
Para pelayan berkumpul mengerumuni seorang pemuda berambut merah yang sedang berdiri di paviliun dekat sungai. Mereka menatap kagum kepada ketampanan pria tersebut. Rachel yang tidak sengaja lewat ikut berhenti melihat pemandangan yang memanjakan mata itu.
"Lihatlah bukankah dia sangat tampan. "Kata pelayan yang berusia tujuh belas tahun.
"Benar siapa pemuda tampan itu?aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. "Kata pelayan lainnya.
"Bukankah, dia yang datang bersama Nona Eleena?"
"Siapa Nona Eleena? "tanya pelayan lain.
"Dia adalah tunangan Pangeran, Nona Eleena telah pergi selama dua tahun dan kembali baru-baru ini. "
Para pelayan yang mendengar itu membelalakkan mata.
"Benarkah apa dia sangat cantik, dia bahkan bisa menggaet pria tampan lainnya, sepertinya mereka memiliki hubungan yang sangat dalam. "
"Benar, bukankah dia sangat beruntung. "
"Lalu bagaimana dengan pangeran bukankah dia memiliki pertunangan dan janji pernikahan dengan pangeran? "
"Iya, tapi sepertinya gadis itu bukan orang yang baik, dia bahkan rela meninggalkan pangeran demi pemuda itu. "Kata pelayan lainnya dengan ekspresi wajah tidak suka.
Rachel yang sadari tadi terdiam dan mendengar mereka bergosip tidak baik segera membentak dan memarahi mereka dengan galak.
"BENARKAH, APA KALIAN TIDAK PUNYA KERJAAN LAIN SEHINGGA MENGGOSIPKAN HAL YANG TIDAK PENTING, PERGI DAN SELESAIKAN PEKERJAAN KALIAN!!!"
Mendengar itu para pelayan yang sedang asik bergosip tersentak kaget,
"Maafkan kami tuan putri Rachel. "
Mereka memberi hormat dan meninggalkan tempat ini dengan cepat. Mereka tahu tuan putri Rachel adalah orang yang sangat galak dan pemarah.
Rachel yang melihat itu menggelengkan kepala, dia marah mendengar omong kosong yang tidak berguna itu. Karena Rachel tahu kakak Eleena bukan orang yang seperti itu. Rachel mengedarkan pandangannya ke arah pemuda berambut merah. Benar saja pemuda itu sangat tampan tapi dia terlihat sangat dingin dan acuh tak acuh membuat Rachel ingin mendekat karena penasaran.
"Kakak kau sedang menunggu siapa?"tanya Rachel tersenyum lebar.
Nalendra mengabaikan gadis aneh itu dan pergi meninggalkan gadis itu dengan tatapan tajam.
Rachel yang merasa diabaikan tertawa keras. Dia merasa pemuda itu sangat menarik berbeda dengan pemuda lainnya yang bersikap sok ramah dan sok kenal kepadanya. Untuk pertama kali di hidupnya Rachel diabaikan oleh seorang pria. Itu adalah sebuah penghinaan harga dirinya sebagai tuan putri tergores dia tidak akan menerima itu.
Eleena masuk kedalam kamar yang bernuansa putih keemasan, lampu gantung cantik berwarna putih tergantung di atasnya dengan elegan, guci antik dan mahal menambah kesan mewah ruangan ini, beberapa lukisan tergantung indah di dinding, bunga-bunga cantik dan segar yang baru dipetik diletakan diatas meja putih keemasan. kamar ini terlalu besar untuk Eleena, Ruangan ini sangat asing berbeda dengan ruangan yang berwarna hitam yang pernah dia tempati. Untuk sejenak dia merindukan kamar itu.
Eleena pergi mencari Nalendra. Briyan yang melihat Eleena berjalan dengan tergesa-gesa segera berhenti didepannya,
"Apa kamu mencari dia?"tanya Briyan lembut.
__ADS_1
"Benar apa kamu tahu dimana dia sekarang?"
"Aku tadi mengantarnya ke kamar tamu. "Kata Briyan cepat.
"Terimakasih aku akan mengunjunginya sebentar. "Kata Eleena cepat dan meninggalkan Briyan yang masih berdiri di depannya. Briyan yang melihat Eleena pergi tanpa menatapnya tertegun, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Eleena yang dulu selalu mengganggunya dan selalu mengikutinya seperti anak itik kini telah berubah.
