
Ratu pun keluar dari kamar dengan di apit oleh mama Hani di sebelah kanan dan mommy Zia di sebelah kiri. Di belakangnya ada Medina, Karina, Arabella serta Ciara yang berada di gendongan ibunya.
Semua orang yang datang ke pernikahan terpukau dan pangling melihat kecantikan Ratu, tak terkecuali Jean. Ia sampai melongo melihat kecantikan Ratu yang kini sudah sah menjadi istrinya. Sampailah mereka di hadapan Jean, lalu Ratu duduk di samping laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Jean mendekatkan wajahnya ke telinga Ratu, "You look so beautiful today. Aku sampai pangling melihatmu," bisiknya memuji kecantikan sahabatnya yang kini telah berganti status menjadi istrinya.
Ratu hanya bisa meremas kebaya pengantin yang dikenakannya. Rasanya Ratu ingin kabur saja dari pernikahan yang menurutnya terpaksa ini, tapi ia tak ingin membuat keluarganya malu nantinya. Seandainya pernikahan atas dasar cinta, mungkin saja senyum kebahagiaan terus tersungging di bibir ranumnya itu.
"Ekhem, bisik-bisik nanti saja ya pas sudah selesai acara, sekarang kalian tanda tangan buku nikahnya dulu ya," goda bapak Penghulu kepada kedua mempelai.
Lalu Jean dan Ratu menandatangani buku nikah mereka. Setelah menandatangani buku nikah, sekarang waktunya untuk memasangkan cincin kawin pada jari mereka.
"Sini tangan kamu," pinta Jean, dengan ragu Ratu memberikan tangan kanannya untuk dipasangkan cincin pada jari manisnya oleh Jean.
Begitu pun dengan Jean, kini giliran tangan kanannya dipasangkan cincin pada jari manisnya oleh Ratu. Tangan Ratu bergetar hebat saat memasangkan cincin kawin tersebut pada tangan Jean.
"Sayang, Ayo sekarang cium tangan suamimu," titah mama Hani pada Ratu.
Ratu hanya mengangguk dan menurut, lalu mencium tangan Jean dengan air mata yang sedari tadi terus keluar dari kedua pelupuk mata cantiknya. Setelah itu Jean pun mencium kening dan mengusap air mata Ratu.
"Aku mohon sama kamu jangan menangis, nanti anak kita ikutan sedih merasakan kesedihan Ibunya," lirih Jean sangat pelan. Mendengar ucapan Jean membuat Ratu semakin terisak dan sedikit terenyuh mendengar ucapan yang dilontarkan Jean. Ingat dia hanya memikirkan anaknya bukan kamu, tolong sadar diri Ratu! Itu terus yang terngiang-ngiang di pikiran Ratu.
Aster's Hotel.
Sore harinya, acara resepsi pernikahan pun langsungkan dengan dekorasi yang sangat mewah dan megah di ballroom hotel bintang 5 yang tak lain pemiliknya adalah daddy Marvin.
2000 tamu undangan membuat Jean dan Ratu kelelahan. Rata-rata semua tamu undangan dari keluarga besar, kalangan rekan bisnis orang tua mereka berdua dan tak lupa pula teman-teman dari kedua mempelai yang turut diundang.
"Pegel banget," keluh Ratu sambil memijit betisnya. Jean menatap Ratu.
"Capek banget ya?" Ratu hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Ya udah kita istirahat aja di kamar hotel," ajak Jean.
"Tapi acaranya--"
"Tidak apa-apa kita tinggalin aja, aku tidak tega melihatmu kelelahan seperti itu," sela Jean memotong ucapan Ratu.
"Ya sudah."
"Mom," panggil Jean pada mommy Zia.
"Ya sayang? Ada yang Mommy bisa bantu?"
"Kami ke kamar hotel duluan ya? Soalnya kasihan Ratu, badannya pegal semua," jelas Jean sedikit berlebihan. Mommy Zia menatap ke arah menantunya.
"Capek banget ya, nak?"
"Iya Mom," jawab Ratu lesu.
"Ya sudah kalian istirahat aja di kamar hotel, untuk para tamu biar Mommy, Daddy, dan orang tua kamu yang urus," ucap Zia lembut. Ratu hanya mengangguk.
"Ayo Tu, atau kamu mau aku gendong?" tawa Jean.
__ADS_1
Ratu menggeleng cepat. "Tidak usah!"
