Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 52


__ADS_3

Ketika Dokter Chao sudah ada didalam kamar Jean, ia langsung memeriksa keadaan Jean sedangkan Ratu hanya bisa memperhatikan Dokter Chao memeriksa suaminya. la berdiri bersama dengan pelayannya tadi dengan wajahnya yang terlihat sangat gelisah.


“Dok... bagaimana keadaan suami saya?" tanya Ratu dengan khawatir.


Dokter Chao langsung berdiri di depan Ratu sambil menatapnya dengan heran.


"Maaf nona. Anda ini siapa tuan Jean?" tanya Dokter Chao. Dokter muda ini merupakan Dokter pribadi Jean di Beijing. Jadi, sewaktu-waktu ketika Jean berada di Beijing dan mengalami sakit, ia dapat memanggil Dokter Chao tanpa harus pergi ke rumah sakit.


"Saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Ratu kembali.


"Jadi tuan Jean benar-benar udah memiliki istri. Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Dokter Chao dalam hati. Sudah 1 tahun lebih mengabdi sebagai Dokter pribadi Jean, ini baru pertama kalinya Dokter Chao mengetahui jika Jean telah memiliki seorang istri.


“Dok, suami saya baik-baik saja kan?" tanya Ratu lagi membuyarkan lamunan Dokter Chao.


“Oh... Tuan Jean baik-baik saja, Nyonya. Hanya perlu istirahat beberapa hari dan menjaga pola makannya dengan baik,” jelas Dokter Chao. Pria yang berprofesi sebagai Dokter itu langsung mengganti panggilan untuk Ratu menjadi Nyonya setelah mengetahui bahwa Ratu istri dari Jean.


“Memang apa yang terjadi padanya sampai dia pingsan tadi?”


“Dia terkena Gastritis, Nyonya. Tapi tidak terlalu parah. Tuan Jean pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit di lambungnya."


“Apa Gastritis?” pekik Ratu dengan wajahnya yang kaget.


“Mungkin gara-gara tuan Jean terlalu sering mengonsumsi alkohol dan stress yang di alaminya, Nyonya. Apalagi tuan Jean punya penyakit insomnia. Beliau selalu minum obat tidur setiap malam supaya dia bisa tidur nyenyak. Karena Anda sudah disini, Anda harus menjaga pola makan tuan Jean. Kurangi minum alkohol, kalau bisa Anda harus melarang beliau untuk minum alkohol," jelas Dokter Chao.


"Saya dan pelayan disini sering mengingatkan tuan Jean ketika beliau sedang berada di Beijing seperti saat ini untuk mengurangi minum alkohol, tapi beliau tidak pernah mendengarkan kami. Mungkin tuan Jean bisa mendengarkan Anda, Nyonya. Kalau ke depannya beliau tidak bisa menjaga kesehatannya dengan baik, Gastritisnya mungkin akan semakin parah. Kita bersyukur karena penyakitnya tidak terlalu parah masih bisa ditangani dengan obat-obatan,” sambungnya.


“Ya Tuhan... kenapa dia bisa jadi seperti ini?” ujar Ratu dengan wajahnya yang terlihat sedih.


“Tenang, Nyonya. Saya sudah memberikan antibiotik untuk mengurangi rasa sakitnya. Saya juga akan meresepkan obat untuk tuan Jean. Perawat saya juga akan memasang infus selama beliau tidak sadarkan diri," ujar Dokter Chao.


"Terima kasih banyak. Tapi apa dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit saja, Dok?"


"Tidak perlu nyonya. Saya akan berjaga disini. Semua peralatan sudah saya bawa apalagi tuan Jean tidak suka dibawa ke rumah sakit. Kalau besok sakitnya kambuh lagi, baru kita akan bawa ke rumah sakit," jelas Dokter Chao.


"Baik. Terima kasih, Dok."


“Sama-sama, Nyonya. Saya dan perawat saya akan berjaga diluar. Kalau ada apa-apa panggil saya saja," imbuh Dokter Chao dan di angguki Ratu.

__ADS_1


"Baik, Dok."


"Kalau begitu kami permisi, Nyonya.”


“Iya silahkan, Dok."


Dokter Chao dan kedua perawatnya pun keluar dari kamar Jean. Dokter dan para pelayan di mansion nya memang tahu kalau Jean suka minum-minum dan sering lupa makan jikalau sudah sibuk bekerja. Memang jika berkunjung ke Beijing, Jean akan cukup lama tinggal disini terkadang sampai 1 hingga 3 bulan lamanya. Karena itu mereka sudah hafal dengan kebiasaan Tuan mereka.


Mereka juga sering mengingatkan tuannya itu. Tapi Jean tidak pernah mendengarkan mereka, yang penting kegelisahannya hilang dan pikirannya bisa tenang. Jean tidak akan peduli dengan yang lainnya.


Setelah Dokter Chao keluar, Ratu kembali duduk disamping Jean sambil memegang tangannya. Ia kemudian berbicara kepada pelayannya tadi yang masih berdiri di dekatnya.


"Bi, apa saya boleh minta tolong untuk mengambilkan air hangat di baskom kecil. Saya ingin membersihkan tubuh suami saya. Dia sangat suka kebersihan pasti dia akan merasa tidak nyaman kalau dia bangun nanti dan mendapati tubuhnya yang lengket karena keringat,” ucap Ratu meminta tolong kepada salah satu pelayan, sepertinya dia merupakan kepala pelayan di mansion ini.


"Baik nyonya," balas pelayan itu sambil membungkuk hormat.


“Terima kasih, Bi.”


“Sama-sama, Nyonya. Ini memang sudah tugas kami.”


