Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Ketegangan


__ADS_3

Eleena tersenyum dan melambaikan tangan kepada Damian lalu menekankan kalimat di setiap ucapannya.


"Raja Neraka kau datang tepat waktu. "


Juna, permaisuri, dan penatua serta semua orang kerajaan menatap Eleena dengan ekspresi yang sama yaitu terkejut. Kini mereka tahu gadis di hadapannya adalah orang yang sangat mengerikan. Eleena yang ditatap sedemikian rupa menatap mereka datar. Rupanya gadis itu masih kesal dan marah kepada Briyan yang sudah membohonginya.


Juna maju selangkah dan bertanya dengan nada tinggi yang tidak enak untuk di dengar.


"Raja Iblis dimana Briyan? Kembalikan dia sekarang!"


Nalendra melipat tangan, dan berkata angkuh.


"Ah dia! Nalendra berpikir sejenak lalu meletakan tangan di dagu dan memiringkan kepala. "Raja ini tidak tahu mungkin dia sudah mati! Karena manusia rendahan itu berani menyentuh milik Raja ini!"


Juna mengepalkan tangan, wajahnya yang lembut berubah menjadi monster yang mengerikan yang di selimuti oleh amarah yang meluap-luap.


"Kamu membunuhnya! Beraninya kau membunuh putraku yang berharga!"


Permaisuri yang mendengar itu tertegun, matanya berkaca-kaca, dia menarik pedang dan mendekat ke arah Nalendra dengan marah. Rachel yang melihat itu berteriak histeris. "Tidak! Ibu jangan!" Riana mengarahkan pedang pada wajah tampan Nalendra. Eleena merasakan suasana menjadi tegang dan mencekam langsung mendorong Nalendra kebelakang dan merentangkan tangan untuk memblokir pedang.


Eleena berkata lantang tetapi sopan.


"Bibi hentikan!"


Riana menurunkan pedang dengan perlahan. Wajahnya yang biasanya lemah lembut menatap gadis itu dengan sinis.


"Kamu adalah gadis yang mengerikan Eleena, kamu membela iblis itu daripada Briyan yang sudah bersamamu sejak kecil. Kamu sudah gila Eleena, dia raja iblis! Bagaimana mungkin kamu memilih bersamanya, aku tidak habis pikir denganmu, Briyan bahkan masih ingin menikahi mu meski dia tahu kamu sedang mengandung anak iblis itu. "


Awalnya Eleena ingin menyelesaikan masalah ini dengan diam-diam tetapi tidak terpikirkan bahwa Briyan memberitahu semuanya kepada Riana. Sampai sekarang Eleena masih tidak mengerti mengapa Bibi Riana mengatakan semua ini di hadapan banyak orang. Dia tidak tahu harus bersifat seperti apa tetapi diam-diam Eleena melirik Nalendra yang berdiri di belakangnya dengan takut-takut. Ekspresi Nalendra awalnya terkejut ketika mendengar berita kehamilan Eleena tapi kemudian berubah menjadi tenang.


Namun berbeda dengan Juna yang mendengar itu wajahnya yang sudah gelap semakin gelap seperti pantat panci, Juna mengusap wajahnya yang menggelap karena amarah dengan kasar.

__ADS_1


"Apa?Kamu hamil anak iblis itu Eleena dan kamu menerima pernikahan itu dengan tidak tahu malu?"


Eleena tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar ucapan Juna. Padahal Eleena secara sadar dan terbangun sudah menolak pernikahan itu dengan tegas tetapi kenapa seolah Eleena yang disalahkan dan menerima begitu saja pernikahan ini.


Para penatua yang mendengar tidak berkomentar, menghela nafas dan menggelengkan kepala. Kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu.


Berbeda dengan Penatua Jang yang sudah memiliki sifat pemarah dia mengutuk dan memaki Eleena dengan lancar tatapan matanya jijik dan hina seolah gadis di depannya adalah pelacur atau ******.


"Apa itu benar Eleena, kami terlalu percaya padamu dan ingin mengangkat mu sebagai wanita terhormat yang pantas bersanding dengan Putra Mahkota, tetapi ternyata kamu memang benar-benar tidak tahu diri dan tidak tahu berterimakasih. "


Eleena melemparkan pandangan satu persatu kepada mereka dengan mata berkabut. Dia masih bingung dengan semua ini. Kenapa dia yang disalahkan padahal Briyan yang memaksa Eleena untuk menikah dengannya. Gadis itu bahkan menolak dengan sopan tetapi pemuda itu mengurung dan memberinya obat tidur. Saat Eleena terbangun hari ini sudah hari pernikahan bukankah itu terlalu kejam. Namun, Eleena masih memiliki kebaikan di hatinya dia berkata dengan sopan dan lembut.


"Benar, saya memang wanita yang tidak tahu berterimakasih tetapi saya sebelumnya sudah menolak pernikahan ini dengan sopan, karena memang saya merasa tidak pantas untuk Briyan. Tetapi, Briyan menipu saya mengurung saya bahkan memberikan obat tidur kepada saya. Kalian yang memaksa saya untuk menikah dengan Briyan. Tapi, kenapa kalian seolah-olah seperti korban. Disini sayalah korbannya. Kalian bahkan mengancam saya, akan membunuh ayah jika tidak menuruti permintaan kalian. "


Eleena berhenti sejenak dan melanjutkan perkataannya.


