
Sejak tadi pagi Ratu terus mengacuhkan Jean, membuat pria itu bingung dan heran bahkan ia sampai uring-uringan di kantor karena tingkah dari istrinya. Apakah dia telah berbuat sesuatu yang membuat istrinya marah? Tapi Jean pikir, ia tak pernah melakukan hal yang membuat Ratu sakit hati.
Jean mendekati Ratu yang sedang membaca majalah di atas ranjang, gerakan Jean duduk di ranjang dirasakan Ratu, tapi Ratu mengacuhkannya.
"Mommy sayang," ucap Jean begitu lembut.
"Hem?" Ratu hanya berdehem. Ia sengaja mengacuhkan Jean untuk mengerjainya karena esok hari merupakan hari spesial bagi suaminya.
"Kamu kenapa sih cuek banget sama aku dari tadi pagi?" tanya Jean.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Ratu singkat. Jean membuang napas kasar, ia mendekati Ratu, merampas majalah yang sedang di baca istrinya. Ratu cukup tersentak dengan hal tersebut.
"Kamu apa-apaan sih, Jean? Aku belum selesai baca!" kesal Ratu.
Jean menatap tajam Ratu, "Kamu panggil aku apa tadi hem?" tanya Jean. Kedua tangannya mendorong pelan tubuh Ratu membuat Ratu berbaring di ranjang. Jean pun mulai menindih sedikit tubuh istrinya.
"Mampus!" batin Ratu merutuki diri. Ia lupa jika dirinya tidak boleh memanggil Jean dengan sebutan nama.
"Daddy sayang, jangan begini please ... aku capek," ucap Ratu memohon.
Jean menggeleng, terlihat mata pria itu ada kilatan nafsu disana. "Sudah terlambat sayang, kamu harus aku hukum."
Jean memajukan wajahnya, sedetik kemudian bibirnya dengan bibir Ratu mulai menyatu. Ratu yang tadinya sempat memberontak, alhasil ia pun menikmatinya. Ratu yang mengerjai Jean, malah ia yang dikerjai balik oleh Jean. Namun ini dikerjai dengan cara yang lembut dan nikmat tentunya. Walaupun di hati Ratu begitu was-was dan takut jika terjadi sesuatu pada kandungannya yang tergolong masih muda.
"Akhhh!" Jean dan Ratu berteriak saat kenikmatan tersebut telah berada di puncak. Jean mengecup kening Ratu, lalu berguling ke samping. Jean menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Ratu.
"Jangan mengacuhkan aku lagi sayang, aku tidak suka," tegur Jean sambil mengelus pipi Ratu. Ratu tidak menjawab saking lemas nya, ia memilih memejamkan matanya.
Jean tersenyum liat wajah kelelahan sang istri, tangannya terarah ke perut Ratu, mengelusnya dengan lembut. "Cepat tumbuh anak, Daddy," ucapnya. Kemudian, Jean mulai memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpi.
Pagi harinya Ratu mengajak Ravindra mengambil kue yang telah ia pesan jauh-jauh hari untuk merayakan ulang tahun Jean secara kecil-kecilan. Di rumah, sudah ada mommy Zia, mama Hani, Medina dan para pelayan membuat dekorasi. Kebetulan hari ini Jean sibuk di kantor dan ia akan pulang kerja sekitar pukul 8 malam, itu membuat mereka lebih leluasa untuk menyiapkan surprise.
Sesampainya di toko kue, Ravindra langsung antusias melihat jenis-jenis kue yang ada di etalase.
__ADS_1
"Mom, aku mau mau kue cokelat," pinta Ravindra sambil menunjuk-nunjuk ke arah kue muffin cokelat.
"Iya sayang, ini Mommy ambilkan." Ratu mengambilkan beberapa kue yang diinginkan oleh putranya. Kemudian, ia pergi ke arah kasir untuk membayarnya. Tak lupa, Ratu juga membayar kue ulang tahun Jean dan beberapa jenis kue yang akan disuguhkan nanti saat perayaan ulang tahun Jean.
"Nanti tolong diantarkan ke alamat itu ya," ucap Ratu.
"Baik, Bu."
