laki-laki itu perbuat ke adik perempuannya, tapi rasa marahnya pada Jean itu tak lama karena Rivaldi yakin itu adalah takdir yang terbaik dari Tuhan untuk adiknya.
Di kursi yang telah ditentukan, Jean duduk berhadapan langsung dengan penghulu dan calon mertuanya. Disampingnya ada daddy Marvin dan Rivaldo sebagai saksi pernikahan ini.
Sama halnya dengan Rivaldi, Rivaldo pun yang beberapa hari terakhir yang lalu masih marah dan kecewa dengan Jean, kini mulai menerima takdir yang menimpa adiknya dan menerima Jean sebagai adik iparnya karena laki-laki itu sudah berani bertanggung jawab atas perbuatannya.
Wajah Jean begitu datar, seperti tidak ada raut wajah kebahagiaan disana. Bukannya tidak senang, tapi Jean merasa gugup. Hal baru yang ia rasa kali ini begitu dirundung rasa kepanikan, apalagi ketika nanti salah berucap, pasti itu akan mempermalukannya.
Jean menghela napas panjang, matanya terpejam sejenak sebelum ia menerima jabatan tangan dari calon mertuanya.
"Bagaimana nak? Apa bisa kita mulai?" tanya bapak Penghulu.
Jean mengangguk mantap, "Bisa Pak."
"Baik, ikuti arahan dari bapak Arkana." Lalu bapak Penghulu memberikan mic pada Arkana, calon mertua Jean.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Jeandra Alexander bin Marvin Alexander dengan putri saya Ratu Reyfa Wang binti Arkana Wang dengan mas kawin uang sebesar 1 juta dollar Amerika dan emas 24 karat seberat 15 gram dibayar tunai," ujar Arkana dengan tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ratu Reyfa Wang binti Arkana Wang dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," timpal Jean lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak Penghulu.
__ADS_1
"SAH!"
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin," ujar pak Penghulu dan di akhiri dengan doa.
Ratu yang melihat tayangan ijab kabul dari televisi besar di kamarnya itu sontak mengucurkan air mata. Air mata yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, bahagia karena ia telah menikah dengan lelaki yang ia cintai, pedih saat mengetahui bahwa Jean tidak mencintai sama sekali dan Ratu berpikir jika saja Jean tidak mengetahui kalau Ratu hamil mungkin saja laki-laki itu tidak akan bertanggung jawab padanya.
Ratu dapat melihat wajah Jean yang bahagia dan berseri saat keluarga, Papa dan kedua kakak kembarnya tengah memeluk tubuh laki-laki yang tegap itu. Entah itu ekspresi asli atau hanya di buat-buat oleh lelaki itu.
"Di satu sisi aku bahagia telah menikah dengan laki-laki yang aku cintai, tapi disisi lain hatiku terasa sangat sakit saat mengetahui kenyataan bahwa Jean menikahi ku hanya ingin bertanggung jawab pada anak yang aku kandung ini bukan karena mencintaiku," batin Ratu lirih seraya mengusap air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya.
Mama Hani yang memang menemani Ratu di kamarnya itu langsung memeluk dan menenangkan putrinya. Ia tau bagaimana perasaan putrinya itu sekarang. Setelah beberapa saat kemudian, mama Hani menguraikan pelukannya.
"Nak, Mama harap kamu bisa menjadi istri yang baik buat Jean. Jadilah istri yang berbakti sama suami, layani lah suamimu dengan baik, karena ridho Allah terletak pada ridho suamimu. Turuti lah apa yang dikatakan oleh suamimu."
"Mama tau kalau kalian tidak saling mencintai, tapi Mama yakin cinta bisa hadir kapan saja dan dimana saja. Cinta itu akan hadir karena terbiasa. Nanti sesulit apapun masalah rumah tangga kalian cobalah untuk mengatasinya dengan kepala dingin dan hadapi itu dengan sabar." Nasehat panjang lebar dari Luna sambil memegangi tangan Ratu. Dengan linangan air mata yang ikut bercucuran keluar dari kedua matanya.
"Iya, Ma. Ratu akan mengikuti semua nasehat dari Mama," balas Ratu yang kembali menitikkan air matanya.
"Sudah, nak. Jangan nangis nanti make-up kamu luntur loh," goda mama Luna sambil menghapus air mata yang mengalir di wajah putrinya.
Kedua kakak ipar, istri dari si kembar Rivaldo dan Rivaldi bernama Karina dan Arabella beserta anaknya yang bernama Ciara tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ratu.
"Ya ampun, cantik banget adiknya kakak ini," puji Karina pada Ratu.
"Iya dek, bikin kakak pangling aja," timpal Arabella. Ratu menanggapi kedua kakak iparnya itu dengan senyuman tipisnya.
"Aunty Atu," panggil Ciara.
__ADS_1
"Sini Cia, sama aunty." Ratu merentangkan kedua tangannya pada Ciara. Dengan senang hati Ciara di gendong oleh tantenya.
"Aunty Atu cantik sekali," ujar Ciara dengan suara imutnya.
"Makasih Cia." Ratu gemas mencium pipi tembam keponakannya itu.
Tak lama kemudian giliran mommy Zia yang masuk dan langsung menghampiri Ratu yang kini telah menjadi menantunya itu.
"Ya ampun menantu Mommy cantik sekali," puji mommy Zia dengan nada hebohnya. Mau tak mau Arabella terlebih dahulu mengambil putrinya dari gendongan Ratu.
"Terima kasih tante Zia," timpal Ratu dengan senyum yang di paksakan.
"Eh, jangan panggil Tante lagi dong sayang, panggilnya Mommy seperti Jean dan Medina. Kan sekarang kamu udah jadi menantunya Mommy," jelas mommy Zia dengan suara lembutnya.
"Baiklah mommy Zia."
"Nah gitu dong sayang, Mommy kan jadi senang dengarnya," ujar mommy Zia sambil memeluk Ratu sebentar lalu melepaskannya.
"Selamat datang di keluarga Alexander ya sayang. Jangan bersedih, oke? Mommy tidak ingin cucu Mommy ikutan sedih nantinya. Mommy sudah menyayangi kamu seperti anak kandung Mommy sendiri. Katakan pada Mommy jika Jean memperlakukanmu dengan tidak baik, nanti Mommy bakal hukum Jean kalau dia berani nyakitin menantu Mommy yang cantik ini. Mommy akan selalu mendukung kamu nak," ucap mommy Zia panjang lebar sambil mengelus tangan Ratu.
Ratu yang mendengar perkataan dari ibu mertuanya hanya bisa tersenyum, ia bingung harus menjawab apa. Mengingat dirinya sekarang sudah menikah dengan Jean, sahabatnya sendiri. Ia tak pernah menyangka akan hal itu, rasanya seperti mimpi saja.
"Oh god! Kakak ipar cantik banget sih! Buat Medina jadi pangling liatnya," pekik Medina yang tiba-tiba datang, dia sampai melongo melihat kecantikan perempuan yang kini sudah kakak iparnya itu.
"Terima kasih Medina," balas Ratu tersenyum.
"Ayo sayang kita turun," ajak mommy Zia. Ratu pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan ibu mertuanya.
__ADS_1
...----------------...