
“Reyfa.” Panggil Yuzen setelah mereka selesai makan, Ratu yang sedang menyeka bibirnya dengan serbet itu langsung menatap Yuzen.
“Ya?”
Yuzen mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan, demi Tuhan ia sekarang sangat gugup. Padahal ini bukan pertama kalinya ia mengungkap perasaannya kepada seorang wanita, tapi entah kenapa saat akan mengungkap perasaan pada Ratu membuatnya gugup seperti ini. Ratu menaikkan satu alisnya, ia bingung saat melihat gerak-gerik Yuzen seperti itu.
“Anda baik-baik saja kan?” tanya Ratu.
“Ah ya aku baik-baik aja kok,” jawab Yuzen tersenyum dan Ratu hanya mengangguk. Tangan Yuzen terulur mengambil tangan Ratu membuat sang empu tersentak.
“Reyfa, aku bukan pria yang romantis yang pandai merangkai kata-kata, yang ingin aku katakan ke kamu bahwa aku menyukaimu,” ungkap Yuzen menatap dalam mata Ratu. Ratu langsung terdiam saat Yuzen mengatakan itu.
“Aku suka sama kamu sejak kita bertemu pertama kali saat di restoran cepat saji waktu itu. Aku tidak ingin munafik, waktu itu aku langsung terpana dengan kecantikan wajah kamu. Tapi setelah kamu jadi sekretaris aku, aku jadi tau bagaimana sifat kamu dan itu yang membuat aku bertambah menyukaimu.” Yuzen diam sebentar, tangannya mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.
“Aku tidak ingin menjadikanmu seorang kekasih, karena umurku sudah tidak muda untuk bermain-main lagi dengan hubungan. Ratu Reyfa Wang maukah kau untuk menjadi yang terakhir dalam hidupku? Maukah kau menjadi orang pertama yang selalu ada disaat pagi ku membuka mata dan menjadi ibu untuk anak-anak ku nantinya?” Yuzen berjongkok di depan Ratu sambil menyodorkan sebuah kotak beludru yang berisi cincin berlian membuat Ratu semakin terkejut sampai menutup mulutnya.
“Tapi anda tau kan kalau saya itu—”
“Tidak Reyfa! Aku menerima mu apa adanya, aku berjanji untuk menjadi ayah sambung yang baik untuk Ravindra dan Kendrick,” potong Yuzen untuk meyakinkan Ratu. Saat Ratu hendak menjawab, seseorang langsung menghentikannya.
“Wah, wah, wah! Sepertinya ada yang sedang lamaran disini,” ucap Jean dengan tersenyum sinis sambil bertepuk tangan dan berjalan menghampiri meja mereka, di belakang Jean ada Rico dan 2 bodyguardnya. Ratu dan Yuzen terlihat kaget melihat kedatangan Jean.
"Kenapa Jean ada disini?" ucap Ratu dalam hati.
"Loh kenapa Tuan Jean bisa ada di tempat ini? Apa ini hanya kebetulan saja?" batin Yuzen bertanya-tanya melihat keberadaan rekan bisnisnya itu bahkan membuat acaranya melamar Ratu menjadi gagal total.
Tanpa berlama-lama lagi Jean yang sudah emosi memukul wajah Yuzen sehingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai. Sontak membuat semua pengunjung di restoran itu berteriak histeris. Ratu kaget dan langsung berjongkok untuk menolong Yuzen. Ratu melihat ke arah Jean dengan tatapan yang tajam.
“Apa yang kamu lakukan, Jean?! Kenapa kamu memukulnya?” teriak Ratu sambil membantu Yuzen untuk berdiri. Jean diam menatap dua orang dihadapannya ini dengan tatapan dingin.
“Ya Tuan Jean, kenapa datang-datang anda langsung memukul saya?! Anda bisa terkena pasal berlapis karena anda telah membuat onar disini dan melakukan kekerasan terhadap saya!” ucap Yuzen marah. Ia menghampiri Jean dan kini mereka berdua tengan saling berhadapan.
“Walaupun anda orang berkuasa di dunia bisnis tapi anda sudah melanggar hukum. Saya bisa melaporkan perbuatan anda ke polisi!” sambung Yuzen dengan berapi-api.
__ADS_1
Jean langsung tertawa keras mendengar ucapan Yuzen. Di dalam hati, sebenarnya Yuzen sedikit takut dengan tawa Jean yang sangat menakutkan baginya. Jean kemudian menghentikan tawanya dan mulai berbicara kepada Yuzen.
“Silahkan kau laporkan saja saya ke polisi. Kita lihat siapa yang akan masuk penjara, aku atau kau, Tuan Yuzen Lee?” balas Jean sambil mengeluarkan senyum iblisnya.
“Ápa maksud anda?”
“Karena kau sudah berani melamar wanita yang sudah menikah, sedangkan saya suaminya masih ada di dunia ini!” teriak Jean emosi.
