Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 25


__ADS_3

Ayam berkokok dengan lantangnya, matahari bersinar cerah menerangi bumi membuat Jean terbangun dari tidurnya karena terkena cahaya matahari dari celah gorden.


"Eugghh udah pagi ya?" gumam Jean serak. Ia memandangi kedua penyemangat hidupnya masih tertidur pulas dengan Ravindra tidur di tengah-tengah Jean dan Ratu. Jean merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di headboard ranjang.


"Sayang bangun yuk, udah pagi nih," ujar Jean mengelus rambut Ratu. Ratu pun mulai terusik.


"Eeughh iya, Dad." Ratu membuka matanya secara perlahan.


"Morning my sunshine," ujar Jean seraya mengecup kening Ratu.


"Morning too Daddy," balas Ratu tersenyum. Jean kini akan membangunkan Ravindra.


"Jagoan, bangun yuk katanya mau liat domba sama sapi."


Di belakang Villa terdapat perkebunan buah dan sayuran serta terdapat peternakan. Dengan luas tanah sekitar 15 hektar, 10 hektar untuk perkebunan buah dan sayuran serta 5 hektar untuk peternakan.


Pemilik dari perkebunan dan peternakan tersebut tak lain adalah daddy Marvin, namun beliau memerintahkan dan mempercayakan Saopi, istri serta anaknya untuk mengelola perkebunan dan peternakan tersebut dengan bantuan para pekerja lainnya.


Hasil perkebunan dan peternakan tersebut lalu diekspor ke luar daerah bahkan sampai keluar negeri.


"Daddy," lirih Ravindra serak, mata bocah tampan itu mulai terbuka.


"Ya boy? Ayo bangun terus mandi kan Ravindra mau liat domba dan sapi," ujar Jean lembut. Ravindra langsung merubah posisinya menjadi duduk.


"Gendong Daddy." Ravindra merentangkan kedua tangannya ingin digendong oleh Daddy-nya. Jean tersenyum lalu beranjak dari ranjang lalu menggendong tubuh putranya.


"Ya sudah Daddy dan Ravin duluan mandi, Mommy tungguin," ujar Ratu yang tengah bersandar di headboard ranjang.


"Mommy ikut kita mandi aja, ya kan Vin?"


"Iya Mommy juga ikut," balas Ravindra manggut-manggut menyetujui ucapan Jean.


"Ya sudah ayo kita mandi bertiga." Ratu pun ikut mandi dengan suami dan anaknya.


Selesai mandi dan berpakaian, mereka bertiga keluar dari kamar lalu menuju ke ruang makan. Di atas meja makan sudah tersedia nasi goreng buatan bibi Pina.


"Pagi Tuan, Nyonya. Pagi Tuan muda," sapa bibi Pina.


"Pagi Bi," balas Ratu dan Jean serempak.


"Pagi Nenek," balas Ravindra. Bibi Pina tersenyum mendengar balasan dari Ravindra , apalagi saat Ravindra memanggilnya dengan sebutan Nenek.


"Ayo silahkan sarapan dulu."


"Iya Bi." Ratu dan Jean duduk berdampingan dengan Ravindra di pangkuan Daddy-nya.


"Ravin, mau makan nasi goreng juga?" Tanya Ratu.


"Mau Ma," jawab Ravindra manggut-manggut.


"Oh ya Bi, paman Saopi dan Gilang kemana ya?" tanya Jean.


"Mereka ada di rumah belakang Tuan," jawab bibi Pina.


"Saya minta tolong Bi, panggilkan paman Saopi dan Gilang kesini, kita akan sarapan bersama," ujar Jean.

__ADS_1


"Eh tidak usah Tuan, biar kami sarapan di rumah belakang saja," tolak bibi Pina sungkan.


"Tidak apa-apa Bi, kita sarapan bersama saja disini," timpal Ratu. Bibi Pina tersenyum dan mengangguk.


"Baik Tuan, Nyonya. Kalau begitu saya akan panggilkan suami dan anak saya dulu," balas bibi Pina, ia pergi keluar dari pintu belakang menuju ke rumahnya untuk memanggil suami dan anaknya.


Beberapa saat kemudian bibi Pina kembali bersama paman Saopi dan Gilang.


"Pagi Tuan dan Nyonya," sapa paman Saopi dan Gilang.


"Pagi, ayo kita sarapan bersama," balas Ratu.


"Baik Nyonya." Mereka berenam pun mulai sarapan. Dengan telaten Ratu menyuapi Ravindra .


"Daddy, mau liat domba sama sapi," ujar Ravindra tiba-tiba.


"Iya nak, nanti perginya sama paman Gilang ya?" Ravindra menatap ke arah Gilang. Gilang yang di tatap oleh anak majikannya langsung tersenyum.


"Nanti Tuan muda sama paman ya pergi liat domba dan sapinya," ujar Gilang.


"Iya paman. Yey liat domba dan sapi!" seru Ravindra girang. Semua yang melihatnya terkekeh geli.


Di beda tempat, tepatnya di Aster Internasional University. Medina tengah duduk makan siang di kantin bersama kedua sahabatnya sambil berbincang-bincang.


"Nanti kalian berdua datang ke ulang tahunnya Alex?" tanya Nia.


"Tentu saja, pasti seru dan banyak cowok ganteng disana," seru Bella dengan antusias.


"Memang acaranya dimana?" tanya Medina.


