
Pukul 7 pagi, Jean terbangun dari tidur panjangnya. Ia langsung terbangun dan melihat ke sekeliling kamarnya mencari keberadaan Ratu. Jean bernafas lega saat melihat Ratu tertidur di sofa. Ia membuka selang infus yang ada di tangannya tanpa merasakan kesakitan. Berjalan menghampiri Ratu.
Jean duduk di pinggir sofa, tangannya terulur mengusap kepala Ratu membuat sang empu terusik dari tidurnya.
"Jean!" Mata Ratu terbuka lebar saat melihat suaminya yang sudah siuman dari pingsan yang cukup lama. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk.
"Kenapa kamu tidur disini? Badan kamu bisa pegal nantinya," ucap Jean mengelus pipi Ratu.
"Ah itu tadi aku ketiduran," jelas Ratu. Ia mengambil tangan Jean yang tengah memegang pipinya. Lagi-lagi Ratu terkejut melihat tangan Jean berdarah.
"Kenapa tanganmu bisa berdarah begini? tidak sakit kan?" pekik Ratu.
Jean tersenyum dan menggeleng, "Ini tadi bekas selang infus yang aku buka," jelasnya.
"Ya ampun. Kenapa kamu buka sendiri? Kan bisa panggil Dokter!" Omel Ratu memarahi Jean. Ia berdiri dari sofa, berjalan ke lemari mencari P3K.
"Aku tidak apa-apa, sayang."
"Tidak apa-apa, gimana? Kalau kamu kehabisan darah terus pingsan lagi gimana?" Ratu terus mengomel sambil membuka kotak P3K mengambil alkohol untuk membersihkan darah di tangan Jean. Jean hanya bisa tersenyum saat istrinya mengomelinya, ia sangat merindukan ocehan dan omelan dari Ratu seperti sekarang ini.
"Ini tidak sakit, sayang. Hal yang paling menyakitkan itu saat kamu dan Ravindra pergi meninggalkanku untuk waktu yang sangat lama," ucap Jean. Ratu seketika menghentikan kegiatannya membersihkan luka di tangan Jean. Matanya mulai berembun, kedip saja sedikit, dipastikan air mata Ratu langsung mengucur dengan derasnya. Rasa bersalahnya pada Jean makin menjadi-jadi.
"Maafkan aku. Karena aku, kamu jadi sakit seperti ini," isak Ratu. Jean menggeleng, tangannya menangkup pipi Ratu agar menatapnya.
"Lihat aku sayang," suruh Jean. Ratu menatap Jean, wajahnya hampir penuh dengan air matanya. Dengan lembut Jean mengusapnya.
"Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir yang Tuhan berikan kepadaku. Jadi jangan salahkan dirimu," ucap Jean.
"Tapi itu karena aku yang--" Jean segera menutup bibir Ratu dengan jari telunjuknya sehingga Ratu tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Syuttt... aku tidak suka kamu yang menyalahkan diri. Anggap saja ini ujian dari Tuhan untuk keluarga kecil kita." Ucapan bijak dan suara Jean yang lembut malah semakin membuat Ratu menangis sesenggukan. Betapa menyesalnya ia telah menyia-nyiakan pria seperti Jean.
Jean segera membawa Ratu ke dalam dekapannya, "Hei, kok nangis lagi? Jangan menangis. Sudah aku katakan, air matamu ini bisa membunuhku!" Jean mengelus punggung Ratu. Tak lama tangisan Ratu mulai mereda. Wanita itu mendongak menatap suaminya.
"Aku mencintaimu," ucap Ratu.
Jean tersenyum, "Aku lebih mencintaimu." Jean memiringkan kepalanya, bibirnya mulai menempel di bibir Ratu. Mencium dengan lembut, lalu ********** seraya menekannya semakin dalam. Ratu pun melingkarkan tangannya ke leher membalasnya.
Ratu merasakan lidah Jean mencari celah untuk masuk ke dalam mulutnya. Ia pun dengan senang hati membuka mulutnya, membiarkan lidah Jean masuk untuk bertemu dengan lidahnya. Saling membelit dan bertukar saliva.
Tangan Jean mulai merambat ke atas, melewati bawah kemeja Jean yang dikenakan Ratu. Merem*snya dengan cukup kuat membuat Ratu menjerit tertahan.
