Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 35


__ADS_3

1 jam pun berlalu, namun pintu IGD belum juga terbuka. Jean sudah menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya. Termasuk perihal kehamilan Ratu. Awalnya mommy Zia kesal dengan kelakuan Jean yang lebih percaya dengan Sofia, alias si gadis benalu itu. Tapi saat ini bukan suasana yang tepat untuk berdebat. Ini sedang dalam suasana menegangkan.


"Dokter lama banget sih!" Jean mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Sabar, kak. Jangan gegabah seperti ini. Dokter butuh konsentrasi penuh untuk menangani kak Ratu," ujar Medina menenangkan kakaknya karena memang sedari tadi Jean berisik tidak karuan.


"Daddy, Ravin mau Mommy." Ravindra yang berada di gendongan Medina mulai merengek mencari Ratu. Maklum saja, selama ini ia lebih sering bersama sang Mommy daripada Daddy-nya.


"Nanti ya, nak. Ravindra sama tante Medina dulu," ujar Jean.


"Ndak mau Dad, Ravin mau sama Mommy." Ravindra menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Jean pun mengambil Ravindra dari gendongan Medina.


"Mommy lagi sakit nak. Ravindra diam dulu ya." ujar Jean lembut sambil menghapus air mata putranya.


"Mommy sakit?" tanya Ravindra. Jean mengangguk


"Sakit apa?" tanya Ravindra lagi.


"Mommy habis jatuh sayang," ujar Jean, mungkin kalau ia bilang Ratu habis kecelakaan, putranya itu tidak akan mengerti.


"Mommy jatuh?" Ulang Ravindra. Jean hanya mengangguk. Ravindra memeluk leher Jean dan bersandar di pundaknya.


"Mommy," gumam Ravindra dengan lirih. Ikatan batin antara ibu dan anak itu memang sangat kuat, sepertinya Ravindra bisa merasakan yang Ratu rasakan sekarang. Untuk luka-luka yang ada ditubuh Ravindra sudah diobati oleh mama Hani.


Tiba-tiba saja seorang Dokter wanita paruh baya keluar dari dalam ruang IGD, wajahnya terlihat berkeringat.


"Dokter gimana keadaan istri saya?" tanya Jean. Dokter itu menghela napas berat.


"Keadaan pasien cukup parah. Benturan yang ia alami cukup keras dan dengan berat hati saya katakan jika istri Anda sedang koma saat ini."


DEG!


Dada Jean langsung terasa sangat sesak saat mendengar penuturan Dokter tadi. Air matanya tidak segan lagi untuk menetes. Bagaimana tidak? Ratu tengah berada diantara hidup dan mati. Mama Hani yang mendengar keadaan putri kesayangannya itu sedang kritis pun, menangis saat itu juga.


"Ratu, kenapa kamu harus mengalami semua ini nak, hiks," lirih mama Hani dengan terisak.


"Tuan serta yang lainnya harus kuat dan terus berdoa semoga Tuhan cepat menyadarkan pasien. Karena jika dalam 5 hari pasien belum sadarkan diri, kami terpaksa harus mengeluarkan janin yang pasien kandung, karena kandungannya pun sangat lemah saat ini," jelas Dokter itu lagi.


JEDEERRR!


Tubuh Jean langsung lemas mendengarnya, ia menggeleng dengan air mata yang semakin deras keluar dari mata cokelat hazel miliknya.


"Tidak Dokter, tolong lakukan yang terbaik. Saya janji akan bayar berapapun yang Dokter mau hiks," ujar Jean diakhiri dengan isakan nya.

__ADS_1


"Bukan masalah itu, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun inilah hasil akhir yang kami dapat," balas Dokter itu.


"Hiks tidak Dokter, istri dan anak saya harus selamat. Dia tidak boleh pergi, Dok!" Jean sedikit histeris membuat Ravindra sedikit takut menatap Daddy nya.


"Ravindra sama Tante yuk," ujar Medina yang matanya juga berair. Ia segera mengambil alih Ravindra dari gendongan kakaknya.


"Pasien akan dipindahkan terlebih dahulu. Saya permisi," pamit Dokter wanita itu yang ingin pergi. Namun, ditahan oleh Jean.


"Dokter tidak boleh pergi! Dokter harus tangani istri saya sampai sadar, Dok!" ujar Jean memohon.


"Tapi Tuan--"


"Dokter tangani istri saya!" sentak Jean. Mommy Zia langsung memeluk putranya.


"Sudah nak, jangan seperti ini," ujar mommy Zia yang juga sudah menangis sedari tadi. Ia memberi kode kepada Dokter itu agar segera pergi.


"Mom... Ratu Mom... hiks." Jean memeluk mommy Zia dengan perasaan yang bergetar hebat.


"Kamu yang sabar, nak. Mommy yakin istri kamu itu wanita yang kuat." Mommy Zia mencoba menenangkan putranya.


"Hiks, Jean tidak mau kandungan Ratu keguguran, Mom. Gimana reaksinya kalau dia kehilangan janinnya? Jean tidak mau dia terpuruk, Jean tidak mau, Mom." Tangis Jean semakin pilu di pelukan Mommy nya. Mama Hani langsung mengusap pundak menantunya itu.


