
Eleena kembali ke Istana Kegelapan bersama Guntur saat tengah malam, Eleena memandangi cahaya langit yang menyala-nyala dan menari di langit malam berwarna kemerah-merahan di atas Istana Kegelapan, Cahaya itu seperti matahari yang akan terbit dari arah tersebut. Dia sangat senang hari ini kesedihan yang semula menyesakkan dada telah berangsur-angsur menghilang, besok dia akan pergi bersama Nalendra ke Dermaga Berbintang. Eleena pikir iblis itu tidak akan mengijinkan untuk kembali ke desa, tapi siapa sangka pemuda itu mengijinkan Eleena mengunjungi desa. Dia tidak menyangka Raja Iblis yang sangat ditakuti di seluruh penjuru dunia menemaninya pulang. Eleena tidak pernah membayangkan hal tersebut itu sangat tidak nyata. Saking senangnya dia menari-nari didalam kamarnya dengan riang gembira dan berenergi. Pelayan yang melihat Eleena menari-nari dengan gembira hanya menggelengkan kepala dan berlalu pergi.
Nalendra sedang berdiri di tepi danau, pandangan matanya lurus kedepan tampak sedang mengamati sesuatu, kedua tangannya di letakkan di belakang tubuhnya.
"Banyu.."Panggil Nalendra tanpa menoleh.
Banyu yang sedang duduk asik menyesap tehnya kini segera berdiri dan berjalan ke arah sumber suara dengan cepat. Guntur yang berdiri di belakang tuannya membalikan badan,menatap ke arah Banyu. Seolah mengatakan "cepatlah" kepada Banyu. Banyu membungkukkan badan dan menatap Nalendra ragu-ragu.
"Tuan. "
Nalendra masih tidak menoleh seperti sedang memikirkan sesuatu. Banyu yang merasa Tuannya masih terdiam jadi serba salah, dia ingin membuka mulutnya lagi tapi Tuannya sudah mengatakan sesuatu.
"Kalian besok ikutlah Eleena ke Dermaga berbintang, Raja ini masih punya sesuatu yang harus dilakukan jangan biarkan dia membuat masalah atau dalam bahaya dan jangan biarkan orang lain menyentuh seujung rambut pun, jika ada yang menyentuhnya bunuh saja mereka jangan biarkan hidup. "
"Baik. "Kata Banyu dan Guntur dengan ekspresi wajah menyakinkan.Jika Tuannya telah menginginkan atau mengatakan sesuatu dia harus melaksanakan dengan baik sekaligus itu permintaan yang aneh dan mustahil karena nyawa mereka adalah milik Nalendra. Banyu dan Guntur telah mengabdi pada Nalendra selama hampir seribu tahun. Jika ia harus kehilangan satu tangan dan satu kaki untuk Nalendra mereka tidak akan menyesal. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang tidak mungkin dan tidak akan mengkhianati Nalendra.
"Tuan,apa anda masih memikirkan kejadian dua tahun lalu, dan apakah anda sudah menemukan orang itu?"tanya Banyu dengan hati-hati.
__ADS_1
"Sudah. "Jawab Nalendra datar.
"Apakah gadis itu adalah Eleena, orang yang telah menyerap Giok kematian tanpa sadar? " tanya Banyu dengan cepat.
Banyu dan Guntur sudah berusaha tapi sayang, mereka memang bawahan yang tidak becus. Tapi ketika dia bertemu Eleena dia sadar gadis itu adalah gadis yang telah dicarinya.
Nalendra tidak marah karena Nalendra tahu bahwa Banyu dan Guntur telah berusaha dengan sangat keras bahkan mereka baru kembali akhir-akhir ini.
"Benar, Dia adalah milikku aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhnya. "
Nalendra menjawab mantap ada senyum rumit diwajahnya. Senyum itu antara senang dan kesal, kesal karena waktu itu dia kurang hati-hati memperhitungkan segalanya. Meski itu sempurna tapi masih ada satu persen yang membuatnya tidak sempurna. Nalendra tidak bisa menoleri walaupun itu hanya satu persen saja dan senang karena gadis itu kembali kepadanya.
