
Hari ini adalah hari pernikahan Eleena dan Putra Mahkota. Meskipun Eleena tersenyum matanya tidak menunjukkan hal itu. Setelah hari ini dia tidak akan bisa menemui pemuda itu lagi. Briyan sangat licik mengurungnya, mengekangnya, dan tidak akan melepaskannya. Eleena bagaikan burung dalam sangkar.
Para pelayan membantu merapikan pakaian pengantin Eleena yang berwarna putih, berpola bunga sakura yang di sulam dan dijahit dengan khusus dan hati-hati. Eleena sangatlah cantik dan mempesona dia seperti dewi yang turun dari surga. Pakaian pengantin yang dikenakan sangat mewah dan elegan tetapi dia merasa seperti memakai baju besi yang sangat berat. Rambut hitamnya di sanggul dengan jepit emas yang sangat cantik. Gadis itu memandangi pantulan wajahnya di depan cermin dengan tatapan kosong.
Para pelayan tidak henti-hentinya mengagumi dan memuji kecantikan Eleena yang tiada tara. Sarah memuji gadis itu dengan mata yang berbinar.
"Nona anda sangat cantik, pangeran sangat beruntung mendapatkan anda. "
Eleena memaksakan senyum di wajahnya dan hanya menjawab singkat.
"Terimakasih Sarah. "
Eleena berdiri tegak dan mengangkat dagu menuju aula istana dengan anggun. Briyan mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berjalan tetapi Eleena hanya memandangi tangan pemuda itu. Dia marah dan tidak suka dengan cara Briyan yang sudah menipunya. Briyan meletakan tangan kembali dan melengkungkan bibirnya.
Briyan mengikuti langkah Eleena di belakangnya. Briyan sangat tampan pakaian pengantin putih yang di kenakan menambah rupawan pemuda berlesung pipi ini, seolah dewa sedang tersenyum saat dia menciptakan pemuda ini.
Eleena menghadap Para Tetua dan Raja Akasia yang tidak berhenti untuk terus tersenyum. Gadis itu menatap mereka dengan tatapan sebaliknya.
Briyan menarik tangan gadis itu. Eleena yang di tarik tangannya menatap marah pada pemuda itu tetapi pemuda itu malah menyunggingkan senyum. Eleena ingin menarik tangannya kembali tetapi pemuda itu segera menghalangi. Dia tidak ingin berdebat jadi dia membiarkan saja.
Pemuda itu menuliskan sesuatu di tangan Eleena menggunakan jemarinya. Pemuda itu tersenyum dan menatap wajah cantik Eleena "Kamu sangat cantik"
Eleena menyatukan alis dan menatap garang pemuda di sampingnya lalu menuliskan sesuatu di tangan pemuda itu "Aku membencimu kamu membohongiku dan menipuku"
Briyan terkekeh pelan dan menuliskan sesuatu di tangan gadis itu yang membuat Eleena mengeryitkan dahi dan menatap aneh pemuda itu.
Briyan memegang tangan Eleena dengan lembut dan menatap wajah Eleena lalu mengucapkan janji pernikahan dan sumpah setia sebagai suami istri dengan khidmat dan khusyuk di hadapan semua orang dengan lancar.
"Saya mengambil engkau Retta Eleena menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita"
Eleena menatap datar pemuda di depannya dan mengucapkan janji pernikahan dengan lancar lalu mereka membungkukkan badan kepada para penatua dan orang tua.
__ADS_1
Mereka yang menghadiri pernikahan berteriak sangat keras dari arah belakang Eleena. Mereka yang mendengar teriakan itu menolehkan kepala secara bersamaan. Betapa terkejutnya, tepat diatasnya sebuah asap berwarna hitam yang sangat pekat dan kelam menuju ke arah mereka dengan kecepatan cahaya. Kerumunan itu menjadi kacau mereka semua berlarian untuk menyelamatkan diri.
Eleena membalikkan badan dan melempar mahkota yang dia kenakan dan menarik pedang dengan cepat.
Asap hitam itu berputar-putar di udara dan membentuk tubuh manusia, tetapi tubuhnya tidak memiliki anggota badan yang lengkap.
Eleena tahu ini adalah masalah besar. Pernikahan yang seharusnya membawa kebahagiaan menjadi malapetaka yang mengerikan. Benda itu seharusnya tidak muncul di dunia ini. Dia menyadari jika benda yang seperti asap hitam dan tebal itu adalah hantu ganas.
Briyan melepas jubah luarnya dan membungkus tubuh mungil Eleena dan mendorongnya kepada para bawahan. Bawahan langsung menjaga Eleena.
Eleena menatap pemuda itu dengan tatapan rumit, tetapi pemuda itu tersenyum lebar.
