Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 34


__ADS_3

2 minggu sudah hubungan Ratu dan Jean renggang. Bahkan selama itu pula Ratu pisah kamar dengannya. Ratu tidak pernah menemui Jean. Ia akan keluar setelah Jean berangkat kerja dan akan masuk kembali sebelum Jean pulang. Hal itu membuat batin Jean tertekan. Ia merindukan Ratu dan juga merindukan putranya, Jean mencoba memanggil Ratu dari luar pun, namun selalu hiraukan oleh istrinya.


"Aku kangen kamu sayang. Aku kangen anak kita," gumam Jean yang tengah bersandar di sofa dalam kamarnya ditemani dengan 3 botol Vodka di atas meja. Yah, Jean tengah melampiaskan semua masalahnya dengan meminum minuman haram itu. Kebiasaan buruknya dulu kambuh kembali.


"Aaaarrrgghh!" teriaknya frustasi. Jean melempar gelas yang ia pegang ke arah tembok dan membuat suara pecahan nyaring terdengar di kamar itu.


"Aku emang bodoh udah kasar kepadamu sayang. Hahaha, aku emang bego." Jean tertawa miris. Kepalanya terasa sangat berat saat ini dan Jean langsung tepar di atas sofa.


Malam berganti menjadi pagi, Ratu terbangun dari tidurnya, ia akan pergi jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama Ravindra karena kebetulan hari ini adalah hari weekend.


"Ayo kita pergi jalan-jalan nak."


"Ayo Mom," ucap Ravindra dengan antusias.


Di bawah, Ratu dan Ravindra bertemu dengan Jean yang sepertinya baru saja dari dapur. Bau alkohol sangat kuat terendus oleh hidung Ratu.


"Selalu saja kalau ada masalah larinya ke alkohol," batin Ratu.


"Daddy," panggil Ravindra.


"Ravindra mau kemana, nak?" Tanya Jean berjongkok di depan putranya.


"Ravin sama Mommy mau pergi," jawab Ravindra.


"Mau pergi kemana?" tanya Jean lagi.


"Kita mau kemana, Mom?" tanya balik Ravindra ke sang Mommy. Jean mendongak menatap Ratu.


"Taman," jawab Ratu cuek.


"Daddy mau ikut?" tanya Ravindra.


"Daddy lagi sibuk banyak kerjaan, sayang." Bukan Jean yang menjawab tapi malah Ratu.


"Iya nanti Daddy menyusul ya? Daddy harus mandi dulu," ujar Jean.


"Iya Daddy," balas Ravindra.


Ratu menghela napas. "Ayo nak, kita berangkat."


"Iya Mom." Ratu dan Ravindra berjalan beriringan keluar dari rumah.


Di dalam mobil, Sofia menatap Ratu dan Ravindra yang tengah berjalan menuju ke taman. Tiba-tiba saja ia tersenyum menyeringai, Sofia berniat untuk menabrak Ratu dan Ravindra. Agar tidak ada yang menghalanginya untuk bersama Jean.


"Mungkin ini saatnya aku menyingkirkan wanita dan bocah sialan itu," batin Sofia mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan bersiap untuk menabrak Ratu sekaligus Ravindra.


"Perasaan aku kok tidak enak. Ada apa ini sebenarnya?" batin Jean yang memang merasa gusar dari tadi. Ia berdiri segera menuju mobilnya untuk menyusul istri dan putranya di taman.


Matanya langsung membulat, ketika ia melihat sebuah mobil tengah bersiap untuk menabrak istri dan putranya. Jean memberhentikan mobilnya, ia keluar dari mobilnya lalu berlari sekuat tenaga untuk menghampiri istri dan anaknya.

__ADS_1


"Ratu, Ravindra awas!" teriak Jean.


"Aaaaaaaaaaa!"


Terlambat!


Sofia sudah menabrak Ratu hingga ia jatuh terguling lumayan jauh. Sebelum Ratu di tabrak tadi ia sempat mendorong Ravindra, sehingga tubuh bocah tampan itu terguling ke arah rerumputan. Sofia segera melajukan mobilnya dengan kencang takut ada seseorang yang mengetahui perbuatannya.


Jean menambah laju larinya menghampiri Ratu dan menyanggah tubuhnya.


"Sayang," lirih Jean yang melihat kepala Ratu yang sudah berlumuran darah. Tangannya bergetar ingin menyentuh istrinya itu. Namun, matanya langsung membulat, ketika ia melihat darah juga keluar dari ************ Ratu.


"Tidak! Dia tidak boleh keguguran. Tidak Ratu, kamu harus kuat sayang!" Jean menggelengkan kepalanya.


"Tolong tolong!" teriak Jean meminta pertolongan. Mendengar suara teriakan membuat beberapa orang menghampiri Jean dan Ratu.


"Cepat bawa istri saya ke rumah sakit sekarang!" titah Jean dengan suara keras.


"Baik Pak," Ucap orang-orang itu dan langsung mengangkat Ratu untuk dibawa menuju rumah sakit.


"Daddy hiks," panggil Ravindra. Jean sampai lupa akan putranya.