...----------------...
Dua tahun lalu di kota Dandelion saat musim dingin.
Pinus hijau di kejauhan telah diselimuti salju, rumah, pepohonan, bukit dan jalanan telah diselimuti salju berwarna putih yang terlihat seperti hamparan kapas. Kepingan salju yang berjatuhan menimpa pipi dan tangan seorang gadis yang memakai mantel bulu berwarna merah muda. Sesekali dia mengangkat kakinya yang terbenam hingga pertengahan lutut dengan kesal. Sudah tiga hari dia kabur dari rumah, perutnya bergerumuh karena lapar. Cacing-cacing diperut protes minta diisi tapi Eleena masih jauh dari keramaian dia sekarang berada ditengah hutan. Ia kesal dan memukul perutnya frustasi berharap rasa lapar itu bisa ditunda sejenak. Hatinya sakit tapi dia tidak menangis sama sekali. Eleena merasa lebih baik hidup di jalanan dari pada dirumah mewah yang sangat dingin dan mengerikan itu.
__ADS_1
Seorang pria berjubah hitam berada di dalam gua yang berada ditengah tebing tinggi. ratusan kaki, di sekeliling gua diselimuti oleh kristal berwarna merah ditengahnya terdapat kolam kecil yang dikelilingi oleh delapan patung manusia berjubah, ditangan patung itu terdapat pedang yang di hunuskan ketanah.
Dia merapalkan mantra aneh untuk menyegel benda terkutuk yang ada ditangannya, benda itu berbentuk bulat berwarna merah dikelilingi oleh ornamen naga berwarna emas, sesekali cahaya berwarna merah itu redup dan bercahaya kembali. Benda itu menolak untuk disegel. Pemuda itu memadatkan lagi kekuatannya, benda itu ditekan kedalam kolam air yang jernih dengan susah payah. Setelah merasa tidak ada penolakan dari benda itu pemuda itu menebalkan kekuatannya dan menekannya lagi kedalam air, benda itu telah sepenuhnya masuk kedalam air, air didalam kolam seketika memadat menjadi kolam es. Dia berhasil menyegel benda terkutuk itu tapi sayangnya gua itu tiba-tiba bergetar hebat bebatuan berjatuhan kristal-kristal merah didalam gua retak satu persatu. Kolam yang tadinya sudah menjadi es retak berkeping-keping, benda itu melompat keluar bersama dengan seorang gadis bermantel merah muda yang jatuh dari tebing tinggi ratusan meter. Orang didalam segera lompat dari dalam gua dan menyelamatkan gadis yang terjatuh itu dengan kedua tangannya, dengan sempurna gadis itu jatuh ke pelukan pemuda itu. Jubah hitamnya yang menutupi kepalanya tersapu angin rambut merahnya berkibar seperti api yang menyala. Benda terkutuk itu melayang-layang di udara berhenti sejenak dan tiba-tiba menerjang masuk kedalam tubuh gadis itu dia menyatu dengan tubuh gadis itu seolah olah tubuh gadis itu adalah wadah yang pas dan tepat. Nalendra turun dengan ringan di dekat sungai yang mengalir dibawah tebing, dia meletakan tubuh gadis itu di atas tanah dengan lembut menopang kepalanya dengan satu tangannya dia menepuk-nepuk pipi gadis itu, tapi gadis itu tidak segera sadar dia menatap tidak percaya ke pada gadis didepannya giok itu mengeluarkan cahaya kemerahan di tengah dada gadis itu, Nalendra menarik benda bercahaya itu dengan kekuatannya tapi giok itu tidak bereaksi sama sekali, dia mencoba berkali-kali tapi tetap saja sama. Guntur dan Banyu datang dari atas dan turun disebelah Pemuda itu.
