
Jean menatap teduh anaknya yang tengah tertidur di dalam box khusus untuk bayi. Lengkungan senyumnya terlihat jelas. Rautnya nampak sekali bahagia.
Mengelus surai sang anak dengan lembut. Mengecupnya sebentar, lalu membenarkan selimut yang ukurannya sedang itu agar sang anak nyaman di dalam tidurnya.
"Mimpi indah jagoan, Daddy."
Jean beralih pada Ratu yang berada di atas ranjang, lalu menghampiri istrinya itu.
"Sudah tidak sakit lagi buat jalan?" tanyanya kepada Ratu.
"Lumayan sakit tapi dipaksain saja biar terbiasa."
"Ya sudah, sekarang kita tidur yuk, sudah malam," ajak Jean sambil membaringkan tubuhnya di ranjang, tangannya menarik tangan Ratu membuat kepala Ratu berada di lengannya.
Oek Oek Oek
Oek Oek Oek
Tangisan bayi menggelegar di seisi rumah. Ratu langsung bangkit dari tidurnya. Menoleh sebentar untuk melihat suaminya yang ternyata tidur begitu lelap sampai tidak sadar bahwa anaknya menangis.
Segera turun dari ranjang. Lalu menghampiri box bayi yang berisi anaknya. Ratu meraba-raba bagian bokong sang anak untuk mengecek apakah anaknya kencing atau pup. Ratu menghela napas kala mendapat rasa basah di celana sang anak.
Untuk yang ingin tahu, Ratu tidak memakaikan popok buatan pabrik untuk sang anak ketika tidur. Ratu hanya menggunakan popok dengan bahan kain agar tidak membuat iritasi kepada kulit anaknya. Itupun atas perintah dari mama Hani.
"Sutttt... anak Mommy pipis ya? Basuh dulu ya sayang," gumamnya sembari menenangkan tangisan sang anak. Tangisan itu mulai mereda kala Ratu mengangkat anaknya untuk dipindahkan ke tempat khusus untuk mengganti popok.
"Lucunya anak Mommy..."
Selesai menggantikan popok. Ratu membawa sang anak untuk ikutan bergabung di kasurnya. Ratu membuka gaun tidurnya yang terdapat kancing agar memudahkan untuk menyusui. Ditempelkan pucuk dadanya kepada bibir sang anak, dan langsung dilahap rakus oleh Ravindra. "Aduh lapar banget ya?" ucapnya sembari terkekeh kecil.
Jean menggeliat kecil kala mendengar suara seseorang yang berbicara. Setelah membuka matanya ternyata istrinya yang tengah berbicara cara dengan sang anak.
"Kenapa tidak membangunkan ku, sayang?" tanya Jean.
Ratu mengalihkan pandangannya kepada suaminya. "Kamu tidurnya nyenyak banget. Jadi, aku tidak enak buat ganggu."
"Ya tidak apa-apa, sayang. Aku mau kok temenin kamu begadang."
Ratu menggeleng pelan. "Tidak usah. Kamu besok udah mulai kerja lagi, jadi istirahat yang cukup supaya besok tidak mengantuk."
"Tidak usah kerja saja gimana?" usul Jean.
__ADS_1
"Kamu mau kasih makan apa aku sama Ravin?
"Ya nasi," jawab Jean cepat.
"Beli nasi harus pakai apa?"
"Uang," jawab Jean.
Ratu langsung membalas perkataan suaminya cepat. "Ya makanya kerja buat dapatin uang yang nantinya dibeliin beras buat makan."
Walaupun tidak bekerja sebulan pun, Jean bisa menghidupi Ratu dan anak-anaknya hingga ratusan tahun lagi.
"Tapi tidak mau... Aku pengen di rumah saja urus anak kita. Ya, boleh ya?" Jean mengeluarkan puppy eyes andalannya.
"Ya udah kamu urus Ravindra dan biar nanti aku yang kerja cari uang!" ucap Ratu ketus.
"Sudah seperti dunia terbalik saja."
...****************...
"Bye-bye Daddy," ucap Ratu dengan menirukan suara anak kecil.
"Sayang, hari ini aku tidak kerja saja ya," pinta Jean lagi dengan wajah memelas nya. Sungguh dia benar-benar tak ingin jauh dari jagoannya.
