Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 15


__ADS_3

Ratu baru saja keluar dari dalam supermarket dan ia berinisiatif akan membeli es krim gelato kesukaannya tepat di seberang jalan. Baru saja Ratu hendak menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil Alphard hitam berhenti di sampingnya. Ia menatap mobil itu dengan heran.


Dua orang berbadan besar keluar dari mobil tersebut, lalu menghampiri Ratu.


"Ikut dengan kami Nona," titah salah satu dari mereka.


"Tidak mau!" Ratu berupaya untuk kabur, dua orang itu mengejar Ratu.


HAP!


Ratu pun tertangkap oleh mereka.


"Tolong!" Ratu pun berupaya meminta pertolongan, namun dengan cepat salah satu pria itu membekap mulut Ratu dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius.


"Eeemmpphh.. To..longgg eemmph ..." Ratu mencoba untuk memberontak.


"Eeemmph.. Emphhh ..." Pandangan Ratu pun menjadi kabur dan ia tak sadarkan diri. Lalu dua orang tersebut membawa Ratu masuk ke dalam mobil dan membawanya entah kemana.


Kediaman Alexander.


"Mom, Ratu mana?" tanya Jean yang baru saja menuruni tangga.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi dan ia baru saja terbangun dari tidur tampannya, karena semalam ia begadang meyelesaikan tugasnya sebagai ketua BEM sebelum beberapa bulan lagi ia akan melepaskan jabatannya tersebut.


"Tadi sih katanya Ratu mau pergi ke supermarket," jawab mommy Zia.


"Dia pergi sama siapa, Mom?"


"Ratu tadi izinnya pergi sendirian dengan taksi online," jawab mommy Zia.


"Kenapa dia tidak membangunkan ku? Padahal aku bisa mengantarkannya," ucap Jean sedikit kesal.


Mommy Zia tersenyum mendengar ucapan putranya. "Mungkin Ratu tidak ingin membangunkan mu, nak."


Jean hanya mengangguk pelan membenarkan ucapan Mommy-nya.


"Kamu lapar nak?" tanya mommy Zia saat melihat gelagat putranya, apalagi pria itu sekarang tengah mengelus perutnya.


Jean mengangguk lucu, tentu saja ia sangat lapar, bahkan sarapan pun terlewati olehnya.


"Mau di masakin apa?" tanya mommy Zia.


"Nasi goreng sama telur ceplok saja Mom, biar cepat," jawab Jean.


Mommy Zia mengangguk dan menyuruh putranya itu untuk menunggu.


"Assalamualaikum," ucap daddy Marvin yang pulang tiba-tiba. Jean yang sedang makan itu langsung menghentikan makannya dan menghadap ke belakang.


"Daddy?"

__ADS_1


"Hai, son! Kok sarapannya baru sekarang?" tanya Daddy Marvin menghampiri Jean dan duduk di sebelah putranya.


"Iya Dad, soalnya aku baru bangun," jelas Jean. Daddy hanya manggut-manggut.


"Oh ya, Daddy kok sudah pulang?" tanya Jean heran.


"Terserah Daddy dong, Daddy juga kan pengen gitu bermesraan sama istrinya Daddy!" ucap Daddy Marvin membuat Jean mendengus, Daddy-nya itu memang sangat menyebalkan.


"Eh Daddy, kok sudah pulang?" tanya mommy Zia menghampiri suaminya dan memeluk kedua leher Daddy Marvin dari belakang.


"Iya sayang, soalnya Daddy rindu dengan Mommy," ucap Daddy Marvin sambil mengecup pipi mommy Zia. Jean hanya tersenyum melihat keromantisan orang tuanya itu. Ia juga berharap hubungannya dengan Ratu selalu bahagia dan harmonis seperti hubungan kedua orang tuanya.


"Oh ya Jean, mulai minggu depan kamu harus sudah membantu Daddy di perusahaan," ujar daddy Marvin. Jean yang sedang makan, seketika menghentikan makannya dan menatap kedua orang tuanya yang duduk tepat di depannya.


"Hah minggu depan, Dad?" tanya Jean terkejut.


"Iya nak, Daddy membutuhkan kamu untuk membantu perusahaan Daddy di Indonesia. Karena satu bulan lagi Daddy akan pergi ke Australia sekaligus membuka cabang Alexander's Group disana," jelas daddy Marvin. Jean terdiam sejenak, memikirkan apakah ia menerima perintah dari Daddy-nya atau tidak?


"Gimana, son?"


"Ingat Jean, kamu sekarang sudah jadi kepala keluarga. Mau kamu kasih makan apa istri dan anak-anak kamu nanti kalau kamu tidak bekerja," sahut mommy Zia.


"Ya sudah aku mau, Dad. Kebetulan juga sebentar lagi jabatan aku sebagai ketua BEM akan selesai, jadi aku tidak terlalu sibuk," ucap Jean.


Jean terlihat manja dan cerewet di depan keluarganya, di depan sahabat-sahabatnya Jean dikenal baik, loyal dan terkadang suka menyebalkan.


Sedangkan di depan teman-teman yang tidak terlalu dekat dengan Jean, ia akan terlihat seperti cuek, dingin dan tegas. Disisi lain Jean akan terlihat sangat menakutkan seperti malaikat maut yang akan segera merenggut nyawa jika di depan musuh yang berani mengusik hidupnya.