"Saya mohon dengan tulus tolong lepaskan saya dan ayah saya. "


"Tidak, jangan berlutut! Raja ini tidak mengijinkan kamu untuk berlutut kepada manusia rendahan itu. Berdiri!"


Nalendra menarik Eleena kebelakang sejajar dengannya lalu menatap mereka satu-persatu dengan tatapan tajam dan dingin.


"Kalian para manusia rendahan berani melukai milik Raja ini dan menyentuhnya, jangan harap kalian bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. "


Mereka yang berdiri disana seperti di paku dengan kuat. Ancaman yang dilayangkan kepada mereka bukanlah omong kosong, mereka bergidik ngeri dan tidak berani membuka mulut. Mereka takut jika membuka mulut sedikit saja kepala mereka sudah terpisah dari badannya.


Nalendra sangat marah karena mereka berani menyentuh miliknya bahkan mengurungnya, memberinya obat tidur, dan memaksanya untuk menikah. Mereka benar-benar lancang tangannya gatal sekali ingin membunuh mereka semua tetapi Gadis itu meraih tangannya dan menggelengkan kepala.


Wajah mempesona Nalendra yang dipenuhi oleh amarah seketika menjadi sedikit melunak karena perkataan gadis itu. Nalendra sadar ini tidak seperti dirinya. Dia sangat terkenal dengan iblis kejam yang tidak punya perasaan tetapi gadis ini akhir-akhir seperti magnet yang menariknya.


Para penatua dan Juna saling bertukar pandang. Dia tidak akan melepaskan Gilang begitu saja. Lagipula, orang itu sudah gila dan sudah tidak berguna sama sekali.

__ADS_1


"Kami tidak akan melepaskan Ayahmu, karena kamu telah mempermalukan kami dan membatalkan perjanjian maka Gilang akan di hukum mati. "


Eleena melebarkan mata hitamnya. Ekspresi di wajahnya tidak bisa di artikan. Marah dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Tanpa sadar dia sudah memegang dadanya yang sakit.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian. Ayah tidak salah hukum saja aku dan biarkan dia pergi. "


Hantu ganas yang melihat pemandangan yang sangat indah ini tidak berhenti tertawa. Suaranya yang seperti lonceng menyakitkan telinga orang yang mendengar. Damian mengencangkan rantai jiwa, tatapan matanya tertuju pada pertunjukkan yang menyedihkan ini.


Saat itu juga Juna memberi isyarat pada para pasukan rahasia untuk menyerang Raja Iblis dan Eleena. Tentu saja dia tidak akan melepaskan mereka berdua begitu saja setelah mempermalukan Orang Kerajaan di hadapan banyak orang.


Eleena terdiam, menelaan perkataan Juna dengan seksama lalu menggelengkan kepala tidak terima, mereka adalah orang licik yang bersembunyi di balik topeng. Dia tidak akan membiarkan mereka menyentuh ayahnya tidak sedikitpun.


Mereka mengayunkan senjata kepada kedua orang itu dengan lihai. Nalendra menarik Eleena ke dalam pelukannya dan melompat menjauh dari pasukan rahasia. Pasukan rahasia di lempar mundur oleh Nalendra dengan sekali ayunan tangan. Eleena memeluk Nalendra erat dan berkata dengan lembut.


"Jangan bunuh mereka!"


Nalendra menunduk, menatap gadis cantik yang berada di pelukannya dan senyum terbit di kedua ujung bibir.


"Hanya ingin memberi mereka pelajaran karena berani menyentuh milik Raja ini. "


Pasukan berpakaian serba putih mengerumuni mereka dan mengayunkan pedang. Pertarungan sangat sengit dan dramatis. Nalendra melawan mereka bersama dengan Eleena yang masih berada di pelukannya.


Eleena tidak diam saja seperti gadis kecil yang perlu dilindungi, sesekali dia menendang dan memukul para pasukan mundur menghalangi serangan yang tidak ada habisnya. Eleena memutar badannya menendang mereka satu persatu dengan lihai. Pasukan itu terjatuh seperti daun yang ditiup angin. Mereka seperti pedang tajam yang menari dengan liar dan mematikan.


Damian menatap mereka bosan dengan tangan yang masih memegang rantai jiwa. Hantu ganas seperti hewan peliharaan yang di tarik oleh tali kekang. Hantu ganas mencoba melepaskan diri tapi semua sia-sia.


Guntur datang dengan cara mengejutkan dari ambang pintu bersama dengan Briyan yang sedang diikat dan di bungkam mulutnya dengan kain hitam. Guntur menatap pertarungan itu sambil menggelengkan kepala. Guntur melepas kain yang menghalangi mulut pemuda itu dan melempar Briyan dengan keras kepada kerumunan orang yang sedang sibuk bertarung.


Briyan membelalakkan mata dan berteriak dengan lantang dan keras.


"Hentikan semuanya!"

__ADS_1


__ADS_2