Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat

Tragedi Satu Malam Dengan Sahabat
Episode 39


__ADS_3

Malam harinya Jean datang mengunjungi rumah mertuanya, tentu saja untuk menemui istri dan anaknya. Orang tua Ratu tidak pernah melarang jika Jean ke rumah mereka, malah mereka berharap jika dengan cara itu Ratu bisa merubah pikirannya untuk tidak pergi dan tidak bercerai dari Jean.


"Assalamualaikum. Selamat malam, Ma, Pa."


"Waalaikumsalam. Eh malam, Jean."


Ratu cukup tersentak melihat kedatangan Jean, karena ia dan keluarganya tadi tengah membicarakan tentang kepergiannya ke China besok pagi.


Jean menyalami kedua mertuanya secara bergantian, lalu duduk di samping Ratu. Ratu yang tak nyaman, langsung sedikit bergeser. Jean hanya bisa memahami istrinya seperti itu.


"Daddy!" panggil Ravindra sambil membawa kucing persia milik Elwin, sepupunya.


"Hai nak, sini." Ravindra berlari menuju ke arah Jean.


"Wah itu kucing milik siapa?" tanya Jean basa-basi dengan sang putra.


"Ini kucing punya kak Elwin," jawab Ravindra. "Lucu ya kucingnya?" tanyanya.


"Iya lucu, sayang. Ravindra mau juga dibelikan kucing?" tanya Jean lagi.


"Mau Dad! Tapi mau kucing yang bulunya warna abu," pinta Ravindra antusias. Jean mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di pencarian internet.


"Mau kucing yang seperti ini?" Jean menunjukkan foto kucing british abu-abu yang memiliki rambut pendek, namun tubuhnya sangat padat dan berhidung pesek.


"Iya Daddy, Ravin mau kucing seperti itu," girang Ravindra.


"Oke, besok Daddy belikan."


"Yey makasih, Ravin sayang Daddy."


"Sama-sama nak, Daddy sayang Ravindra juga," balas Jean mencium pipi Ravindra.


Hati Ratu terenyuh melihat dan mendengar perbincangan suami dan putranya itu, tapi ia tidak boleh goyah begitu saja.


"Kamu udah makan, nak?" tanya mama Hani pada Jean.


"Belum, Ma. Soalnya Jean baru pulang dari kantor." Semenjak Ratu tidak tinggal di rumah mereka, Jean menjadi sering memilih untuk lembur.


"Jangan terlalu sering lembur, nak. Jaga kesehatan kamu," nasihat papa Arkana.


"Gimana tidak milih lembur, kalau orang yang membuat aku ingin cepat pulang tidak ada di rumah," batin Jean menatap sendu Ratu yang tengah bermain dengan putranya.


"Ayo kamu makan dulu, nak. Biar Ratu yang menyiapkan makanan untuk kamu," kata mama Hani. Ratu mendelik ke arah mamanya.


"Dia punya kaki dan tangan, jadi dia bisa ambil sendiri, Ma!" ucap Ratu tak terima.


"Ratu, ingat kamu ini masih istri dari Jean," tegur papa Arkana. Ratu mendengus, ia berdiri lalu berjalan menuju ke dapur.


Jean tersenyum kecil, ia pun mengikuti istrinya ke dapur. Jean duduk di kursi pantry sambil menatap Ratu yang tengah memanaskan makanan. Ingin sekali ia memeluk Ratu, sudah 1 bulan Jean tidak pernah lagi memeluk istrinya.


"Nih di makan." Ratu menaruh sepiring nasi dan beberapa lauk untuk Jean di atas meja pantry.


"Terima kasih, sayang."


"Hem." Ratu ingin pergi, namun Jean menahannya.

__ADS_1


"Temani aku makan, please," pinta Jean memohon. Ratu menghela napas, dengan berat hati ia pun menemani Jean makan. Jean sangat senang Ratu menemaninya. Ratu sangat canggung saat ini, apalagi sedari tadi Jean terus mencuri pandang ke arahnya.


"Makan yang benar, tidak usah lirik-lirik," sindir Ratu.


Jean terkekeh pelan. "Terserah aku dong, kan orang yang aku lirik itu istri aku sendiri," balasnya. Ratu langsung mendengus kesal.


