Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 42


__ADS_3

6 minggu kemudian, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dan menegangkan bagi Ratu dan keluarganya, bagaimana tidak? Hari ini Ratu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak keduanya agar bisa melihat indahnya dunia, apalagi tanpa ada support system dari sang suami. Anak kedua dari Ratu eh ralat, anak kedua dari Jean dan Ratu ini berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3,1 kg dan tinggi 52 cm.


Kedua orang tua bahkan kakak kembar sekaligus kedua kakak iparnya datang ke Beijing lima hari sebelum Ratu melahirkan. Mereka sengaja datang lebih awal agar bisa menjadi penyemangat untuk Ratu.


"Tampan sekali kamu, Nak," lirih Ratu melihat wajah anaknya yang sangat mirip dengan Jean. Bahkan mata, hidung, rambut dan bibir dari bayi itu mirip dengan Jean. Apa karena Ratu terlalu membenci dan kecewa dengan Jean, sehingga anak yang dikandungnya sangat mirip dengan pria itu? Entahlah.


"Kamu mau kasi nama siapa, nak?" tanya mama Hani.


"Kendrick Alex--"


"No! Nama dia Kendrick Wang," potong papa Arkana. Ia tak terima cucunya itu menggunakan marga Alexander lagi di belakang namanya.


"Tapi dia juga anak Jean, Pa," sahut Rivaldi.


"Iya bener kata Aldi. Kendrick itu masih darah dagingnya Jean," timpal Rivaldo dan mendapat anggukan dari semua.


"Papa tidak sudi cucu Papa menggunakan marga itu lagi!" ujar papa Arkana sinis. Ratu sedih mendengarnya.


"Kenapa begitu, nak?" tanya nenek Putri pada putranya.


"Ya Arkana tidak mau aja, Ma. Bahkan laki-laki itu tidak pernah berjuang mencari dimana keberadaan anak dan istrinya! Padahal dia dan orang tuanya punya orang-orang yang berpengaruh disekelilingnya bahkan di seluruh dunia," jelas papa Arkana dengan menggebu-gebu.


Kakek Wang menghela napas. "Arkana, bisa bicara dengan Baba sebentar?"


"Mau bicara apaan, Ba?" tanya Arkana menatap ayahnya. Baba berarti ayah dalam bahasa Mandarin.


"Ikut saja keluar," ujar kakek Wang. Papa Arkana mengangguk dan mengikuti kakek Wang keluar dari ruang rawat Ratu.


"Ada apa ya, Ba?"


"Tadi kamu bilang Jean tidak pernah berjuang untuk mencari keberadaan Ratu bahkan anak-anaknya?" tanya balik kakek Wang.


"Iya, Ba. Buktinya laki-laki itu tidak berada disini sekarang!"


Kakek Wang menghela napas. "Kenapa Jean tidak bisa mencari keberadaan Ratu dan Ravindra itu karena Baba sendiri," ucapnya.


"Hah kok karena, Baba?" tanya papa Arkana heran.


"Iya Baba yang menutup akses bagi Jean untuk mencari keberadaan Ratu dan Ravindra disni," jelas kakek Wang membuat papa Arkana tercengang.


"Jadi Baba yang--" Papa Arkana menjeda ucapannya.

__ADS_1


Kakek Wang mengangguk. "Ya Baba yang melakukannya. Jadi kamu jangan menyalahkan Jean atau siapapun. Baba yakin Jean sedang kalang kabut mencari keberadaan istri dan anaknya," jelasnya.


Papa Arkana seketika merasa bersalah dengan Jean. Entah laki-laki itu masih atau tidak menjadi suami dari putrinya, karena sudah 1 tahun belakangan ini papa Arkana lost contacts dengan keluarga Alexander.


"Udah kamu jangan merasa bersalah begitu, ini semua karena salah Baba. Ayo kita masuk lagi," ajak kakek Wang. Papa Arkana mengangguk pelan, lalu mereka berdua kembali masuk ke dalam ruang rawat Ratu.


Terlihat Kendrick tengah di gendong oleh mama Hani di sofa, dengan girangnya Ravindra, Ciara dan Elwin melihat bahkan mengajak Kendrick berbicara.


"Adiknya lucu ya?" tanya Ciara, anak dari Rivaldi dan Arabella.


"Iya lucu," timpal Elwin.


"Oma, Ravin mau gendong adik," pinta Ravindra ingin menggendong adiknya.


"Adiknya kan berat sayang," ujar mama Hani dengan lembut.


