
Hukuman ratusan petir sangat keras, meski tidak mengancam nyawa tetapi rasa sakit yang ditimbulkan akibat hukuman ratusan petir tidak hilang begitu saja, rasa sakit itu seperti ditusuk oleh ribuan jarum dan menyerang setiap inci tubuh Nalendra. Rasa sakit akan semakin menyakitkan ketika menjelang tengah malam. Tanpa Giok Tulang Dewa rasa sakit akan bertambah berkali lipat.
Nalendra berhenti di sudut ruangan, dengan lemah bersandar ke sudut dinding, lalu perlahan meluncur ke bawah, tubuhnya gemetar hebat, bibirnya sangat pucat, gigi terkatup rapat. Kepalanya terkulai ke satu sisi. Nalendra memejamkan mata, menikmati rasa sakit dan tertawa mengejek pada dirinya sendiri.
Nalendra sangat membenci keadaannya sekarang. Terlihat lemah dan menyedihkan. Rasa benci merayap secara perlahan di hatinya. Meski sudah lama Ingatan itu masih terlihat jelas di dalam pikirannya berkelebat cepat seperti memori yang terekam jelas dalam otak.
Pada saat itu adalah saat-saat kelam yang dipenuhi dengan kebencian tak berujung.
Seribu lima ratus tahun lalu
Nalendra adalah Dewa Perang yang memiliki prestasi cemerlang kendati demikian ia memiliki sifat dingin dan acuh tak acuh, tidak sedikit Dewa yang iri dan membenci Nalendra. Salah satunya adalah Mahesa, Mahesa adalah Dewa Laut yang sangat licik selalu menggunakan cara yang kotor untuk menyingkirkan lawannya. Nalendra adalah Dewa Perang yang tidak luput dari pandangan Mahesa. Meski Nalendra terkenal dingin dan acuh tak acuh tetapi prestasinya tidak bisa diragukan atau diremehkan. Dengan memanfaatkan kebencian Para Dewa terhadap Nalendra. Mahesa berhasil menyingkirkan pemuda itu dengan mudah. Mahesa tidak pernah puas menjadi Dewa Laut dia ingin menguasai tiga alam dan menjadi Kaisar satu-satunya di Tiga alam tetapi rencananya diketahui oleh Nalendra yang tidak sengaja lewat.
Semua itu bukan rahasia umum lagi di Istana Surgawi. Mahesa menantang Nalendra untuk bertarung selama tiga hari dua malam. Pertempuran itu dimenangkan oleh Nalendra dengan susah payah tetapi Mahesa tidak puas dengan kekalahannya. Hingga suatu hari Nalendra turun ke dunia manusia untuk membasmi hantu ganas dia bertemu dengan perempuan bernama Naomi. Naomi menyelamatkan Nalendra yang terluka parah karena membasmi hantu ganas. Gadis itu merawat Nalendra dengan sabar dan telaten. Selama setengah tahun Nalendra di rawat oleh Naomi hingga sembuh. Naomi jatuh cinta pada Nalendra tetapi Nalendra tidak membalas perasaan gadis itu. Dia hanya menganggap Naomi sebagai adik perempuan saja. Hal itu membuat Naomi marah. Ia menuntut balas budi karena telah menyelamatkan Nalendra dan berkerjasama dengan Mahesa untuk menjebak Nalendra.
Tidak butuh waktu lama kabar tentang Dewa yang jatuh cinta pada manusia menyebar ke seluruh Istana Surgawi. Kaisar Surgawi menyelidiki hal tersebut tetapi sialnya semua tuduhan Mahesa terbukti benar entah bagaimana cara Mahesa mengumpul bukti palsu tentang Nalendra yang berzina dengan gadis manusia dia tidak tahu. Menurut aturan langit Dewa tidak boleh jatuh cinta dan berzina dengan manusia. Naomi yang pura-pura tidak tahu apa-apa di hukum ratusan petir dan jiwanya dicerai beraikan hal yang sama juga terjadi kepada Nalendra dia juga di hukum dengan hukuman ratusan petir oleh Kaisar Surgawi. Nalendra sangat sangat membenci Naomi dan Mahesa. Ia bersumpah akan membalas dan membunuh Dewa Laut.
Setelah keadaan Nalendra membaik Nalendra menantang Dewa Laut Mahesa untuk bertarung. Nalendra masih diliputi amarah dan kebencian yang teramat besar. Dia bertarung dengan Mahesa seperti orang sinting dan membunuh Sembilan Dewa yang bekerjasama dengan Mahesa lalu menjadikan abu mereka sebagai benda yang mengerikan. Dengan mengorbankan separuh jantungnya Nalendra membuat benda tersebut mereka menyebutnya Giok Tulang Dewa.
Semua Dewa sama saja seperti manusia mereka dipenuhi dengan kepura-puraan. Meski mereka adalah Dewa tetapi moral dan akhlak mereka tidak mencerminkan seorang Dewa sangat hina dan menjijikkan.
