Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Tangan Buatan


__ADS_3

Setelah setengah bulan berada di Istana Kegelapan. Tubuh Eleena berangsur-angsur pulih dia sudah bisa berjalan keluar Istana tanpa bantuan pelayan. Istana Kegelapan berdiri kokoh diatas gunung, Istana ini sangat megah dan mewah didominasi warna hitam yang anggun. Istana Kegelapan biasa disebut Kota Tanpa Siang. Bukan tanpa alasan, sebutan itu memang benar adanya. Matahari di kota ini hanya bersinar tiga sampai enam jam saja setiap hari sepanjang tahun.Sinar matahari hanya sedikit hangat dan kondisi sekitar pun tampak seperti sore hari. Kamu tidak akan melihat matahari terbenam, matahari hanya akan menyentuh garis cakrawala saja mereka menyebutnya Matahari Tengah Malam. Eleena menyukai ketenangan dan keheningan Kota ini.


Eleena memandangi gemerlap dan hingar-bingar kota dari Istana Kegelapan. Kota dibawahnya seperti kelap kelip bintang di langit, sangat indah dan cantik. Disanalah, kota yang paling ramai tempat dimana para iblis, siluman, hantu, dan bahkan manusia bertransaksi. Banyak penginapan, tempat judi dan makanan enak di Kota Tanpa Siang.


Eleena mengerucutkan bibirnya sebal.Dia ingin pergi Ke Kota Tanpa Siang tapi Iblis itu belum mengizinkannya. Dia ingat tiga hari lalu dia menuju aula utama dan meminta izin dengan menyunggingkan senyum termanis yang dia punya.


"Aku ingin pergi ke Kota Tanpa Siang. "


"Raja ini tidak akan mengizinkannya. "


Dua hari lalu dia juga ingat saat iblis itu akan makan di meja makan dia meminta izin tapi lagi-lagi.


"Aku ingin pergi ke Kota Tanpa Siang. "


"Raja ini tidak akan mengizinkannya. "


"Tolonglah. "


"Tidak, Raja ini tidak akan mengizinkannya. "


Dan hari ini Eleena berniat akan meminta izin lagi tapi dia mengurungkan niatnya karena dia tahu Nalendra lagi-lagi dan lagi akan mengatakan kalimat.


"Raja ini tidak akan mengizinkanya. "


Eleena tertawa terbahak-bahak dan berguling-guling di lantai mengulangi kalimat itu lagi.


"Raja ini tidak akan mengizinkannya. "


Dia memegang perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa. Eleena seperti orang bodoh yang menertawakan dirinya sendiri. Dia ingat saat Nalendra mengucapkan kata itu dengan datar dan dingin. Tapi bukan Eleena takut malah Eleena menganggapnya lucu. Pelayan yang berlalu lalang tidak kaget sama sekali melihat ketidakwarasan Eleena. Mereka hanya tersenyum menatap Eleena dan membungkukkan badannya. Walau bagaimana juga Nona Eleena adalah tamu terhormat Tuannya dia tidak berani menyinggung Eleena mereka takut kalau-kalau Tuannya akan membunuh mereka.


Melihat hal itu Nalendra yang baru datang segera mendekati Eleena yang sedang tertawa terpingkal-pingkal sesekali gadis itu mengusap air matanya dan kemudian dia tertawa lagi entah apa yang ditertawakan gadis itu.Nalendra menatapnya aneh. "


"Apa yang kau tertawa kan?"


Orang yang sadari tadi tertawa terbahak-bahak kini seketika terdiam. Dia membalikan badannya dan menatap rumit pria tampan di belakangnya. Pria ini selalu tampan, rambut merahnya diikat tinggi dengan mahkota rambut berlapis emas, mengenakan pakaian berwarna merah berpola naga yang disulam dengan hati-hati. Dia sangat menawan dan mempesona.Eleena mengerjapkan mata beberapa kali.


"Bukan apa-apa hanya saja aku teringat sesuatu yang membuatku tertawa. "


Nalendra tidak bertanya lagi dia berdiri di samping Eleena melihat apa yang Eleena lihat.


"Apa kau ingin pergi ke Kota Tanpa Siang?"


Eleena mengangguk mantap dan tersenyum lebar.


"Iya,aku ingin pergi ke Kota Tanpa Siang.


Apakah kau mengizinkannya?"

__ADS_1


Nalendra menatap dalam lawan bicaranya.


"Baiklah kita akan pergi ke Kota Tanpa Siang tapi jangan membuat masalah dan pergi seenaknya tanpa Raja ini. "


Eleena tersenyum semakin lebar saking lebarnya deretan giginya terlihat.


