
Ratu mengenakan dress berwarna hitam model a-line yang melebar ke bawah. Di bagian pinggang dress diberi aksen kerutan di pinggirannya, sementara di lengan dress dibuat dengan model balon yang pendek dengan kerutan di ujungnya. Perutnya yang buncit membuat Ratu terlihat seksi.
Ratu juga menambah perhiasan seperti anting dan kalung, tak lupa hand bag dan flatshoes berwarna silver keluaran terbaru sekaligus limited edition dari brand ternama.
Setelah selesai, Ratu keluar dari kamar menuju ke ruang tengah karena sang suami menunggunya disana.
"Yuk sayang," ajak Ratu. Jean mendongak menatap sang istri, takjub dan terpesona? Tentu saja, Jean selalu kagum dan terpesona dengan kecantikan istrinya.
Jean pun tak kalah mempesona dengan penampilannya malam ini, ia menggunakan kemeja hitam dipadukan dengan jas biru dongker dan celana kain yang selaras dengan jasnya. Tak lupa jam tangan dan sepatu pantofel hitam keluaran brand terkenal dunia.
"Cantik banget sih istriku ini, jadi malas untuk bawa kamu keluar nanti bisa jadi santapan lelaki mata jelalatan," keluh Jean.
Ratu menghela napas panjang, "Kan ada kamu sayang, tidak mungkin mereka akan berani menatap istri dari Jeandra Alexander," ucapnya menenangkan Jean.
"Tapi sayang--"
"Ish! Ayo nanti bisa telat datangnya," potong Ratu sambil menarik tangan Jean menuju keluar rumah. Jika terus di ladenin, bisa panjang urusannya.
Saat ini mereka berdua telah sampai di rumah mewah berlantai dua namun sangat luas. Acaranya dilaksanakan di halaman depan rumah Ricky Wijaya, rekan bisnis Jean.
Jean mengajak Ratu untuk menghampiri sang pemilik acara.
"Selamat malam Tuan Ricky Wijaya," sapa Jean.
"Malam Tuan muda Alexander," balas Ricky sambil menjabat tangan Jean.
"Selamat ulang tahun untuk perusahaan anda, semoga selalu maju dan sukses," ucap Jean.
Ricky tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih Tuan Jean." Ricky menatap ke arah wanita cantik yang berada di sebelah Jean, "Ini istri anda?" tanyanya.
"Iya benar," jawab Jean.
"Wow! Ternyata anda menikah muda Tuan Jean, bahkan anda akan segera memiliki momongan," ucap Ricky yang masih tak percaya jika Jean sudah menikah, sedangkan dirinya saja yang sudah berumur 30 tahun belum menikah sampai sekarang.
Jean tersenyum kecil, "Begitulah Tuan, jodoh tidak ada yang tahu."
Ricky manggut-manggut, "Kalau begitu silahkan nikmati pestanya," ucap Ricky dan di balas anggukan kepala oleh Jean.
Jean menatap ke arah Ratu, "Mau makan?" tawarnya.
__ADS_1
"Mau!" jawab Ratu. Jean pun mengajak Ratu ke tempat prasmanan berada.
Makanan disana hampir semua menggoda Ratu, tapi matanya saat ini tertuju pada kue-kue yang tertata rapi di atas meja. Ratu pun mengambil beberapa kue yang menurutnya sangat enak.
"Kamu tidak makan sayang?" tanya Jean.
Ratu menggeleng, "Nanti saja."
"Ya sudah, kamu tungguin aku di meja itu ya? Aku mau menghampiri rekan bisnis aku yang juga datang kesini," ucap Jean.
Ratu hanya mengangguk, Jean pun meninggalkan Ratu dan melangkahkan kakinya ke tempat rekan-rekan bisnisnya berada.
Saat sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba datang seseorang yang membuat Jean emosi.
"Hai semua," sapanya basa-basi.
"Ck, ngapain juga pria brengsek itu disini," geram Jean dalam hati saat melihat Romi, musuh bebuyutannya berada di dalam pesta yang sama dengannya.