Melihat tuannya sedang kesusahan dan sedang berusaha untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuh gadis yang tidak sadarkan diri di depannya dia tidak berani membuka mulut, setelah percobaan bekali-kali usahanya sia-sia pemuda itu terlihat kesal dan marah, dia menatap kedua pemuda itu dengan tajam, suaranya bergetar karena marah.
"Giok itu berada ditubuh gadis itu dan tidak bisa dikeluarkan." Kata Nalendra menatap kedua pemuda itu sekilas dan mengalihkan pandangan kepada gadis yang tidak sadarkan diri.
Banyu dan Guntur bertukar pandangan, kemudian menatap gadis asing bermantel merah muda. Mereka tercengang dan ingin membantu tapi tahu jika Tuannya juga tidak bisa melakukan apa-apa Guntur hanya menunduk dan ragu-ragu bertanya.
"Bagaimana mungkin, apa yang akan tuan lakukan, apa tuan akan membunuh gadis itu dan mengambil paksa giok itu?"
Nalendra menyilangkan tangannya dan berkata dengan tenang,
"Biarkan saja, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Awasi dia jangan biarkan dia kabur" Kata Nalendra tanpa ekspresi. Suaranya tegas dan penuh penekanan di setiap katanya.
Banyu dan Guntur mengangguk paham dan menjaga gadis itu dengan hati-hati. Karena hari telah malam dan salju mulai turun dengan sangat lebat Nalendra memutuskan untuk membawa gadis itu ke penginapan yang terdekat dari kota itu. Di malam hari kota ini sangat sepi banyak orang yang malas untuk keluar rumah mereka lebih memilih tinggal didalam rumah dengan selimut tebalnya yang menghangatkan. Gadis itu belum sadar juga. Nalendra mondar-mandir didalam kamar hatinya resah entah karena apa. Dia sangat benci berada di tempat dan udara yang sama dengan manusia. Ingin rasanya dia membawa gadis itu ke Istana Kegelapan tapi diluar sedang badai salju angin berhembus sangat kuat. Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang. Langit yang semula cerah menjadi sangat gelap. Cuaca ini tidak baik untuk perjalanan. Melihat Tuannya resah Banyu menghela nafas, tidak biasanya Tuannya seperti ini dia selalu tenang jika menghadapi masalah lain. Tiba-tiba dari luar penginapan terdengar teriakan yang nyaring dan memekakkan telinga orang-orang berpakaian lusuh berlarian tidak tentu arah. Dibelakangnya angin berputar-putar dengan sangat cepat kecepatan lebih dari 5000km/jam bergerak secara garis lurus menerjang apa saja yang dilewatinya, rumah-rumah terangkat dan terlempar. Nalendra dan kedua pemuda dibelakangnya membelalak tidak percaya dia segera mengangkat gadis itu dipelukannya dan terbang menjauh dari penginapan itu. Angin ****** beliung itu berada tepat dibelakangnya dia berlari kesana-kesini dengan cepat. Gerakkannya tidak terlihat oleh pandangan mata orang lain tapi sekali lagi dia tidak beruntung angin itu sudah menerjangnya dengan ganas pemuda dan gadis itu dipelukannya dengan sangat erat. Pemuda dan Gadis itu terombang-ambing di udara dan terlempar entah dimana.
__ADS_1
Banyu dan Guntur telah mencari gadis itu selama dua tahun belakang ini mereka mengelilingi dunia, menaiki gunung dari selatan hingga utara dan ke barat hingga ke timur. menelusuri pedalaman dan desa terpencil dari ujung ke ujung tapi gadis itu bak hilang ditelan bumi. Mereka hampir menyerah tapi siapa sangka Tuan nya lah yang menemukan gadis itu terlebih dahulu. Mereka hampir tak mengenali wajah gadis itu tapi setelah mereka bertemu dan bersama selama beberapa hari dengan gadis itu barulah mereka menyadari jika gadis itu adalah Eleena.
Nalendra telah turun tangan dan tidak akan membiarkan orang lain mengambil miliknya. Dia akan terus membuat gadis itu berada didekatnya dan tidak akan membiarkannya pergi.