Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 28


__ADS_3

"Jean!" teriak Ratu.


Jean yang berada di ruang kerjanya langsung berlari menuju ke kamarnya setelah mendengar teriakan dari istrinya, kebetulan ruang kerja Jean yang ada di mansion, dekat dengan kamar. Membuka pintu kamar, Jean melihat Ratu tengah menutup hidung dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membawa botol parfum miliknya. Pria itu segera menghampiri istrinya.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" tanya Jean heran.


"Ini buang!" perintah Ratu seraya menyodorkan botol parfum tersebut pada Jean.


"Itu kan parfum aku sayang, itu juga aku belinya di Jerman, lumayan loh harganya terus sayang banget kalau mau di buang," ucap Jean menyayangkan jika parfum favoritnya harus di buang begitu saja.


"Apa membuang parfum ini membuatmu jadi bangkrut?" tanya Ratu sinis. Jean membuang napas berat, beberapa hari ini sifat Ratu sangat menjengkelkan, mood wanita itu sering naik-turun. Dengan wajah kesal, Jean mengambil parfum dari tangan istrinya lalu membawanya keluar dari dalam kamar.


Ratu yang merasa bersalah pada Jean, berinisiatif untuk membuatkan suaminya kopi dan membawanya ke ruang kerja Jean. Tanpa mengetuk pintu, Ratu masuk ke dalam ruang kerja suaminya, terlihat Jean sedang fokus menatap layar komputernya. Saking fokusnya, Jean tidak menyadari jika Ratu menghampirinya.


"Daddy," panggil Ratu membuat Jean cukup tersentak.


"Sayang! Kok kamu belum tidur?"


Ratu tidak menjawab, dia malah naik ke pangkuan Jean.


"Kenapa hem?" tanya Jean lembut sambil mengelus punggung Ratu.


"Kamu ini tidak di kantor, dirumah, kerja mulu. Padahal besok pagi libur loh!" ucap Ratu kesal karena Jean terlalu mementingkan dan memforsir dirinya dalam bekerja.


"Iya soalnya besok senin ada klien aku dari Jepang mau datang sayang, makanya aku harus menyelesaikan pekerjaan ini," balas Jean. Ratu berdecak sebal dan ingin berdiri dari pangkuan Jean. Baru saja dia berdiri, Jean langsung menariknya kembali duduk ke atas pangkuannya.


"Mau kemana?"


"Mau tidur!" ketus Ratu tanpa menatap Jean.


"Kamu marah?" tanya Jean sambil menarik wajah Ratu agar menatapnya. Ratu hanya diam menatap datar Jean. Jean mengetahui jika Ratu marah dengannya. Tangan kekarnya menarik tengkuk Ratu, dia memiringkan kepalanya dan mencium bibir istrinya.


Mata Ratu terbelalak saat Jean menciumnya dengan tiba-tiba seperti ini, dia mencoba memberontak, tapi lama-kelamaan Ratu pun menutup mata dan membalas ciuman Jean. Cukup lama mereka berciuman, Jean melepaskan ciumannya lalu menatap Ratu dengan mata sayunya.


"Masih marah hem?"


"Tau ah!"


"Masih mau marah atau kita main disini?" ancam Jean.

__ADS_1


Mata Ratu langsung melotot, "Tidak mau! Kemarin malam kan sudah!"


"Tidak apa-apa, kan biar cepat jadi adik untuk Ravin," ucap Jean.


Ratu berdiri, "No! Aku tidak mau, aku juga lagi kesal sama kamu!" ucapnya lalu pergi dari ruang kerja suaminya.


Jean tersenyum kecil dan bersandar pada sandaran kursi sambil menatap langit-langit ruang kerjanya, "Walaupun begitu, aku tetap akan menghamili mu dan kita akan mempunyai anak yang banyak sayang," ucapnya bermonolog.


Jean mengajak istri dan anaknya ke rumah sang Daddy, sudah 1 bulan ini mereka tidak pernah kesana karena kesibukan Jean yang memang kini sudah di angkat menjadi CEO di perusahaan Daddy Marvin. Di ruang tamu, Jean dan Ratu cukup terkejut melihat keberadaan Putra disana.


"Loh Putra?"


"Hai Jean, Ratu. Hai ponakan uncle yang tampan," sapa Putra. Ravindra yang cukup dekat dengan sahabat Daddy-nya itu pun langsung berlari menghampiri Putra dan memeluknya.


"Rindu uncle," ucap Ravindra.


"Uncle juga rindu padamu, boy," balas Putra mengelus punggung Ravindra. Jean dan Ratu duduk di sofa. Mereka berdua menatap tajam ke arah Putra. Putra yang yang ditatap seperti itu seketika kikuk. Yah, Jean dan Ratu memang belum mengetahui pasal hubungan Putra dan Medina.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Ada hal apa kamu kesini?" tanya Jean.