"Astaga nak, kamu Tidak kenapa-napa kan?" tanya Jean melihat tubuh putranya dari atas sampai bawah. Syukurnya Ravindra hanya lecet di bagian lutut dan sikunya saja.


"Mommy, Daddy ...," ujar Ravindra saat melihat Ratu dibawa oleh orang-orang.


Jean sudah sampai di rumah sakit dan segera menuju ke IGD. Ia juga sudah menghubungi keluarga Ratu dan tentunya juga keluarganya.


"Gimana keadaan istri saya, Pak?" tanya Jean menatap salah satu bapak-bapak yang membantu membawa Ratu ke rumah sakit tadi.


"Dokternya belum keluar Mas," jawab bapak itu. Jean langsung membuang muka dan mendesah pelan. Kenapa harus ada ujian ketika istrinya tengah berbadan dua seperti ini? Bahkan sampai mengancam keselamatan janinnya. Jean berharap Ratu dan calon bayinya tidak kenapa-kenapa.


"Ya Allah, hamba mohon jangan engkau mengambil anak hamba. Tolong selamatkan istri hamba dan janin yang dia kandung," batin Jean berdoa.


"Karena Mas sudah disini, kami pamit pergi dulu. Semoga istri Mas baik-baik saja," ucap bapak itu.


Jean mengangguk. "Terima kasih sudah membantu membawa istri saya ke rumah sakit Pak."


"Sama-sama, Mas." Dua orang yang membantu Ratu tadi langsung pergi mengundurkan diri.


"Daddy," panggil Ravindra. Jean menatapnya.


"Ada apa, nak?" tanya Jean seraya mencium pipinya.


"Ravin mau mimi Dad, mimi susu cokelat," pinta Ravindra.


Jean tersenyum kecil. "Nih mimi Ravindra." Jean memberikan botol yang biasa digunakan Ravindra untuk minum susu. Ratu tadi sempat membuatkan Ravindra susu sebelum berangkat ke taman dan belum sempat diminum oleh Ravindra.


"Terima kasih, Daddy."

__ADS_1


"Sama-sama sayang," balas Jean.


"Daddy buka," ujar Ravindra menunjuk tutup dot nya. Jean langsung membuka tutup dot tersebut lalu memberikannya kembali pada Ravindra.


"Nih."


"Daddy, Ravin mau Mommy," ujar Ravindra tiba-tiba membuat Jean terdiam.


"Mimi dulu ya, nak." Jean menyodorkan botol susunya ke mulut Ravindra, berusaha untuk mengalihkan. Dan bocah tampan itu hanya menurut.


Jean mengambil ponselnya dan menelepon Rico, asisten pribadinya.


"Halo Tuan Jean, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rico saat panggilannya sudah tersambung.


"Kamu tolong cari Sofia secepatnya, karena dia sudah berani menabrak istri saya!" Titah Jean. Rico terkejut mendengar ucapan dari Jean, jika istri atasannya itu celaka akibat perempuan yang terobsesi dengan Tuannya. Rico pernah bertemu beberapa kali dengan Sofia, dia melihat gadis itu memandang Jean seperti pandangan memuja.


"Baik Tuan. Saya akan menemukan Sofia secepatnya!"


Jean mematikan sambungan teleponnya dan kembali memasukkan ponselnya di saku celananya.


Tak lama Medina, mommy Zia dan mama Hani datang. Hanya bertiga. Mungkin suaminya sama-sama masih sibuk. Rivaldo pun yang biasanya ikut juga tidak terlihat.


"Gimana keadaan Ratu, Jean?" tanya mama Hani.


Jean menggeleng pelan. "Dokter masih di dalam Ma," ujarnya lirih.


"Ini kenapa sih Jean, apa yang terjadi sama istri kamu? Kamu bikin ulah, iya?" omel mommy Zia.


Jean langsung tertunduk. Bagaimanapun ini memang salahnya, tidak mempercayai ucapan Ratu sedikit pun sampai membuat rumah tangga mereka sedikit bermasalah.


"Ceritanya panjang Mom," lirih Jean.


"Katakan kenapa Ratu bisa seperti ini?" desak mommy Zia.


"R-ratu di tabrak sama Sofia Mom," jelas Jean sedikit gugup.


"Apa?" pekik mommy Zia, mama Hani dan Medina secara bersamaan.


"Kenapa Sofia bisa melakukan hal seperti itu? Yang Mommy tau dia anak yang baik," ucap mommy Zia yang tak percaya jika Sofia melakukan tindakan kriminal seperti itu.


"Jean juga tidak tau Ma, makanya Jean lagi cari keberadaan dia."


"Kakak penjarakan aja langsung dia!" Usul Medina, memang dari dulu ia tidak suka dengan Sofia karena gadis itu selalu mencari perhatian keluarganya.


"Iya penjarakan saja dia nak," sahut mama Hani yang ikut geram.


"Iya pasti, Ma," jawab Jean. Ia berjanji akan membuat jera Sofia terlebih dahulu sebelum Jean memasukkan gadis itu ke penjara.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2