
"Eugghh." Ratu menggeliat saat terusik dengan kilauan cahaya yang memasuki jendela ruang rawat Ratu.
Perlahan Ratu membuka matanya dan menatap suaminya yang masih tertidur pulas di sebelahnya.
"Masih tidur," gumam Ratu lirih.
Bibir wanita itu tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya dari dekat seperti ini.
"Tampannya suamiku ini," ucap Ratu pelan sambil membelai wajah Ratu.
Ratu meniup wajah Ratu pelan sehingga membuat suaminya itu terusik karena ulahnya.
"Eemmhh." Jean sedikit menggeliat karena ulah istrinya. Ratu yang melihat itu langsung terkekeh geli.
Lagi-lagi Ratu meniup wajah Jean, sehingga membuat laki-laki itu pun membuka matanya. Ratu tersenyum tatkala ia menatap muka bantal dari suaminya.
"Aku ngantuk sayang," lirih Jean yang masih mengantuk.
"Ini sudah pagi. Aku mau turun ya, tapi lepasin dulu tangan kamu," ujar Ratu lembut
Jean malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Disini saja, kamu mau kemana sih? Masih sakit juga," tanya Jean parau.
"Aku mau cuci muka Jean," jawab Ratu.
"Begini dulu sebentar, sayang."
"Ih Jean! Kita ini lagi di rumah sakit bukan dirumah," kesal Ratu seraya mengerucutkan bibirnya. Jean langsung mengecup bibir Ratu karena tak tahan melihat bibir istrinya seperti itu.
"Ih kok dicium sih?" tanya Ratu kesal sambil menutup bibirnya.
"Ya karena aku tidak tahan melihat bibir kamu yang menggemaskan itu," jawab Jean greget.
"Tapi aku belum sikat gigi, Jean!" sungut Ratu.
"Ya tidak apa-apa lah sayang, kalau candu tetap akan tetap jadi candu walaupun kamu tidak sikat gigi sekalipun."
"Ih jijik tau!" Ratu mencoba untuk bangun, Namun Jean malah menariknya dan kembali tertidur di sampingnya.
"Tidur dulu sayang." Jean menenggelamkan kepalanya di dada istrinya. Ratu menghela napas dan membiarkan Jean seperti itu beberapa saat.
"Sudah Jean, malu nanti di liat sama Dokter." Ratu mencoba mendorong pelan kepala Jean dari dadanya.
"Em.. tidak mau," rengek Jean dan malah mempererat pelukannya.
"Jean!" tegur Ratu. Jean mendongak menatap istrinya.
"Kenapa?"
"Lepasin aku mau cuci muka," ujar Ratu.
__ADS_1
"Cium dulu baru aku lepasin kamu," pinta Jean dengan senyum tengilnya. Ingin sekali rasanya Ratu menukar tambah suaminya dengan oppa-oppa Korea, tapi sayang Ratu sudah mencintai laki-laki bule berotak mesum di pelukannya ini.
Mau tak mau Ratu menuruti permintaan Jean, ia memajukan wajahnya untuk mencium Ratu. Dengan cepat, Jean menarik tengkuk Ratu dan mencium bibir istrinya dengan menuntut membuat Ratu hanya bisa pasrah.
"Wahai para human, kalau mau berbuat mesum harus liat tempat dulu dong!" ujar Abimana kesal. Baru saja masuk ke ruang rawat, dia dan Putra sudah disuguhkan oleh pemandangan suami-istri yang tengah bercumbu tidak tau tempat, situasi dan kondisi. Apalagi di depan dua laki-laki yang belum nikah seperti mereka.
Jean pun langsung melepas ciuman mereka, sedangkan Ratu menenggelamkan wajahnya di dada suaminya untuk menahan rasa malunya.
"Ck kalian berdua ganggu saja!" balas Jean tak kalah kesalnya. Kemarin adiknya yang mengganggu dan sekarang dua sahabat laknatnya itu.
"Mainnya di rumah atau di hotel kek, ini malah di rumah sakit. Dasar tidak modal sekali!" cibir Putra.
"Terserah aku dong mau main dimana, toh kamar rumah sakit ini juga aku bayar mahal," balas Jean. Abimana dan Putra mendengus, mereka selalu kalah telak jika sudah berdebat dengan sahabatnya itu.
"Terserah kamu ajalah, bikin iri saja!"
"Makanya kalian nikah!" ejek Jean.
"Ya tenang saja, bentar lagi aku kirim undangan ke kamu. Biar aku juga nanti bisa main di depan kalian." Abimana membalas ejekan Jean. Jean langsung tertawa mendengarnya, sedangkan Ratu semakin malu dibuatnya.
Tepat pukul 10 pagi Jean dan Ratu akan pergi ke Dokter obgyn untuk memeriksa kandungan Ratu. Ratu berada di atas kursi roda dengan Jean yang mendorongnya.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan periksa setelah mendaftar dan giliran nama Ratu yang dipanggil.
Ratu langsung ditimbang berat badan serta di cek tekanan darahnya dan sekian dari rentetan pemeriksaan selesai dilakukan, saat ini Jean dan Ratu tengah duduk berhadapan dengan Dokter.
"Ibu dan bayinya sehat, ya. Usia kehamilan Nyonya Ratu sudah memasuki usia 14 minggu, apa ini kehamilan pertama?" Tanya Dokter.
