Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 40


__ADS_3

Selama 7 jam lebih penerbangan, akhirnya pesawat yang dinaiki Ratu dan Ravindra lepas landas di Beijing Capital International Airport. Untung saja tadi selama penerbangan Ravindra tidak rewel, bahkan ia sampai tertidur di dalam pesawat.


Ratu mengedarkan pandangannya, ia sudah lama tidak ke negara yang memiliki julukan negeri tirai bambu ini, mungkin terakhir ia kesini saat Ratu berumur lima belas tahun.


"Dengan Nyonya Ratu Reyfa Wang?" tanya seseorang berbaju hitam seperti seorang bodyguard, tentunya dengan berbahasa Mandarin.


"Iya benar itu saya," jawab Ratu dengan bahasa Mandarin pula.


"Mari ikut kami. Tuan dan Nyonya besar tengah menunggu kedatangan Nyonya dan tuan muda di mansion," timpal pria satunya lagi.


Dua pria tersebut adalah suruhan dari Jiazhen Wang, kakek dari Ratu. Ayah dari papa Arkana yang memang berasal dari China dan hidup disana bersama sang istri.


"Ya, paman."


Koper Ratu di bantu bawa oleh salah satu dari pria tersebut, sementara itu Ratu hanya menggendong Ravindra.


"Kita mau kemana, Mom?" tanya Ravindra.


"Kita mau ke rumah kakek buyut," jawab Ratu. Ravindra yang tidak mengerti pun hanya bisa manggut-manggut.


Sesampainya di mansion Wang, mansion yang lebih mewah dari mansion milik papa Arkana jika di lihat dari bentuknya.


"Selamat datang Nyonya, Tuan muda," sapa beberapa pelayan di pintu masuk mansion Wang.


"Terima kasih," balas Ratu tersenyum.


"Tuan dan Nyonya besar berserta tuan Sean tengah menunggu anda di ruang keluarga," ucap bibi Fang, kepala pelayan disana.


Siapa Sean? Dia adalah sepupu dari Ratu, anak dari kakak papa Arkana yang bernama Harry Wang. Kini beliau tinggal di Canada bersama istri, anak pertama dan menantunya, sedangkan Sean si anak bungsu tinggal di China untuk membantu perusahaan kakek Wang.


"Baik, Bi. Terima kasih."


Ratu berjalan menuju ke arah ruang keluarga, benar saja disana ada dua orang lansia dan pemuda tengah menunggunya.


"Sore kek, nek," sapa Ratu.


"Sore kak Sean," sambung Ratu.


Semua orang yang berada di ruang tamu itu langsung menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Ratu dan Ravindra.


"Ya ampun cucu dan cicit nenek akhirnya datang juga," seru nenek Putri dengan hebohnya menghampiri Ratu dan Ravindra, diikuti oleh kakek Wang dan Sean.


"Halo Ravindra," sapa kakek Wang. Walaupun sudah berumur 65 tahun, wajah kakek wang masih terlihat tampan dan badannya pun masih terlihat sehat, bahkan ia masih bekerja sampai sekarang.

__ADS_1


"Siapa, Mom?" tanya Ravindra pada Ratu.


"Itu kakek buyut Ravindra, namanya kakek Wang," jawab Ratu.


"Kakek?"


"Iya, nak. Ini kakek buyut kamu. Sini kakek gendong." Kakek Wang merentangkan kedua tangannya pada Ravindra, dengan senang hati Ravindra digendong oleh kakek buyutnya.


"Tampan sekali kamu hem," ujar kakek Wang mencium gemas pipi Ravindra. Kakek tua itu terpana melihat mata hazel milik Ravindra yang terlihat bersinar.


"Hai, Nek. Apa kabar?" Tanya Ratu.


"Baik, Nak. Kalau kamu gimana kabarnya?" Nenek Putri memeluk Ratu, ia sangat merindukan cucunya ini.


"Ratu juga baik nak," jawab Ratu, nenek Putri melepaskan pelukannya.


"Kamu tambah cantik dan dewasa, Nak. udah lama nenek tidak pernah ketemu kamu secara langsung. Terakhir ketemu secara langsung, pada saat kamu menikah waktu itu," jelas nenek Putri. Ratu menanggapi ucapan nenek Putri dengan senyuman tipis.


"Hai Ratu, kamu apa kabar?" tanya Sean, pria ini sudah berusia 30 tahun namun ia belum sama sekali kepikiran untuk menikah.


"Aku baik, kak. Kakak gimana?"