"Baik Tuan. "Eleena membungkukkan badannya meniru pelayan yang hormati padanya.


Nalendra tidak mengatakan apa-apa,dia mengulurkan tangan kepada Eleena.Eleena meraih tangan besar Nalendra dalam sekejap mata Eleena sudah berada di Kota Tanpa Siang.Eleena mengamati sekeliling dia terpana dan terkesima, Kota ini begitu luas disepanjang jalan


tampak toko dan kios sangat ramai tanda warna warni diterbangkan tinggi lentera merah digantung rendah. Pejalan kaki memenuhi jalan. Di sebelah kanannya ada kios yang menjual topeng beraneka ragam. Disebelah kirinya ada orang yang menjual kain berwarna warni.Banyak bermacam-macam makanan di setiap langkahnya.Nalendra berjalan sambil menggandeng tangan Eleena, dia seperti anak kecil yang penasaran sesekali Nalendra menyeret tangan Eleena dengan jengkel. Eleena yang ditarik tangannya hanya patuh mengikuti Nalendra dia seperti itik yang mengikuti induknya. Di sisi lain ada orang yang menunjukan atraksi dengan membuka mulutnya untuk meniup api, di samping pria itu ada juga orang yang menelan api dengan tenang seolah api itu seperti permen. Penonton bersorak, memekik, meneriakkan kata:


"Ulangi...ulangi. "Sambil menepuk kedua tangannya.Setelah pertunjukan selesai mereka melemparkan koin secara acak di wadah pengamen itu. Eleena menarik Nalendra menuju kios yang menjual manisan.


"Belikan aku manisan buah. "Eleena menatap Nalendra dengan tatapan memohon.


"Tidak. "Kata Nalendra dingin.


"Ayolah. "


"Tidak akan. "


"Sekali ini saja. "


Eleena memasang tatapan memohon dengan mata bulatnya yang besar dia seperti anjing kecil yang menggemaskan. Nalendra menghela nafas kasar dan melemparkan koin tembaga kepada Eleena. Dia menangkap koin itu dan memberikannya kepada paman penjual.


Setelah berkeliling dan mencoba beraneka ragam makanan. Eleena berjalan kembali mengikuti Nalendra. Dia sangat senang dan bahagia hari ini, sesekali dia mencuri pandang ke wajah datar dingin tanpa ekspresi Nalendra. Eleena tersenyum kecil. Kemudian langkahnya berhenti di Kedai Sembilan Sembilan. Kedai ini sangat besar dan mewah tempat ini bisa dibilang tempat yang cocok untuk menghambur-hamburkan uang. Penjaga yang berdiri didepan pintu membungkukkan badan memberi hormat kepada Nalendra.


Eleena merasa ditatap oleh pria paruh baya itu. Eleena hanya melengkungkan bibirnya dan menatap balik pria tua itu.Merasa sadar jika dia menatap gadis itu. Pria tua segera mengalihkan pandangan, dia takut jika orang disebelahnya akan mengamuk.


"Apa Nawang dan Renata memberi kabar? "Kata Nalendra datar.


"Tidak tuan, mungkin dia berada dalam kesulitan. "


"Apa yang akan Tuan lakukan ini sudah setengah bulan. "


"Biarkan saja kalau begitu, mereka bukan iblis bodoh. Lagipula Wayan telah menyusul mereka untuk menyelidiki masalah ini. "Kata Nalendra tajam tanpa ekspresi.


"Baik tuan, tuan bijaksana."


Pria tua mengangguk mengerti dia sudah terbiasa dengan perkataan Tuannya yang kasar.Dia tidak ingin mengatakan hal lain dia terlalu takut.Berdiri di sebelahnya saja membuat bulunya meremang tapi bagaimana mungkin gadis ini biasa-biasa saja dia berdiri terlalu santai dan tenang.


"Bawakan Raja ini makanan dan minuman yang terbaik di kedai ini. "Perintah Nalendra.


Pria tua memberi hormat dan berlalu meninggalkan Nalendra dan Eleena.


Nalendra menaiki tangga menuju lantai atas diikuti Eleena dibelakang. Dari atas sini Eleena bisa melihat sungai mengalir. Airnya sangat jernih saking jernihnya Eleena bisa melihat dasar sungai dengan jelas. Sungai ini dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan udara yang sangat sejuk. Banyak juga perahu kecil yang melayang di atas air.