Selesai Jean makan, Ratu segera membereskan bekas piring makan Jean di atas meja, lalu pergi ke wastafel dapur untuk mencuci piring tersebut. Saat Ratu mulai mencuci piring, tiba-tiba saja dua lengan kekar memeluknya dari belakang, membuat Ratu terjengkit kaget.


"I miss you so bad, my wife," bisik Jean di telinga Ratu.


Tubuh Ratu seketika menegang saat Jean mengatakan itu. Untung saja perutnya belum terlalu menonjol, jika tidak mungkin rahasia Ratu langsung terbongkar malam itu juga. Tak lama, Ratu segera melepaskan pelukan Jean. Namun, Jean malah tambah mengeratkan lagi pelukannya.


"Lepasin, aku lagi nyuci piring!" sentak Ratu.


"Biarkan dulu seperti ini," pinta Jean menyelusup kan wajahnya ke leher Ratu. Ratu pun membiarkannya, mungkin ini akan menjadi pelukan terakhir kalinya bagi mereka.


Setelah selesai, Ratu dan Jean kembali ke ruang tengah, berkumpul bersama papa Arkana, mama Hani serta putra mereka. Ravindra duduk di pangkuan Jean, sepertinya bocah itu sudah mulai mengantuk.


"Ravin sudah mengantuk?" tanya Jean.


Ravindra mengangguk, "Iya, Dad."


"Kalau gitu, ayo Daddy antar ke kamar," ujar Jean.


Ravindra menggelengkan kepalanya, "Ravin mau tidur sama Daddy dan Mommy," rengeknya. Ratu cukup terkejut dengan permintaan Ravindra. Berbeda dengan Ratu, Jean malah sebaliknya. Ia sangat senang mendengar permintaan dari putranya.


"Daddy sedang si--"


"Oke! Ayo kita tidur!" Ucapan Ratu langsung disela oleh Jean dengan cepat. Ratu menatap tajam Jean, tapi pria itu tidak peduli dengan tatapan mata Ratu. Bahkan mama Hani dan papa Arkana menyuruh Jean untuk menginap, dengan senang hati Jean pun menyetujuinya.


Jean dan Ratu masih terjaga, Ratu seperti takut untuk memejamkan matanya. Ia takut jika Jean melakukan sesuatu hal kepadanya. Dan untungnya, Ratu sudah menyimpan koper-kopernya di dalam walk in closet setelah selesai memasukkan pakaian dirinya dan Ravindra. Bisa bahaya kalau Jean mengetahui jika Ratu akan pergi.


"Tidur, Ratu!" suruh Jean.


"Tidak mau! Nanti kamu macam-macam lagi sama aku!" ketus Ratu.


"Memangnya salah gitu, kalau aku berbuat sesuatu sama istri aku sendiri?" tanya Jean menatap Ratu lekat. Ratu langsung terdiam.


Jean menghela napas berat, "Kamu tidur aja. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam kepadamu!"


Ratu tidak menjawab, ia lebih memilih memejamkan matanya. Jean tersenyum kecil melihat Ratu yang mulai tertidur. Jean merubah posisinya menjadi duduk, ia menatap kedua sumber kehidupannya. Lalu mengarahkan dirinya untuk mencium kening Ravindra dan Ratu secara bergantian.


"Good night, my loves."


...****************...


Hari keberangkatan Ratu dan Ravindra ke China telah tiba. Kini orang tua, kakak dan kakak iparnya berkumpul di bandara untuk mengantarkannya dan Ravindra, pastinya tanpa sepengetahuan dari Jean.


Mereka semua tak henti-hentinya mengeluarkan air mata, terutama mama Hani. Ratu memeluk Mamanya, walaupun tengah menggendong Ravindra.


"Jangan nangis, Ma. Nanti Ratu tidak bisa tenang di China," lirih Ratu. Mama Hani mencoba meredakan tangisannya.


"Kamu jaga diri baik-baik disana, kalau butuh apa-apa hubungi kami ya?"


"Iya pasti, Ma." Ratu menguraikan pelukannya.

__ADS_1


"Oma jangan nangis," ujar Ravindra sambil menghapus air mata omanya yang berada di pipi. Bibir mama Hani bergetar menahan diri agar tidak menangis lagi.


