Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 29


__ADS_3

Sore harinya, Ratu membantu mommy Zia memasak untuk makan malam, walaupun ada 3 asisten rumah tangga, mommy Zia lebih suka memasak sendiri untuk keluarganya.


"Apa yang bisa Ratu bantu Mom?" tanya Ratu.


"Bisa kamu potongkan sayur-sayuran itu?"


Ratu mengangguk, "Bisa, Mom."


Membutuhkan waktu 45 menit, masakan kedua wanita itu telah selesai. Ratu meminta izin pada mommy Zia untuk ke kamar sekaligus memandikan Ravindra. Terlihat Jean dan Ravindra tengah berada di atas kasur sambil menonton film kartun kesukaannya di iPad milik Jean.


"Ravindra sayang, ayo mandi dulu," suruh Ratu.


"Nanti Mom," tolak Ravindra.


"Ini udah mau magrib loh nak, ayo mandi," ucap Ratu.


"Ndak mau!" tolak Ravindra lagi dengan suara keras.


"Ravindra tidak boleh berbicara dengan keras seperti itu kepada Mommy, Daddy tidak suka mendengarnya!" tegur Jean dengan tegas. Ravindra memajukan bibir bawahnya dan ingin menangis.


"Ussttt anak Mommy jangan nangis, oke? Ayo kita mandi sambil main bebek-bebekan, mau?" ujar Ratu seraya merayu Ravindra agar tidak menangis.


Ravindra mengangguk, "Mommy gendong ..." pintanya sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Ratu.


Ratu tersenyum kemudian menggendong Ravindra, "Uuhhh anak tampannya Mommy ini semakin berat saja," ucapnya, dia mencium gemas pipi sang putra yang semakin chubby.


Ratu membawa Ravindra ke dalam kamar mandi. Setelah air di bathtub sudah terisi, Ratu memasukkan Ravindra ke dalam bathtub dan diikuti dirinya. Ravindra memainkan mainan bebek kuning miliknya sambil di sabuni oleh Ratu.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Jean masuk ke dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Daddy mau ngapain kesini?" tanya Ratu heran, sedangkan Ravindra hanya fokus pada mainannya.


"Tentu saja, Daddy ingin ikut mandi bersama kalian." Jean membuka handuknya, Ratu langsung mengalihkan pandangannya padahal ini bukan kali pertama dia melihat milik Jean, tapi tetap saja Ratu merasa malu.


Jean masuk ke dalam bathtub, beruntungnya bathub tersebut cukup besar dan luas, mungkin bisa dibilang seperti kolam renang mini. Jean duduk di belakang Ratu, tangannya memeluk perut istrinya.

__ADS_1


"Daddy tangannya diam-diam, ih!" tegur Ratu karena tangan Jean tidak bisa diam dan menjalar kemana-mana.


"Ussttt kamu diam saja sayang," bisik Jean di telinga Ratu membuat wanita itu merinding, apalagi dia merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana menusuk belakangnya.


Setelah selesai sholat magrib, Jean, Ratu serta Ravindra turun menuju ke ruang makan.


"Kalian akan menginap malam ini?" tanya mommy Zia.


"Iya Mom," jawab Jean.


"Berarti besok Ratu bisa menemani Mommy shopping dong?" ucap mommy Zia sangat antusias.


"Bis--"


"Tidak bisa Mom, Ratu akan tetap disini menemani aku. Tidak boleh kemana-mana!" potong Jean.


"Kenapa bisa begitu?"


"Ya aku pengen bermanja-manja dengan istriku Mom, dan juga aku tidak ingin Ratu dilihat oleh pria berhidung belang disana!" ujar Jean.


"Jangan mencibir ku Daddy, ingat Daddy juga sangat posesif kepada Mommy," balas Jean. Daddy Marvin mendengus, dia kalah telak berdebat dengan putranya.


...****************...


Sudah satu minggu ini, Jean sangat sibuk di kantor sampai harus lembur. Membuat dirinya jarang mempunyai waktu dengan anak dan istrinya. Pergi waktu Ratu dan Ravindra masih tidur, begitupun sebaliknya saat Jean pulang kerja pada saat rumahnya sudah gelap dan semua penghuninya telah tertidur.