Ratu mengangkat gaunnya yang lumayan berat dan panjang bagian belakangnya, dengan cepat Jean membantu Ratu yang sepertinya kesusahan membawa gaun pengantinnya.
"Sini aku bantuin." Ratu hanya mengangguk membiarkan Jean membantunya.
Di ujung sana seorang pria tengah mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras bahkan matanya ikutan memerah, ia tak rela melihat gadis yang selama ini menjadi incarannya telah menikah dengan laki-laki lain. Pria itu langsung pergi dari sana daripada hatinya akan semakin hancur melihatnya.
Sesampainya di kamar hotel, Ratu langsung menuju ke ranjang. Ia duduk di pinggir ranjang sambil memijat betisnya.
"Sini aku pijitin." Jean membawa kaki Ratu ke atas pahanya, sontak membuat Ratu tersentak.
"Eh tidak usah."
"Tidak apa-apa, ini kah yang pegal?" tanya Jean menatap Ratu. Ratu mengangguk, jantungnya berdegup kencang saat melihat tatapan Jean saat ini. Cukup lama Jean memijat kakinya, Ratu menurunkan kakinya dari paha Jean.
"Sudah, Jean."
"Memangnya udah tidak pegal lagi kakimu?" tanya Jean.
Ratu hanya berdehem, ia segera beranjak dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi. Di depan cermin kamar mandi Ratu memegang dadanya.
"Kenapa dengan jantungku? Untung saja Jean tidak mendengarnya." gumam Ratu, kemudian ia mengambil micellar water untuk membersihkan wajahnya dari makeup, untung saja makeup nya tidak terlalu tebal membuat Ratu tak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan wajahnya. Lalu membuka beberapa pernak-pernik di atas kepalanya.
Ratu membuka resleting gaunnya, jika di dalam sinetron bahkan di dunia novel sang mempelai pengantin wanita akan menyuruh suaminya untuk membukakan gaunnya, hei ini dunia nyata dan Ratu tak mungkin menyuruh Jean untuk membukakan gaunnya. Catat, itu tidak mungkin Ratu lakukan!
Setelah gaunnya terlepas dari tubuhnya, Ratu berjalan menuju bathtub, ia mencoba merilekskan tubuh sekaligus pikirannya dengan berendam air hangat dan ditambah aroma terapi lavender.
Kediaman Alexander.
Mereka berdua memutuskan untuk pulang atas permintaan dari Ratu sendiri.
"Apa sih Jean? Aku capek banget, kamu mau apa?" tanya Ratu tanpa menoleh ke arah Jean.
"Kita makan malam dulu yuk, kamu belum makan malam loh," ajak Jean pada Ratu.
"Tidak usah, aku tidak lapar," timpal Ratu. Walaupun ia masih marah dan kecewa dengan Jean, tapi tetap saja laki-laki itu adalah suaminya dan Ratu harus bersikap sopan kepadanya seperti nasihat yang diberikan oleh mamanya.
"Kalau kamu tidak makan, nanti kamu bisa sakit Ratu dan pasti anak kita kelaparan di dalam sana," ujar Jean begitu lembut. Namun, Ratu tak menjawabnya sama sekali. Ia lebih milih memejamkan mata dengan tetap membelakangi Jean.
"Ratu kamu dengar aku kan?" sentak Jean dengan meninggikan suaranya, karena kesal merasa diacuhkan oleh Ratu. Dengan kesal Ratu bangun dan menatap Jean dengan tajam.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak! Kamu mengerti tidak sih?!" bentak balik Ratu.
Mendengar suara Ratu yang meninggi seperti itu membuat Jean mengepalkan tangan berusaha untuk menahan amarahnya.
BRAKKK!
Jean menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia lebih baik memilih keluar sebelum amarahnya meledak-ledak dan itu nanti bisa menyakiti Rati.
"Hiks maafin aku, Jean." Ratu langsung terisak setelah Jean keluar dari kamar. Ia sebenarnya merasa bersalah dan berdosa karena telah meninggikan suaranya di depan Jean yang kini sudah menjadi suaminya.
"Loh Ratu mana, Jean? Kok tidak ikut turun?" tanya Zia bingung saat melihat Jean datang hanya sendiri ke ruang makan tanpa Ratu.
__ADS_1
"Ratu sudah tidur Mom," jawab Jean bohong, ia tidak mungkin memberitahukan yang sebenarnya kepada Mommy-nya. Lalu duduk di kursi makan samping kiri daddy Marvin.