"Ya seperti yang kamu liat," jawab Sean dengan santai.


Mereka bertiga mengetahui tentang alasan mengapa Ratu tiba-tiba ingin tinggal di China dan dengan senang hati mereka menerima Ratu serta Ravindra untuk tinggal bersama mereka.


Ratu mengangguk, ia duduk di samping nenek Putri.


"Keadaan kandungan kamu baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah baik, Nek."


"Syukurlah kalau begitu."


"Hai Ravindra, kenalin aku Om Sean," ujar Sean memperkenalkan dirinya pada Ravindra yang berada di pangkuan kakek Wang.


"Halo Om," balas Ravindra.


"Uh gemasnya, kamu." Sean sangat gemas dengan bocah tampan blasteran Indonesia-Jerman itu.


"Makanya nikah, biar bisa punya anak seperti Ravindra!" sindir kakek Wang pada Sean.


Sean berdecak. "Ya sabar, Sean belum menemukan perempuan yang tepat."

__ADS_1


"Oh ya? Terus gadis-gadis yang sering kamu bawa ke apartemen kamu itu siapa? Boneka kamu?" ucap nenek Putri ketus. Sean memang dikenal sangat playboy suka bergonta-ganti pasangan dan suka membawa perempuan-perempuan tersebut ke apartemen miliknya.


"Yah bisa di bilang seperti itu nek," jawab Sean santai.


BUGH!


Nenek Putri melempar bantal sofa ke wajah Sean.


"Aduhhh, main lempar aja sih, Nek!" protes Sean.


"Biarin, biar kamu kapok! Makanya jangan suka mempermainkan hati wanita, ingat karma itu ada!" pesan nenek Putri.


Sean memutar matanya jengah. "Ck, iya-iya."


...****************...


5 bulan kemudian, Jean belum juga menemukan keberadaan istri dan anaknya. Mereka seperti bak di telan bumi, hilang jejak. Identitas Ratu dan Ravindra memang sengaja disembunyikan oleh keluarga Wang. Sehingga Jean pun sangat susah untuk mengaksesnya.


Kehilangan jejak Ratu dan Ravindra tentu membuat daddy Marvin dan mommy Zia ikut murka, bahkan hubungan keluarga Alexander dan Wang kini renggang akibat keluarga Wang yang menutup-nutupi keberadaan Ratu dan Ravindra.


Daddy Marvin dan mommy Zia sangat kecewa dan marah dengan Ratu, yang berani-beraninya pergi bersama cucu kesayangan mereka tanpa pemberitahuan. Daddy Marvin pun mengerahkan semua anak buahnya untuk membantu Jean mencari keberadaan menantu dan cucunya.


"Kamu kemana sih, sayang? Aku rindu kalian," lirih Jean menatap foto Ratu dan Ravindra. Wajah Jean terlihat kusam, kumis dan jenggotnya habis tumbuh di sekitar wajahnya, badannya yang dulu berotot dan kekar pun semakin mengurus. Jean benar-benar tidak merawat dirinya lagi setelah Ratu pergi.


Kini Jean memilih tinggal di mansion kedua orang tuanya, atas suruhan dari mommy Zia.


"Begitu kecewanya kah dirimu sampai harus pergi lama ninggalin aku?"


"Aku janji bakal nemuin kalian dan kita akan bersama-sama lagi seperti dulu."


"Dan kita akan bahagia bersama anak-anak kita nantinya." Jean terus berbicara dengan foto Ratu.


Hati Mommy Zia dan Medina merasa teriris mendengar ucapan Jean, mereka berdua tengah mengintip Jean dari celah pintu kamar.


"Hiks, kasian kak Jean, Mom." Medina sampai terisak mendengar kepiluan hati kakaknya.


"Kak Ratu benar-benar jahat!" Medina pun sekarang menjadi benci dengan kakak iparnya itu.


"Kamu tidak boleh menyalahkan Ratu seperti itu, Nak. Ratu melakukan itu karena kesalahan Jean juga," ucap mommy Zia sambil mengelus rambut putrinya.


"Tapi dia tidak seharusnya pergi sambil membawa Ravindra! Kalau mau pergi ya pergi aja sendiri!" sentak Dina.


"Sudah nak, mungkin ini sudah takdir dari Tuhan," lirih mommy Zia.

__ADS_1


"Kasian kamu nak, kamu jadi terpukul seperti ini," batin mommy Zia menatap sendu Jean.


...----------------...


__ADS_2