Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Efek Dari Hukum Ratusan Petir


__ADS_3

Nalendra membalikkan badan. Ia menahan mulut yang bergetar. Detik berikutnya setelah Eleena pergi Nalendra tertawa keras. Ia menolak tertawa di hadapan Eleena karena dia tahu Eleena akan memasang wajah cemberut yang mungkin membuat Nalendra tidak bisa berhenti tertawa.


Setiap tingkah Eleena sangat lucu dan menggemaskan. Gadis itu benar Nalendra bersyukur memiliki gadis itu di sampingnya. Hari-hari yang kelam sedikit berwarna karena kehadiran Eleena. Awalnya Nalendra cuma ingin bermain-main saja tetapi tidak menyangka dia sendiri yang terjebak dalam permainan. Dia bahkan lupa bagaimana cara untuk kembali. Nalendra yang sakit memejamkan mata.


Tidak lama kemudian Eleena datang bersama dengan tabib tua. Wajah cantiknya dipenuhi dengan kecemasan. Tabib tua mendekat dan memeriksa tubuh Nalendra ragu-ragu. Dia takut-takut menyentuh pergelangan tangan pemuda itu. Selama pemeriksaan tabib tua tidak berani menatap wajah Nalendra dia hanya fokus menatap pergelangan tangan. Setelah selesai tabib tua melepas tangannya dengan cepat.


"Raja Iblis baik-baik saja, cukup dikompres dengan air dingin maka dia akan cepat sembuh. "


Eleena menggigit bibirnya lalu duduk di pinggir ranjang. Pemuda itu masih menutup kedua mata.


"Tapi kenapa dia tiba-tiba sakit tidak biasanya Raja Iblis sakit bahkan kemarin aku masih melihat dia baik-baik saja. "


Tabib tua menjawab dengan tenang.


"Itu karena seminggu lagi perjanjian seribu tahun akan diselenggarakan. Setiap seratus tahun sekali tubuh Raja Iblis akan melemah ketika mendekati perjanjian tapi nona Eleena tenang saja karena dia akan sembuh dengan sendirinya. "


Setelah mengatakan tabib tua langsung pergi. Eleena menyentuh dahinya lagi. Meskipun Nalendra orang yang kejam tetapi saat sakit dia akan berubah menjadi orang yang sangat manis dan manja. Mengingatkan Eleena pada anak kecil dengan wajah kemerahan berbaring di atas ranjang dengan selimut kebesaran sehingga wajah polos dan lugunya membuat Eleena memberi kasih sayang lebih.


Eleena memanggil Amanda untuk membawakan sebaskom air dingin. Setelah sebaskom air dingin datang dengan cekatan Eleena mencelupkan kain dan meletakan di kening pemuda itu, ia mengompres Nalendra dengan lembut dan telaten. Hal itu dilakukan berulang kali hingga langit mulai menjadi gelap.


Eleena tidak tahu sekarang jam berapa tetapi jika dilihat dari langit yang mulai gelap mungkin sekarang sudah malam. Sesudah memastikan suhu di tubuh Nalendra sedikit menurun Eleena lantas berbaring sembarangan di dekat pemuda itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian alis Nalendra sedikit bergerak, mata phoenixnya terbuka secara perlahan, dia meraba ranjang mencari Eleena. Keningnya berkerut karena tidak menemukan gadis itu di sebelahnya, Nalendra mengangkat kepala sedikit, memutarnya ke kanan dan ke kiri lalu ke bawah. Nalendra tercengang gadis itu tidur dengan santai di atas tubuh bagian bawah miliknya. Seolah miliknya adalah bantal yang sangat empuk. Posisi tidur Eleena sangat berbahaya, ia langsung duduk dan membetulkan posisi tidur Eleena.


Setelah membetulkan posisi tidur Eleena, Nalendra menguncir rambut merahnya sembarangan ke belakang, berdiri dari ranjang dan pergi ke penjara bawah tanah untuk menemui Pandu.


Penjara bawah tanah sangat gelap tidak ada cahaya yang menyinari lorong panjang ini hanya beberapa cahaya lilin temaram yang menyinari tempat kelam ini. Di ujung lorong ada pintu bermekanisme yang dijaga oleh pria bertubuh kekar dan bersenjata lengkap. Penjaga bertubuh kekar dan berwajah seram membungkukkan badan dan membuka pintu bermekanisme. Di balik pintu terdapat ruangan yang sangat besar tetapi berandanya sempit, menjulang ke atas jalan setapak berbatu. Suasananya suram dan dipenuhi dengan bau kematian.


Di dalam penjara, ada lebih banyak penjaga berbadan tegap dengan senjata lengkap. Jeruji penjara sebesar lengan pria dewasa, terbuat dari kayu yang kokoh dan kuat. Para penjaga memberi hormat kepada Nalendra. Jeruji penjara hanya diisi oleh beberapa orang berdosa mereka yang tidak ingin berbicara akan disiksa hingga orang tersebut membuka mulut.