Jean masuk ke dalam kamar, dia melihat istrinya sudah tertidur. Tapi ada hal yang membuat Jean salah fokus, yaitu melihat gaun Ratu yang tersingkap ke atas hingga memperlihatkan paha mulus serta dalaman istrinya hal itu tentu saja membuat milik Jean seketika mengeras.


Jean membuka jas, dasi, kemeja dan hanya menyisakan celana kerjanya. Dia menghampiri Ratu dan membandingkan tubuhnya di atas ranjang. Jean memeluk tubuh Ratu dari belakang, dia menghirup aroma sampo yang dikenakan Ratu.


Tangan kanan Jean di selipkan sebagai bantalan kepala Ratu, sementara itu tangan kiri Jean bergerilya masuk ke dalam gaun yang dikenakan Ratu, merayap naik sampai di puncak benda kenyal milik istrinya dan mere.masnya membuat sang empu sedikit terusik.


"Eeumhh, tangannya jangan nakal!" ucap Ratu parau. Jean tidak mengindahkan peringatan Ratu, dia semakin gencar memainkannya. Ratu berdecak sebal, dia mengambil tangan Jean dan melepaskannya dari atas dadanya. Ratu membalikkan badannya lalu menatap kesal Jean.


"Jean ih!

__ADS_1


"Panggil Daddy!" perintah Jean.


"No! Kamu sangat menyebalkan, aku lagi tidur malah di ganggu!" sungut Ratu.


"Panggil Daddy atau--" Jean menghentikan ucapannya.


"Atau apa?" tantang Ratu.


"Atau aku masukin kamu sekarang!" ancam Jean sambil menindih tubuh Ratu.


"Tidak mau! Aku capek, Jean!" pekik Ratu mendorong tubuh Jean agar turun dari atas tubuhnya.


"Makanya panggil aku Daddy!"


"Ck! Iya Daddy, sudah kan?"


"Sudah terlambat!"


Jean langsung menyambar dan melum*at bibir Ratu dengan cukup kasar, dia sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya itu, apalagi sudah satu minggu ini Jean tidak pernah menyentuh Ratu. Ratu pun hanya bisa pasrah dan membalas yang dilakukan oleh suaminya, dia juga sudah merindukan sentuhan Jean.


Pagi harinya, Ratu terbangun terlebih dahulu dari Jean, dia menatap suaminya itu masih tertidur dengan tenangnya mungkin karena semalam dirinya sangat lelah berolahraga malam hingga dini hari bersama Ratu, untung saja hari ini pria itu libur bekerja. Ratu merubah posisinya menjadi duduk, tak sengaja melihat ke arah kalender yang ada di atas nakas dan itu langsung membuat mata Ratu terbelalak sempurna.


"Sudah tanggal 7? Tapi kok aku belum menstruasi dari bulan kemarin?" Monolog Ratu. Hatinya menjadi begitu was-was. Apakah dirinya sekarang tengah hamil? Ratu pun bergegas turun dari ranjang, kemudian mengambil test pack cadangan dari dalam lemari.


Ratu harap cemas menunggu hasil dari test pack yang sudah dia celupkan ke dalam gelas berisikan air urine miliknya. Setelah beberapa menit, Ratu mengangkat benda tersebut.


DEG!


Test pack tersebut bergaris dua, yang artinya Ratu kini tengah berbadan dua. Rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Bahagia karena dia di percayakan memilik keturunan lagi dan sedih karena kasih sayang dirinya serta Jean kepada Ravindra akan berkurang, tapi Ratu berharap dirinya dan Jean bisa berlaku adil kepada Ravindra dan anak keduanya nanti.


"Apa aku beritahu tentang kehamilanku pada Jean sekarang?" Monolog Ratu. Tapi tak lama, dia mengurungkan niat untuk memberitahukan hal tersebut pada Jean dan akan memberitahukannya pada saat Jean ulang tahun nanti.


"Aku beritahu tentang kehamilanku ini pada saat Jean ulang tahun nanti, toh ulang tahunnya tinggal seminggu lagi," ucap Ratu. Dia melanjutkannya dengan mandi. Setelah selesai, Ratu keluar dari kamar mandi sambil membawa hasil testpack tersebut dan menyembunyikannya di dalam lemari.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2