Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 32


__ADS_3

Semakin hari semakin muak Sofia melihat kemesraan Jean dan Ratu. Ia berencana akan membuat bayi yang di kandungan Ratu lenyap dari muka bumi ini. Mungkin dengan cara itu Jean akan meninggalkan Ratu, pikirnya.


"Kamu lagi buat apaan, Yu?" tanya Sofia yang melihat Ayu tengah mengaduk minuman.


"Saya sedang membuatkan susu buat nyonya Ratu, Non," jawab Ayu.


"Biar aku aja anterin susu buat kak Ratu," tawar Sofia. Ayu menatapnya sedikit heran.


"Mana? Cuma nganter saja kan?" tanya Sofia.


Ayu pun mengangguk. "Ini Nona, maaf ya udah ngerepotin Nona. Soalnya dari tadi saya ingin ke kamar mandi, permisi."


"Oke." Ayu pergi menuju kamar mandi untuk buang air. Sofia tersenyum lebar saat pelayan itu pergi.


"Permainan segera dimulai. Siap-siap kehilangan bayi anda Nyonya Alexander," gumam Sofia tersenyum licik. Ia mengambil sebuah botol kecil dari saku celananya, lalu menuangkan ke dalam susu yang dibuatkan Ayu tadi. Ternyata itu adalah obat penggugur kandungan.


Ternyata ada sepasang mata yang melihat kelakuan Sofia itu.


"Ternyata gadis itu serigala berbulu domba," gumamnya.


Sofia dengan perasaan bahagianya pergi menuju ke Ratu yang berada di ruang tengah bersama Ravindra. Ratu sedikit terkejut melihat Sofia datang membawakannya susu. Ia pun segera menghampiri Sofia.


"Ini susu buat kakak." Sofia menyodorkan susu tersebut pada Ratu.


"Eh terima kasih, Fia. Jadi ngerepotin deh."


Saat Ratu akan meminum susu tersebut, Sofia sudah tersenyum menyeringai. Namun tiba-tiba suara teriakan Aira membuat Ratu mengurungkan niatnya meminum susu dan segera menghampiri Aira. Membuat Sofia kesal dan jengkel karena rencana gagal.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Ratu.


"Tadi ada tikus Nyonya," elak Aira. Ia sangat lega majikannya itu tidak jadi meminum susu itu. Ya, Aira lah yang melihat Sofia menaruh obat penggugur kandungan itu pada susu Ratu. Aira dan Ayu juga merupakan pelayan di rumah Jean.


"Masa sih ada tikus?" Ratu tak percaya di rumah semewah ini akan ada tikus di dalamnya.


"I-iya Nyonya makanya saya kaget, tapi tikusnya udah pergi kok," jawab Aira dengan gugup.


"Syukurlah kalau begitu." Ratu kembali akan meminum susu itu, tapi Aira kembali menahannya.


"Susunya biar saya bikinin yang baru aja ya, Nyonya? Pasti susu itu sudah dingin."


"Ini masih hangat kok, Ra." Aira mengambil susu itu dan segera membuangnya.


"Itu sudah dingin Nyonya, biar saya buatkan yang baru saja." Aira segera membuatkan Ratu susu yang baru, sedangkan Ratu menatap heran pelayanan itu.


Pagi harinya terjadi keributan antara Sofia dan Aira. Ratu pun segera menghampiri mereka. Ia sangat terkejut melihat pipi Aira yang memerah seperti habis kena tamparan.


"Ada apa ini?"


"T-tidak ada apa-apa kok kak, cuma dia aja yang tidak becus bikinin aku teh. Masa dia bikinin aku teh manis banget, dia mau bikin aku diabetes kali ya!" jelas Sofia. Ratu menatap Aira meminta penjelasan.

__ADS_1


"Dia bohong Nyonya, dia nampar saya karena kemarin saya udah membuang susu anda semalam itu, Nyonya."


"Hah kok bisa?" tanya Ratu heran.


"Iya Nyonya, karena di dalam susu itu ada obat penggugur kandungan. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri nona Sofia menaruh obat itu di susu milik Nyonya, makanya kemarin saya langsung buang susu itu dengan alasan kalau susu itu sudah dingin," jelas Aira. Penjelasan Aira membuat Ratu tercengang, ia tak habis pikir Sofia akan mencelakakan dirinya dan calon bayinya. Tubuh Sofia sedikit bergetar karena takut ketahuan.


Ratu menatap tajam Sofia. "Benar yang dikatakan sama Aira itu Sofia?"


"Kak Ratu lebih percaya pembantu itu daripada aku?" tanya Sofia balik.


"Iya saya lebih percaya dengan Aira karena saya udah lama kenal dia daripada kamu," jawab Ratu ketus. Ia sudah lama melihat gerak-gerik mencurigakan dari Sofia.


"Jangan cepat percaya dengan pembantu itu kak, siapa tau dia bohong. Dan biasanya nih, dia itu ciri-ciri perempuan pelakor yang ingin merebut suami orang. Makanya dia cari perhatian sama kakak, hati-hati aja kak nanti kak Jean akan di ambil sama dia. Lebih baik kakak pecat aja pembantu ****** seperti dia." ucap Sofia.


PLAKKK!


Ratu sangat geram dengan ucapan sofia yang seakan-akan memojokkan Aira. Entah kenapa Ratu lebih percaya ke Aira bukan ke Sofia.


"Kakak nampar aku karena membela pembantu tidak tau diri itu?"