Nalendra mendekat kepada penjaga yang masih muda usianya sekitar akhir 20 tahunan untuk membukakan pintu di belakangnya. Penjaga berusia 20 tahunan membukakan pintu dengan takut-takut. Di dalam jeruji penjara terdapat seorang pria berusia 20 tahunan diikat pada kayu berbentuk salib, tangan dan kakinya diikat dengan sangat kuat, tubuhnya dipenuhi dengan luka terbuka yang mengerikan meski begitu dia tidak mengeluh sedikitpun.


Pandu membuat satu matanya. Di depannya berdiri pemuda tampan dengan wajah yang sedingin es dan dipenuhi dengan hawa membunuh yang sangat kuat. Pandu memaksakan seulas senyum di bibirnya yang terluka.


"Tuan, akhirnya anda datang. Harus sampai kapan aku seperti ini jika anda ingin membunuhku bunuh saja aku. Siksaan ini terlalu menyakitkan. "


"Raja ini sudah bilang tidak akan membunuhmu dengan mudah, kamu telah melanggar perintah yang Raja ini berikan. Kenapa kamu menemui Eleena lagi setelah Raja ini menyuruhmu untuk pergi menjauh. Katakan apa sebenarnya tujuanmu. "


Pandu mengangkat kepala dan berbicara dengan pelan.


"Tuan, hamba sudah melakukan semua yang anda perintahkan. Mencari Nona Eleena selama bertahun-tahun dan ketika menemukan hamba membawa dia pulang mengurus dan memberi tempat tinggal. Bahkan semua orang percaya jika hamba telah mengkhianati tuan. Bukan hanya itu saja, hamba telah membunuh penghianat Wayan, menghasut penyihir emas untuk menemui penyihir perak supaya tuan bisa membunuh mereka sekaligus. Tuan terlalu kejam memperlakukan hamba. Mohon pertimbangkan pengabdian hamba selama tahun-tahun terakhir untuk memberi hamba sedikit keringanan karena telah melakukan semua perintah tuan dengan baik. "


Nalendra terdiam selama beberapa saat.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Pandu benar. Pertemuan Nalendra dan Eleena bukanlah ketidaksengajaan. Semua karena telah di rencanakan oleh Nalendra dengan sempurna. Bertemu Eleena di atas gunung adalah skenario yang telah Nalendra siapkan. Gunung tiba-tiba bergetar, terjatuh ke dasar jurang dan bertemu dengan hantu pembawa petaka merupakan rencana Nalendra. Akan tetapi Wayan merusak semuanya, dia bahkan bersekongkol dengan penyihir perak untuk mendapatkan Eleena namun usahanya telah digagalkan oleh Pandu atas perintahnya. Tetapi, Nalendra sudah menyuruh Pandu untuk pergi sejauh mungkin tetapi lagi-lagi Pandu kembali ke Istana Kegelapan dan menculik Eleena. Rencana itu bukan rencana Nalendra Pandu sengaja melakukan hal tersebut entah tujuannya apa.


Pada awalnya Nalendra hanya menginginkan Giok Tulang Dewa yang ada di tubuh Eleena. Namun, sekarang Nalendra tidak peduli dengan Giok Kematian lagi asal gadis itu selalu ada disampingnya itu sudah cukup.


Dia yang telah bermain api setelah api dinyalakan dan melahap apa saja api akan sulit di padamkan. Seperti itulah hati Nalendra sekarang, kebaikan dan ketulusan gadis itu membuat Nalendra melupakan segalanya.


Nalendra masih diam di sana selama beberapa saat. Dia menatap Pandu dengan wajah kaku. Sudut bibir Nalendra terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Baik Raja ini akan memberikan sedikit keringanan setelah kamu meminum timah panas. Kalau kamu bisa bertahan Raja ini akan melepaskan kamu begitu saja. Bagaimana?"


Nalendra membalikkan badan dan berbicara dengan lantang.


"Bawakan pemuda itu timah panas! suruh dia menghabiskan semuanya jangan sampai tersisa sedikitpun! Jika masih tersisa Raja ini akan menyuapi kalian satu persatu! "


Tanpa menunggu jawaban Nalendra keluar dari ruangan dengan angkuh. Sosoknya melintas dan menghilang begitu cepat.


Wajah Pandu di sana sedikit pucat bertambah pucat seperti kertas putih. Pandu berteriak histeris dan meronta-ronta. Kayu salib yang menopang dirinya bergetar hebat.


Nalendra bukan orang bodoh meski Pandu melaksanakan perintah dengan sangat baik tetapi pemuda itu memiliki maksud tersembunyi. Untuk mencegah hal buruk yang mungkin terjadi Nalendra harus membungkam mulut pemuda itu selamanya.


Dia harus menyelidiki masalah tersebut dengan hati-hati karena Nalendra yakin masalah ini masih berhubungan dengan Mahesa. Mahesa adalah Dewa Laut yang sangat licik seharusnya ia mencarinya lalu membunuh orang itu dan menjadikan tubuhnya abu seperti Dewa yang lainnya.

__ADS_1


Karena peristiwa tersebut membuat tubuh Nalendra melemah. Seminggu sebelum dia diturunkan dari Surga Nalendra


di hukum dengan hukum ratusan petir. Efek dari hukuman tersebut masih terasa di tubuhnya sampai saat ini.


__ADS_2