"Iya Oma tidak nangis kok. Ravindra disana baik-baik ya, jagain Mama dan calon adiknya," pesan mama Hani pada Ravindra.


Ravindra manggut-manggut. "Iya, Oma."


Mama Hani mencium kedua pipi cucunya. Lalu Ratu memeluk papa Arkana.


"Beneran kamu akan pergi, nak? Kamu tidak bisa ya tunda atau jangan pergi, Papa tidak bisa jauh dari kalian," lirih papa Arkana tak rela jauh dari anak perempuannya.


"Maaf, Pa. Ini sudah keputusan Ratu."


Papa Arkana menghela napas berat lalu melepas pelukannya, ia menatap Ravindra.


"Jagoan Opa baik-baik ya disana, jangan nakal. Ravindra harus jaga Mama dan adiknya nanti disana, oke?" nasehat papa Arkana untuk Ravindra.


"Iya Opa, Rai janji ndak nakal." Ravindra yang masih polos hanya bisa mengikuti kemana pun mamanya pergi, bahkan bocah tampan itu tak tau jika akan pergi jauh dari papanya.


Papa Arkana tersenyum sambil mencium puncak kepala Ravindra. "Pintar, ini baru cucu Opa."


Ratu berjalan ke arah Rivaldo, ia memeluk kakak pertamanya ini. Ia mengelus punggung Rivaldo yang bergetar. "Kakak baik-baik ya disini, jaga kakak ipar dan Elwin jangan sampai mereka kenapa-napa. Tidak usah sedih, aku disana bakal jaga diri baik-baik."


Tapi Rivaldo tidak akan baik-baik saja, bagaimana ia baik-baik saja jika adiknya akan pergi meninggalkan mereka semua yang tengah menanggung luka.


"Kakak janji akan sering-sering mengunjungi kamu dan Ravindra disana."


Ratu tersenyum. "Iya, kak."


Ratu beralih memeluk Karina, kakak iparnya. "Titip kak Rivaldo dan Elwin ya, kak."


"Iya dek, ingat jaga kesehatan dan kandungan kamu," pesan Karina sedih.


Hanya itu yang Ratu bisa sampaikan, ia menghela napas panjang dan melangkah mundur. Menatap mereka satu-persatu yang sudah berlinangan air mata.


Ratu melambaikan tangan, lalu berbalik karena pesawat akan segera take off. Mama Hani merasa sangat terpukul atas kepergian anak dan cucunya. Ia memeluk suaminya erat menahan sesak di dadanya. Semoga waktu bisa bergulir cepat, agar mereka bisa bertemu dengan Ratu dan Ravindra kembali.


Karena tak ingin merasakan sesak yang amat sangat melihat kepergian Ratu dan Ravindra, mereka semua akhirnya memutuskan untuk pergi dari bandara dan pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk.


Jean langsung murka ketika mendengar Ratu pergi bersama Ravindra entah ke negara mana. Bahkan kedua mertua dan kakak iparnya pun seakan bungkam tidak memberitahukan kemana Ratu pergi.


"Berani-beraninya kamu pergi sama Ravindra tanpa memberitahukan aku!" geram Jean pada Ratu.


"Arrggghh!" Jean membuang semua barang yang ada di meja kerjanya.


"Aku akan mencari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun, Ratu!" Jean tidak melepaskan Ratu begitu saja, apalagi Ratu pergi dengan putra kesayangannya.


"Rico!" teriak Jean memanggil asisten pribadinya. Rico langsung tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Jean.


"Ya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rico, ia sangat terkejut melihat keadaan ruangan atasannya yang sudah seperti baru saja dihantam oleh badai. Bahkan Rico melihat mata Jean yang memerah, sepertinya atasannya ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Tolong kamu cek, penerbangan hari ini atas nama istri dan anak saya!" Titah Jean.


"Baik Tuan, secepatnya akan saya laporkan ke anda." Setelah mengatakan itu Rico segera keluar dari ruangan Jean.


"Apa yang anda telah lakukan ke Tuan Jean, Nyonya Ratu? Semoga anda tidak menyesal nantinya," batin Rico, ia yakin penyebab Jean seperti itu karena Ratu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2