Hantu ganas menerjang kerumunan manusia dan masuk ke tubuh seorang pria melalui mulut yang terbuka lebar. Pria itu menjerit, matanya melotot, dan tubuhnya mengejang. orang yang melihat penampilan pria itu menatap ngeri dan iba. Hantu itu menyatu dengan tubuh manusia dengan sempurna
Eleena tercengang dan mencoba melepaskan diri dari para bawahan kemudian berlari untuk menyelamatkan para wanita dan anak kecil.
Sang hantu tertawa keras, suaranya memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Dia mengucapkan sesuatu dengan suara mengejek.
Para Penatua dan Raja Akasia menatap hantu itu takut-takut mereka dilindungi dan dikelilingi oleh beberapa penjaga istana. Penatua Jang menyatukan alis berkata lantang dan keras.
"Kau hantu terkutuk apa yang kau inginkan sebenarnya. "
Meski para penatua pintar bela diri tetapi mereka hanyalah manusia yang memiliki kekuatan yang terbatas. Hantu ganas tertawa dan menjawab dengan yakin.
"Aku hanya ingin wanita itu. " Hantu ganas menunjuk Eleena yang sedang sibuk menyelamatkan beberapa orang.
Mereka yang mendengar itu mengerutkan dahi dan mengepalkan tangan. Wajah mereka yang semulai takut berubah menjadi marah.
Penatua Lim yang semula terdiam menjawab dengan tegas dan lantang.
"Kamu hanya hantu terkutuk jangan harap kami akan membiarkan kamu membawa gadis itu dengan mudah. "
__ADS_1
Hantu ganas tersenyum lebar dan mendekat ke arah Briyan yang sedang menatap malas hantu itu. Hantu ganas menggunakan tubuh curiannya dengan sangat terampil.
"Iblis sudah cukup bermain-mainnya. Apa kau akan tetap menyamar menjadi dia? Tunjukkan dirimu tidak usah sungkan. "
Mereka yang mendengar perkataan itu melebarkan matanya dan menatap Briyan secara bersamaan. Ekspresi di wajah para penatua dan Raja Akasia berubah menjadi mengerikan. Wajah Juna yang ramah dan tegas berubah,
"Apa yang kamu maksud hantu terkutuk?" Permaisuri yang berdiri di sampingnya membeku dan semakin merapatkan diri kepada Juna. Sedangkan Rachel yang berada di belakang mereka juga tidak kalah terkejutnya gadis itu menutupi dirinya di antara mereka dan menatap hantu itu dengan takut di antara pundak orang tuanya.
Hantu ganas menyeringai dan menunjuk pemuda berpakaian putih yang kini wajahnya tanpa ekspresi.
"Dia bukan Briyan tetapi Raja Iblis Kegelapan. "
Eleena yang tadi sedang sibuk menyelamatkan orang-orang seketika berhenti secara mendadak dan berlari ke arah pemuda itu lalu berdiri disampingnya. Gadis itu sudah tahu jika orang tersebut bukan Briyan melainkan Nalendra. Dia tahu ketika pemuda itu menuliskan sesuatu di tangan Eleena yang membuat gadis itu bahagia dan tersentuh.
Wujud Briyan berubah secara perlahan menjadi seorang pemuda tampan berambut merah. Mata dinginnya yang sedingin es menatap hantu itu dengan tatapan tak terbaca.
Mereka yang melihat perubahan itu melebarkan mata. Di depannya kini berdiri Iblis Kegelapan yang kejam dan ditakuti di seluruh penjuru dunia. Tubuh mereka tanpa sadar bergetar ketakutan dan berkeringat dingin.
Seketika itu juga ruangan yang semula sedikit tenang berubah menjadi mencekam. Tubuh mereka tiba-tiba membeku dan susah untuk digerakkan.
Nalendra menyeringai dan memanggil seseorang dengan suara lantang.
"Damian apa kamu tidak ingin keluar sekarang?Apa perlu Raja ini meratakan Kerajaan Akasia terlebih dahulu supaya kamu cepat datang?"
Eleena menggelengkan kepala dan menatap pemuda itu seolah mengatakan 'Jangan lakukan itu aku baik-baik saja'
Nalendra menatap wajah cantik Eleena dan mengusap kepalanya lembut. Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa tetapi tersenyum lembut kepada sang gadis. Dia sangat merindukan gadis ini. Nalendra awalnya ingin mengejar hantu ganas tetapi mendengar Eleena akan menikah dengan Briyan langsung pergi menuju Kerajaan Akasia. Tapi, siapa sangka hantu itu datang dengan sendirian di Kerajaan Akasia.
Tidak lama kemudian seorang pemuda berpakaian serba hitam muncul secara tiba-tiba di belakang hantu ganas dan melemparkan rantai yang di selimuti dengan api neraka. Hantu ganas membelalakkan mata tidak menyangka jika Raja Neraka datang bersama Iblis itu. Rantai itu mengeluarkan suara yang berat dan membelenggu hantu ganas tanpa ampun. Damian tersenyum dan melambaikan tangan kepada Eleena dan Nalendra.
"Maaf, aku datang sedikit terlambat. "
__ADS_1