"Akhhh!" Ratu melepaskan ciuman mereka sambil memegang tangan Jean.
“Kamu mau apa?” tanya Ratu.
“Sayang... aku sangat merindukanmu," ucap Jean. Terlihat gairah yang membara di mata pria itu.
“Jean, kamu sadar tidak kalau kamu itu sedang sakit?"
"Ayolah sayang... sedikit saja," rengek Jean membujuk Ratu.
"Tidak mau. Kamu itu masih sakit!" tolak Ratu.
“Kalau begitu cium lagi,” pinta Jean.
__ADS_1
“Cium juga tidak boleh. Bilangnya cium tapi tanganmu itu larinya kemana-mana!” protes Ratu.
Jean hanya berwajah kesal melihat istrinya yang tidak ingin menuruti kemauannya. Ratu yang melihat suaminya memalingkan wajahnya dengan kesal langsung memegang kepala Jean dengan kedua tangannya berhadapan dengannya.
Ketika wajah mereka berhadapan. Ratu langsung mencium kening suaminya dengan sangat lama. Ia kemudian melepaskan ciumannya dari kening Jean dan berbicara pada suaminya itu.
“Untuk saat ini aku hanya bisa melakukan ini. Kalau kamu sudah sembuh, aku bisa menuruti semua yang kamu mau,” ucap Ratu sambil tersenyum manis.
"Haaaah... kenapa raut wajahnya seperti itu bikin aku semakin tidak kuat aja," ucap Jean dalam hatinya.
“Baiklah. Tapi kamu jangan memasang wajah begitu, aku semakin tidak tahan tau!”
“Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Ratu sambil memegang kedua pipinya. Jean hanya berwajah cemberut melihat istrinya.
“Sayang ...,” panggil Jean.
“Hem?"
“Benar tidak boleh cium sedikit saja? Aku hanya minta cium sayang,” pinta Jean lagi dengan wajah memelas.
“Cih... kamu itu tidak bisa dipercaya."
“Kamu benar-benar kejam. Kamu yang membuatku puasa selama tiga tahun lebih. Kamu tahu bagaimana usahaku selama tiga tahun lebih ini untuk menahannya cuma demi kamu. Sekarang kamu ada disini tapi cium saja tidak boleh,” ujar Jean protes.
“Baiklah. Tapi cium saja ya?"
Jean langsung tersenyum senang mendengar persetujuan istrinya. Dengan sigap, ia menarik kembali kepala istrinya dan mencium kembali istrinya dengan mesra. Sama seperti tadi, tangannya kembali meraba kemana-mana.
Ratu membiarkannya begitu saja. Selama Jean tidak melakukannya lebih, ia akan menuruti kemauan suaminya itu. Ia mengerti dengan perasaan seorang pria yang ingin sekali berhubungan intim. Apalagi Jean sudah berusaha menahannya selama tiga tahun hanya untuk menjaga pernikahannya.
Ditengah-tengah aktivitas mereka yang menggairahkan itu. Tiba—tiba seorang pelayan masuk mengantar sarapan untuk majikannya itu. Ratu langsung berdiri dengan canggung ketika menyadari kedatangan pelayan itu. Sedangkan Jean berwajah kesal melihat pelayannya itu.
Seketika pelayannya itu langsung menunduk ketakutan saat melihat Jean menatapnya.
“Maaf Tuan, Nyonya. Saya tidak bermaksud mengganggu. Saya disuruh bibi Nuan mengantar makanan untuk Anda," ucapnya dengan suara gemetar.
Ratu melirik suaminya yang terus menatap kesal pelayannya. Ia kemudian berbicara pada pelayan yang sudah bersusah payahmengantarkan makanan untuknya.
“Tidak apa-apa. Letakkan sajamakanannya disini,” suruh Ratu.
“Baik, Nyonya.”
Pelayan itu berjalan kearah tempat tidur Jean. Ia meletakkan makanannya dimeja samping tempat tidur majikannya itu.
“Pergilah,” perintah Ratu setelah melihat pelayan itu yang sudah meletakkan makanannya di meja.
“Baik Nyonya,” balas pelayan itu sambil membungkuk hormat. la kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Jean dan Ratu.