“Maaf Tuan Jean, saya tidak pernah melamar istri anda!” bela Yuzen.
“Wanita bodoh yang tadi kau lamar itu adalah istriku, brengsek!”
Lagi dan lagi Ratu terkejut dengan ucapan Jean. Ia langsung menghampiri Jean yang tengah berhadapan dengan Yuzen itu. Yuzen tak kalah terkejutnya menerima kenyataan bahwa partner bisnisnya ini merupakan suami dari Ratu, bahkan mereka tidak pernah cerai.
“Apa maksud ucapanmu itu Jean, bukannya kita sudah bercerai? Aku sudah menandatangani surat cerai kita 3 tahun yang lalu.”
Jean langsung mencengkram lengan Ratu dengan wajah yang sangat marah. Ratu meringis kesakitan karena cengkraman Jean.
“Selama aku masih hidup, kamu tidak akan pernah bercerai dariku. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa cek ke pengadilan. Apa kita sudah bercerai atau belum. Bahkan surat cerai yang dulu kamu berikan padaku itu sudah aku bakar dan saat ini aku hanya memiliki buku nikah yang bisa ku jadikan bukti padamu,” sambung Jean. Ratu terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi, tenggorokannya terasa tercekat. Wajahnya terlihat bingung dan kaget, begitupun dengan Yuzen.
“Rico!” panggil Jean pada asistennya.
Dengan sigap. Rico maju ke depan dan langsung menunjukkan buku nikah yang milik Ratu dan Jean pada mereka berdua. Jean memang sempat menyuruh Rico untuk mengambil buku nikahnya di brankas yang ada di kamarnya.
Ratu sangat terkejut sampai matanya melotot, saking terkejutnya ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat kenyataan yang ada di depannya. Ratu berjalan mundur ke belakang hingga membuatnya hampir terjatuh karena menabrak kursi. Seketika Yuzen menahan tubuh Ratu agar tidak terjatuh.
Jean yang melihat itu bertambah naik pitam, ia berjalan menuju ke Yuzen lalu kembali mukul wajah pria itu. Jean menarik Yuzen agar berdiri dan mencengkram kerah baju Yuzen.
“Berani-berani kau memegangnya di depanku!”
Jean memukul dan menendang Yuzen lagi dengan keras sampai Yuzen terjatuh ke lantai, kini wajah tampan milik Yuzen sudah penuh dengan luka lebam, bibirnya pun sampai mengeluarkan darah dan mungkin saja ada tulang yang retak ditubuh Yuzen akibat tendangan Jean tadi. Jean hendak memukul Yuzen lagi, tapi Ratu langsung menghampiri dan menghadang Jean.
“Tolong jangan pukul Yuzen lagi. Aku yang salah, dia tidak salah. Aku mohon Jean ...,” ucap Ratu memelas dengan mata yang kini sudah dipenuhi oleh air mata.
__ADS_1
“Minggir kamu!” teriak Jean yang semakin marah melihat Ratu yang memohon untuk Yuzen.
Ratu menggeleng, “Aku mohon jangan...”
Jean yang sudah dibutakan oleh emosi pun menulikan pendengarannya, ia mendorong Ratu untuk tidak menghalangi dirinya untuk memukul Yuzen sampai Ratu terjatuh di lantai. Tapi dengan cepat Ratu bangun dan memeluk Jean dari belakang saat tangannya hendak memukul Yuzen.
“Please stop, Jean. Aku tidak mau kamu jadi pembunuh nantinya,” lirih Ratu semakin nangis sesenggukan. Kepalan tangan Jean pun mulai melemah, ia mencoba meredakan sedikit amarahnya.
“Rico!”
“Saya disini Tuan,” ucap Rico dengan tegas.
“Bawa bajingan itu ke rumah sakit! Dan besok saya ingin mendengar perusahaannya telah rata dengan tanah!” titah Jean.
“Baik akan saya lakukan sesuai perintah anda!”
Ratu dan Yuzen hanya bisa memejamkan matanya. Meskipun Yuzen ingin mengatakan kepada Jean bahwa ia tidak tau bahwa Ratu masih menjadi status istrinya. Karena itu tidak akan berpengaruh pada Jean bahkan pembelaannya itu mungkin akan membuat Jean semakin marah.
“Jean, jangan hancurkan perusahaan Yuzen, dia tidak bersalah. Aku mohon!”
Jean yang melihat Ratu yang menangis histeris seperti itu hanya bisa memejamkan matanya, sungguh sebenarnya ia tak tega melihat tangisan istrinya. Sedari dulu ia memang sangat lemah jika sudah melihat Ratu menangis.
“Rico!”
“Ya, Tuan?”
“Ingat yang saya perintahkan tadi!”
“Baik, Tuan.”
Jean langsung menarik tangan Ratu dan berjalan meninggalkan restoran tersebut sedangkan Rico dan bodyguard yang lainnya masih di dalam.
...----------------...
__ADS_1