Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Sengaja Menggodamu


__ADS_3

Nalendra muncul secara tiba-tiba diantara prajurit. Dia melempar Gilang ke belakang, Eleena segera berlari ke arah Gilang dan menangkapnya. Prajurit yang menarik paksa Gilang membelalakkan mata. Nalendra mengayunkan kukunya yang tajam pada prajurit. Tubuh prajurit terpotong menjadi beberapa bagian. Ekspresi para wanita berubah menjadi mengerikan, mereka berbalik menutup mulut dan menahan perut yang bergejolak.


Jika Nalendra punya pengukur amarah, mungkin jarum amarahnya sekarang menunjukkan angka 9. Dia sudah berbaik hati untuk melepaskan mereka tapi apa yang mereka lakukan sekarang membuat Nalendra kehilangan kesabaran. Penatua Jang melebarkan mata tidak mengira akan menjadi seperti ini, dia mencoba lari keluar dari aula istana tapi sayangnya sebelum sampai pintu aula. Penatua Jang sudah dihadang oleh Raja Iblis dengan senyum mengerikan terpasang di wajahnya, Penatua Jang mundur dan jatuh kebelakang, ia menggelengkan kepala.


"Ingin lari dari Raja ini! Berlarilah maka Raja ini akan mencabik-cabik setiap bagian tubuhmu hingga tak tersisa!"


Tubuh Penatua Jang bergetar hebat, dia merangkak ketakutan. Nalendra berjalan santai di depan mangsanya dengan wajah yang dipenuhi oleh darah, dia menyeringai dan menjilat bibirnya. Penampilannya sekarang sangat menakutkan, semua orang yang berdiri di sana tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbicara karena ketakutan.


"Tidak, Jangan bunuh aku. Aku minta maaf. "


Nalendra tertawa terbahak-bahak, matanya mendelik.


"Maaf katamu, apa kau bercanda? Asal


kau tahu Raja ini tidak akan membiarkan seseorang menyentuh milik Raja ini. Orang yang melakukan itu terakhir kali sudah Raja ini bunuh semuanya. "


Nalendra mencengkeram leher Penatua Jang dan melemparkannya secara acak dengan keras. Tubuh Penatua Jang menabrak tembok, sehingga tembok membentuk lekukan yang dalam.


Aula Istana semakin mencekam para wanita berteriak histeris, Nalendra berdiri di depan Penatua Jang yang sedang pingsan, menarik rambut putihnya dengan kasar dan menyeret tubuhnya. Eleena berlari ke arah pemuda itu dan menarik sebelah tangannya dan menggelengkan kepala.


"Sudah cukup jangan lakukan lagi, ayo kita pergi dari tempat ini. "


Nalendra yang diliputi amarah sedikit melunak melihat wajah memohon Eleena, dia menjatuhkan tubuh Penatua Jang yang setengah mati dan setengah hidup dan beranjak pergi.


Guntur yang berada tidak jauh dari aula mendengar kekacauan, segera berlari ke arah Rajanya. Nalendra berkata tanpa ekspresi.


"Bawa orang tua itu ke Istana Kegelapan. "


Guntur mengangguk dan mendekati Gilang yang bergetar ketakutan. Nalendra menarik tangan Eleena dan membantunya menaiki Carberus. Carberus terbang dan meninggalkan aula istana.


Tidak lama kemudian mereka mendarat dengan sempurna di Istana Kegelapan, Nalendra berjalan cepat menuju aula kegelapan. Eleena berlari kecil mengikuti langkah lebar Nalendra. Pemuda itu masih marah dan tidak mempedulikan penampilan yang acak-acakan, dan dipenuhi oleh darah yang mulai mengering. Pelayan yang lewat membungkuk hormat. Nampaknya mereka sudah terbiasa melihat penampilan Nalendra yang seperti malaikat pencabut nyawa.


Eleena menghela nafas dan menggelengkan kepala, dia tahu pemuda ini masih belum puas membunuh dan mencabik-cabik tubuh Penatua Jang.


Nalendra melonggarkan kerah dengan kasar dan duduk di singgasana. Eleena menaiki tangga satu persatu dan berdiri di depan pemuda itu.


"Apa kamu marah karena aku menghalangimu untuk membunuhnya?"


Nalendra menopang kepala dan menjawab dingin.


"Tidak, Raja ini tidak marah padamu. Sekarang kamu tahu orang seperti apa mereka, mereka adalah orang-orang yang licik"


Eleena menatap sepasang mata dingin di depannya. Gadis itu tidak membantah setiap ucapan yang keluar dari mulut pemuda itu.

__ADS_1


"Benar. Aku tidak mengira mereka adalah orang-orang yang seperti itu. Kamu sudah menyelamatkan ayah. Aku berterimakasih kepadamu. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak ada, mungkin ayah sudah mati. Tapi aku mohon kamu jangan membunuh mereka, mereka tidak akan tinggal diam. Perang besar akan terjadi aku tidak ingin hal itu terjadi. "


Nalendra menjawab, dengan suara yang sedingin es.


"Raja ini tidak peduli dengan perang atau apalah itu. Kamu terlalu baik, mereka pantas mati. "


Eleena tersenyum lembut dan menjawab


"Kamu benar mereka memang pantas mati, tetapi jika kejahatan di balas dengan kejahatan dunia tidak akan berakhir baik-baik saja, mereka yang tidak bersalah akan ikut mati. "


Nalendra tidak menjawab. Dia tidak ingin berdebat dengan Eleena. Pandangan Eleena dengan pandangan Nalendra berbeda. Jika Nalendra tidak suka ya bunuh saja sedangkan Eleena selalu memikirkan orang lain. Cinta kasihnya kepada makhluk lain terlalu besar. Kadang gadis ini lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri.