"Jaga omongan kamu, Sofia. Kamu yang tidak tau diri. Kamu itu disini hanya menumpang! Jangan berlagak sok jadi majikan dan jangan menuduh orang yang tidak-tidak!" hardik Ratu. Ia sangat emosi dengan gadis yang pura-pura baik di depannya ini.


"Cih memang aku yang seharusnya jadi Nyonya besar itu aku bukan kamu," ujar Sofia mulai mengeluarkan sifat aslinya.


"Ternyata itu sifat asli kamu," balas Ratu tersenyum menyeringai.


"Yah inilah aku yang sebenarnya, kenapa? Kamu takut?" tanya Sofia tertawa jahat.


"Oh ya?" Sofia maju mendekati Ratu.


"Mau apa kamu hah?" Sofia tak sengaja menatap ke arah tangga dan kebetulan ada Jean disana, ia akan mulai membuat drama.


"Mau aku itu bikin kamu enyah dari kehidupan kak Jean," bisik Sofia.


Ratu segera mendorong tubuh Sofia. Tubuh Sofia terdorong cukup kuat padahal Ratu mendorongnya sangat pelan, bahkan pelipis Sofia berdarah karena terdorong ke arah meja pantry sehingga terbentur oleh meja tersebut. Ratu dan Aira sangat terkejut melihat pelipis Sofia yang berdarah.


"Apa yang kamu lakukan Ratu!" teriak Jean segera membantu Sofia berdiri.


"Hiks, ampun sakit kak," ujar Sofia membuat mata Ratu membulat.


"Maksud kamu apa hah?!" sentak Ratu.


"Hiks, tadi kak Ratu dorong aku sampai terbentur meja kak," jelas Sofia sambil menangis.


Ratu memutar matanya jengah, gadis ini benar-benar pintar untuk bersandiwara. Jean langsung menatap Ratu.


"Benar kamu yang ngelakuin ini?" tanya Jean datar. Ratu hanya menggeleng pelan.


"Jawab jujur Ratu!" bentak Jean.

__ADS_1


Air mata Ratu langsung menetes saat Jean membentaknya. Jean membentaknya, hanya karena gadis benalu itu.


"Percaya sama aku, aku cuma mendorong pelan tubuh dia, Jean. Tapi dia yang sengaja menjatuhkan dirinya sampai terkena meja pantry," ujar Ratu dengan bibir bergetar.


"Tapi karena dorongan kamu itu membuat kepala Sofia jadi terluka, Ratu. Kamu kenapa jadi seperti ini sih?!" ujar Jean emosi.


Ratu hanya diam terisak. Hatinya teriris mendengar ucapan Jean yang lebih percaya dengan gadis benalu tidak tau diri itu, dari pada istrinya sendiri.


Suasana hening, hanya isakan Ratu dan isakan Sofia yang terdengar saat ini, diam-diam ia menyunggingkan senyum miringnya. Aira menatap iba majikannya itu, karena membela dirinya Ratu menjadi kena marah Jean.


Jean menghela napas. "Cepat minta maaf sama Sofia, Ratu!" perintahnya. Lagi-lagi Ratu hanya menggeleng.


"Ratu." Jean menatap Ratu tajam.


"Tidak! Aku tidak akan pernah minta maaf! Karena aku memang tidak salah, buat apa aku minta maaf sama dia!" sentak Ratu yang mulai membela diri.


Ratu memang tidak berbuat apa-apa, untuk apa dia minta maaf? Ini kan bukan hari raya yang saling maaf memaafkan. Dan ini adalah menyangkut harga dirinya.


"Jelas-jelas ini perbuatan kamu Ratu!" sentak Jean lagi.


"Aku tidak lakuin apa-apa, Jean. Sumpah! hiks, hiks," isak Ratu. Jean mengepalkan tangannya.


"Maaf Tuan, ini memang bukan kesalahan Nyonya Ratu. Tapi memang ini perbuatan dari nona Sofia sendiri yang sengaja mendorong tubuhnya hingga kepalanya terbentur meja, saya menjadi saksinya," jelas Aira mencoba membela majikannya.


"Dia bohong kak, jangan percaya dengan pembantu itu hiks," sahut Sofia yang semakin menangis kencang. Jean sangat dilema saat ini entah siapa yang benar dan salah.


"Masuk kamar!" titah Jean. Ratu hanya diam tertunduk dengan masih terisak.


"Ratu masuk!" Jean kembali membentak Ratu.


Ratu pun langsung berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


BRAKKK!


Ratu menutup kencang pintu kamar.


"Biar aku obati luka kamu, bentar aku ambil kotak P3K dulu," ucap Jean, lalu pergi mengambil kotak P3K.


"Kamu jahat, Jean. Kenapa kamu lebih percaya dia daripada aku, istrimu sendiri." Ratu terus terisak, kini ia tengah duduk di sofa kamarnya.


"Bener dugaan ku selama ini, dia itu sebenarnya orang jahat," gumam Ratu. Tiba-tiba saja perutnya merasa mual. ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening saja. Ratu terus muntah-muntah hingga suara Ravindra yang membuatnya menyudahi dan segera kembali ke kamar.


"Mommy." Ravindra yang terduduk lesu mengucek matanya lalu merentangkan tangannya pada Ratu. Ratu tersenyum dan menggendongnya.


"Udah bangun, sayang?" tanya Ratu mengusap lembut kepala Ravindra.


"Daddy mana, Mom?" tanya Ravindra karena tidak melihat Daddy-nya disana.


"Tidak ada. Mandi yuk sama Mommy," jawab Ratu mengalihkan. Rasanya sangat malas jika membahas suaminya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2