Pelayannya itu pun pergi mengambilkan air hangat untuk Jean sedangkan Ratu masih memegang tangan suaminya sambil menatapnya dengan sedih.


Tiba—tiba pelayannya tadi masuk sambil membawa air hangat di baskom kecil yang ia pegang.


“Nyonya ..."


Ratu langsung berdiri ketika melihat pelayan itu yang bernama bibi Nuan.


“Panggil saya bibi Nuan saja nyonya."


“Oh iya, Bi. Apa itu air hangat yang tadi saya suruh bibi Nuan bawakan?" tanya Ratu sambil menunjuk air yang dipegang bibi Nuan.


“Iya, Nyonya."


“Terima kasih. Biar saya saja yang melakukannya.”


“Baik nyonya,” balas bibi Nuan sambil meletakkan air hangatnya dimeja dekat tempat tidur.

__ADS_1


Ratu mulai membuka kancing baju suaminya. la kemudian mengompres dahi serta membersihkan tubuh Jean dengan handuk yang sudah ia basahi dengan air hangat sedangkan bibi Nuan berdiri disamping Ratu sambil memperhatikannya. la kemudian berbicara kepada Ratu yang tengah sibuk membersihkan tubuh Jean.


“Saya bersyukur akhirnya tuan Jean membawa Nyonya kemari. Beliau pernah bilang kalau dia membangun mansion ini untuk keluarga kecilnya. Sekarang mansion ini tidak akan sunyi lagi dengan kehadiran Nyonya disini,” ucap bibi Nuan. Ratu menghentikan kesibukannya dan menatap kepala pelayan tersebut.


“Mansion ini dia bangun sendiri?" tanya Ratu.


Bibi Nuan mengangguk, “lya benar, Nyonya. Dua tahun yang lalu tuan Jean membangun mansion ini. Setiap beliau pulang kesini saya selalu melihatnya termenung dibelakang mansion sambil menatap laut. Tuan Jean berkata jika istrinya sangat suka laut, jadi beliau membangun mansion di pinggir pantai," ucapnya sambil melihat Ratu yang menunduk sambil memegang tangan Jean.


Bibi Nuan melanjutkan kembali ucapannya, "Ruang kerja tuan Jean dipenuhi alkohol, kami tidak berani menyentuhnya. Tuan Jean juga jarang menyentuh makanan kalau pelayan disini memasak untuknya, dia hanya menyibukkan dirinya dengan bekerja. Kalau tidak minum kopi, tuan Jean pasti minum alkohol. Mungkin karena itu beliau bisa jatuh sakit sekarang. Apalagi tuan Jean tidak pernah mendengarkan kami disini. Kalau dia sudah bekerja pasti akan melupakan waktu makannya. Kami tidak berani menasehatinya kalau tuan Jean sudah sibuk bekerja. Kami hanya bisa menyiapkan makanannya saja setiap saat,” jelasnya. Tanpa sadar Ratu menangis mendengar ucapan bibi Nuan.


“Itu semua salahku. Hiks... hiks... hiks... dia seperti ini karena aku. Kalau aku tidak meninggalkannya dulu, dia tidak akan seperti ini. Semuanya salahku. Aku memang wanita yang bodoh," ucap Ratu menyalahkan dirinya.


“Nyonya... Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ini ujian yang diberikan Tuhan kepada kalian berdua. Apalagi penyakit tuan Jean tidak terlalu parah, masih banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” kata bibi Nuan menenangkan istri majikannya itu.


Ratu langsung berdiri dan membungkuk di depan bibi Nuan. “Terima kasih karena Bibi sudah menjaganya selama dia disini. Terima kasih banyak.”


"Nyonya... apa yang Anda lakukan?” ucap bibi Nuan terkejut sambil memegang kedua bahu Ratu dan mengangkatnya agar Ratu tidak membungkuk kepadanya.


“Itu sudah menjadi tugas kami disini. Anda tidak perlu berterima kasih kepada kami, Nyonya.”


“Biarpun itu tugas kalian, saya tetap berterima kasih. Saya juga minta maaf karena sudah membentak bi Nuan tadi,” sesal Ratu.


“Iya nyonya, tidak masalah. Saya mengerti kalau Anda sangat khawatir tadi,” balas bibi Nuan sambil tersenyum.


“Terima kasih. Bu Nuan boleh istirahat sekarang, biar saya yang menjaga disini."


“Baik nyonya."


Ratu kembali duduk disamping Jean sambil mengelus kepala suaminya dengan lembut sedangkan bibi Nuan masih berdiri memandang Ratu yang begitu perhatian kepada Tuannya.


"Istri tuan Jean benar-benar orang yang baik. Pantas saja tuan Jean selalu menunggunya hingga 3 tahun lamanya. Aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi sudah menyukai sikapnya yang sopan." Dalam hati Bu Nuan. la kemudian pamit kepada Ratu.


“Kalau begitu saya permisi, Nyonya."


“Iya, terima kasih bi," balas Ratu.


Bibi Nuan hanya tersenyum mengangguk didepan Ratu. Ia kemudian pergi meninggalkan Ratu berdua dengan tuannya.

__ADS_1


Ratu duduk di tepi ranjang, menatap sendu wajah suaminya yang pucat sambil menggenggam tangan Jean. "Sayang, maafkan aku. Kamu sakit begini pasti karena aku. Kamu boleh menghukum ku setelah kamu terbangun nanti," ucap Ratu lirih. Air matanya kembali menetes, ia membayangkan gimana depresinya Jean dulu saat hidup tanpa dirinya dan anak-anaknya.


...----------------...


__ADS_2