Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 54


__ADS_3

"Sayang... apa aku boleh bicara sesuatu?” ucap Ratu. Jean menundukkan kepalanya menatap Ratu yang berada di pelukannya.


"Kenapa kamu harus minta izin. Katakan saja yang ingin kamu katakan?”


"Kemarin kamu bilang kalau ada yang tidak kusukai aku boleh mengatakannya padamu kan.”


"Iya aku memang mengatakan itu padamu. Apa ada yang tidak kamu sukai dariku?” tanya Jean sambil memegang rambut istrinya.


“Apa kamu akan tetap membuat perusahaan tuan Yuzen menjadi bangkrut?" tanya Ratu dengan berhati-hati. Takut itu nanti akan membuat Jean marah atau tersinggung.


Jean hanya diam saja mendengar ucapan istrinya.


“Jean... aku tidak suka loh kalau kamu terlalu berlebihan begini. Tuan Yuzen itu tidak salah. Kenapa kamu harus menghancurkan perusahaannya?"


“Aku tidak menghancurkan perusahaannya. Perusahaan pria itu sekarang masih berdiri kokoh disana," balas Jean santai.


“Jean... aku sedang tidak bercanda ya!” ujar Ratu. Ia sangat menyayangkan jika perusahaan Yuzen bangkrut akibat suaminya, perusahaan itu sudah banyak memberikan pengalaman dan kenangan untuknya walau Ratu baru 6 bulan bekerja disana.


“Aku serius. Aku tidak menghancurkan perusahaannya. Aku hanya membatalkan kerja sama antara perusahaan ku dengan perusahaan dia. Serta mengambil sebagian kerja sama perusahaan pria itu di perusahaan lain. Kalau aku menghancurkan perusahaannya, mungkin sahamnya sudah beralih padaku. Aku hanya berbisnis sayang,” jelas Jean.


“Itu sama saja kalau kamu membuat perusahaannya dalam masalah!” balas Ratu sedikit kesal.


“Ratu sayang... dunia bisnis itu memang terlalu kejam. Siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Kalau kamu lemah, kamu yang akan hancur duluan. Aku itu masih punya hati. Kalau aku ingin membuat Yuzen hidup seperti gelandangan, mungkin aku akan mengambil semua kerja samanya di perusahaan lain. Tapi aku hanya mengambil sebagian kerja sama perusahaan Yuzen untuk membuat peringatan kecil kepadanya."


Ratu hanya diam saja dengan wajah cemberut didepan suaminya.


“Hei, sudahlah. Aku tidak membuat mantan calon suamimu itu jatuh miskin,” ucap Jean sambil tersenyum menggoda istrinya.


Ratu langsung menatap tajam suaminya. Jean yang melihat istrinya begitu langsung memegang perutnya.


"Aauuhh... sayang. Perutku sakit lagi,” ucap Jean sambil pura-pura meringis.


Ratu langsung panik melihat Jean meringis kesakitan.


“Sayang... kamu kenapa. Kamu sakit lagi, mana yang sakit,”  tanya Ratu cemas sambil meraba perut suaminya. “Aku panggilkan Dokter ya?"


“Tidak usah. Kamu akan merepotkan dokter Chao. Toh juga Dokter Chao sudah kembali ke rumah sakit,” tolak Jean.


“Tapi kamu sedang kesakitan."


“Kalau kamu cium mungkin sakitnya akan hilang,” ujar Jean sambil tersenyum memegang perutnya.


Ratu menarik napasnya dengan pelan. Ia lalu menundukkan kepalanya dan mencium perut suaminya membuat wajah Jean terlihat memerah.


Ratu mengangkat kepalanya berhadapan dengan Jean. "Aku sudah menciumnya. Kamu tidak usah pura-pura lagi. Aku tahu kalau kamu pura-pura.”


Jean langsung nyengir memperlihatkan gigi putih dan rapinya, sedangkan Ratu langsung mendengus sebal.

