
Mommy Zia mengetuk pintu kamar Jean, ia akan mengantarkan putranya itu makanan.
"Nak, ini Mommy. Mommy masuk ya?"
Tak ada sahutan pun dari Jean, mommy Zia pun mencoba masuk ke kamar putranya. Mommy Zia melihat putranya itu tengah bersandar di headboard ranjang sambil menatap foto Ratu dan Ravindra, kegiatan yang selalu ia lakukan akhir-akhir ini. Bahkan udah 1 bulan lebih ini ia tidak pernah datang ke perusahaan, saking kalutnya perasaan pria itu ditinggal oleh kedua orang yang sangat berarti di hidupnya.
"Ayo sarapan dulu nak, udah jam 9 loh ini," ujar mommy Zia duduk di pinggir ranjang.
"Tidak mau Mom, Jean tidak nafsu," tolak Jean. Ia menatap makanan yang di bawa Mommy-nya tanpa ada rasa minat sedikitpun.
Mommy Zia menghela napas panjang. "Kamu harus sarapan. Kalau Ratu lihat kamu seperti ini dia bisa sedih," bujuknya.
"Kalau Jean begini dan bisa membuat Ratu pulang kesini gapapa, Mom. Jean sangat ikhlas," balas Jean. Sepertinya mommy Zia salah bicara.
"Jangan seperti itu, Nak. Kamu harus makan dan mengisi energi biar kamu lebih semangat lagi mencari keberadaan Ratu dan Ravindra. Makan ya, nak?" bujuk mommy Zia lagi. Jean hanya mengangguk pelan. Mommy Zia tersenyum, akhirnya putranya itu mau makan juga. Dengan telaten mommy Zia menyuapi Jean.
Ponsel Jean berdering, nama Rico lah yang terpampang disana, dengan cepat Jean mengangkat telpon tersebut. Takutnya itu nanti tentang keberadaan istri dan anaknya.
"Halo, Tuan."
"Ya Rico?"
"Saya mendapatkan informasi tentang keberadaan Nyonya Ratu dari mata-mata yang saya sewa."
Raut wajah Jean seketika berubah menjadi ceria ketika mendengar ucapan Rico. Mommy Zia tersenyum melihatnya.
"Ya Allah, semoga Ratu dan Ravindra segera ditemukan," batin mommy Zia. Walaupun ia marah dan kecewa dengan Ratu, tapi rasa sayangnya terhadap Ratu lebih besar dari segalanya.
"Mereka ada dimana Rico?"
"Mereka melihat Nyonya Ratu berada di Korea Selatan, Tuan."
"Kamu serius?" tanya Jean memastikan.
"Iya benar, Tuan. Mereka melihat sendiri jika bu Ratu tengah berbelanja makanan street food dengan seorang pria."
Rahang Jean langsung mengeras dan wajahnya memerah mendengar ucapan Rico tadi yang mengatakan jika istrinya sedang bersama laki-laki lain.
"Suruh anak buah saya cari dan bawa istri beserta anaknya ke Indonesia secepatnya!"
"Baik Tuan."
Panggilan itu pun terputus.
"Mom," lirih Jean, bibirnya bergetar menahan tangis. Mommy Zia yang paham pun langsung memeluk putranya.
"Mom, Ratu tidak mungkin kan menduakan Jean disana, hiks," isak Jean lirih dalam pelukan mommy Zia.
"Mommy yakin Ratu tidak mungkin melakukan hal seperti itu, Nak. Mungkin yang bersama Ratu itu teman atau sepupunya," ucap mommy Zia mencoba menenangkan putranya.
"Jean berharapnya begitu, Mom."
Seorang CEO Alexander's Group, cengeng? Jean bahkan tidak peduli akan pandangan orang lain tentang akan hal itu. Ia memang lemah dan cengeng jika sudah bersangkutan dengan orang-orang yang ia cintai.
__ADS_1
...****************...
Berbeda dengan di Indonesia, di China Ratu tengah berkebun dengan nenek Putri. Sedangkan Ravindra, ikut dengan kakek Wang ke kandang kuda miliknya yang memang berada di belakang mansion.
Ratu memetik bunga mawar merah yang di tanam di kebun itu. Bukan hanya mawar saja, di kebun itu pun juga ada bunga peony, krisan, tulip, camelia dan lain sebagainya. Itu semuanya merupakan bunga milik nenek Putri, beliau memang suka menanam bunga.
Kandungan Ratu sudah memasuki usia 32 minggu, kurang lebih 6 minggu lagi buah hatinya yang kedua akan segera lahir ke dunia.
"Sehat-sehat ya nak sampai lahiran," ujar Ratu sambil mengelus perut buncitnya. Hatinya langsung sesak mengingat nanti ia akan melahirkan tanpa suami di samping untuk menguatkannya.
"Hai-hai good morning everybody!" ucap Sean yang tiba-tiba datang.
Nenek Putri memutar matanya jengah. "Ingat pulang juga kamu," sindirnya. Sudah 3 minggu ini Sean tidak pulang ke mansion kakeknya, entah apa yang dilakukan oleh pria flamboyan itu diluar sana.
"Ah Nenek, tidak usah marah gitu dong. Nanti keriput di wajah nenek bisa bertambah loh!" ucap Sean sambil memeluk sang nenek yang tengah menanam bunga itu.
"Tidak usah peluk-peluk! Lebih baik sekarang bantuin adik kamu metik bunga sana!" Titah nenek Putri dengan nada ketus.
