Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 14


__ADS_3

"Abi, bantuin aku pasang tenda!" teriak Putra, sedangkan yang disuruh saat ini tengah memainkan game di ponselnya.


"Iya nanti, lagi sebentar!" jawab Abimana.


Putra berdecak dan menghampiri sahabatnya itu. "Ayo Abi!" Putra menarik tangan Abimana membuat ponsel milik laki-laki itu hampir terjatuh jika saja ia tidak menangkapnya dengan cepat. Dengan perasaan dongkol dan malas, Abimana pun membantu Putra memasang tenda. Salah tau temannya yang bernama Bagas, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.


Setelah selesai memasang tenda, mereka berdua pun istirahat duduk di depan tenda mereka.


"Cantik dan ramah ya Ratu, tidak salah memang si Jean mendapatkan istri seperti dia," ucap Abimana sambil melihat ke arah Ratu yang sedang bercengkerama dengan junior-juniornya dengan penuh senyuman manis, Putra pun ikut melihat ke arah Ratu.


"Iya benar, coba saja ada perempuan lain seperti Ratu di dunia ini, pasti akan aku jadikan dia istri," ucap Putra. Mereka tidak tahu, jika Jean tengah menguping pembicaraan mereka dari tadi.


"Sudah puas liat istriku?" sinis Jean menatap tajam kedua lelaki yang masih sibuk membicarakan dan menatap ke arah Ratu.


"Aku lupa ada pawangnya," bisik putra pada Abimana dan sukses membuat mereka berdua merinding saat melihat tatapan mematikan dari Jean. Dengan cepat Putra dan Abimana mengalihkan atensi mereka dengan membantu teman-temannya yang lain. Sungguh mereka berdua takut akan kena mental ketika Jean sudah naik pitam nantinya.


Ratu yang sudah berada di tandanya hanya bisa memperhatikan Jean dari jauh perasaannya tidak enak. Ia takut Jean mengabaikannya dan ia juga sangat khawatir pada Jean karena suaminya itu baru saja sembuh tapi pria itu juga tidak ingin meminta maaf duluan kepadanya sebab yang memancing emosinya pertama adalah suaminya itu.


Drrtt drrtt drrtt...


Ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk, Ratu dengan cepat membukanya.


Hai my Queen, aku sekarang sedang menatapmu wajah cantikmu dari kejauhan. Aku harap secepatnya aku bisa melihat dan menyentuh wajahmu dari jarak dekat.


Jantung Ratu berdegup kencang setelah membaca pesan tersebut, ia langsung celingak-celinguk mencari orang yang mengirimkannya pesan tadi. Tapi sayang, Ratu tidak tahu orang misterius itu.


Sudah hampir 2 bulan belakangan ini atau setelah ia menikah dengan Jean, Ratu sering mendapatkan pesan dari orang misterius itu. Orang itu sering mengirimkannya pesan-pesan yang tidak jelas, terkadang membuat Ratu ketakutan. Tapi Ratu tidak pernah memberitahukan tentang pesan itu kepada Jean.


Malam harinya semua murid dikumpulkan di lapangan terbuka yang menjadi pusat Dandelion University melaksanakan kemah, mereka duduk melingkar dengan ditengah-tengah terdapat api unggun yang menghangatkan tubuh mereka dari hawa dingin yang menerpa kulit.


Jean dan Ratu duduk berjauhan membuat sahabat-sahabat mereka keheranan.


"Lah, tumben Jean sama Ratu duduknya berjauhan. Biasanya juga seperti dikasih lem tikus, berdempetan mulu," bisik Putra pada Abimana yang duduk di sampingnya .


Abimana yang sedang asik ngemil menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Putra.


"Kamu ini ngemil mulu tidak bagi-bagi!" Putra baru menyadari bahwa Abimana sedari tadi terus mengemil entah sudah berapa bungkus Snack yang sudah di habiskan.


"Kamu tidak usah rakus jadi orang!" cibir Abimana menjauhkan snack dari Putra yang hendak mengambil makanan kesukaannya itu.


"Baru aja aku mau minta sudah di katain rakus. Bagi dikit lah!" balas Putra yang mulai gencar mengambil snack Abimana.


"Kamu makan pasir sama rumput saja sana. Jangan ganggu snack punyaku!"


"Pelit banget sih, dasar sahabat laknat!" maki Putra.


"Abimana, Putra!" teriak Bu Anggi yang sejak tadi mendengarkan perdebatan kedua lelaki itu.


"Ini, Bu. Abimana pelit tidak mau bagi-bagi Snack nya," adu Putra seperti anak kecil.


"Saya bagi, Bu. Tapi nanti saja di tenda," ucap Abimana yang tidak mau disalahkan.


Bu Anggun hanya geleng geleng melihat tingkah Abimana dan Putra yang seperti anak kecil.