Setelah membeli kue, Ratu dan Ravindra melanjutkan perjalanan menuju ke Mall, berbelanja sekaligus membelikan Jean kado ulang tahun. Sesampainya di Mall, banyak pengunjung yang gemas melihat wajah Ravindra. Para pengunjung itu yakin, jika kelak Ravindra menjadi pria yang tampan dan populer dikalangan kaum hawa dengan wajah blasteran Indonesia, Inggris dan China miliknya.
Ratu pergi ke salah satu toko jam branded, ia memilih jam tangan untuk Jean yang harganya mencapai 50 juta rupiah.
"Mom, i'm hungry," ujar Ravindra.
Ratu tersenyum menatap Ravindra, "Mau makan apa sayang?"
"Mau makan sushi, boleh?" tanya Ravindra.
"Tentu boy, ayo kita makan Sushi." Ratu menggandeng tangan Ravindra keluar dari toko jam dan pergi menuju ke food court.
Sesampainya di rumah Jean membuka pintu utama rumahnya, baru saja pintu itu terbuka ia dikejutkan dengan suara party popper yang diluncurkan.
DUARRR!
"Happy birthday!" teriak semua orang di dalam sana.
Jean sangat terkejut bercampur bahagia ternyata orang-orang mengingat hari lahirnya, bahkan ia pun sampai lupa dengan ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini.
Semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan. Tak luput para sahabatnya pun ikut meramaikan acara pesta ulang tahun Jean yang dirayakan secara kecil-kecilan tersebut.
Vina yang tengah hamil besar itu juga ikut bersama sang suami, Abimana. Dua insan itu telah menikah satu tahun yang lalu dan sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua.
Jean segera menghampiri istrinya yang tengah membawa kue ulang tahun dengan lilin-lilin menyala di atas kue.
__ADS_1
"Ayo ditiup dulu lilinnya, sayang. Tapi sebelum itu make a wish dulu," suruh Ratu.
Jean tersenyum dan mengangguk, ia memejamkan mata lalu berdoa di dalam hati. Jean berdoa agar ia, Ratu, Ravindra dan orang-orang tersayangnya selalu bahagia dan sehat. Jean juga meminta agar Tuhan segera dipercayakan untuk segera diberikan keturunan lagi.
"Fiuhhh ..." Jean meniup lilin-lilin tersebut setelah selesai berdoa.
Inilah saat yang dinanti-nantikan, Jean akan membuka beberapa kado dari orang-orang tersayangnya.
"Ini dari aku dan Ravindra." Ratu memberikan dua kado untuk Jean.
Jean menerimanya dengan senang hati, "Terima kasih sayang." Pria itu mencium kening Ratu serta pipi sang putra yang kini berada di gendongannya.
"Di buka nak, Mommy penasaran sama hadiahnya," suruh mommy Zia.
Jean mengangguk, ia membuka kotak hadiah yang pertama dari Ratu, yang ternyata berisikan jam tangan mewah. "Wah terima kasih sayang, tau aja aku pengen beli jam."
"Sama-sama, Daddy," balas Ratu. "Ayo dibuka kado lagi satunya," suruhnya.
"Iya, sayang." Jean membuka kotak hadiah yang kedua, seketika mata hazel nya membulat sempurna dan berkaca-kaca setelah melihat isi dari kotak tersebut.
"I-ini beneran sayang?" tanya Jean terbata-bata.
Ratu tersenyum dan mengangguk, "Selamat ya sayang, bentar lagi kamu akan menjadi seorang Daddy kembali."
Semua yang ada disana ikut bahagia dan memberikan selamat kepada Ratu yang tengah hamil itu.
Jean memeluk Ratu dan menangis haru, "Terima kasih sayang, ini adalah kado terindah yang aku terima," ucap Jean.
"Sama-sama Daddy," balas Ratu sambil mengelus punggung Jean yang bergetar.
"Daddy nangis?" tanya Ravindra yang masih berada di gendongan Jean. Jean melepaskan pelukannya dan menatap sang putra.
"Tidak son, mata Daddy tadi hanya kelilipan," elak Jean. Ravindra yang polos pun hanya bisa manggut-manggut saja.
__ADS_1
...----------------...