
Di kantor, Ratu merasa ingin sekali untuk cepat-cepat pulang dan menemui dua penyemangat hidupnya. Mengingat Jean yang mengetahui keberadaan, membuat Ratu menjadi was-was. Ia sangat takut jika Jean membawa kedua putranya pergi jauh darinya, apalagi Jean mengetahui tentang dirinya yang telah memalsukan tentang kegugurannya.
"Reyfa," panggil Yuzen. Ratu yang di panggil langsung berdiri.
"Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ratu.
"Tidak ada, saya hanya ingin mengajak kamu makan siang di cafetaria," jelas Yuzen tersenyum. Yuzen memang menyukai Ratu sejak pertama kali ia bertemu. Walaupun Yuzen tau Ratu sudah menikah dan sudah bercerai dengan suaminya, ia tetap menyukai Ratu apa adanya. Bahkan Yuzen siap menjadi ayah sambung untuk Ravindra dan Kendrick. Ratu sampai sekarang belum mengetahui jika Jean tidak pernah menceraikannya.
"Boleh, Tuan. Tunggu sebentar saya ambil dompet dulu," balas Ratu.
"Iya, saya tunggu."
Ratu dan Yuzen berjalan beriringan, banyak pasang mata yang menatap Ratu dengan tatapan sinis. Mereka cemburu dan iri melihat kedekatan antara Ratu dengan Yuzen.
"Dasar sekretaris genit!"
"Janda ganjen!"
"Kok Tuan Yuzen juga mau saja dideketin sama janda!"
"Padahal Tuan Yuzen didekati sama artis dan model papan atas, tapi malah milih si janda!"
Begitulah omongan orang-orang kantor yang Ratu dengar, namun ia sama sekali tidak menanggapi hal itu bahkan Ratu tidak peduli. Toh, Ratu menganggap dirinya dan Yuzen hanya sebatas atasan dengan karyawan saja tidak lebih, mereka saja yang iri melihatnya dekat CEO dari Lee Electronic Corp.
"Kamu jangan dengarkan kata-kata mereka," ujar Yuzen menenangkan Ratu.
"Iya Tuan, santai saja. Saya juga tidak peduli dengan apa yang mereka katakan terhadap saya," balas Ratu tersenyum tipis.
Setelah sampai di cafetaria kantor sekaligus memesan makanan, Yuzen mengajak ngobrol Ratu dari topik yang berkaitan dengan pekerjaan sekaligus berkaitan dengan hal pribadi.
"Gimana kabar anak-anak kamu? Udah seminggu ini saya tidak ketemu sama mereka." Yuzen sudah mengenal Ravindra dan Kendrick dari Ratu.
"Kabar anak-anak saya baik, Tuan."
"Syukurlah. Oh ya, nanti malam kamu ada acara tidak?" tanya Yuzen. Ia berniat untuk mengajak Ratu makan malam sekaligus Yuzen akan menyatakan perasaannya pada Ratu.
__ADS_1
"Kebetulan malam ini saya tidak ada acara, memangnya kenapa ya, Tuan?" tanya Ratu balik.
"Saya ingin mengajak kamu dinner, tapi hanya kita berdua. Kamu mau kan?" tanya Yuzen hati-hati, takutnya nanti Ratu akan tersinggung karena Yuzen tidak mengajak Ravindra dan Kendrick.
"Iya boleh, Tuan." Karena tak enak menolak atasannya, Ratu pun menerima ajakan dinner Yuzen.
"Oke, nanti malam jam 7 saya jemput," ujar Yuzen.
"Baik, Tuan."
Pukul 5 sore Ratu sampai di mansion keluarga besar Wang, saat masuk terlihat mansion itu sangat sepi. Ratu mencari keberadaan kedua putranya, dari kamar hingga belakang mansion namun ia tak menemukannya.
"Ravindra, Kendrick kalian ada dimana?" teriak Ratu. Ratu mulai panik, semoga yang selalu terbayang dalam benaknya tidak terjadi. Berdoa saja Ratu.
"Bi Weiwei!" teriak Ratu memanggil bibi Weiwei, pengasuh Kendrick. Sedangan bibi Fang, pengasuh Ravindra tidak masuk kerja hari ini, dikarenakan anaknya tengah sakit.
"Iya Nyonya." Bibi Weiwei lari tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Anak-anak dimana, Bi? Kok tidak ada kelihatan ya?" tanya Ratu.
"Em itu Nyonya--" Bibi Weiwei sangat gugup dan takut menjelaskan pada Ratu.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya nenek Putri datang menghampiri Ratu karena mendengar cucunya sedari tadi teriak-teriak.
"Anak-anak aku dimana, Nek? Aku panggil-panggil tidak ada sahutan, aku cari-cari di kamar sampai taman belakang tidak ada juga. Apa mereka lagi sama kak Sean?" tanya Ratu panjang lebar.
