
Pagi itu sangat cerah, rerumputan bergoyang tertiup angin Nalendra dan Eleena berjalan dengan keheningan. mereka berkutat pada pikirannya masing-masing. Pemuda itu tidak banyak berbicara tapi dia sudah terbiasa. Mereka melewati jalan setapak yang kiri dan kanannya dipenuhi pohon maple. Setelah melewati jalan setapak ini mereka akan melewati hutan, mungkin mereka akan sampai ke Dermaga Berbintang saat sore hari. Saat di pertengahan hutan mereka dihadang oleh beberapa orang, Mereka menunggangi kuda berwarna hitam, pelana dan tali kekangnya terbuat dari kulit yang dilapisi emas, dikiri dan kanan berdiri beberapa prajurit yang memakai baju zirah bersenjata lengkap, ditangan prajurit terdapat bendera berwarna hitam yang berlambang Kerajaan Akasia, didepannya ada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, memakai pakaian mewah berwarna putih. Dia adalah Briyan. Pemuda itu mengerjabkan matanya tidak percaya didepannya berdiri seorang gadis yang ia kenal, dibelakang gadis itu ada seorang pemuda berambut merah yang menatapnya galak.
"Retta Eleena. "Kata pemuda itu dengan lantang.
Eleena memandang pemuda itu sekilas kemudian lekas melompat kedepan Nalendra untuk menghalangi niat membunuh pemuda itu. Nalendra yang merasa tindakannya dihalangi oleh Eleena mengerutkan kening tidak suka.
"Minggir. "Kata Nalendra dingin.
Eleena menatap pemuda itu dan berkata pelan,
"Jangan membunuhnya aku mengenalnya. "
Nalendra merapatkan bibirnya, dan menyilangkan kedua tangan dengan angkuh. Dia bertanya-tanya siapa pemuda tersebut. Entah mengapa dia sangat kesal dan jengkel ingin sekali Nalendra membunuh pemuda itu.
"Briyan. "Kata Eleena datar.
Briyan katanya, siapa sih pemuda tersebut?
Pemuda yang merasa dipanggil tersenyum lebar, saking lebarnya lesung pipinya terlihat jelas. Dia tidak menyangka gadis itu masih hidup dan berdiri dihadapannya.
Briyan turun dari kuda dengan ringan dan mendekat ke arah Eleena. Pemuda itu mengangkat tangannya ke depan hendak memeluk Eleena. Tapi dihalangi oleh pemuda berambut merah. "Singkirkan tanganmu. "Kata Nalendra galak. Eleena tertawa cekikikan dan menatap lucu kedua pemuda tersebut. Yang satu karena tidak suka miliknya disentuh yang satunya ingin melepas rindu karena telah lama tidak bertemu. Melihat hal tersebut Briyan segera menurunkan tangannya dia menatap kesal pemuda berambut merah dan bertanya pada Eleena dengan lembut.
"Siapa dia? "
Merasakan ketegangan yang luar biasa seperti tali yang ditarik dengan kencang dan bisa terputus kapanpun. Eleena cepat memperkenalkan mereka satu persatu.
"Kakak Es Batu, dia adalah Briyan teman masa kecilku. "Kata Eleena menunjuk kearah pemuda berpakaian putih.
Nalendra mengangguk dan menatap sekilas pemuda di didepannya.
Eleena berkata lagi,
"Briyan, dia Nalendra. "Eleena bingung harus menyebut Nalendra teman atau kekasihnya. Walaupun mereka sudah melakukan hal itu bersama, tapi tetap saja dia tidak tahu harus menyebutnya apa.
Briyan mengangguk mengerti dan tersenyum lembut kepada pemuda berambut merah. Sedangkan pemuda yang ditatap hanya menatapnya tajam.
Eleena menghela nafas, jika dia tidak segera memisahkan mereka berdua mungkin mereka akan saling bunuh membunuh.Namun, Briyan adalah pemuda yang dewasa dan lembut, dia tidak mungkin membunuh seseorang tanpa alasan. Dia terlalu baik. Bahkan dia tidak bisa menginjak semut yang berjalan. Berbeda dengan Nalendra dia adalah orang kejam yang tidak berprasaan. Membunuh seseorang adalah perkara mudah tapi walaupun begitu Eleena tetap menyukainya. Mungkin orang akan bilang bahwa Eleena gila tapi dia tidak peduli sama sekali. Briyan dan Nalendra bagaikan langit dan bumi, api dan air, surga dan neraka. Yang satu seperti malaikat yang satu iblis. Sangat kontras dan berbeda.
Briyan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus tercengang.
"Kembalilah Ke Kerajaan Akasia, Semua orang merindukanmu, dia telah mencarimu kemana-mana. Aku akan tetap memaksamu untuk kembali walau kau menolaknya. "
Eleena melebarkan matanya, dia tidak ingin kembali, Lagipula jika dia kembali ayahnya sudah lama meninggal, dia kembali untuk siapa? dia bahkan sekarang tidak punya siapa-siapa di Kerajaan Akasia.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku akan pergi ke Dermaga berbintang. "
Merasa orang didepannya menolak mentah-mentah dia menyakinkannya lagi.
"Ayahmu mencarimu dia merindukanmu. "
Mata Eleena membelalak sempurna bagaimana mungkin ayahnya yang sudah mati bisa hidup lagi apa dia ingi membuat lelucon. Lelucon itu bahkan tidak lucu sama sekali, Eleena ingat bahwa Luta lah yang telah membunuh ayahnya sendiri. Apa dia mencoba menipuku? Apa orang ini menjadi gila setelah tidak bertemu bertahun-tahun?
"Bukankah ayah sudah meninggal?"