__ADS_1


"Besok lusa kita akan kembali ke Indonesia!" ucap Jean. Mata Ratu membulat sempurna karena terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Hah kenapa tiba-tiba banget?"


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika aku telah menemukan kalian, aku akan langsung membawa kalian kembali ke Indonesia," jelas Jean. Ratu terdiam, ia begitu bimbang. Ratu takut kalau kedua mertua dan adik iparnya akan membenci dirinya.


"Kalau Mommy, Daddy dan Medina tidak suka melihat keberadaan ku, gimana? Apalagi saat mereka tau tentang aku yang memalsukan keguguran ku gimana? Mereka pasti marah dan kecewa banget sama aku," tanya Ratu lirih.


Jean tersenyum mendengar keresahan hati istrinya, tangannya mengelus pipi Ratu. "Itu tidak mungkin, sayang. Bahkan mereka sangat merindukan kalian. Mereka pasti juga sangat senang melihat Kendrick."


"Tentang kamu yang memalsukan tentang keguguran itu, aku sudah memberitahukan ke Mommy dan Daddy ..."


"Gimana tanggapan mereka? Pasti marah kan?" Sela Ratu. Jean mencubit gemas hidung Ratu.


"Jangan potong pembicaraanku. Aku belum selesai bicara."


"Iya maaf. Ayo lanjutkan!"


"Saat mereka mengetahui itu, tentu Mommy dan Daddy marah besar dan kecewa banget sama kamu. Tapi setelah aku jelaskan kepada mereka, mereka mengerti dan itu bukan murni semua kesalahan kamu. Itu juga karena kesalahan ku. Mereka sudah tidak marah lagi denganmu, mungkin hanya sedikit rasa kecewa. Tapi rasa sayang mereka kepadamu lebih besar dari rasa kecewa mereka. Percayalah ...," jelas Jean membuat Ratu sedikit bernapas lega.


"Tapi kamu yang duluan ya balik ke Indonesia," ucap Ratu.


"Loh kenapa? Kita harus balik bersama-sama!" tanya Jean tak terima.


"Ada yang harus aku urus disini dulu sebelum pergi," jawab Ratu.


"Aku hanya mengurus surat resign saja. Terus aku harus berpamitan dengan teman-teman kerjaku disana," jelas Ratu.


"Tidak boleh! Untuk surat resign mu, biar Rico yang mengurusnya!"


"Please Jean ... biar aku aja yang mengurusnya. Aku juga ingin meminta maaf kepada tuan Yuzen atas kejadian semalam," ucap Ratu memelas. Jean paling tidak bisa melihat wajah memelas istrinya. Dengan berat hati ia pun mengizinkannya.


"Oke aku izinkan. Tapi setelah semua urusanmu selesai, kamu dan anak-anak harus langsung ke Indonesia. Aku tidak bisa jauh-jauh lagi dengan kalian," kata Jean. Ratu mengangguk lalu memeluk tubuh Jean dengan erat.


"Terima kasih, sayang."


Dok! Dok! Dok!


"Mommy, Daddy. Buka!" teriak Ravindra menggedor pintu kamar orang tuanya. Jean dan Ratu yang tengah berpelukan itu tersentak dan saling pandang.


"Itu pasti Ravindra dan Revan!" ucap Ratu melepaskan pelukannya, beranjak dari ranjang menuju ke pintu diikuti Jean. Ratu membuka pintu kamar, di depan pintu terdapat Ravindra, Kendrick serta Rico.


"Maaf telah menganggu waktu tuan Jean dan nyonya Ratu. Tuan muda Ravindra dan Kendrick ingin segera bertemu dengan anda berdua, karena itu saya langsung membawa mereka ke kamar anda," jelas Rico. Agar dirinya tidak disalahkan oleh Jean karena telah menganggu waktu pasangan suami-istri itu.