__ADS_1


Eleena duduk di tempat paling strategis berhadap-hadapan dengan Nalendra tidak menunggu lama makanan telah datang. Bau makanan yang menggiurkan memenuhi ruangan. Eleena dengan kalap memakan makanan dihadapannya dia sangat lapar. Nalendra menatap Eleena datar.


Eleena yang ditatap hanya tersenyum lebar.


"Apa kau tidak lapar?"Tanya Eleena.


"Tidak,berhentilah berbicara saat makan. "Kata Nalendra jengah. Eleena hanya bisa tersenyum muram dan menunjuk makanan di atas meja.


"Bolehkah aku makan semuanya?"


Nalendra tidak menjawab dia hanya mengangguk. Eleena yang telah mendapat restu dan ijin segera menghabiskan makanan itu dengan cepat. Pemuda itu menatap Eleena dengan tatapan tidak terbaca. Eleena sangat puas perutnya sudah kenyang dan dia sekarang merasa mengantuk. Eleena memaksa matanya terbuka lebar dengan kedua jarinya. Dia sekarang persis seperti monster dengan mata yang menonjol.


Nalendra yang melihat tingkah aneh dan konyol gadis itu menggelengkan kepala menahan mulutnya yang akan meledak karena menahan tawa. Dia menepuk ringan wajah Eleena. Eleena yang setengah menutup matanya menatap Nalendra bingung.


Pemuda itu dengan paksa membangunkan Eleena dan mengajaknya pulang.


Di ruangan yang gelap yang hanya diterangi cahaya temaran lilin yang mulai meredup seorang pria sedang duduk berhadapan di kursi batu bersama dengan pria tua. Pria misterius menatap bulan dari jendela rumah yang memuakkan. Lengan kanannya masih dibalut dengan perban yang sangat tebal.Hans melepas perban itu lapis demi lapis dengan wajah serius, sesekali dia mengusap keringat di dahinya. Setelah perban itu terlepas semua terlihat bekas jahitan melingkar yang mengerikan di tangan itu. Tangan pemuda misterius yang telah dipotong rapi kini tersambung kembali.Hans membuat tangan itu dari kulit buatan dan tulang orang yang telah mati sihir ini seperti sihir boneka. Tangan itu harus cocok dengan ukuran tangan yang akan dipasangkan. Jika tidak tangan itu akan berbalik menyerang.


Hans menatap puas hasil karyanya.Dia mendesah pelan. Hans mengangkat tangan buatan itu ke atas, ke bawah, menekuk, meluruskan siku, memutar, dan menarik pergelangan tangan.


"Lihat bukankah ini terlihat bagus. "


Pria misterius mengangguk puas. Dia kagum dengan kehebatan Hans. Hans adalah salah satu penyihir hebat dan terkuat didunia.Kekuatanya tidak bisa diragukan.


Pria Misterius telah menganggap Hans seperti ayahnya dan Hans juga sudah mengganggap pria itu seperti anaknya.


Pria misterius merasa wajah wanita sialan itu mengingatkan ia pada mendiang kakak perempuan nya. Ia ingin merebut wanita itu dari tangan Raja Iblis bagaimanapun caranya dia ingin gadis itu menjadi miliknya.


Hans menatap tajam pria misterius,dia memperingati pria itu untuk tidak bertindak gegabah,


"Jangan gegabah, gadis itu bersama dengan Raja Iblis, jika kau bertindak ceroboh bukan hanya tanganmu saja yang hilang mungkin nyawamu juga akan melayang. "


Awalnya Pria misterius hanya ingin menakut-nakuti gadis itu tapi ketika dia mengangkat sabre. Tangannya sudah dipotong oleh Iblis sialan itu.


Pria misterius tersenyum mengejek dia menatap orang yang sedang duduk di kursi batu lebar. Didepan tepat di atas meja batu secangkir teh mengepulkan asap panas.


"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan gadis itu, tidak ada yang tahu jika rencana ini akan berhasil atau tidak sebelum kita mencobanya. "


Hans menatap tidak percaya kepada pria itu dia telah terobsesi oleh gadis milik Raja Iblis dia benar-benar sudah gila. Hans menyesap tehnya pelan dan bertanya,


"Kenapa harus dia?"


Pria misterius tertawa terpingkal-pingkal matanya menatap nyalang kepada Hans yang sedang asik meminum teh panasnya.


"Karena dia mirip seseorang. "Jawab pria misterius singkat.


"Apa kau mencintai dan menyayangi orang itu?"

__ADS_1


"Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri. "


Hans menatap lembut pria misterius dia tahu bagaimana masa lalu pria itu.Dia hanya memiliki seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya. Tapi, kakak perempuan nya sudah mati.


__ADS_2