"Ck. Iya Nek," ujar Sean pasrah. Sean menghampiri Ratu yang sedang memetik bunga.
"Hai Ratu," sapa Sean.
"Hai kak," balas Ratu.
"Aku bantu metik bunga ya?"
"Iya silahkan aja, kak."
"Awwww." Saat Sean akan memetik bunga mawar, tak sengaja jarinya tertusuk duri mawar, membuat jari Sean mengeluarkan sedikit darah. Dengan gerakan refleks, Ratu mengambil tangan dan menghisap jari Sean yang berdarah itu.
Jantung Sean berdegup kencang dan berhasil membuat telinga pria itu langsung memerah pertanda ia tengah malu.
"Oh God! Ingat Sean, she's your cousin," jerit Sean dalam hatinya. Semenjak ada Ratu, jantung Sean selalu menjadi tidak baik-baik saja jika berada dekat dengan wanita itu.
"Kenapa kak, perih ya? Padahal cuma kena duri aja," tanya Ratu polos karena melihat Sean yang hanya diam saja.
"Ah ini tidak perih kok, Ratu." Sean segera menurunkan tangannya.
"Mommy!" Teriak Ravindra memanggil Ratu. Bocah itu berlarian menghampiri mamanya.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh sayang," tegur Ratu.
"Mom, tadi Ravin liat kuda. Terus Ravin naik kuda sama kakek," ujar Ravindra menceritakan kegiatannya dengan kakek Wang tadi. Bocah tampan itu semakin hari semakin pintar dan aktif.
"Oh ya? Ravindra senang naik kuda?" tanya Ratu.
"Senang sekali, Mom. Besok Ravin juga pengen naik kuda sama Daddy."
Tenggorokan Ratu langsung tercekat dan dadanya terasa seperti dihantam batu besar saat putranya mengatakan itu. Sean yang mengetahui yang Ratu rasakan pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ravindra, mau ikut sama Om tidak?"
"Mau kemana, Om?" tanya Ravindra.
__ADS_1
"Beli es krim, Ravindra mau?" Tawar Sean. Sean fasih juga berbahasa Indonesia.
"Mau, Om. Ravin mau es krim cokelat!" ucap Ravindra girang.
"Let's go, kita pergi beli."
"Mommy ikut?" tanya Ravindra.
"Tidak, nak. Ravindra pergi sama om Sean saja. Mommy mau temani nenek," tolak Ratu dengan lembut.
"Udah. Kamu ikut aja, Ratu ," timpal Sean. Ratu menimang ucapan Sean tadi, ia melihat ke arah nenek Putri yang ternyata tengah menatapnya dan nenek Putri mengangguk yang artinya dia mengizinkan Ratu untuk pergi bersama Sean.
"Ya sudah deh." Ratu pun ikut dengan dua laki-laki berbeda generasi itu.
Kini mereka bertiga berada di salah satu kedai es krim terbesar di Beijing.
"Ini es krim punya Ravindra dan mommy Ratu." Sean menyodorkan cup yang berisi eskrim pada Ratu dan Ravindra. Mata Ratu mendelik saat Sean memanggilnya dengan sebutan 'MOMMY'.
"Makasih Om," ujar Ravindra.
"Sama-sama, boy."
"Ayo dimakan es krimnya Ratu," suruh Sean.
"Iya kak, terima kasih."
Sean melihat ke arah pintu, ia melihat seorang perempuan yang merupakan salah satu mantan kekasihnya dan perempuan itu tersenyum sambil menuju ke arahnya.
"Hai, Sean."
"Eh hai Lusi," sapa balik Sean sedikit kikuk.
"Mereka siapa?" Tanya Lusi menatap Ratu dan Ravindra.
"Ah kenalkan dia istri dan anakku," ucap Sean sambil merangkul pundak Ratu yang berada di samping itu. Ratu tersentak mendengar ucapan Sean, lalu ia menatap tajam ke arah kakak sepupunya itu.
"Please bantu aku Ratu," bisik Sean.
Ratu menghela napas. "Hai aku, Ratu. Istrinya Sean." Ratu mengikuti sandiwara yang dibuat oleh Sean.
"Sejak kapan kamu menikah, Jus? Setahuku, kamu masih suka bersenang-senang dengan wanita murahan di luar sana," sindir Lusi. Sean sangat geram mendengarnya, namun ia harus tenang dan tidak boleh terbawa emosi.
"Sebenarnya aku itu udah nikah lama, hanya saja aku menyembunyikan mereka dari publik. Ya kan lao po?" tanya Sean menatap Ratu. Rasanya Ratu ingin muntah saat Sean memanggilnya dengan sebutan Lao Po yang berarti istri dalam bahasa Mandarin.
"Iya benar," jawab Ratu memaksakan senyumannya.
"Syukurlah kalau kamu sudah taubat." Setelah mengatakan itu Lusi langsung pergi dari hadapan mereka. Ratu tak segan-segan mencubit perut Sean.
"Adawww sakit Ratu," ringis Sean saat mendapat cubitan maut Ratu.
"Ngapain sih pakai ngaku-ngaku kalau aku sama Ravindra itu istri dan anak kamu!" Kesal Ratu.
"Iya maafkan aku, Ratu. Soalnya dia itu orangnya mengganggu banget, makanya aku bilang gitu aja biar cepat pergi," jelas Sean. Ratu langsung mendengus, sedangkan Ravindra fokus memakan es krimnya sambil menatap polos orang-orang di depannya.
__ADS_1