Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 36


__ADS_3

Disebuah ruangan yang kosong dan gelap terdapat seorang gadis yang tengah di ikat di atas kursi. Gadis itu tak lain adalah Sofia, ia berhasil di tangkap oleh anak buah Jean.


"Tolong lepaskan saya!" teriak Sofia.


"Diam!" teriak seorang pria, membuat Sofia terdiam.


"Siapa anda? Kenapa anda menculik saya?" tanya Sofia.


KLIK!


Lampu ruangan itu dinyalakan.


"Kak Jean!" pekik Sofia. Sofia melihat Jean, Rico dan beberapa laki-laki berbadan besar mengenakan pakaian serba hitam.


"Kenapa hah? Kaget kamu?" sentak Jean.


"Kenapa kakak ngelakuin ini sama aku?" tanya Sofia dengan suara lirih.


"Kamu nanya seperti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan?"


"Memangnya aku udah melakukan kesalahan apa kak?" tanya Sofia pura-pura tidak tau.


"Cih pura-pura tidak tau, kamu kan yang nabrak istri dan anak saya?" sentak Jean. Tubuh Sofia bergetar hebat, ternyata Jean mengetahui jika dirinya yang menabrak Ratu dan Ravindra.


"T-tidak kok kak, mana mungkin aku menab--"


PLAKKK!


Jean memotong dan langsung menampar pipi Sofia.


"Jadi benar ucapan istri saya selama ini. Kamu yang jahat! Dan kamu udah fitnah istri saya!" sentak Jean murka sambil mencengkram kedua pipi Sofia dengan satu tangannya.


"Arrgghh sakit kak." Sofia meringis kesakitan seperti kuku-kuku Jean menancap di pipinya.


"Sakit kamu bilang?" teriak Jean.


"Lebih sakitan mana dengan istri saya yang kamu tabrak sampai dia berada di ambang kematian hah?" Jean menambah cengkraman nya di pipi Sofia. Sofia hanya diam, mata gadis itu sudah mengeluarkan air matanya. Apakah itu air mata penyesalan atau kebahagiaan karena Ratu berada di ambang kematian? Entahlah.


"Heh jawab, bukannya malah diam!"


PLAKKK!


Jean melepaskan cengkeramannya dan malah kembali menampar pipi Sofia lebih keras lagi. Membuat Sofia jatuh tersungkur ke lantai bersama dengan kursinya. Rico dan yang lain hanya diam menatap adegan di depan mereka.


"Apa harus saya buat kamu koma juga seperti istri saya?" tanya Jean sambil berjongkok di depan Sofia.

__ADS_1


"Tidak kak, ampun. Maafkan aku." Sofia memohon ampun pada Jean.


Jean berdiri dan menendang kursi yang di duduki Sofia membuat kursi tersebut bergeser cukup jauh.


"Sampai saya mati, saya tidak akan pernah memaafkan kamu, Sofia!" Hardik Jean.


"Rico kamu urus sisanya! Saya mau balik ke rumah sakit," titah Jean pada Rico.


"Baik Tuan."


...****************...


3 hari kemudian, Ratu menggerakkan jarinya dan membuka matanya dengan perlahan. Dokter yang memang tengah memeriksa keadaannya pun terkejut, lega sekaligus bahagia bercampur menjadi satu.


"Nyonya anda sudah sadar?" tanya Dokter itu tersenyum. Ratu hanya mengangguk pelan.


"Syukurlah." Dokter itu pun membuka alat pernapasan Ratu karena ia melihat pasiennya itu seperti ada yang ingin disampaikan kepadanya.


"Ba-bagaimana keadaan kandungan saya Dokter Hanum?" tanya Ratu pada Dokter Hanum, Dokter itu yang selalu menangani Ratu, bahkan sejak Ratu mengandung Ravindra dulu.


"Kandungan anda saat ini sangat lemah Nyonya, bahkan di diagnosis akan kami keluarkan jika Anda belum sadar," jelas Dokter Hanum.


Ratu sangat sedih sekaligus lega mendengar ucapan Dokter Hanum tadi.


"Kalau gitu saya akan memberitahukan suami dan keluarga tentang anda yang sudah sadar ini," ujar Dokter Hanum ingin pergi namun tertahan oleh ucapan Ratu.


"Ada apa Nyonya?" tanya Dokter Hanum.


"Apa boleh saya minta tolong sama Dokter?" Tanya Ratu sedikit sungkan.


"Minta tolong apa ya Nyonya?"


"Tolong Dokter katakan ke suami dan keluarga saya kalau kandungan saya ini tidak bisa diselamatkan," pinta Ratu, ia benar-benar sudah sangat kecewa dengan suaminya. Mungkin dengan cara berpisah dengan Jean adalah jalan yang terbaik.


Dokter Hanum sangat terkejut mendengar permintaan pasiennya yang diluar nalar itu.


"Kenapa Nyonya membuat permintaan seperti itu? Saya takut akan bermasalah jika melakukan hal itu, terlebih lagi pada keluarga Alexander." Dokter Hanum penasaran sekaligus takut, kalau ia menyetujui permintaan Ratu tadi bisa-bisa nanti pekerjaannya bisa di tamat jika berani membohongi keluarga Alexander yang merupakan salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit ini.


"Ada problem tidak bisa saya sampaikan. Tapi saya mohon Dok, Dokter bilang seperti yang saya katakan tadi dan saya yang akan bertanggung jawab jika Dokter Hanum kenapa-napa nantinya," pinta Ratu dengan wajah memelas nya. Dokter Hanum menghela napas kasar, dengan berat hati ia pun menerima permintaan dari Ratu.


