Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 17


__ADS_3

Saat ini Jean, keluarga Ratu serta keluarga Jean dan Abimana tengah berada di depan ruang IGD. Jean terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.


CEKLEK!


Dokter yang memeriksa Ratu keluar dari ruang IGD membuat semua yang menunggu langsung berdiri.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Dia tidak kenapa-napa kan, Dok? Kandungannya juga tidak kenapa-napa kan?" tanya Jean bertubi-tubi.


"Istri anda dan kandungannya tidak kenapa-kenapa, Tuan. Pasien hanya mengalami syok serta luka yang ada di lengan pasien tidak terlalu dalam, namun harus mendapatkan beberapa jahitan," jelas Dokter itu membuat semua lega mendengarnya.


"Apa kami boleh menjenguk pasien?" sahut Rivaldo.


"Boleh Tuan, tapi sebelum itu kami akan pindahkan pasien terlebih dahulu sebelum anda semua menjenguk," ujar Dokter itu dan mendapat anggukan dari semuanya.


Setelah semua keluarganya masuk menjenguk Ratu, kini giliran Jean yang masuk ke dalam ruang rawat Ratu, disana ia melihat istrinya terbaring di brankar, dengan punggung tangan yang di infus dan lengan kiri bagian atasnya di perban.


Jean mendekati dan duduk di kursi samping brankar Ratu, Jean menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Kenapa hal ini harus terjadi sama kamu, sayang? Seharusnya kamu biarkan aku saja yang tertusuk," lirih Jean yang merasa bersalah.


2 jam kemudian..


Tiba-tiba saja jari tangan Ratu bergerak, membuat Jean menatap ke arah istrinya. Ratu membuka matanya perlahan.


"J-Jean." Ratu yang berusaha berucap.


"Sayang, akhirnya kamu siuman juga." Jean duduk di brankar Ratu dan langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ratu parau dan lemah. Jean langsung menatap wanita yang menjadi istrinya itu.


"Hei yang terluka itu kamu sayang, bukan aku!" ucap Jean sedikit kesal. Ratu tersenyum kecil lalu membelai wajah Jean yang cukup dekat dengannya membuat pria itu memejamkan matanya menikmati elusan dari tangan halus istrinya.


Mata Jean terbuka dan tidak sengaja menatap ke arah leher Ratu yang membiru. Ratu yang mengerti pun segera memberitahukan suaminya.


"Ini bekas digigit oleh dosen brengsek itu, maaf aku tidak bisa jaga diri, hiks," tidak Ratu merasa bersalah dan jijik karena ada pria yang menyentuhnya selain suaminya sendiri.

__ADS_1


"No! Kamu tidak salah sayang, aku yang salah karena tidak becus menjaga kamu sampai lengan kamu harus terluka seperti ini dan itu gara-gara menyelamatkan aku," balas Jean menatap lekat mata Ratu sambil memegang kedua tangan istrinya.


"Tidak Jean, kamu selalu menjaga dan melindungi aku. Aku saja yang keras kepala, tidak beritahu kamu kalau aku pergi ke supermarket, coba saja hari itu aku--"


"Ussttt sudah jangan bahas yang itu sayang. Aku berjanji akan lebih siaga dan protektif lagi dalam menjaga mu," potong Jean dan kembali memeluk Ratu.


"Aku sayang kamu," ucap Ratu.


"Aku bahkan lebih menyayangimu, Ratu," balas Jean sambil mencium puncak kepala Ratu. Ratu tersenyum di dalam pelukan Jean.


Tak lama seorang pramusaji rumah sakit datang membawakan makan malam untuk Ratu.


"Ayo kamu makan dulu sayang, pasti anak kita juga lapar di dalam," ucap Jean sambil mengelus perut Ratu. Ratu hanya tersenyum dan mengangguk, Jean pun dengan telaten menyuapi Ratu sesekali pria itu menyeka sudut bibir istrinya.


"Bagian mana saja yang disentuh oleh bedebah sialan itu?" tanya Jean tiba-tiba setelah Ratu selesai makan.


