
Pagi itu, Eleena dan Nalendra melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Akasia. Mereka sekarang berada di tengah kota. Eleena melarang Nalendra untuk menggunakan kekuatannya saat berada dikawasan manusia karena hal itu akan terlihat mencolok dan menarik banyak perhatian. Setelah mereka memilih kuda terbaik Eleena memacu kuda tersebut ke arah timur di mana Kerajaan Akasia berada. Pemuda itu sedikit pendiam dari biasanya. Setelah kejadian tadi malam Eleena tidak berani berbuat macam-macam tapi Eleena sedikit lega karena telah memberitahu tentang Briyan. Eleena juga akan marah jika seseorang membohonginya, dia sangat membenci kebohongan. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan menuju Kerajaan Akasia dia akhirnya sampai di gerbang utama kerajaan, banyak perubahan yang telah terjadi di Kerajaan Akasia mungkin itu semua karena dampak angin ****** beliung yang menerpa beberapa kota dan desa dua tahun lalu. Perjalanan ini tanpa kendala itu semua karena Nalendra. Tentu saja tidak ada yang berani membuat masalah kepada Raja Iblis. Membawa pemuda itu bersamanya cukup menguntungkan. Briyan memberikan Eleena giok lambang Kerajaan Akasia dengan hanya menunjukan giok tersebut Eleena bisa masuk dengan mudah ke dalam Kerajaan Akasia. Kota ini sangat ramai di sepanjang jalan kiri dan kanan dipenuhi dengan bunga sakura yang sangat indah, Kerajaan Akasia didominasi oleh warna putih keemasan yang sangat mewah dan elegan. Eleena berdiri di pintu gerbang istana yang sangat besar. Penjaga yang berjaga di pintu gerbang menundukkan kepala dan membuka pintu gerbang tersebut.
Eleena berbalik sekilas menatap pemuda dibelakangnya. Melihat Nalendra yang masih diam Eleena tidak tahan untuk menggodanya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Nalendra menatap gadis itu tanpa ekspresi.
"Tidak ada. "
"Apa kau masih marah?"tanya Eleena.
"Tidak. "
"Kamu bohong kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu masih marah. "
"Cepat temui mereka aku tidak betah berlama-lama disini. "
Nalendra tidak bohong dia tidak suka berada di Kerajaan Akasia, tangannya sangat gatal rasanya dia ingin membunuh mereka semua.
Eleena yang mendengar hal itu merasa bersalah, bagaimanapun juga Nalendra pernah bertarung habis-habisan dengan Kerajaan Akasia. Meski Nalendra memenangkan pertarungan itu. Karena itu juga dia kehilangan banyak pasukan dari ras siluman dan hantu tentu saja dia tidak akan memaafkannya hal tersebut karena Kerajaan Akasia yang terlebih dahulu menyinggung Nalendra. Eleena tidak bisa membayangkan betapa dahsyat dan sengitnya pertarungan itu karena akibat pertarungan itu jutaan nyawa melayang. Itu semua karena keegoisan seseorang dan yang menanggung akibatnya adalah orang-orang yang tidak bersalah. Eleena memakluminya kenapa dia tidak betah berlama-lama di Kerajaan Akasia. Walau begitu pemuda itu tetap mengesampingkan semuanya hanya untuk pergi bersamanya.
"Baiklah aku akan cepat. "Kata Eleena.
Eleena memasuki aula yang didominasi oleh warna putih dan biru. Di aula itu beberapa wajah yang dikenalinya menatap kaget kepada Eleena tak terkecuali dengan pria tua berusia empat puluh tahunan yang memakai pakaian mewah serba putih. Pria tua itu duduk di atas singgasana emas dia kemudian berdiri, mendekat ke arah Eleena dan memeluknya dengan erat.
"ELEENA. APA ITU KAMU?"
Eleena yang dipeluk dengan erat hanya menurut saja, pria di depannya kini sudah banyak berubah rambutnya yang hitam mulai memutih, wajahnya terdapat kerutan-kerutan kecil yang menandakan bahwa dia sudah tidak muda lagi.
"Benar ini Eleena Paman. "
"Kemana saja kamu selama ini, kami telah mencari mu kemana-mana tapi kamu tidak ada dimana pun. "Kata Juna.