"Baik akan sampaikan ke Tuan Jean beserta keluarga seperti yang Nyonya katakan tadi."


Ratu tersenyum. "Terima kasih Dok."


"Sama-sama Nyonya, kalau gitu saya permisi," pamit Dokter Hanum keluar.

__ADS_1


"Semoga ini adalah jalan yang terbaik," gumam Ratu sambil mengelus perutnya.


...****************...


Hari adalah hari terakhir Dokter menentukan. Namun, sampai saat ini Ratu belum juga sadar dari komanya. Itu membuat semua menjadi tegang, terlebih Jean yang tidak menginginkan calon buah cintanya yang kedua itu harus pergi.


Ratu yang memang sudah terbangun itu terus berpura-pura masih koma, ia sangat sedih dan hatinya begitu teriris mendengar ucapan-ucapan keluarganya, apalagi ucapan suaminya yang selalu membisikkan kata-kata romantis dan menyuruhnya untuk segera sadar, bahkan pria itu menyuruh Ratu untuk menghukum Jean apapun hukumannya, Jean akan menerimanya. Apakah hati Ratu akan goyah lagi untuk memaafkan Jean?


"Jika sampai besok pagi pasien belum sadar. Kami terpaksa harus mengambil janinnya Tuan, karena kandungan istri anda semakin lemah," jelas Dokter Hanum berbohong karena ini adalah permintaan dari Ratu.


Jean menggeleng pelan. "Jangan Dokter. Saya mohon, selamatkan kandungan istri saya," lirihnya. Terlihat dari penampilan Jean yang sedikit kucel. Matanya berkantung dan wajahnya sedikit pucat karena selama 4 hari ini ia jarang tidur dan makan.


"Kami sudah berusaha maksimal, Tuan. Namun, kecelakaan yang istri Anda alami cukup parah, sehingga membuat kandungannya sangat lemah," jelas Dokter Hanum lagi, walaupun di dalam hatinya ia merasa bersalah karena telah membohongi Jean dan keluarganya. Ia juga sangat kasihan melihat keadaan suami dari pasiennya.


Jean tertunduk dalam. Haruskah ia kehilangan calon anaknya? Bagaimana jika suatu saat Ratu sadar dan tau semua ini? Jean takut Ratu akan terpuruk dan tidak menerima semua ini nantinya.


"Saya permisi, selamat malam," pamit Dokter itu, lalu keluar dari ruang rawat Ratu.


"Sabar nak, mungkin ini cobaan buat keluarga kamu." Mama Hani mengusap punggung menantunya.


"Lebih baik kamu mandi dulu, Jean. Setelah itu kita sholat bersama dan berdoa semoga Ratu cepet sadar dari komanya," timpal mommy Zia. Terlihat semua keluarga besar Ratu dan Jean tengah berkumpul disana. Jean hanya mengangguk pasrah.


Jean, Rivaldo, Karina, orang tua Jean serta Ratu, baru saja selesai melaksanakan sholat Isya'. Dengan papa Arkana yang menjadi imam, beliau memanjatkan doa sesudah sholat lalu berdoa untuk kesembuhan Ratu. Setelah itu semua saling bersalaman.


"Jean ayo," ajak daddy Marvin yang ingin beranjak keluar mushollah.


"Kalian duluan aja, Jean masih mau disini," ujar Jean lirih.


"Ya udah, kita duluan ya. Kasian Medina jagain Ratu sendirian sama Ravindra dan Nathan," balas Rivaldo.


Jean mengangguk. "Titip Ravindra ya, kak." Rivaldo mengangguk lalu melangkah pergi bersama yang lain. Setelah itu, Jean kembali menghadap kiblat.


"Ya Allah, Ya Tuhan ku. Hamba mohon, sadarkan istri hamba secepatnya dan selamatkan calon anak kami. Hamba tidak ingin nanti Ratu terpuruk jika tahu dia kehilangan bayinya, hiks," lirih Jean mulai menangis.


"Hamba siap engkau hukum apapun. Tapi hamba mohon, jangan siksa istri hamba seperti ini hiks," ujar Jean sambil terisak. Jean terus memanjatkan doa hingga tengah malam.


Malam berganti menjadi pagi. Jean kembali tak tidur demi menunggu istrinya itu sadar. Namun, saat ini ia sudah pasrah dengan keadaan. Ratu yang belum juga sadar membuat tim medis harus melakukan operasi untuk mengeluarkan janin Ratu pagi ini juga.


"Mom..." Jean memeluk mommy Zia erat. Menumpahkan segala kepedihan yang ia alami.


"Kamu yang sabar nak," ujar mommy Zia mencoba menenangkan putranya seraya mengusap punggung Jean.


"Gimana Jean mau sabar, Mom. Janin Ratu akan diangkat. Apa yang akan Jean katakan jika dia bertanya nanti, hiks." Jean yang kembali terisak.


"Katakan yang sebenarnya nak. Mama akan bantu kamu bicara sama Ratu," timpal mama Hani. Jean menatap mama mertuanya.

__ADS_1


"Tapi kalau dia tidak terima gimana, Ma? Jean tidak mau Ratu terpuruk nantinya. Jean sakit jika melihat dia seperti itu Ma, Jean tidak kuat," ucap Jean serak. Semua yang berada disana menatapnya dengan iba.


...----------------...


__ADS_2