Pembukaan kemah telah selesai pukul 10 malam, mahasiswa-mahasiswi kembali ke tenda masing-masing mempersiapkan kondisi tubuh mereka agar bugar untuk besok bisa memulai aktivitas lainnya.


Ratu mencoba menutup mata berusaha untuk tidur, tapi ia teringat dengan pesan dari orang misterius tadi membuat Ratu jadi gelisah. Entah saat ini Ratu ingin memeluk suaminya, mungkin ini karena efek hormon kehamilannya.


"Hiks." Ratu mulai terisak.


Vina yang mendengar Ratu menangis langsung terkejut dan terbangun, untung saja dia belum tidur dengan pulas.


"Kamu kenapa, Ratu? Kok nangis? Ada yang sakit?" tanya Vina khawatir sambil memegang kening Ratu.


Bukannya mereda, tangisan Ratu semakin menjadi-jadi. "Huhuhu.."


"Ya ampun. Kamu kenapa, Ratu? Bilang ke aku!"

__ADS_1


"Aku mau Jean ... Aku mau peluk dia," ucap Ratu sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Hal itu membuat Vina seketika melongo.


"Hah? Kamu jangan bercanda deh, Ratu. Masa mau di peluk sama Jean saja, kamu jadi nangis gini?" ucap Vina tak percaya ditambah bingung.


"Aku mau Jean, mau ketemu dan peluk dia, hiks ..."


"Ya sudah aku kirim pesan ke Jean untuk suruh dia kesini," ucap Vina. Daripada nanti tangisan sahabatnya itu semakin menjadi-jadi, lebih baik ia memberitahukan secepatnya kepada Jean.


Tak lama tenda mereka di ketuk dari luar, dengan sigap Vina membuka resleting tenda dan dapat dilihat Jean sudah berada di depan tenda bersama Abimana.


"Ratu kenapa?" tanya Jean dengan tatapan datar. Ia melihat Ratu dalam posisi tiduran sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


"Aku juga tidak tau, Jean. Dia tiba-tiba saja nangis dan ingin bertemu dengan kamu," jelas Vina.


Setelah itu Vina pun keluar dari tenda memberi ruang untuk Jean menenangkan Ratu.


Abimana menyuruh Vina untuk tidur di tendanya bersama Jean. Sedangkan nanti dia akan tidur di tenda Putra yang memang satu tenda dengan Bagas. Vina pun menyetujuinya, ia yakin Jean pasti akan tidur bersama Ratu dan Vina tak ingin mengganggu pasangan suami-istri itu.


Jean membalikkan tubuh Ratu, namun istrinya itu masih menutup wajahnya sambil terisak.


"Kenapa nangis?" tanya Jean dengan suara yang masih datar.


Ratu hanya menggeleng.


"Kalau kamu tidak mau bicara, biar aku pergi sekarang," ancam Jean.


Mendengar itu, Ratu langsung menyingkirkan tangannya dan menatap Jean yang berada di atasnya. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk sambil terus menghapus jejak air matanya.


Keduanya pun saling tatap. Ratu melengkungkan bibirnya ke bawah. "Aku mau peluk, boleh?" tanya Ratu meminta izin.


Jean menggeleng, "Kenapa?" Jean masih marah pada Ratu karena istrinya itu masih saja dekat dengan Reza. Padahal seringkali Jean peringati kepada Ratu, jika dia tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun kecuali Jean.


"Mau peluk kamu, hiks!" Ratu kembali menangis, ia mengambil tangan Jean untuk di genggam.


"Kenapa seharian ini kamu mengabaikan aku?" tanya Jean sambil melepaskan genggaman Ratu.


"Oh ya? Terus kenapa setiap kali kita bertatapan, kamu langsung mengalihkan pandanganmu begitu saja?" tanya Jean sinis.


"Aku tidak tau kenapa bisa sekesal ini sama kamu," ucap Ratu.


"Karena masalah di mobil tadi?"


"Iya, aku tidak tau kenapa bisa sensitif seperti ini saat kamu bilang begitu." Ratu memandang mata Jean dengan intens.


"Aku balik!" ucap Jean hendak keluar dari tenda, namun dengan cepat Ratu mencegahnya.


"Jean, aku belum dipeluk," lirih Ratu sambil menahan ujung baju yang dikenakan oleh Jean.


Jean kembali berbalik menghadap Ratu dan memeluk tubuh istrinya itu mungkin hanya 3 detik setelah itu ia melepaskan pelukannya.


"Sudah kan? Sekarang aku balik."


"Please jangan seperti ini, Jean." Hati Ratu terasa sakit diperlakukan dingin seperti itu oleh Jean.


"Kenapa jangan seperti ini hah? Coba jelaskan!" Jean melepaskan tangan Ratu yang memegang bajunya.


"Aku tidak bisa," ucap Ratu menggeleng.


"Kamu pikir aku bisa melihat kamu mengabaikan aku? Apa kamu pikir aku bisa liat kamu dengan laki-laki lain?" geram Jean menahan amarahnya.