Juna tidak menyangka bahwa gadis ini masih hidup, dia sangat merindukan gadis cilik ini. Gadis ini bukan hanya bertambah tinggi saja dia juga bertambah cantik. Dilihat dari penampilannya gadis ini hidup dengan baik tanpa kekurangan apapun. Juna sangat lega dan bersyukur. Juna segera menyuruh pelayan untuk memanggil permaisuri dia pasti akan senang melihat anak ini kembali.
Briyan yang datang entah darimana segera berlari menuju Eleena. Dia tahu bahwa gadis ini akan datang. Namun, Briyan menduga bahwa gadis ini akan datang beberapa hari lagi tapi ternyata gadis ini datang lebih cepat dari perkiraannya. Dia bahkan belum menyiapkan apapun untuk Eleena.
"Eleena kamu sudah datang. "Kata Briyan tersenyum lembut.
"Benar, aku pulang. "Kata Eleena menyunggingkan senyum di bibirnya.
Juna melepas pelukannya dan menatap tajam kepada pemuda berpakaian serba hitam dibelakang Eleena. Pemuda ini masih muda tapi dia tidak punya tata krama sama sekali.
Nalendra yang ditatap tajam hanya menyeringai.
"Kenapa?apa kau ingin aku memanggilmu yang mulia dan menunduk hormat kepadamu?"
Juna terkejut, dia tidak menyangka selain tidak punya tata krama pemuda ini memiliki mulut yang tajam dan kasar.
Ruangan yang semula hening kini menjadi tegang seperti busur panah yang ditarik dengan kuat.
__ADS_1
"LANCANG SEKALI!. "Kata salah satu pengawal dengan marah dan keras.
Pengawal yang sadari tadi berdiri seperti patung mendengar perkataan itu segera mengerumuni Nalendra dan mengangkat senjata mereka ke arah Nalendra.
Eleena membelalakkan matanya sempurna dia langsung berdiri ke depan Nalendra dan merentangkan kedua tangannya. Dia harus berbuat sesuatu jika tidak sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Eleena tidak mau hal itu terjadi dia tidak takut jika Nalendra terkena masalah tapi yang dia takuti adalah jika raja dan para pengawal itu akan dicabik-cabik dan dipotong-potong tubuhnya oleh iblis kejam ini. Karena mereka telah berurusan dengan orang yang salah.
"TIDAK!HENTIKAN!" Kata Eleena lantang dan keras.
Briyan yang melihat wajah ayahnya merah padam karena amarah segera mendekat ke arah Juna. Menurut peraturan Kerajaan siapapun yang lancang dan berani kepada raja akan dipenggal kepalanya. Briyan tidak ingin hal itu karena Briyan tahu pemuda dibelakang Eleena bukanlah orang biasa. Dia memiliki aura membunuh yang kuat dan kekejaman diwajahnya.
Briyan sudah menyuruh pelayannya untuk menyelidiki pemuda itu. Mungkin sebentar lagi dia akan tahu siapa pemuda itu sebenarnya jadi sebelum hal itu diketahui dia harus berjaga-jaga.
"MUNDUR. "Kata Briyan tegas.
Pengawal itu mundur kebelakang dan menurunkan senjatanya.
Juna menghembuskan nafasnya untuk menahan emosinya. Sepanjang hidupnya untuk pertama kalinya dia bertemu dengan pemuda yang berani dan tidak tunduk kepada raja. Dia benar-benar tidak takut mati.
"Siapa dia?"Kata Juna kemudian.
Eleena menunduk hormat dan tersenyum lembut.
"Dia temanku Nalendra. "
Juna menatap Eleena sekilas dan menatap pemuda berambut merah dengan penasaran.
Nalendra yang ditatap sedemikian rupa hanya memainkan jarinya seolah jarinya lebih menarik dari orang yang menatapnya.
"Aku akan pergi keluar, selesaikan semuanya dengan cepat. "Kata Nalendra datar.
"Baik. Jangan pergi terlalu jauh. "
Nalendra tidak menjawab, dia membalikkan badan melangkah pergi dan mengangkat tangannya seolah mengerti.
Juna dan Briyan saling bertukar pandang. Seperti mengatakan biarkan saja.