"Dia mencium bibir dan leher aku," jawab Ratu, tubuhnya kembali bergetar ketakutan saat mengingat Andrew yang berani melecehkannya. Dengan sigap Jean memeluk dan menenangkannya.


"Boleh aku menghapus jejak-jejak si brengsek itu?" pinta Jean.


"Hah, maksud kamu apa, Jean?" tanya Ratu bingung belum terlalu mencerna maksud dari ucapan Jean.


"Tapi kita lagi dirumah sakit Jean dan aku juga masih sakit," ujar Ratu dengan wajah yang sudah memerah padam.


"Hanya mencium bibir dan leher kamu saja kok sayang, kita tidak akan melakukan yang lebih. Memangnya kamu mau kita,


melakukan hal lain lebih dari itu disini? Aku sih mau-mau saja," goda Jean sambil menaik turunkan alisnya membuat wajah Ratu semakin memerah di buatnya.


"Jangan macam-macam deh, Jean!" ucap Ratu pura-pura kesal untuk menyembunyikan rasa malunya.


Tanpa memperdulikan perkataan Ratu lagi, Jean mengambil tengkuk dan mencium bibir istrinya, melu.matnya dengan lembut membuat Ratu terbawa arus dan membalas ciuman dari suaminya. Jean membaringkan tubuh Ratu dengan pelan.


"Akh, Jean!" Ratu mendes*h saat Jean mulai mencium dan menghis*p lehernya.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang rawat Ratu dan orang itu langsung teriak karena terkejut melihat adegan di depannya.

__ADS_1


"Arrggh!"


"Medina!" pekik Jean dan Ratu, Jean pun langsung turun dari ranjang rawat Ratu. Yah, orang yang berteriak itu adalah Medina.


"Kalau mau berbuat mesum kunci pintu dulu dong!" ujar gadis itu kesal, mata Medina yang suci langsung ternodai adegan antara kakak dan kakak iparnya itu.


"Sudah deh, sekarang buka mata kamu!" ketus Jean pada adiknya. Ratu langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan dibantu oleh Jean.


Medina pun melepaskan tangan yang menutupi kedua matanya, lalu dengan langkah yang jengkel Medina menghampiri kakaknya.


"Istri baru sadar sudah main nyosor saja," cibir Medina.


Jean mendengus kesal. "Terserah kakak dong, toh kakak nyosor ke istri sendiri," balasnya tak terima.


"Iya aku tau, tapi liat tempat dan situasi dong!" sungut Medina.


"Sudah-sudah kalian tidak usah pada berdebat," lerai Ratu. Medina dan Jean langsung mendengus kesal.


"Oh ya ini makanannya. Ingat di makan!" suruh Medina menaruh bungkusan plastik yang berisi makanan di atas nakas samping brankar Ratu. Kemudian Medina izin untuk pulang karena sudah larut malam dan tak ingin menganggu pasangan suami-istri itu.


"Ayo kamu makan dulu," suruh Ratu pada Jean.


"Aku sedang tidak nafsu makan sayang," ucap Jean memelas.


"Jean!" tegur Ratu. Jean menghela napas lalu mengangguk malas.


"Iya ini aku makan." Jean pun mulai menyantap makanan yang dibeli adiknya tadi, walaupun dengan sedikit paksaan karena ia benar-benar tidak bernafsu untuk memakan apapun.


"Sayang," panggil Jean.


"Ya?" tanya Ratu menatap Jean.


"Besok kita periksa kandungan kamu yuk? Aku rindu ingin melihat calon anakku, mumpung kita di rumah sakit juga," pinta Jean. Ratu memikirkan permintaan Jean. Sedetik kemudian, ia pun mengangguk mengiyakan permintaan suaminya, kebetulan bulan ini Ratu belum memeriksakan kandungannya.


"Ya aku mau," ucap Ratu tersenyum. Jean mengarahkan wajahnya ke perut Ratu dan menciumnya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, karena kamu telah mengandung anakku," ujar Jean tulus bahkan matanya sampai berkaca-kaca. Ratu hanya tersenyum sambil mengusap rambut Jean dengan penuh kasih sayang.


...----------------...


__ADS_2