"Iya tidak apa-apa, Rico. Terima kasih telah menjemput mereka berdua," ucap Ratu.


"Sama-sama, nyonya. Kalau begitu saya permisi balik ke kantor karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," pamit Rico.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuannya, Rico. Nanti gaji kamu akan saya tambahkan!" ujar Jean.


Rico mengangguk sopan, "Sama-sama, Tuan. Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Anda. Permisi ...," ucapnya pergi meninggalkan keluarga kecil tersebut.


"Mommy sama Daddy kok ninggalin kami di rumah kakek buyut sih!" protes Ravindra.


Ratu dan Jean tersenyum. Ratu berjongkok menyamai tinggi badannya dengan Ravindra. "Maafkan Mommy dan Daddy ya, sayang," ucapnya. Ratu tak mungkin menjelaskan kronologi sebenarnya, karena ia yakin kedua putranya itu tidak akan mengerti urusan orang dewasa.


Ravindra cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ratu dan Jean terkekeh geli melihat tinggal Ravindra yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Daddy gendong!" pinta Kendrick, ia merentangkan kedua tangannya kepada sang Daddy. Dengan senang hati Jean menggendong putra keduanya itu.


"Ravin juga, Dad!" Ravindra tak ingin kalah dengan sang adik. Jean tersenyum sepertinya kedua putranya itu sedang ingin bermanja-manja dengannya. Pria yang di cap sebagai hot Daddy itu pun juga menggendong Ravindra di lengan sebelah kanan sementara Kendrick di lengan sebelah kirinya.


"Kamu tidak keberatan kan?" tanya Ratu melihat suaminya itu menggendong langsung kedua putranya.


"Tidak kok, sayang. Kalau kamu mau, aku pun bisa menggendong mu," ucap Jean seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Ratu berdecih.


"Yang ada kamu encok kalau menggendong ku!" cibir Ratu.


Jean mendekatkan wajahnya ke telinga Ratu, "Eeemm, gimana kalau aku buat kamu encok di atas ranjang aja?" bisiknya. Bulu kuduk Ratu seketika merinding mendengarnya.


"Jangan ngomong macam-macam! Ada anak-anak!" omel Ratu. Jean hanya terkekeh. Mereka berempat pun turun menuju ke belakang mansion yang terdapat hamparan taman yang luas.


"Sayang, aku ingin ke pantai," ucap Ratu.


"Kok kamu tau ada pantai disini?" tanya Jean heran, karena tidak pernah memberitahukan kepada Ratu tentang seluk-beluk mansion ini.


"Oh itu, Bi Nuan yang kasi tau aku semalam," jawab Ratu. Jean manggut-manggut mengerti.


"Bagaimana kalau nanti sore kita kesana? Sekalian kita melihat sunset," usul Jean. Ratu mengangguk antusias.


"Aku mau!"


"Tapi nanti malam kita begadang ya?" Jean menaik-turunkan alisnya.


"Tidak. Tunggu aku balik ke Indonesia dulu!" tolak Ratu.


Bahu Jean lemas mendengarnya, "Yah masih lama dong."


"Tidak dong. Hanya satu Minggu, kamu aja bisa tahan selama 3 tahun lebih. Masa satu Minggu kamu tidak bisa?" ucap Ratu dengan nada menggoda.


Jean menghela napas panjang, "Iya aku tunggu. Awas aja, setelah kamu balik me Indonesia, aku tidak akan membiarkanmu tidur dan terus melayaniku," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


Ratu melotot mendengarnya, "Jangan macam-macam, Jean!"


"Hanya satu macam kok, sayang. Kamu hanya melayani ku di ranjang itu saja," ujar Jean santai. Ratu hanya mendengus kesal dan lebih baik ikut bermain bersama kedua putranya daripada harus mendengar ucapan-ucapan diluar nalar suaminya yang membuat kepalanya menjadi pening.

__ADS_1


......----------------......


__ADS_2