"Eumm itu ..." Putra gugup sambil menggaruk tengkuknya.


"Ravin tidak rindu dengan aunty," ucap Ravindra.


Medina berdecak dan duduk di sebelah Putra, "Ya sudah, aunty tidak jadi belikan kamu es krim dan cokelat," balas Medina. Dia tau hal yang membuat Ravindra luluh dan benar saja bocah tampan itu langsung mendekati Medina.


"Ravin mau es krim dan cokelat, Aunty!"


"Tidak jadi ah, soalnya Ravin tidak rindu dengan aunty," ucap Medina pura-pura kesal dengan Ravindra.


"No! Ravin rindu dengan aunty," imbuh Ravindra sambil memeluk Medina membuat semuanya terkekeh gemas, kecuali Jean yang terus menatap Medina dan Putra dengan datar.


"Kalian sebenarnya ada hubungan apa?" tanya Jean menatap menyelidik ke arah Medina dan Putra membuat kedua orang yang tengah kasmaran itu saling pandang dan gugup. Ratu yang mengerti akan suasana itu langsung mengajak Ravindra menemui mommy Zia di belakang.


"Jelaskan sebenarnya apa hubungan kalian!" ucap Jean ketus.


"Kami berpacaran," jawab Putra. Rahang Jean seketika mengeras dan tangannya terkepal kuat. Dia tidak suka hubungan mereka, karena Jean tahu bagaimana kebejatan sahabatnya itu yang suka bergonta-ganti pasangan dan Jean tak ingin adiknya disakiti oleh Putra, walaupun pria itu adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Akhiri hubungan kalian!" perintah Jean tegas membuat mata Putra dan Medina membulat sempurna mendengarnya.


"Tidak! Aku tidak mau putus dengan kak Putra, kak! Aku sangat mencintainya!" tolak Medina. Jean mencoba mengontrol emosinya saat mendengar ucapan adiknya.


"Medina ..."


"Please kak," ucap Medina memohon.


Jean menghela napas, "Kamu bisa tinggalkan kakak berdua dengan Putra?" suruh Jean.


"Tapi kak--"


"Tidak apa-apa sayang, tinggalkan kami berdua. Aku akan berbicara dengan kakakmu," potong Putra mencoba meyakinkan Medina. Medina hanya mengangguk pasrah, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang tercipta sebelum Jean mengeluarkan ultimatum nya.


"Tinggalkan adikku! Aku tidak ingin melihat dia sedih karena tingkah bejatmu!" perintah Jean. Putra sedikit sakit hati mendengar ucapan dari Jean yang sangat menusuk.


"Jean please, restui hubungan kami. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya," ucap Putra memohon.


"Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian!"


Putra menghela napas panjang, "Jean, aku tau kamu tidak suka gara-gara aku yang suka bergonta-ganti pasangan. Tapi sumpah demi apapun untuk saat ini aku sangat serius menjalin hubungan dengan Medina. Aku sangat mencintainya, kamu tau kan sudah 1 tahun belakangan ini aku tidak pernah jalan dengan perempuan lagi? Ya itu karena aku sedang mendekati Medina, dan adikmu lah yang membuat aku taubat dari perbuatan buruk ku itu," ucapnya panjang lebar.


Jean hanya diam, memikirkan apa yang diucapkan Putra. Memang benar, sudah 1 tahun lebih ini pria itu tidak pernah jalan lagi dengan wanita manapun, karena biasanya Putra akan mengenalkan wanita baru lagi kepada Jean dan Abimana.


"Kamu serius dengan adikku?" tanya Jean dingin.


"Aku sangat serius, Jean," jawab Putra bersungguh-sungguh.


Jean mengetahui mana ucapan serius serta bercanda dari Putra dan kali ini ucapan Putra benar-benar serius di mata Jean.


"Oke aku akan merestui hubungan kalian, tapi kamu harus janji harus setia, membuat Medina selalu bahagia dan tidak akan pernah menyakiti Medina!" ucap Jean. Mata Putra seketika berbinar dan langsung memeluk Jean.


"Thanks Jean. Aku berjanji akan setia dan selalu membuat Medina bahagia, bahkan tidak pernah di kepalaku tercetus untuk menyakitinya," ujar Putra.


Jean tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Putra, "Aku akan ingat janjimu ini, kalau kamu berani menyakiti Medina, aku akan membawa adikku jauh sampai kamu tidak mengetahui keberadaannya."


Putra melepaskan pelukannya, "Putra Mahendra Utomo tidak akan pernah mengingkari janjinya," ucapnya.


"Aku percaya padamu," balas Jean.

__ADS_1


Di ujung sana Medina mengintip interaksi antara kakak dan kekasihnya, dia tersenyum haru saat Jean merestui hubungannya dengan Putra.


...----------------...


__ADS_2