Romi menatap ke arah Jean, "Loh rupanya ada Tuan Jean disini," ucapnya. Jean hanya diam dan menatapnya dengan sinis.
"Itu kekasih anda Tuan Romi?" tanya Gery, salah satu rekan bisnis Jean yang juga mengenali Romi.
"Kalau Tuan Jean gandengannya mana nih?" celetuk Toni membuat rekan bisnis yang berbincang-bincang dengan Jean tadi melihat ke arahnya.
"Iya benar Tuan Jean, gandengan anda mana nih?" timpal rekan bisnisnya yang lain.
"Apa seorang Tuan muda Alexander masih single?" tanya Romi menatap remeh Jean.
"Sayang!" panggil Ratu yang datang menghampiri Jean membuat semuanya langsung melihat ke arah wanita cantik yang tengah hamil itu.
"Hei kok malah kesini? Kan aku suruh tungguin disana," ucap Jean mendekati Ratu dan langsung merangkul mesra pinggang istrinya.
"Aku bosan sendirian disana," keluh Ratu sambil memanyunkan bibirnya membuat Jean terkekeh gemas dan mencium pipi istrinya, rekan-rekannya yang melihat itu hanya bisa melongo.
"Ah ya, kenalkan semuanya, ini istri saya," ucap Jean memperkenalkan Ratu.
"Istri?" beo mereka semua. Jean hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Diam-diam Romi terpesona melihat kecantikan Ratu, walaupun wanita itu sedang hamil, itu malah membuat kecantikan Ratu makin bertambah. Romi juga merasa iri ketika Jean mendapatkan wanita yang lebih cantik dari miliknya. Pria itu memang dari dulu selalu iri dan tidak suka melihat Jean bahagia.
__ADS_1
"Anda menikah muda?" tanya Gery.
"Iya betul, kami menikah saat kami masih kuliah dulu," jawab Jean.
"Wah aku merasa iri dengan anda Tuan Jean, apalagi sekarang anda akan segera dikaruniai seorang anak," timpal Toni dan di balas senyuman tipis oleh Jean.
"Setahu saya, jika wanita yang menjadi istri anda itu sahabat anda sendiri, Tuan Jean? Jadi anda menikah dengan sahabat anda sendiri?" sahut Romi.
"Ya anda benar, ternyata jodoh saya itu adalah sahabat dekat saya sendiri. Bahkan saya masih belum menyangka kalau dia adalah jodoh saya," ucap Jean menatap Ratu dengan tatapan penuh cinta.
"Cerita anda sudah seperti novel yang sering istri saya baca," celetuk salah satu rekan bisnis Jean. Jean hanya tersenyum tipis, sementara itu Romi semakin iri dengan Jean.
Di perjalanan menuju Rumah, Ratu merasakan ingin memakan sesuatu.
"Aku mau makan martabak keju dan coklat dong sayang," ucap Ratu.
"Hah? Memangnya kamu belum kenyang sayang?" tanya Jean heran karena di pesta tadi istrinya banyak makan.
"Sepertinya baby boy lapar lagi, Daddy," ucap Ratu memasang wajah puppy eyes andalannya dan Jean selalu saja tidak bisa untuk menolak permintaannya. Panggilan Daddy dari mulut Ratu selalu membuat hati Jean menghangat.
"Ya sudah, nanti kalau ada yang jual kita berhenti," ucap Jean.
"Oke!"
Tak lama akhirnya terlihat lah yang berjualan martabak.
Jean memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan memesan martabak keju yang Ratu inginkan dari dalam mobil.
Setelah menunggu lumayan lama karena pembelinya cukup banyak dan mengantri akhirnya pesanan Ratu pun selesai.
Ratu langsung melahap martabak itu setelah sebelumnya dia diamkan agar tak terlalu panas saat di makan, sesekali menyuapi Jean yang tengah menyetir itu.
"Kita langsung pulang atau kamu menginginkan sesuatu lagi, sayang?" tanya Jean.
"Pulang saja, aku lelah," jawab Ratu.
Jean mengangguk, lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah.
...----------------...
__ADS_1