Tidak lama kemudian.
Permaisuri datang diikuti dengan beberapa pelayan. Disampingnya ada seorang gadis cantik berusia enam belas tahun, berpakaian mewah berwarna merah muda dia adalah adik perempuan Briyan bernama Rachel. Mereka datang dari arah pintu kemudian berhenti sejenak untuk memberi hormat kepada Juna. Permaisuri mendekat kearah Eleena, dia tersenyum lembut, dan menarik Eleena ke dalam pelukan.
"Eleena kau kembali sayang. "
Eleena menatap wanita paruh baya didepannya, wanita ini memakai pakaian berwarna hijau muda, rambutnya di sanggul keatas dan dihiasi jepit rambut cantik yang terbuat dari emas berkualitas, meski dia sudah tua dia masih terlihat muda mungkin karena tubuhnya dirawat dengan baik setiap hari.
"Aku kembali bibi Riana. "
Riana terharu dia tidak menyangka bahwa gadis ini masih hidup. Riana menyayangi Eleena seperti anaknya sendiri tapi karena perempuan gila itu gadis ini pergi meninggalkan rumah. Saat itu mereka tidak terlalu memperhatikan hal tersebut dikarenakan bencana datang secara tiba-tiba. Namun, Riana dan para tetua tetap mencari Eleena dimana-mana. Riana meneteskan air matanya dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Eleena dalam masalah, tapi untungnya gadis ini baik-baik saja.
"Bibi jangan menangis aku baik-baik saja bukan. "Kata Eleena menghapus air mata di pipi Riana dengan lembut.
Riana melepas pelukannya dan menyentil kening Eleena.
__ADS_1
"Dasar gadis pembuat masalah, bagaimana mungkin bibi baik-baik saja ketika kau kabur dari rumah. "
Rachel mendekat kearah Eleena dan meraih tangannya.
"Kakak kamu harus tahu, ibu bahkan tidak mau makan selama tujuh hari karena kau kabur dari rumah, kakak memang pembuat masalah. "
Eleena menundukkan kepala merasa bersalah,
"Maafkan aku bibi. "
Riana tersenyum lembut,
"Tidak apa-apa itu sudah lama seharusnya bibi yang minta maaf padamu karena tidak menjagamu dengan baik.
Eleena menggelengkan kepala,
"Eleena yang salah, Eleena berharap bibi memaafkan Eleena. "
Riana tersenyum dan mencolek hidung mungil Eleena,
"Baiklah bibi akan memaafkanmu. "
Juna yang melihat hal itu tersenyum dia merasa sangat bahagia,
"Istirahatlah kamu pasti akan capek karena melakukan perjalanan jauh. "
"Tapi bagaimana dengan ayah paman?"tanya Eleena
"Dia baik-baik saja, besok aku akan mengantarkan kamu untuk bertemu dengan ayahmu, sekarang istirahatlah dulu. "
"Baik paman, terimakasih telah menjaga ayah dengan baik. "
"Itu tidak masalah Gilang adalah sahabat terbaikku dan aku berhutang banyak hal kepadanya. Jadi kamu tidak usah berpikir aneh-aneh paman tulus membantumu. "
"Terimakasih paman Juna, Eleena akan selalu mengingatnya. "
Juna menganggukkan kepala dan memanggil beberapa pelayan,
"Antarkan dia ke kamarnya, biarkan dia beristirahat. "
Para pelayan membungkuk.
"Baik, Yang mulia. "
Eleena pergi meninggalkan aula istana bersama para pelayan.
Setelah Eleena pergi meninggalkan aula istana, Juna memanggil bawahan setianya, bawahan setianya selalu memakai jubah putih, wajahnya ditutupi cadar berwarna putih pula tidak ada yang tahu siapa orang misterius ini,
"Selidiki pemuda arogan yang bernama Nalendra itu secepatnya. "
Pelayan itu berlutut dan mengatakan.
__ADS_1
"Baik. "
Juna tidak suka kepada pemuda yang datang bersama Eleena, dia merasa ada yang salah dengan pemuda itu, dan sepertinya hubungan mereka bukan hanya teman saja dia tidak akan diam saja melihat kedekatan mereka.