"Ravin mau gendong Oma!" kukuh Ravindra.


"Kasih aja, nak. Dia juga tidak bakal tahan," sahut nenek Putri. Mama Hani menghela napas lalu mengangguk.


"Ayo sini mana tangannya Ravindra." Ravindra menjulurkan kedua tangannya, lalu mama Hani menaruh Kendrick di atas tangan Ravindra namun tidak melepaskannya.


"Uh berat Oma, adik Revan berat," ucap Ravindra keberatan, ia langsung menjauhkan tangannya. Membuat semua yang berada di ruangan tertawa dibuatnya.


"Ya, Pa?"


"Kamu boleh menamakan Kendrick dengan menambahkan marga Alexander dibelakang namanya," jelas papa Arkana.


"Papa yakin? Kalau memang tidak boleh juga tidak apa-apa, pakai nama Wang saja, Pa."


Papa Arkana menggeleng. "Kamu pakai saja nama Alexander karena di dalam tubuh Kendrick masih ada darah keluarga Alexander disana."


Ratu tersenyum mendengarnya. "Baiklah, Pa."


Suasana ruang rawat Ratu kini telah sepi, hanya ada Ratu, Ravindra, mama Hani dan Kendrick tengah tidur di dalam box bayi, sedangkan yang lain pergi istirahat makan siang diluar.


"Mommy," panggil Ravindra, bocah tampan yang sudah berusia 3 tahun itu kini berada di ranjang rawat mamanya.


"Ya, nak?"


"Daddy mana ya, Mom? Kok tidak kesini, padahal adik Ken juga kan mau ketemu sama Daddy," ujar Ravindra.

__ADS_1


Ucapan Ravindra membuat dada Ratu terasa sangat sesak, ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis di depan anaknya. Mama Hani pun ikut sedih mendengar ucapan Ravindra.


"Daddy sedang sibuk berkerja, nak," jelas Ratu sambil mengelus rambut Ravindra.


"Yah Daddy kerja terus, Ravin kan rindu dengan Daddy," keluh Ravindra sambil memeluk perut mamanya. Tanpa sadar air mata Ratu pun terjatuh mendengar keluh kesah putranya yang merindukan Jean.


"Kamu apa kabar, Jean? Apa kamu sudah menemukan pengganti aku disana?" lirih Ratu dalam hatinya.


...****************...


3 tahun kemudian..


Setelah kehilangan istri dan anaknya, Jean menjadi pria yang dingin, pemarah dan tidak tersentuh. Banyak wanita mendekati sampai-sampai yang bersedia menjadi penghangat ranjangnya, namun Jean menolak mentah-mentah mereka bahkan terkadang ia tak akan segan-segan kasar jika ada wanita yang melampaui batasnya.


Dan selama ini Jean jadi workholic atau gila bekerja, semata-mata untuk menghilangkan rasa rindunya terhadap Ratu dan Ravindra.


Suara ketukan pintu tidak membuat Jean menghentikan pekerjaannya.


"Ya masuk!"


CEKLEK!


"Maaf mengganggu Tuan," ucap Rico. Jean pun mau tak mau menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Ya Rico?" tanya Jean menatap Rico.


"Jadwal minggu depan anda harus pergi ke Beijing, cabang JnR Corporation disana sedang membutuhkan anda," jelas Rico membacakan schedule Jean. JnR Corporation adalah anak perusahaan dari Alexander's Group dan perusahaan tersebut Jean lah yang mendirikannya.


"Tidak bisa diundur ya?"


"Maaf tidak bisa, Tuan. Disana nanti anda bisa menjalin kerja sama dengan WANG'S CORP, perusahaan pertambangan emas dan minyak bumi terbesar di Beijing," jelas Rico.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama perusahaan itu, tapi dimana ya?" batin Jean bertanya-tanya.


"Oke, kamu secepatnya pesan tiket untuk kesana," titah Jean.


"Baik, Tuan." Rico keluar dari ruangan Jean.


Jean menatap sendu foto dirinya, Ratu dan Ravindra yang ia taruh di atas meja kerjanya.


"Semoga takdir segera mempertemukan kita ya sayang? Aku rindu kalian," lirih Jean.

__ADS_1


"Kalau kita bertemu lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya dan tidak akan membiarkan kalian pergi lagi. Mungkin kalau kita bertemu lagi, aku akan menjadi suami dan Daddy yang posesif untuk kalian." Monolog Jean mengelus foto tersebut.


...----------------...


__ADS_2