Eleena mengunjungi Nalendra yang berada di kamar bernuansa putih, kamar ini tidak besar dan juga tidak kecil. Eleena merasa lebih suka berada dikamar ini daripada di kamarnya yang besar. Dia menyelimuti pemuda itu dengan perlahan Eleena menatap wajah tenang pemuda itu ketika tidur. Eleena tertawa pelan dia seperti melihat anak kecil yang sedang tertidur sangat damai dan tenang. Ketika pemuda ini memejamkan matanya dia seperti anak kecil yang polos. Sangat berbeda ketika dia membuka matanya dia seperti binatang buas yang berbahaya. Tangannya tidak tahan untuk tidak membelai wajah tampan pemuda ini. Namun, Eleena takut jika Nalendra akan terbangun jadi dia mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut.
Merasa hari sudah menjelang malam, Eleena menutup tirai dan jendela dengan hati-hati. Dia meninggalkan kamar Nalendra dengan pelan dan pergi menuju air mancur yang berada di tengah taman kerajaan. Air mancur itu berbentuk bundar, disekelilingnya ditumbuhi rumput hijau yang dipotong rapi dan ditata sedemikian rupa.
Rachel yang melihat Eleena berdiri di depan air mancur berjalan mendekat kearahnya. Dia ingin mengagetkan Eleena.
"KAKAK!!!. "Kata Rachel berteriak keras.
Eleena yang mendengar hal itu tersentak kaget dia memegang dadanya, dia merasa jantungnya hampir copot.
"Rachel, kau membuatku ketakutan. "
Rachel tertawa lepas melihat ekspresi konyol di wajah Eleena,
"Kakak, siapa pemuda tampan yang datang bersamamu?"
Eleena menatap Rachel lembut,
"Dia Nalendra. "
Eleena yang mendengar omelan gadis itu tersenyum lembut.
"Dia memang seperti itu tapi kalau kau sudah mengenalnya dia akan sangat baik kok. "
"Apa kakak buta baik dari mananya, aku pokoknya tidak suka dengannya. "Kata Rachel frustasi.
"Sudah, sudah kau akan sangat jelek ketika marah. "
"Aku tidak peduli kakak, kakak selama ini pergi kemana saja aku sangat merindukanmu. "
"Hanya sedikit berpetualang dan mengasah kemampuan, Kakak juga merindukanmu. "Kata Eleena mengelus kepala Rachel dengan lembut. Eleena mengalihkan pandangan kearah lain di sana banyak orang yang sedang sibuk merapikan dan menata sesuatu itu membuat Eleena penasaran.
"Rachel. Kenapa tempat itu begitu ramai apa keluarga Kerajaan sedang melakukan perjamuan. Kenapa juga banyak orang yang berlalu lalang?"
Rachel mengikuti arah pandang Eleena
"Oh itu, dalam waktu dua bulan Istana Kerajaan akan melakukan pertemuan penting, apa kakak tidak tahu?Jika setiap seratus tahun sekali Kerajaan Akasia dan Telapak Dewa akan memperingati perjanjian seribu tahun, dan tepat dua bulan lagi perjanjian seribu tahun telah genap seribu tahun, Setelah seribu tahun mereka akan memperbarui perjanjian itu lagi. "
Eleena menganggukkan kepalanya, Jadi ternyata sudah seribu tahun perjanjian itu berlangsung. Pantas saja pemuda itu sedikit sentimental. Itu semua karena perjanjian itu mengingatkannya pada saat buruk dan menyebalkan itu. Dia harus cepat kembali dan melihat keadaannya.
__ADS_1
"Rachel, aku akan kembali ke kamar dulu untuk beristirahat. "Kata Eleena.
"Baiklah kakak tidurlah kau pasti sangat capek aku juga akan kembali. "Rachel beranjak pergi meninggalkan Eleena.
Eleena pergi dari tempat itu menuju ke kamar Nalendra. Ketika Eleena masuk ke kamar Nalendra pemuda itu sudah tidak ada. Eleena dengan cemas mencari pemuda itu. Dibelakangnya ada tangan kekar yang melingkari pinggangnya dengan erat, hembusan nafas panas menggelitik telinganya.
