
Pagi harinya, Ratu menggeliat dalam tidurnya, karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang mengintip lewat celah-celah gorden kamar.
Dengan pelan ia membuka matanya, lalu melirik ke arah samping terlihat Jean yang tertidur dengan posisi tengkurap. Ratu menatap wajah suaminya bak dewa Yunani itu terlihat teduh dan tenang saat tidur.
"Kenapa dia itu selalu tampan, tapi sayang Jean tidak memiliki perasaan apapun kepadaku," gumam Ratu tersenyum kecut.
"Walaupun begitu aku berterima kasih kepada Jean, karena dia berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku berharap dia segera memiliki perasaan yang sama denganku suatu hari nanti," sambung Ratu sembari mengusap pipi Jean sebentar. Ia pun beranjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi.
30 menit kemudian, Ratu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Hari ini Ratu masuk kuliah, walaupun dia dan Jean baru saja melangsungkan pernikahan.
Ratu melihat Jean yang masih tertidur, lalu dia menghampiri lelaki yang semalam telah menjadi suaminya itu ke ranjang untuk membangunkannya.
"Jean bangun, kamu tidak kuliah hari ini?" tanya Ratu sambil menggoyang-goyangkan lengan Jean.
"Eugghh, Jean masih ngantuk, Mommy. 10 menit lagi please," ujar Jean dengan suara parau dan masih tetap dalam posisi tengkurap tanpa membuka mata.
"Ini sudah siang Jean dan aku bukan mommy kamu ya!" ujar Ratu dengan ketus. Jean yang mendengar itu langsung membuka mata dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Hah Ratu!" pekik Jean sedikit tak percaya dengan keberadaan Ratu saat ini.
"Sudah puas tidurnya, Tuan muda Alexander?" cibir Ratu. Jean hanya diam dan melongo menatap wajah cantik Ratu.
"Kamu mandi dulu sana, pagi ini kita ada ujian Ekonomi di kampus," titah Ratu. Jean tetap saja diam membuat Ratu kesal.
"Heh kamu denger aku kan?!" Sentak Ratu dengan meninggikan suaranya agar Jean tersadar dari lamunannya.
"Hah? Iya ini aku mau mandi," jawab Jean gugup. Lalu bangun dan berjalan ke kamar mandi seraya sesekali menoleh ke arah Ratu.
Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala, ia heran dengan tingkah laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Sejak dari dulu sifatnya tidak berubah, dia paling tidak bisa dibangunkan kalau pagi," lirih Ratu tersenyum tipis.
Ratu melangkah kan kakinya menuju ke wardrobe untuk menyiapkan baju yang akan Jean kenakan ke kampus, lalu meletakkannya di atas ranjang. Walaupun ia masih marah dan kecewa dengan Jean, tetapi Ratu harus tetap bertanggung jawab melayani suaminya dengan baik, seperti nasehat dari sang mama.
Sementara di dalam kamar mandi, Jean diam termenung dan bersandar di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Astaga, kok aku bisa lupa kalau udah punya istri sekarang," ucap Jean sambil menepuk jidatnya.
"Sudah lah, mending sekarang aku mandi cepat-cepat, hari ini kan ada ujian si dosen killer," ucap Jean sambil membuka semua pakaiannya dan berjalan ke dalam bilik shower.
Membutuhkan waktu 15 menit untuk Jean mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bulir-bulir air masih menetes di leher hingga ke perut kotak-kotak miliknya, dia terlihat sangat sexy dan menggairahkan.
Ratu pun melihat ke arah Jean yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, ia langsung terpesona dan melongo pemandangan di depannya itu, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya, jangan sampai tertangkap basah oleh Jean jika tadi Ratu memperhatikannya.
Jean berjalan menghampiri Ratu di ranjang dengan masih mengenakan handuk dan bertelanjang dada.
"Ini aku sudah siapkan baju kamu," ujar Ratu.