Sampah tidak bermanfaat seperti mereka harus segera dibuang karena jika tidak, akan mempengaruhi kualitas sampah yang masih layak untuk di daur ulang. Pertarungan berakhir seri tetapi mengakibatkan Istana Surgawi mengalami kerugian yang tidak sedikit. Kaisar Surgawi sangat marah dia menendang Nalendra dari Istana Surgawi dengan cara yang tidak terhormat. Sayapnya di potong dan kekuatannya diambil. Untuk membalaskan dendam Nalendra mempelajari sihir hitam dan kekuatan jahat.
Menjadi Raja Iblis bukanlah hal yang mudah. Untuk berdiri di atas kejahatan paling atas banyak hal yang harus ia korbankan. Saat Nalendra di turunkan dari Surga dia harus di hukum terlebih dahulu untuk menebus dosa-dosanya di Neraka paling bawah. Nalendra di hukum karena telah membunuh dan membantai para dewa. Dosa itu tidak bisa dimanfaatkan begitu saja namun karena prestasi cemerlang Nalendra ia diberikan keringanan untuk menjalankan hukuman selama 200 tahun di Neraka paling bawah. Tetapi Nalendra tidak kuat menjalankan hukuman yang mengerikan itu. Dengan tubuh yang dipenuhi oleh luka pemuda itu merangkak dari Neraka paling bawah untuk menuju dunia atas. Tepat 150 tahun hukuman dilaksanakan Nalendra kabur dari Neraka paling bawah dan memulihkan diri selama 50 tahun. Kabar tentang kaburnya Nalendra dari neraka paling bawah menjadi heboh di kalangan para hantu dan siluman semenjak saat itu Nalendra disegani dan diakui sebagai Raja Iblis Kegelapan yang merangkak dari neraka.
__ADS_1
Raja Neraka ingin menariknya kembali ke dalam Neraka tingkat 7 tetapi usahanya selalu gagal dan pertarungan selalu di menangkan oleh Nalendra. Damian sudah pasrah ia tidak ingin bertarung lagi dengan Nalendra dan membiarkan pemuda itu pergi.
Nalendra membuka matanya secara perlahan. Pertama kali yang dia lihat adalah Eleena yang duduk di pinggir ranjang, menangis dengan kepala tertunduk.
Nalendra yang baru tersadar tertawa pelan dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Eleena. Aku baik-baik saja. "
Eleena mengangkat kepala, melihat kearah suara berasal ia terdiam beberapa saat mengusap ingus dan sisa air mata dengan kasar dari wajah cantiknya.
"Kamu..Eleena terdiam. Air mata mengalir dan ia melanjutkan. "Kamu pingsan di dekat aula istana. Apa masih sakit? Kenapa kamu tidak membangunkan aku, aku sangat khawatir dan mencarimu seperti orang kesetanan?!" Dan ketika menemukan kamu...
Eleena tidak melanjutkan perkataannya, air mata mengalir lebih cepat dari ucapannya. Dia menangis lagi...
Nalendra buru-buru duduk dan menarik Eleena ke dalam pelukannya. Dadanya sakit dengan cara tidak terbayangkan.
Eleena mempererat pelukannya. Ia terdiam sebentar, kesulitan untuk menjawab Nalendra. Namun, dia tahu pemuda itu bersungguh-sungguh. Pada akhirnya Eleena hanya menganggukkan kepala.
Nalendra membelai rambut Eleena lembut. Sentuhan lembut pemuda itu membuat Eleena merasa tenang, aman, dan juga nyaman sedekat ini dengan pemuda itu.
Perasaan sedih berangsur-angsur menghilang saat melihat pemuda itu baik-baik saja. Eleena mengerutkan bibir dan berkata dengan tidak setuju.
"Kamu yang membuatku menangis, kamu tidak tahu bagaiman perasaanku saat kamu tiba-tiba pergi tanpa berpamitan dan saat aku menemukan, kamu sudah pingsan. "
__ADS_1
Nalendra tersenyum dan tertawa pelan.
"Sudahlah, bukankah aku baik-baik saja dan aku sedang sakit. Kamu harus merawat pasien dengan baik, tidak boleh marah-marah dan harus tetap sabar. "
Eleena bergumam di dalam hati.
Sejak kapan Raja iblis yang tidak sabaran menasehati orang untuk sabar. Apa dia bercanda?
Seharusnya dia mengintropeksi diri sebelum berbicara tentang arti kesabaran.
Eleena menghela nafas sedikit menyesal dan berkata dengan galak.
"Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu dan jangan berpikiran untuk pergi tanpa berpamitan lagi jika kamu mengulanginya lagi aku akan mengikatmu. "
Lekukan di mulut Nalendra tumbuh sedikit lebar.
"Kamu mulai berani mengancam Raja ini. Apa nyalimu tidak terlalu kecil. "
Eleena tidak menjawab dia hanya membalikkan badan membelakangi Nalendra dengan sedikit kesal.
Merasa di abaikan Nalendra menarik selimut dengan kesal dan membaringkan tubuh membelakangi Eleena..
Eleena tertawa pelan dan membalikkan tubuh ke arah yang lain ia menundukkan kepala dan mengecup pipi Nalendra ringan lalu membalikkan badan ke arah sebaliknya.
__ADS_1
Nalendra berkata.
"Kamu!"