"Apa kau mencari raja ini? "
Eleena membalikan badannya, betapa malunya Eleena sekarang pemuda itu baru saja mandi, terlihat dari rambut merahnya yang meneteskan air. Tetesan air itu jatuh dipundaknya, tanpa sadar dia meneguk ludahnya dengan susah payah dan mengedipkan mata dengan cepat.
"Aku pikir kamu pergi karena tidak suka berada di Kerajaan Akasia. "
Nalendra menatap lekat-lekat gadis cantik didepannya, lalu jari rampingnya membelai wajah Eleena dengan lembut.
"Haruskah kita kabur?"
"Tidak, aku belum bertemu dengan ayahku. "Kata Eleena cepat
Iblis itu mengerutkan bibirnya,
"Raja ini tidak suka tempat ini warna dindingnya sangat jelek dan mencolok mata. "
Sudut mulut Eleena terangkat pemuda ini sangat lucu hanya karena warna kamarnya tidak sesuai dia mengeluh seperti anak kecil. Eleena tahu Nalendra sangat menyukai warna hitam menurutnya warna hitam adalah warna yang menggambarkan keanggunan, ke misteriusan, kesuraman dan kegelapan hal itu sangat sesuai dengan Nalendra yang kejam.
"Apa itu lucu?"tanya Nalendra datar.
"Tidak. "
"Lalu kenapa kau ketawa?"
"Tidak hanya saja..." Eleena belum menyelesaikan ucapannya tapi pemuda itu dengan tidak sabar membungkam bibirnya dengan bibir Eleena.
"Raja ini sangat merindukanmu. "Kata Nalendra serak, kemudian dia mendorong Eleena ke atas ranjang dengan kuat.
Pupil mata hitam Eleena melebar dia tersentak dengan gerakan Nalendra yang tiba-tiba.
Nalendra yang melihat ekspresi wajah Eleena menyunggingkan senyum.
"Biarkan aku menidurimu sampai puas, aku sangat merindukan suaramu saat kau berada dibawahku.
Eleena tersipu malu dia juga sangat merindukan Nalendra ketika dia menyentuh inci demi inci tubuhnya. Eleena melepas pakaian hitam Nalendra dengan tidak sabar tubuhnya sudah sangat panas dia ingin Nalendra segera menidurinya.
Nalendra yang melihat Eleena yang terbakar gairah tersenyum lebar, dibukanya pakaian gadis itu satu persatu kulit porselinnya yang berwarna kemerahan membuat Nalendra sangat bergairah. Pemuda itu mencium bibir Eleena dengan kasar, digigitnya bibir itu dengan kuat. Nalendra sangat menyukai ciuman yang berdarah-darah dengan Eleena. Menurutnya rasa darah gadis ini sangat manis dan menghangatkan mulutnya. Setelah menggigit bibir Eleena bibirnya turun ke lehernya. Lenguhan polos gadis itu membuat Nalendra bergairah dan bersemangat secara bersamaan. Setelah mengigit dan mencium seluruh tubuhnya pemuda itu memasukkan bagian bawahnya ke bagian bawah gadis itu yang sudah sangat basah, gadis itu melengkungkan punggungnya karena merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan. Gerakan Nalendra yang kasar dan seirama membuatnya Eleena semakin panas, tubuh mereka mengejang kenikmatan secara bersamaan dan kemudian tersenyum puas.
Nalendra tertidur disampingnya, pemuda ini sangat pandai dan lihai dalam bercinta. Eleena sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan pemuda ini dia seperti orang yang sudah kecanduan alkohol. Sekali merasakan akan sangat sulit untuk melepaskannya. Alkohol itu Memabukkan dan membuatnya melayang tinggi. Eleena memakai pakaiannya satu persatu kemudian menundukkan kepalanya mencium bibir pemuda ini dengan lembut. Dia harus kembali ke kamarnya jika orang mengetahui ini mereka semua akan mati berdiri. Eleena tentu saja tidak ingin itu terjadi jadi dia melangkahkan kaki dengan pelan setelah semua aman Eleena segera berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Diantara gelapnya malam seseorang berpakaian serba putih sedang memperhatikan Eleena dari kejauhan dia menyeringai dan hendak beranjak pergi. Namun, sayangnya dibelakangnya ada seorang pemuda berambut merah sedang menghentikan langkah kakinya pemuda itu mendekat ke arahnya dan tersenyum lebar.