"Terima kasih Ratu," ujar Jean tersenyum manis.
Ratu mengangguk, "Kalau gitu aku ke bawah duluan."
Jean hanya mengangguk.
Ratu turun menuju ke ruang makan. Disana ada kedua mertua dan adik iparnya yang sedang sarapan.
"Pagi juga nak," balas mommy Zia dan daddy Marvin serempak.
"Pagi juga kakak iparku yang paling cantik," balas Medina. Ratu tersenyum dan duduk di sebelah adik iparnya.
"Jean mana, nak. Kok dia tidak ikut turun denganmu?" tanya daddy Marvin pada Ratu, karena tak melihat putranya itu turun ke ruang makan bersama mantunya.
"Mungkin Jean masih pakai baju Dad, dia baru selesai mandi," jawab Ratu. Daddy Marvin hanya mengangguk.
"Sarapan dulu yuk sayang. Kamu kan semalam tidak makan, kata Jean kamu udah tidur, tapi semalam susunya sudah diminum kan?" tanya mommy Zia.
Ratu mengangguk, "Sudah kok, Mom."
"Syukurlah."
"Pagi semua," sapa Jean yang baru datang ke ruang makan.
__ADS_1
"Pagi," jawab semuanya, kecuali Ratu. Jean duduk di sebelah istrinya.
"Pagi-pagi rambutnya sudah basah saja kak, semalam sudah ngapain nih sama kakak ipar?" goda Medina melihat rambut Jean yang masih terlihat basah itu, sembari menatap kakak dan kakak iparnya.
"Mau tau saja kamu, bocah! Lebih baik kamu belajar baik-baik, jangan ikut campur urusan orang dewasa!" ucap Jean memarahi adiknya.
Medina mendengus, padahal kan sebentar lagi umurnya juga akan dewasa, kakaknya itu memang sangat menyebalkan! Sementara Ratu hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala, ia sudah tidak heran lagi sedari dulu adik-kakak itu memang sangat jarang akur.
"Sudah-sudah, sekarang kalian sarapan dulu!" suruh mommy Zia dan di balas anggukan kepala oleh semua.
Selesai ujian, Ratu dan Vina pergi ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai bahan pembelajaran.
"Sumpah aku belum mengerti kenapa Jean bisa melakukan hal seperti itu kepadamu, Tu?" tanya Vina penasaran yang sebenarnya terjadi pada Ratu dan Jean.
"Ceritanya lumayan panjang Vin," lirih Ratu.
"Coba ceritakan ke aku, aku penasaran banget," desak Vina.
Ratu menghela napas panjang, ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan suara pelan, karena tempatnya tidak memungkinkan dirinya untuk berbicara besar-besar dan untung saja perpustakaan sedang sepi pengunjung membuatnya leluasa untuk bercerita.
"What?! Gila sih si Jean!" pekik Vina. Ratu langsung memukul paha Vina yang berteriak tadi.
"Ussttt pelan-pelan Vin, ini perpustakaan bukan hutan. Bisa-bisa nanti kita diusir dari sini sama petugas perpustakaan!" ucap Ratu dan sang pelaku hanya nyengir kuda tanpa dosa.
"Tapi kamu beruntung banget sih nikah sama Jean, dia kan sangat populer di kampus, sudah tampan, pintar, kaya raya, mana jadi ketua BEM lagi," ucap Vina memuji lelaki yang sudah menjadi suami dari sahabatnya itu.
"Tapi bukan karena hal itu yang membuat aku mencintai Jean..." gumam Ratu pelan.
"Kamu tadi mengatakan sesuatu?" tanya Vina yang seperti mendengar sedikit gumaman dari Ratu.
Ratu menggeleng cepat dan tersenyum, "Aku tidak mengatakan apa-apa kok, Vin."
Vina hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan Ratu, tapi tadi dia sayup-sayup mendengar jika Ratu mencintai Jean.
...----------------...
__ADS_1