"Kok tidak kamu suruh makan malam dulu nak? Dia belum makan malam loh."
"Kasihan Mom, dia seperti kelelahan gitu. Mungkin karena berdiri seharian." Alibi Jean mencoba mencari alasan.
"Oh gitu, Ya sudah nanti Mommy suruh Bibi Lulu buatkan dia susu khusus ibu hamil saja untuk Ratu, kasihan calon anak kalian pasti lapar," pungkas Zia. Jean hanya mengangguk mengiyakan ucapan Mommy-nya.
"Oh ya Jean, kamu ada keinginan untuk honeymoon?" tanya daddy Marvin.
Jean menghentikan makannya lalu menatap ke arah daddy Marvin serta berpikir sejenak. "Tentu saja ada, Dad."
"Kamu mau kemana? Biar Daddy pesankan tiket untuk kalian."
"Aku sih maunya ke Maldives saja, Dad. Tapi tidak tau dengan keinginan Ratu," jawab Jean. Ia yakin Ratu pasti akan menolaknya.
"Sebelum kalian pergi ada baiknya periksa kandungan Ratu terlebih dahulu, takutnya nanti terjadi sesuatu hal apalagi kandungan Ratu saat ini masih sangat muda. Biasanya saat terbaik penerbangan jauh untuk ibu hamil itu ketika umur kandungannya sekitar 14 hingga 27 minggu," jelas mommy Zia.
Jean memikirkan apa yang diucapkan mommy Zia tadi ada benarnya, tak ingin Ratu dan calon anaknya kenapa-napa nantinya.
"Nanti saja kami pergi honeymoon nya, setelah kandungan Ratu sudah sedikit membesar," ucap Jean.
"Baiklah son, jika itu memang yang terbaik buat Ratu dan kandungannya, Daddy tidak ingin cucu Daddy kenapa-napa nantinya," kata daddy Marvin.
"Mommy sudah tak sabar mendengar suara bayi dirumah ini," ucap mommy Zia antusias, wanita paruh baya itu sudah tidak sabar menunggu kelahiran cucunya ke dunia ini.
"Daddy juga sama Mom, sudah 17 tahun ini tidak pernah mendengar suara tangisan bayi lagi di rumah ini," timpal daddy Marvin. Jean tersenyum mendengar ucapan dari kedua orang tuanya yang sangat menginginkan seorang cucu.
"Tenang saja Mom, Dad. Nanti Jean buatkan cucu yang banyak untuk kalian," ucap Jean.
Ia juga berharap jika nanti dirinya dan Ratu nantinya memiliki banyak anak, agar rumahnya nya selalu ramai dengan tangis dan tawa anak-anaknya nanti.
Setelah selesai makan malam, Jean kembali ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan amat pelan. Jean melihat Ratu sudah tertidur, ia melangkah kan kakinya menuju ke ranjang. Lalu mendudukkan bokongnya di samping Ratu.
"Ratu, bangun yuk. Kamu minum susu dulu," ucap Jean membangunkan Ratu. Ratu terusik dan mulai membuka matanya.
"Ada apa? Aku ngantuk," ucapnya serak.
"Minum susu dulu, baru tidur lagi. Anak kita pasti kelaparan di dalam sana," bujuk Jean dengan lembut. Ratu yang masih mengantuk itu hanya mengangguk, dengan perlahan ia merubah posisinya menjadi duduk.
"Ini susunya." Jean menyodorkan segelas susu pada Ratu. Ratu menerimanya langsung meminumnya hingga tandas tak bersisa.
"Sini gelasnya." Jean mengambil alih gelas di tangan Ratu.
"Sekarang kamu tidur saja lagi," suruh Jean. Ratu hanya mengangguk dan merebahkan tubuhnya, tak lama ia kembali tertidur saking ngantuk di tambah kelelahan akibat seharian berdiri menyalami para tamu.
Jean tersenyum kecil melihat ratu yang sudah tertidur kembali.
"Aku baru sadar kalau selama ini dia itu sangatlah cantik," ucap Jean. menatap wajah Ratu yang cantik dan polos ketika tertidur.
Hei kau darimana saja Jean, kenapa baru sekarang kamu menyadari bahwa Ratu itu sangatlah cantik!
"Aku memang belum mencintaimu, Tu. Tapi aku berjanji akan berusaha untuk itu," batin Jean.
__ADS_1
...----------------...