Nenek Putri menghela napas. "Ravindra dan Kendrick tadi siang di ajak jalan-jalan sama Daddy mereka, mungkin sekarang mereka berdua lagi di rumah Jean," jelasnya. Membuat Ratu terkesiap seketika.
"A-pa nek? Mereka lagi sama Jean?" tanya Ratu dengan nada bergetar.
Nenek Putri mengangguk, "Iya tadi Jean jemput Ravin di sekolahnya terus kesini untuk ketemu sekalian jemput Ken, mungkin sekarang mereka sedang dirumah Jean," jelas nenek Putri.
"Kenapa nenek biarkan mereka dibawa sama Jean?! Nenek tidak takut kalau mereka dibawa jauh oleh Jean?" sentak Ratu dengan nada tinggi. Nenek Putri terkejut mendengarnya, ini pertama kali Ratu membentak dirinya.
"Bukannya begitu, nak."
__ADS_1
"Bukannya gitu gimana, Nek? Apa nenek tau, dia itu sangat nekat orangnya!"
"Ada apa ini, Ratu? Kenapa kamu terlihat sangat marah ke nenek kamu?" sahut kakek Wang yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri istri dan cucunya.
"Apa kakek juga yang memberikan izin ke Jean untuk membawa Ravindra dan Kendrick?"
"Iya benar, memang kakek yang mengizinkannya, toh Ravin dan Ken pergi sama ayah kandung mereka, tidak salah kan?" jawab kakek Wang.
"Tidak salah gimana, kek? Kalau nanti Jean bawa kabur anak-anak gimana? Aku tidak mau jauh dari mereka," ujar Ratu lirih. Kakek Wang menghela napas panjang, ia tau kekhawatiran cucunya itu, tapi kakek Wang yakin Jean tidak akan berbuat hal seperti yang dikatakan oleh Ratu tadi.
"Kakek yakin Jean tidak akan melakukan hal seperti itu, dia hanya rindu dengan kedua putranya. Karena itu dia ingin quality time bersama Ravin dan Ken. Kamu tenang saja Jean akan membawa pulang anak-anak kamu nanti malam," jelas kakek Wang mencoba menenangkan Ratu.
"Tapi Kek--"
"Nak dengerin kata-kata kakek yang tadi. Jean hanya ingin menghabiskan waktu bersama Ravin dan Ken saja. Jangan terlalu egois Ratu, ingat Jean itu ayah kandung dari anak-anak kamu. Jadi dia juga berhak memiliki waktu bersama dengan darah dagingnya sendiri," ucap kakek Wang tegas. Ratu langsung terdiam mendengar ucapan kakeknya.
"Kalau kamu ingin menjemput mereka, jemput saja di rumahnya Jean langsung," sambung kakek Wang. Ratu bimbang, ingin sekali ia menjemput anak-anaknya, namun disisi lain Ratu takut untuk bertemu dengan Jean. Karena Ratu yakin Jean akan membahas tentang dirinya yang memalsukan kegugurannya dulu dan takutnya nanti Jean akan melakukan seperti di toilet restoran waktu itu.
Ratu memilih untuk tidak menjemput anak-anaknya, omongan kakek Wang tadi benar, Jean juga berhak atas kedua anaknya.
"Kalau gitu aku ke kamar dulu Kek, Nek." Ratu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Nenek Putri dan kakek Wang hanya menghela napas.
"Daddy," panggil Kendrick. Kini Ravindra dan Kendrick berada di rumah Jean, setelah balik dari Mall. Kedua bocah tampan itu tengah bermain di karpet bulu di ruang tengah, sedangkan Jean mengawasi kedua anaknya sambil mengerjakan pekerjaannya yang belum ia selesaikan di sofa.
"Ya, nak?" Jean mengalihkan pandangannya ke Kendrick.
"Kok Mommy ndak kesini?" tanya Kendrick.
"Mungkin Mommy belum pulang kerja," jawab Jean dengan lembut. Kendrick langsung mengerucutkan bibir bawahnya.
"Mommy selalu sibuk kerja, jadi jarang ada waktu untuk Ken dan kakak," jelas Kendrick sedih. Hati Jean terenyuh mendengar ucapan putra bungsunya, Jean berjanji ketika nanti dia sudah kembali bersama dengan Ratu lagi, dia akan menyuruh Ratu untuk tidak bekerja lagi dan hanya menjadi ibu rumah tangga seperti 4 tahun yang lalu saat mereka masih bersama.
"Mommy kan kerja untuk kalian juga."
"Kami tidak membutuhkan uang, Dad. Ravin dan Ken hanya ingin Mommy dan Daddy punya banyak waktu dengan kami itu saja," sahut Ravindra. Hati Jean semakin sesak mendengarnya. Ia menghampiri kedua putranya dan langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Maafkan Daddy sama Mommy ya? Daddy janji bakal banyak waktu buat kalian berdua," ujar Jean lirih. Ravindra dan Kendrick hanya mengangguk dalam pelukan sang Daddy.
...----------------...