Bodoh Eleena sudah tahu jawabanya kenapa dia bertanya lagi apa dia benar-benar bodoh.
Briyan menatap heran Eleena dan berkata lembut,
"Dia belum mati, hanya saja dia memang sedikit gila tapi ayahanda selalu menjaganya dan mengunjunginya. "
Eleena terkejut,
"Apa? Dia belum meninggal bukankah dia sudah dibunuh oleh Luta. "
Briyan tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Belum, dia berada di ruangan khusus dan dijaga ketat oleh ayahanda. "
Merasa ada sesuatu yang salah Eleena segera mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada aku mungkin hanya bermimpi, bagaimana keadaan ayah?"
"Dia baik-baik saja. "
Eleena tersenyum, dia sangat bersyukur, tidak menyangka kalau ayahnya belum meninggal dia bahagia dan terharu. Eleena tidak tahu harus tertawa atau menangis tapi jika ayahnya masih hidup dia akan kembali Ke Kerajaan Akasia sebentar untuk melihat ayahnya. Dia sangat merindukan ayahnya.
"Baiklah, aku akan kembali ke Kerajaan Akasia setelah kembali dari Dermaga Berbintang. "
Briyan yang mendengar Eleena akan kembali ke Kerajaan Akasia sangat bahagia, dia sangat merindukan gadis ini. Walau gadis ini selalu membuat masalah tapi Briyan tidak masalah. Selama Eleena baik-baik saja.
Briyan menatap pemuda yang berdiri di sebelah Eleena sebentar, wajahnya tampannya menjadi jelek ketika mendengar Eleena akan kembali ke Kerajaan Akasia.
"Baiklah, aku senang kalau kamu mau kembali ke Kerajaan Akasia tapi kenapa kamu harus ke Dermaga Berbintang, aku sudah kesana dan desa itu sepertinya kosong tidak ada penduduknya. Aku juga mendengar rumor bahwa mereka telah dibantai oleh organisasi jahat Bulan Berdarah. Bukankah itu sangat berbahaya jika kamu pergi kesana? "
Eleena menundukkan kepalanya, dia sangat sedih jika teringat hal tersebut.
"Benar tapi sebelumnya aku tinggal disana selama dua tahun ini. "
__ADS_1
Melihat Eleena yang sedang sedih, Briyan merasa bersalah, karena telah berkata seperti itu. Briyan tidak tahu jika dia telah menyinggung hal yang paling sensitif.
"Baiklah, aku akan mengikutimu ke Dermaga Berbintang. "Kata Briyan lembut.
"Tidak usah repot-repot, aku sendiri yang akan mengantarnya. "Kata Nalendra dingin.
Eleena baru sadar bahwa Nalendra sejak tadi berdiri di sampingnya dengan sabar menunggu Eleena yang sedang berbicara pada Briyan.
Dia tersenyum, ternyata pemuda kejam ini bisa sabar juga melihatnya Eleena ingin tertawa lepas.
Bukankah dia sangat manis?
Briyan menatap pemuda berambut merah yang sedang berdiri di sebelah Eleena. Pemuda ini sangatlah dingin, tidak pernah tersenyum sama sekali, perkataannya setajam silet dan sangat kasar, ekspresinya selalu datar, dan acuh tak acuh Bagaimana dia bisa bertemu pemuda kasar ini? Dia bahkan tidak punya tata krama sama sekali. Sangat angkuh dan arogan.
Tanpa sadar Briyan mengerutkan keningnya. Setelah mengamati pemuda itu dari atas sampai bawah dia mengangguk. Walau pemuda ini sangat angkuh dan arogan sepertinya bela dirinya sangat bagus. Jadi dia akan mempercayakan Eleena kepadanya.
"Baiklah aku akan kembali ke Kerajaan Akasia dulu. Aku akan menyambut kepulanganmu bersama penduduk Akasia dan kau. "Tangan Briyan berhenti ke arah Nalendra. "
"Jaga dia baik-baik jangan sampai dia terluka, jika dia terluka aku akan membunuhmu. "
Nalendra menganggukan kepala.
"hmm. "
Briyan Merasa bahwa pemuda itu baik kepada Eleena, Eleena pun sepertinya juga percaya kepada pemuda itu, jadi dia tidak mengkhawatirkan apapun lagi
dia tersenyum kearah mereka dan pergi meninggalkan mereka dengan tenang.
Eleena melambaikan tangan kepada Briyan. Seketika itu juga tempat yang semula ramai menjadi hening. Eleena dan Nalendra membalikkan badan dan melanjutkan perjalanannya menuju Dermaga Berbintang. Eleena mengelus dadanya dia sempat khawatir jika akan ada pertumpahan darah yang mengakibatkan terbunuhnya seorang Pangeran dari Kerajaan Akasia. Bukankah itu tidak lucu, tapi siapa sangka pemuda ini tidak melakukan apapun dia bahkan memberi ruang Eleena untuk mengobrol bersama Briyan.
Eleena tersenyum dan berkata lembut kepada pemuda disampingnya,
"Terimakasih, untuk tidak membunuhnya. "
Nalendra memiringkan kepalanya, dia tersenyum genit kepada Eleena dan berkata,
"Tidak masalah, tapi bukankah kau harus memberikan Raja ini hadiah karena telah melepaskan Briyan Briyanmu itu dengan mudah. "
Eleena tersipu malu,
"Apa yang kau inginkan? "
Nalendra tidak menjawab, dia menundukkan kepala meletakkan bibirnya di bibir mungil gadis itu. Eleena membelalakan mata, tapi kemudian mengalungkan tangannya ke leher Nalendra.
__ADS_1
Mereka berciuman dengan panas.