Ratu hanya menggeleng, ia tidak tahu kenapa hari ini ia sangat sensitif dan Ratu tak pernah bermaksud untuk membuat Jean cemburu. Ratu beringsut mundur, percuma ia menahan Jean untuk memeluknya. Air matanya kembali luruh, Ratu langsung menghapusnya dengan kasar.


Ratu membaringkan tubuhnya sambil meringkuk, dadanya naik turun dengan susahnya ia menetralkan nafasnya dari isakan-isakan yang keluar dari mulutnya.


"Kamu pergi saja, Jean. Aku tidak akan menahan kamu lagi," lirih Ratu dengan suara bergetar menahan tangisnya agar tidak keluar.


Jean menutup matanya sejenak, lalu mengusap kasar wajahnya, ia sudah keterlaluan pada istrinya. Jean mencoba menetralkan amarahnya, kemudian mendekati istrinya, tangannya membalikkan tubuh Ratu agar menatapnya.

__ADS_1


"Buka mata kamu!" perintah Jean ketika melihat Ratu yang menutup kuat matanya.


"Kamu pergi saja!"


"Buka mata kamu, Ratu!"


"Pergi, Jean!"


"Aku bilang buka mata kamu, Ratu!" Jean sedikit menaikan nada bicaranya sampai Ratu membuka mata dan menatap sendu Jean.


Tangan Jean terulur menghapus air mata Ratu. Kemudian, ia menarik tangan Ratu agar duduk, kini mereka berdua sudah berhadapan kembali.


CUP!


Jean mencium kening Ratu cukup lama dan penuh kasih sayang, kemudian ia menarik pinggang Ratu hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang Ratu, memeluk tubuh mungil itu sambil mengelus rambut panjang dan hitam istrinya.


"Aku jahat ya?" tanya Jean lembut, nadanya berbanding terbalik dengan yang tadi.


Ratu menggeleng, "Aku yang jahat sudah mengabaikan kamu seharian ini," sanggah Ratu. Ia pun juga melingkarkan tangannya di leher Jean.


Lama mereka berpelukan, akhirnya Jean menguraikan pelukan itu. Tangannya terarah menghapus jejak air mata Ratu yang masih keluar.


"Sudah jangan nangis lagi."


"Aku masih mau peluk kamu." Ratu kembali memeluk Jean menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


"Sekarang tidur aja, ini sudah malam sayang. Tidak baik untuk wanita hamil tidur larut malam." Jean melepas pelukan Ratu.


"Iya, tapi tidur sambil meluk kamu ya?" pinta Ratu berharap.


"Tapi tidak enak jika di tau sama anak-anak dan dosen walaupun kita sudah men--"


"Ya sudah kamu keluar saja, aku mau tidur," potong Ratu dengan cepat. Ia mulai turun dari pangkuan Jean. Lalu Ratu merapikan tempat tidurnya dan kembali berbaring.


"Marah?" tanya Jean membaringkan tubuhnya dan langsung memeluk Ratu dari belakang, aroma bunga mawar dari rambut Ratu seketika menyeruak masuk ke dalam hidung Jean.


Ratu hanya merespon dengan gelengan kepala, tangannya menepis tangan Jean yang berada di pinggangnya.


"Aku mau tidur, kamu balik saja ke tenda mu," suruh Ratu.


"Aku mau nemani kamu," ucap Jean.


"Tidak usah!"


Jean tak tinggal diam ia membalikan Ratu dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Melu.matnya secara perlahan dan lembut.


"Kalau tidur jangan membelakangi suami, aku tidak suka itu," ucap Jean dengan nada berat setelah melepaskan ciumannya.


"Hiks."


"Jangan nangis, kenapa nangis lagi? Anak kita nanti juga ikut bersedih, sayang." Jean membawa tubuh Ratu ke dalam dekapannya sambil mengelus belakang kepala istrinya.


"Kamu masih marah sama aku, aku suruh tidur sambil peluk saja kamu tidak mau!" Ratu menangis sambil memberontak dalam pelukan Jean.


Jean menambah erat pelukannya, bibirnya ia tempelkan pada kening Ratu meskipun istrinya itu masih saja memberontak, lama kelamaan Ratu sudah tak memberontak malah ia membalas pelukan Jean.


"Sudah merasa tenang?" tanya Jean mengintip wajah Ratu yang berada pada dada bidangnya.


"Hem," gumam Ratu karna pada dasarnya ia sudah sangat mengantuk.


"Kalau gitu langsung tidur, aku temenin kamu sampai pagi," ujar Jean sambil menepuk-nepuk punggung Ratu seperti menidurkan bayi.


Tak lama Jean mendengar deru nafas teratur dari istrinya pertanda bahwa Ratu sudah terlelap. Bibir Jean tertarik membentuk senyuman tipis.


"I love you my Queen, jangan marah-marah lagi sama aku," ucap Jean sambil mengecup puncak kepala Ratu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2