Tapi syukurnya sekarang mereka bertiga telah bertaubat, tapi itu tidak sepenuhnya, mereka sampai sekarang masih suka minum-minum dan memainkan hati perempuan, kecuali Jean.


Walaupun ia masih suka minum-minum, namun Jean dari dulu tidak suka memainkan hati seorang perempuan, hanya Abimana dan Putra lah yang suka melakukan hal itu sampai sekarang dan tidak ada yang ingin serius dengan hubungan mereka.


Mommy Zia dan daddy Marvin langsung menampilkan senyum sumringahnya ketika mendengar ucapan dari putranya.


Hari pun mulai sore, namun Ratu tak kunjung pulang membuat Jean khawatir karena sudah berkali-kali ia menelpon istrinya tapi tak diangkat juga.


"Coba kamu telpon Vina, Jean. Siapa tau Ratu sedang bersamanya," perintah mommy Zia.


"Sudah Mom. Vina bilang dia sama sekali tidak bertemu dengan Ratu hari ini," ucap Jean frustrasi.


"Ya Allah, lalu bagaimana? Kamu coba telpon keluarganya Ratu," ujar mommy Zia yang ikutan cemas. Jean langsung menggeleng cepat.


"Jangan Mom. Jean tidak mau mereka khawatir terlebih mama Hani. Biar Jean cari Ratu sekarang." Jean langsung memakai jaket kulit dan meraih kunci mobilnya.


"Tapi Je--" ucapan mommy Zia terpotong.


"Mommy tenang saja, Jean tidak sendirian kok. Jean akan minta bantuan kak Rivaldo, Abimana dan Putra untuk ikut mencari Ratu," potong Jean lalu ia mencium punggung tangan mommy Zia.


"Assalamualaikum Mom."

__ADS_1


"Waalaikumussalam, Hati-hati nak," balas mommy Zia Jean mengangguk.


"Ya Allah, kenapa perasaanku tidak enak seperti ini. Lindungi lah anak dan menantu hamba dimana pun mereka berada," batin mommy Zia berdoa untuk keselamatan anak dan menantunya itu.


"Kamu dimana sih sayang," lirih Jean, mata laki-laki itu terus menatapi jalan. Berharap ia menemukan keberadaan istrinya.


"Memangnya tadi Ratu pamit kemana sih?" tanya Abimana yang berada di samping Jean. Sementara Putra, laki-laki itu tidak ikut dengan mereka karena sedang menjaga ibunya yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Kata Mommy, dia pergi ke supermarket. Aku hubungi dia sampai berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Terus aku telpon Vina, tapi dia bilang, dia tidak pernah bertemu dengan Ratu hari ini," ucap Jean dengan nada yang terdengar cemas.


"Iya iyalah, Vina kan tadi lagi jalan sama aku, ups!" jelas Abimana keceplosan membuat Jean menatap selidik ke arah sahabatnya itu.


"Kamu ada hubungan apa dengan Vina?" tanya Jean selidik dan terus melajukan mobilnya searah dengan keinginan hatinya.


"Aku dan dia baru satu Minggu ini berpacaran," jawab Abimana sedikit gelagapan takut dengan tatapan Jean yang menakutkan baginya.


"Kalau kamu hanya ingin bermain-main saja dengan Vina, lepaskan dia! Aku tidak ingin Ratu sedih saat mengetahui sahabatnya hanya dimainkan oleh mu!" ucap Jean dengan nada memerintah dan serius. Abimana bahkan sampai susah menelan ludahnya saat mendengar perintah Jean yang tak main-main itu.


"Kamu tenang saja, Jean. Kali ini aku serius dengan Vina, aku sangat mencintainya," balas Abimana.


"Bagus! Sudah seharusnya kamu tidak mempermainkan hati perempuan lagi! Dan untuk Putra, tolong nasehati dia agar bertaubat juga!"


Abimana hanya mengangguk, seperti anak kecil yang sedang diperintahkan oleh ayahnya.


Tiba-tiba saja ponsel Jean berdering, ia menepi dan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Jean mengangkat telpon dari kakak iparnya yang juga tengah mencari keberadaan Ratu, yakni Rivaldo.


"Halo iya kak Aldo?" tanya Jean.


"Aku sudah menemukan keberadaan, Ratu."


"Dimana kak?" tanya Jean lagi.


"Di perumahan Anggrek nomor 27."


"Itu kan salah satu perumahan elit dan kebetulan aku ada di daerah itu sekarang," ucap Jean antusias setelah mengetahui keberadaan istrinya.


"Ya sudah, kamu cepetan kesini, sekalian aku menunggu polisi datang." Rivaldo sepertinya sudah tahu bahwa ada seseorang yang berani menculik adiknya, sebab Ratu tidak pernah pergi lama tanpa mengabari orang terdekatnya.


"Oke kak, kirim aja lokasi Ratu sekarang, biar aku kesana."


"Oke, akan aku kirimkan."


"Oke, thanks kak. Aku tunggu."


Jean mematikan sambungan telponnya.


"Ada apa, Je? Apa ada informasi tentang keberadaan Ratu?" tanya Abimana menatap Jean serius.


Jean mengangguk, "Kak Rivaldo bilang Ratu ada daerah sekitar sini," jawabnya seraya melacak keberadaan Ratu dari lokasi yang Rivaldo kirimkan kepadanya.

__ADS_1


Jean pun segera melajukan mobilnya ke alamat yang dikirimkan oleh kakak iparnya.


...----------------...


__ADS_2