"Tolong dijaga ya asupan gizi ibunya, karena itu akan berpengaruh pada sang bayi. Di kehamilan yang masuk trimester kedua ini jangan terlalu lelah dan tidak boleh banyak pikiran. Jadi, tolong di jaga baik-baik ya Nyonya?" Nasihat Dokter dan Ratu mengangguk menyetujui ucapan Dokter tadi.
"Ini saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk ibu hamil, silahkan ditebus di bagian farmasi dan jangan lupa untuk rutin di minum. Bantu juga dengan susu ibu hamil, itu lebih bagus. Dan jangan lupa untuk rutin cek kandungan setidaknya satu bulan sekali," sambung Dokter itu lagi.
Jean dan Ratu mendengar dengan seksama ucapan Dokter itu.
"Em Dokter, apa boleh saya bertanya?"
"Silahkan, Tuan."
"Apa kami boleh berhubungan suami-istri?" tanya Jean ragu. Ratu mendelik tajam ke arah Ratu, sedangkan Dokter itu tersenyum karena pertanyaan tersebut memang sudah umum ditanyakan oleh suami-suami pasien yang diperiksanya.
"Untuk berhubungan intim dianjurkan setelah kehamilan menginjak 16 minggu atau 4 bulan agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, walaupun usia kandungan istri anda kini sudah berusia 3 bulan lebih, tapi di usia kehamilan tersebut masih rentan mengalami keguguran," jelas Dokter itu.
Jean langsung mengendurkan bahunya lesu, "Seminggu sekali bisa kali Dok," tawar Jean.
Ratu yang mendengar itu seketika mencubit paha Jean.
"Awww sakit sayang," ringis Jean mencoba melepaskan cubit maut Ratu dari pahanya.
"Dokter bilang tidak boleh, ya tidak boleh. Ini malah nawar lagi!" kesal Ratu.
"Aku hanya bertanya sayang, siapa tau kan di bolehin," ujar Jean menatap Dokter meminta jawaban yang pasti.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan suami-istri di hadapannya ini.
"Kalau seminggu sekali terlalu beresiko Tuan, nah kalau 2 minggu sekali bisa asal jangan mainnya jangan yang kasar-kasar ya," usul Dokter membuat senyum Ratu seketika mengembang, setidaknya ia mempunyai jatah walaupun hanya 2 kali dalam sebulan.
Toh, sebentar lagi kandungan Ratu akan berusia 4 bulan dan ia nanti bisa meminta jatahnya kapan saja pada Ratu.
Setelah selesai mereka menuju ke bagian farmasi untuk menebus beberapa vitamin yang sudah diresepkan oleh Dokter tadi.
"Ingat pesan Dokter tadi, kamu tidak boleh kecapekan sayang," ujar Jean.
"Iya aku mengerti," ucap Ratu.
"Dengan Nyonya Ratu," panggil petugas farmasi. Jean pun segera menghampirinya. Petugas itu menjelaskan berapa dosis yang dianjurkan untuk Ratu meminum vitamin-vitamin tersebut.
"Iya mbak, terima kasih."
"Sama-sama Tuan," balas petugas farmasi itu. Setelah selesai, Jean kembali mendorong kursi roda Ratu menuju ke ruang rawatnya.
Lalu Jean memapah Ratu untuk naik ke atas brankar nya.
"Makasih sayang," ujar Ratu.
"Sama-sama," balas Jean. Tiba-tiba Ratu mengelus perutnya.
"Kenapa sama perut kamu sayang? Sakit?" Tanya Jean cemas. Ratu langsung menggeleng.
"Terus kenapa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Jean lagi, karena ia yakin istrinya itu pasti sedang mengidamkan sesuatu. Ratu langsung tersenyum dan mengangguk.
"Memang kamu mau apa?"
"Aku mau makan asinan Bogor," jawab Ratu sambil mengelus perutnya. Ia tengah membayangkan bagaimana rasa asinan Bogor yang segar, asin dan pedas membuat air liurnya seperti akan keluar dibuatnya.
"Ya sudah aku suruh pak Rahmat buat beliin kamu di restoran," ujar Jean mengambil ponselnya untuk menelpon supir pribadi papanya.
"Aku tidak mau di restoran," lirih Ratu.
"Terus kamu mau yang dimana sayang?"
"Aku maunya di pinggir jalan dekat komplek perumahan High Garden itu," pinta Ratu.
"Tapi itu tidak higenis sayang, apalagi di pinggir jalan terus kena debu dan polusi." Jean memang jarang membeli makanan di pinggir jalan karena ia tau itu akan tidak baik untuk kesehatan.
"Tapi aku mau itu," lirih Ratu dengan raut wajah memelas. Jean menghela napas panjang, ia paling tidak bisa jika sudah melihat wajah Ratu seperti kucing yang minta di karungin.
"Ya sudah aku suruh pak Rahmat belikan disitu."
"Yey makasih Jean." Ratu langsung mengembangkan senyuman bahagianya ketika Jean mengikuti keinginannya.
"Sama-sama sayang." Jean segera menelpon pak Rahmat untuk membelikan Ratu asinan Bogor seperti keinginan ibu hamil itu.
...----------------...
__ADS_1