Eleena menghela nafas, pemuda di depannya sedikit sentimental. Jadi Eleena membiarkan saja lalu mengambil sapu tangan untuk membersihkan wajah dan pakaian Nalendra dengan lembut.


"Bersihkan dirimu terlebih dahulu, orang yang melihatmu akan lari ketakutan, aku akan menemui ayah sebentar. "


Nalendra menarik tangan Eleena. Eleena jatuh di pangkuan pemuda itu dengan sempurna. Wajah mereka sangat dekat tanpa sadar dia meneguk ludah dengan susah payah. Nalendra yang melihat ekspresi lucu di wajah Eleena tertawa renyah.


"Kamu bisa menemuinya nanti, tabib sedang memeriksa keadaan ayahmu. Kondisinya masih belum stabil. Sekarang bantu aku untuk membersihkan diri. Bukankah ini malam pertama kita. "


Eleena menggelengkan kepala dan menatap pemuda itu dengan penuh cinta.


"Jangan menggodaku. Aku ingin tahu bagaimana caramu menyamar menjadi Briyan. "


Eleena mengangguk. Dia menjawab dengan bersemangat.


"Ceritakan, bagaimana kamu melakukannya?"


Nalendra menceritakan semuanya dengan detail. Eleena yang mendengarnya tertawa lepas dia tidak menyangka jika Nalendra. Menyekap Briyan di peternakan kuda.


"Bukankah kamu terlalu sadis mengerjai Briyan sampai seperti itu, pantas saja tubuhnya dipenuhi dengan luka, ternyata kamu menyeretnya dengan kuda. "


Nalendra melengkungkan bibir. Menatap mata jernih Eleena yang seperti mata air yang mengalir.


"Raja ini tidak peduli, itu semua salahnya karena berani mengurung mu dan memberimu obat tidur. "


Eleena mengusap kepala Nalendra lembut.


"Terimakasih kamu telah menolongku berkali-kali. Tetapi kamu berutang penjelasan kepadaku kenapa kamu meninggalkan aku? "


Nalendra mengerutkan kening,


"Itu karena Raja ini tidak ingin kamu terluka. "

__ADS_1


"Apa kamu takut aku terluka saat memburu hantu ganas?"tanya Eleena.


Nalendra menjawab,


"Benar, hantu ganas sangat merepotkan. Lain kali Raja ini tidak akan meninggalkanmu lagi, ini yang terakhir. "


Terpampang senyum di wajah cantik Eleena.


"Benarkah. Apa kamu bersungguh-sungguh?"


Nalendra menjawab,


"Raja ini bersungguh-sungguh. "


Eleena sangat bahagia ketika mendengar jawaban Nalendra. Saking bahagianya dia memegang wajah Nalendra dan mencium bibirnya, Nalendra tersentak dengan gerakan Eleena yang tiba-tiba.


Nalendra menekan kepala Eleena untuk memperdalam ciuman. Ciuman menjadi panas dan menggairahkan. Dia ingin meniduri gadis ini sekarang juga. Tetapi, Eleena menghentikan ciuman itu dan berkata.


"Ayo aku akan membantumu membersihkan tubuhmu. "


Nalendra mengedipkan mata dan tersenyum menggoda, lalu menggendong Eleena di pelukannya.


Eleena melepaskan pakaian Nalendra dan membersihkan tubuhnya dengan perlahan. Tangan ramping nya dengan cekatan membersihkan tubuh pemuda itu. Nalendra seperti tersengat listrik sentuhan jari ramping Eleena membuatnya merinding karena gairah.


Nalendra menarik tangan Eleena dia sudah tidak tahan lagi, ingin rasanya dia segera menyalurkan gairahnya.


"Lupakan membersihkan diri sialan itu! aku tidak tahan untuk segera menidurimu. "


Eleena tertawa kecil dan pura-pura mengabaikan pemuda itu. Dia tetap mengusap tubuh Nalendra lembut dengan kain lap. Sesekali jemarinya dengan nakal menyentuh dada dan telinga pemuda itu. Karena Eleena tahu bagian itu adalah daerah sensitif Nalendra.


"Kamu sengaja menggoda raja ini?Aku tidak akan membiarkanmu pergi. "


Nalendra menarik Eleena masuk kedalam kolam air hangat. Lalu ia melepaskan pakaian gadis itu dengan tidak sabar. Namun, tangan pemuda itu berhenti mendadak dia ingat jika Eleena sedang hamil.


"Apa itu akan baik-baik saja jika aku.."


Nalendra tidak melanjutkan ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa karena yang Nalendra tahu di umur kehamilan muda tidak boleh melakukan hubungan badan. Seolah mengerti dengan apa yang ingin dikatakan Nalendra. Eleena tersenyum dan mengangguk.


"Lakukan dengan perlahan, itu tidak akan menyakitinya. "


Nalendra yang mendengar itu langsung mencium gadis itu tanpa ampun. Ciuman dan kecupan itu turun ke leher dan seluruh tubuh Eleena.


Kepala Nalendra dipenuhi dengan gairah.

__ADS_1


__ADS_2