"Kita harus banyak-banyak berdoa sama Allah, nak. Semoga Ratu cepat sadar sebelum 5 hari mendatang," ujar mama Hani lembut. Jean menatap mertuanya lalu bersimpuh di kakinya, membuat semua terkejut.


"Maafin Jean, Ma. Jean memang bodoh lebih percaya dengan gadis sialan itu. Mama boleh hukum Jean, Jean akan terima," ujar Jean dengan suara seraknya.


"Mama tidak marah sama Jean. Konflik rumah tangga itu wajar. Setiap orang mengalaminya nak," ujar mama Hani lembut.


"Tapi kesalahan Jean begitu besar Ma," ujar Jean lirih.


"Bukan Jean kan yang nabrak Ratu?" tanya mama Hani. Jean menggeleng pelan.


"Ya sudah, jangan menyalahkan diri kamu. Kita harus banyak berdoa saja agar keajaiban datang untuk menyadarkan Ratu," ujar mama Hani mengusap air mata Jean. Jean hanya mengangguk lemah, ia sangat bersyukur memiliki mama mertua yang sangat menyayanginya.


CEKLEK!


Suara pintu IGD terbuka. Terlihat 2 orang suster yang tengah mendorong ranjang beroda itu.


Jean menatap miris istrinya yang terbaring disana. Bagaimana tidak? Kepala Ratu yang di perban, mulut dan hidung yang ditutupi alat bantu pernafasan, tangan diinfus dan juga wajah Ratu yang pucat serta banyak bekas luka di tangan dan kaki Ratu membuat Jean sulit untuk bernafas.


"Mommy," ujar Ravindra saat melihat Ratu dibawa dan akan dipindahkan ke ruangan lain.


"Mom, Mommy!" Ravindra terus saja memanggil Ratu yang sudah lumayan jauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Uusstt.. Mommy Ravindra lagi sakit, Mommy harus banyak bobo dulu," ujar Medina menenangkan Ravindra.


"Ravin mau bobo sama Mommy, Tante." Ravindra terus saja menunjuk Ratu.


"Nanti ya sayang," ujar Medina. Jean yang sedari tadi diam langsung pergi menyusul Ratu.


"Daddy, Daddy!" Ravindra merengek menunjuk Jean. Ravindra langsung menangis saat Jean semakin menjauh dan menghiraukan panggilannya.


"Kok nangis sih? Diem ya ganteng." Medina mencoba menenangkan ponakannya ini.


"Daddy nakal Tante hiks," isak Ravindra.


"Ssstt, diem ya. Kita susul Daddy sama Mommy yuk," ujar Medina sambil mencium pipi Ravindra.


"Ayo Mom, Tan," ajak Medina menatap mommy Zia dan mama Hani. Mereka mengangguk lalu menyusul Jean.


Jean memasuki ruang rawat Ratu dengan air mata yang terus mengalir. Ia langsung memeluk erat tubuh Ratu yang terbaring lemah di atas ranjang rawat rumah sakit itu.


"Maafin aku sayang. Maaf," lirih Jean.


"Aku menyesal udah percaya sama gadis itu. Kamu bener, aku emang bodoh, tolol dan goblok! Hiks, hiks," ujar Jean terisak sambil terus menatap Ratu.


"Kamu harus cepet bangun. Kamu tidak mau kan anak kedua kita pergi ? Ayo bangun, aku janji kalau kamu bangun, kamu boleh hukum aku seberat apapun," lanjut Jean lalu mengecup kening dan kedua pipi Ratu. Air matanya pun jatuh ke pipi Ratu. Kini hanya penyesalan yang ia rasakan.


"Daddy, hiks." Jean menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Ravindra yang menangis di gendongan Medina, diambang pintu sana.


"Astaga Ravindra." Jean langsung menghampiri putranya, lalu menggendongnya.


"Hiks, Daddy Nakal! Udah tinggalin Ravin disana," ujar Ravindra terisak menunjuk ke arah luar.


"Maaf ya, tadi Daddy udah ninggalin Ravindra. Daddy minta maaf." Jean mendekap putranya penuh kasih sayang.


"Hiks, Mommy bobo," ujar Ravindra masih sedikit terisak sambil menatap ke arah sang Mommy.


"Iya, Mommy lagi istirahat nak."


"Ravin mau bobo sama Mommy, Dad," pinta Ravindra.


"Mommy lagi sakit, Ravindra sama Daddy dulu ya," balas Jean serak.


"Mommy bangun," panggil Ravindra, bahkan ia menyuruh Ratu untuk bangun.


Jean memeluk Ravindra dengan erat. Menyembunyikan air matanya dari sang putra. Jean sangat takut kehilangan Ratu, karena ia begitu mencintai Ratu. Itu lah yang membuatnya tidak pernah menyakiti Ratu dengan tangannya.

__ADS_1


Tapi karena kejadian 2 minggu lalu, Jean benar-benar khilaf sehingga tangannya refleks menampar Ratu karena tidak bisa menahan emosi dan itu membuat dirinya benar-benar merasa sangat bersalah pada istrinya. Coba saja Jean mendengarkan penjelasan dan percaya dengan perkataan Ratu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Penyesalan memang selalu di akhir.


...----------------...


__ADS_2