"Iya-iya berangkat nih. Eh cium jagoan Daddy dulu dong," pinta Jean.
Cup!
Jean mencium sekilas pipi anak bayinya. Kemudian beralih pada Ratu dengan mencuri ciuman pada bibir ranum istrinya itu.
"Ish! Cari kesempatan dan kesempitan!" kesal Ratu, walaupun itu ia tetap menyukainya.
"Bibir kamu selalu buat candu sayang," ucap Jean sambil mengedipkan sebelah matanya membuat pipi Ratu memanas.
"Sana pergi kerja!" ucap Ratu mendorong tubuh Jean.
"Iya sayang, kalau ada apa-apa telpon aku ya?" pesan Jean.
"Iya sayang."
Dengan berat hati, Jean pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.
__ADS_1
Kini, Ratu tengah duduk di atas ranjang sembari menggendong sang anak untuk disusui. Ratu tersenyum menatap sang anak sembari tangannya mengelus rambut lebat anaknya. Isapan kuat dari mulut anaknya menyalurkan kebahagiaan bagi Ratu. Maka dari itu sedari tadi senyumnya tidak luntur-luntur.
"Anaknya Mommy tampan banget sih," gumamnya tak lupa mencubit pipi tembam sang anak pelan.
"Pasti nanti kalau udah besar kamu jadi bintang di sekolah ya. Tapi kalau jadi bintang sekolah kamu tidak boleh sombong. Setampan dan sepintar apapun kamu nanti, kamu harus melihat ke sekitar bahwa kamu bukan laki-laki satu-satunya yang memiliki ketampanan dan kepintaran."
"Kok Mommy ngomongnya ngelantur ya?" Dalam gendongannya itu mata Ravindra tak beralih sedikit pun untuk menatap sang Mommy.
Mata bulat bewarna hazel itu terlihat berbinar. Isapannya pun semakin menguat. Selepasnya bayi laki-laki melengkungkan senyumnya ketika masih menghis*p ASI Mommy-nya.
Karena dirinya tidak fokus bekerja, pikirannya terus tertuju kepada anak istrinya di rumah, jadi Jean memutuskan untuk langsung pulang ke rumah padahal ini masih siang hari. Dia pulang sambil membawa mainan yang cukup banyak, sedangkan putranya masih sangat kecil untuk memainkan itu.
Jean menyuruh sopir dan penjaga keamanan di rumahnya untuk menaruh mainan yang dibelinya tadi di ruang tengah, lalu dia melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Membuka pintu kamar, Jean langsung tersenyum melihat pandangan yang menghangatkan hatinya. Dia melihat istrinya sedang menyusui jagoannya.
"Sayang," panggil Jean mendekati Ratu di ranjang. Ratu cukup terkejut melihat kedatangan Jean.
"Loh kok sudah pulang kerja?" tanya Ratu heran.
"Iya soalnya pikiran aku hanya kamu dan Ravindra, jadi aku tidak fokus," ucap Jean jujur.
"Kamu ini." Ratu geleng-geleng kepala.
"Hai son," panggil Jean sambil mengecup pipi putranya yang sudah melepaskan ASI-nya.
"Ish jangan ganggu! Dia baru saja tertidur!" ucap Ratu kesal.
Jean terkekeh kecil ketika melihat mulut Ravindra yang masih seperti masih menghis*p ASI Mommy-nya. "Lucu banget sih kamu," ucapnya.
Jean beralih menatap Ratu, "Sayang, tadi aku belikan mainan untuk Ravin," ucap Jean.
Ratu melebarkan matanya, "Ravin masih kecil Jean, ngapain kamu belikan dia mainan!"
"Tidak apa-apa sayang, itu mainannya limited edition, makanya aku belikan saja untuk Ravin," ujar Jean dengan santai. Kepala Ratu seketika berdenyut dibuatnya, dia yakin suaminya itu kelak akan selalu memanjakan anak-anaknya.
Tak ingin di buat pusing oleh ulah suaminya, Ratu turun dari ranjang berjalan ke box bayi untuk menaruh Ravindra di sana.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Ratu.
Jean menggeleng, "Belum.
__ADS_1
"Ayo kita ke ruang makan, aku juga belum makan siang," ajak Ratu. Jean mengangguk lalu menggandeng tangan Ratu ke bawah.
...----------------...