Setelah menatap kepergian pelayannya itu. Ratu langsung duduk disamping suaminya lalu meraih mangkok yang berisi sup daging.
“Ayo makan, aku suapi,” ucap Ratu sambil menyendok sup dagingnya.
Jean hanya berwajah kesal sambil memalingkan wajahnya. Ratu menghela napasnya melihat tingkah Jean.
“Kamu kenapa lagi berwajah kesal begitu. Aku kan sudah mencium tadi?" tanya Ratu heran.
__ADS_1
Jean langsung menatap kembali istrinya. “Kenapa tadi kamu langsung berdiri saat pelayan itu datang. Kamu tidak pengen orang tau kalau kita itu suami istri?”
Ratu kembali menghela nafasnya dengan kasar. “Kenapa sih masalah sepele begitu kamu permasalahkan. Biarpun tidak ditunjukkan, pelayan tadi juga tahu kalau kita suami istri," jelasnya.
“Tidak semua orang itu bisa berpikiran pintar. Ada kalanya harus ditunjukkan didepan umum supaya mereka mengerti. Ada orang yang sama sekali tidak peka dan bodoh,” ucap Jean.
“Kamu menyindirku. Aku tau aku memang bodoh.”
Jean hanya diam saja mendengar istrinya dengan wajahnya yang masih cemberut. Ratu kembali bicara pada suaminya itu. “Aku tadi bersikap begitu karena malu. Masa kita ciuman didepan mereka sih!"
“Memangnya kenapa. Kita ini kan suami istri. Kalau perlu kita ciuman saat melihat orang!” ujar Jean. Kepala Ratu begitu pening mendengar ucapan suaminya.
"Aku pusing menghadapi tingkahnya yang egois itu. Dari dulu tidak pernah berubah. Masa ciuman setiap lihat orang, yang ada orang menganggap kita seperti orang gila. Dasar egois!" protes Ratu di dalam hatinya.
“Kenapa diam saja. Kamu tidak mau?" tanya Jean dengan nada kesal.
"Haahh... kalau aku tidak mengalah. Pasti dia terus berdebat denganku," batin Ratu. la lalu membalas ucapan suaminya.
“Baiklah. Kamu menang. Kita akan berciuman setiap lihat orang."
“Benar ya?”
“Hem."
"Membayangkannya saja membuatku malu. Biarkan sajalah untuk saat ini. Pastidia akan lupa nanti.” Ratu terus menggerutu di dalam hatinya.
“Ayo suapi aku," pinta Jean sambil tersenyum.
Ratu kembali menyendok supnya sambil ia tiup. Ia lalu menyuapi suaminya dengan lembut.
Suap demi suap ia berikan pada suaminya dengan penuh cinta. Beberapa suapan mendarat di mulut Jean. Tiba-tiba Jean tersadar dengan istrinya yang sama sekali tidak makan didepannya.
“Kenapa kamu hanya menyuapiku saja. Apa kamu tidak lapar?” tanya Jean.
Ratu menggeleng, “Tidak, sayang."
Jean langsung merebut mangkok yang dipegang Ratu.
“Kamu mau makan sendiri?" tanya Ratu yang melihat Jean menyendok makanannya.
“Aaaaaaa....” Jean menyodorkan sup yang sudah ia sendok tadi ke arah mulut Ratu.
“Kamu ingin menyuapiku?" tanya Ratu.
“Ayo buka mulutmu," suruh Jean yang masih memegang sendok didepan Ratu.
“Jean... aku benar - benar tidak lapar sekarang."
“Aku tidak pernah melihatmu makan sayang. Cepat buka mulutmu!" titah Jean lagi .Ratu diam saja melihat tingkah Jean yang ingin menyuapinya.
“Atau kamu mau aku menyuapi mu dengan cara yang berbeda?"Jean kemudian memperlihatkan wajah genitnya didepan istrinya dengan bibir manyunnya. "Eemmuuaah.”
Dengan sigap, Ratu melahap sup di sendok yang masih dipegang Jean didepannya.
“Begitu dong. Kan enak kalau kamu makannya di sendok daripada aku harus menyuapi mu dengan mulutku.”
__ADS_1
“Cih, dasar genit,” cibir Ratu. Jean hanya terkekeh melihat wajah istrinya yang terlihat kesal.
...----------------...