"Di Club ya?" tanya ulang Medina. Ia yakin orangtuanya pasti tidak mengizinkan dirinya pergi ke tempat seperti itu.


"Iya di Club. Memangnya kenapa sih Din, kok muka kamu seperti tidak seneng gitu?" tanya Bella heran.


Diantara Medina, Nia dan Bella. Bella lah yang anaknya paling bebas, namun ia sangat menghindari yang namanya **** bebas dan narkoba. Jika minum alkohol Bella lah yang paling jago.


"Kan kalian tau aku itu paling dilarang kalau pergi kesana sama orang tua dan kakakku," jelas Medina lesu.


"Bilang saja pergi ke ulang tahun teman, beres kan?" Ujar Nia.


"Tapi tetap saja pasti Daddy suruh anak buahnya buat jaga aku, kan kalian tau aku itu sekarang sudah dilarang keluar malam sendirian lagi, semenjak kakak iparku dulu diculik," jelas Medina.


"Kamu tenang saja, nanti aku izinin deh sama Mommy kamu. Tapi mungkin dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan disana," ujar Bella terkekeh membuat Medina dan Nia juga ikut terkekeh.


"Nah iya serahkan aja sama kita berdua Din, toh kak Jean juga lagi pergi kan sama istri dan anaknya? Jadi tidak ada yang tau kamu ke Club," timpal Nia yang membujuk Medina. Medina menghela napas panjang.


"Ya sudah aku ikut." Dengan berat hati Medina pun ikut.


"Nah gitu dong, itu baru sahabat kita," ujar Bella.


"Sekalian saja kalian menginap di rumah aku, soalnya aku sendirian di rumah, soalnya Mami sama Papi lagi ke luar kota," ujar Nia.


"Oke," ujar Medina dan Bella serempak.


...****************...

__ADS_1


Malam harinya Medina, Nia dan Bella sudah berada di dalam Galaxy Club. Benar saja Bella tadi meminta izin kepada mommy Zia dan daddy Marvin dengan mengatakan jika ia berjalan-jalan ke Mall, pada akhirnya Medina pun diizinkan.


Nia mengenakan dress pendek dan ketat warna merah, Bella mengenakan baju tanpa lengan crop top putih dipadukan dengan rok mini hitam sedangkan Medina mengenakan dress di bawah lutut dan berlengan panjang berwarna hitam.


Saat Bella pergi menjemput Medina tadi, ia mengenakan baju dan celana serba panjang. Namun setelah keluar dari mansion daddy Marvin, Bella langsung mengganti pakaian mengenakan pakaian yang lebih terbuka seperti sekarang ini.


Hingar-bingar suara dentuman musik di dalam Club sangat keras sehingga membuat telinga Medina menjadi pengang.


"Ayo kita ke Alex," ajak Nia. Medina dan Bella mengangguk. Lalu mereka bertiga menghampiri Alex yang tengah duduk di sofa bersama teman-teman yang lain.


"Hai Lex," sapa Bella.


"Eh kalian," balas Alex, namun mata laki-laki itu tertuju pada Medina, gadis keturunan indo-inggris yang sudah menjadi incarannya sejak mereka ospek dulu.


"Happy birthday Lex," ucap Bella dan Nia serempak.


"Thanks."


"Happy birthday ya Lex," ucap Medina.


"Thank you Din," balas Alex tersenyum manis.


"Ayo duduk," titah Alex, mereka bertiga hanya mengangguk lalu duduk berdampingan.


"Oh ya ayo silahkan diminum minumannya, kalau kurang tinggal ambil saja," ujar Alex.


Di atas meja terdapat beberapa jenis minuman beralkohol. Bella dan Nia dengan senang hati meminum minuman beralkohol tersebut karena mereka sudah terbiasa meminumnya, sedangkan Medina hanya dia memandangi minuman itu tanpa rasa minat sedikit pun.


"Kok tidak diminum, Din?" tanya Alex.


"Medina mana bisa minum alkohol Lex, anak alim dia," sahut Bella terkekeh. Alex manggut-manggut mengerti.


"Kamu mau minum orange juice?" Tawar Alex pada Medina.


"Boleh deh, Lex."


"Oke tunggu sebentar, aku ambilkan." Alex beranjak dari sofa menuju ke bartender mengambil minuman untuk Medina.


Beberapa saat kemudian Alex kembali ke tempat yang tadi dengan membawa segelas jus jeruk.


"Ini minuman untuk kamu." Alex menyodorkan jus jeruk tersebut pada Medina.


"Thanks Lex," ujar Medina.


"No problem," balas Alex lalu duduk memandangi Medina yang tengah meminum jus jeruk pemberiannya tadi. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan senyum seringai dari bibirnya.


Beberapa saat kemudian, Medina merasakan kepalanya sangat pusing.


"Kenapa kepalaku pusing banget ya, padahal kan aku tidak meminum alkohol,'' batin Medina sambil memegang kepalanya. Lalu ia beranjak dari sofa.


"Kamu mau kemana Din?" tanya Nia.


"Aku mau ke toilet sebentar," jawab Medina. Dan hanya mendapat anggukan dari kedua sahabatnya. Medina berjalan dengan sempoyongan menuju ke toilet yang ada di Club tersebut. Di belakangnya ternyata ada seseorang yang mengikuti Medina tanpa sepengetahuan gadis itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2