
Penginapan Lavender berada ditengah kota. Penginapan itu didominasi oleh warna putih dan hijau, beberapa lentera malam berwarna merah tergantung di atap dengan elegan. Penginapan ini sangat tenang dan hening seolah tidak ada orang yang berlalu lalang dilantai atas dan bawah. Banyu berkata bahwa semua kamar dan penginapan ini telah dipesan oleh Nalendra sebelumnya. Nalendra tidak suka jika dia berada di tempat yang sama dengan manusia. Tapi bukankah Eleena juga manusia. Banyu juga berkata bahwa Nona Eleena adalah pengecualian. Setelah mendengar itu Eleena merasa tersanjung dan berbunga-bunga.Namun, Eleena tidak ingin tidur dia takut jika mimpir buruk itu menghampirinya lagi, dia merasa bersalah kepada Nalendra karena telah menusukknya. Dia masih di antara kelumpuhan tidur.
Kelumpuhan tidur merupakan suatu keadaan seseorang berada diantara mimpi dan bangun.
Nalendra melengkungkan bibirnya ketika melihat Eleena terus menerus membolak balikkan badan untuk berusaha tenang dan nyaman agar bisa tertidur. Dia telah memerintah Banyu untuk menyelidiki ratusan mayat yang menyebalkan itu. Mayat itu hampir membuat gadis itu kehilangan nyawa hal itu membuatnya marah. Dia akan membunuh siapapun yang berani menyentuh miliknya dengan tragis dan mengenaskan. Dia tidak peduli jika harus membunuh ratusan bahkan ribuan manusia karena dimata Nalendra mereka hanyalah seonggok daging yang tidak berguna. Tangannya sudah dipenuhi oleh darah jika membunuh orang lagi itu tidak akan menjadi masalah walaupun dia harus berakhir di neraka dia juga tidak takut. Lagipula, Dewa bawah tanah tidak akan berani menyeretnya secara paksa.
Nalendra mendekat kearah gadis itu secara perlahan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, gadis itu seperti ikan yang menggelepar karena terlalu lama di daratan terlihat resah dan gundah akan sesuatu.
"Kenapa lagi? "
Eleena berhenti membolak balikkan badan dan menatap siluet seseorang yang berdiri diambang pintu dengan mata besarnya, Pandanganya berhenti kearah pemuda itu, Pemuda itu selalu terlihat tampan bagaimanapun cara Eleena memandang. tubuh yang tinggi dan ramping tapi berotot seperti patung dewa dengan pahatan yang sempurna, tatapan matanya yang dingin dan tajam menambah aura liar dan nakal diwajah tampannya, dia sangat menggoda dan menggairahkan sejenis pria yang tidak bisa ditolak siapapun termasuk dirinya,
"Tidak apa-apa hanya saja aku tidak ingin tidur. "
"Ingin pergi jalan-jalan."Kata Nalendra suaranya tidak terlalu tinggi dan rendah.
Eleena merasa bersemangat mendengar ucapan Nalendra dia mendongak menatap iblis tampan didepannya, Pemuda itu telah mengganti pakaiannya dengan warna merah kontras dengan rambut merahnya yang seperti lidah api. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya Eleena memandang sesaat jari ramping dan panjang itu lalu meletakan tangannya diatas tangan ramping Nalendra, tangan Nalendra sangat pas ditangannya dia merasa aman dan hangat. Dalam sekejab mata penginapan yang didominasi oleh warna putih dan hijau berubah menjadi pemandangan yang menakjubkan.
Eleena tercengang,
__ADS_1
Bukan.
Tapi terkesima.
Pupil mata hitamnya melebar menatap pemandangan di depannya. Penginapan yang membosankan telah berganti gambar yang memanjakan mata. Tepat didepannya yang entah dimana, terdapat
air yang mengalir dari tebing yang curam, air yang jatuh membentuk semburan yang indah dan menghasilkan gemuruh air yang menakjubkan, Pemandangan didepannya menciptakan suara yang menenangkan dan memikat hati orang yang memandangnya, Pepohonan yang tinggi dan dedaunan yang rimbun mempesona air terjun ini, cahaya bulan yang menyinarinya menambah indahnya malam ini. Eleena menarik tangan besar Nalendra dengan semangat dia tersandung batu kecil yang tidak tampak oleh matanya tubuhnya kehilangan keseimbangan terjatuh dengan posisi yang ambigu dan tidak senonoh untuk kedua kalinya, tapi yang berbeda sekarang adalah posisi pemuda itu ada di atasnya, satu tangan Nalendra menopang kepala Eleena agar tidak berciuman mesra dengan bebatuan yang tajam dan bergerigi.
Aroma musk sensual dan menggoda menyapu hidungnya. Tanpa sadar dia memejamkan matanya tidak berani menatap ekspresi pemuda itu, dia
sangat malu untuk membuka matanya. Tapi dia tahu bahwa iblis itu sedang tersenyum sekarang. Eleena mencoba menenangkan jantung yang berdebar tak karuan.
Nalendra tertawa pelan menatap tingkah menggemaskan gadis yang berada dibawahnya, ingin sekali dia meniduri gadis ini sampai mati. Sudah dari tadi dia menahan hasratnya yang tak terpenuhi ketika kulitnya bersentuhan dengan tubuh gadis ini, tapi gadis ini selalu memancingnya untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Pemuda itu mengangkat tubuh
"Aku akan menidurimu sampai mati karena kau telah menggoda Raja ini. "Kata Nalendra mengancam tapi ancaman itu terdengar seperti godaan nakal yang menggelitik telingannya.
Pipinya memanas karena mendengar kata vulgar dan ancaman nakal pemuda tersebut. Pemandangan air terjun yang indah telah berganti dengan ruangan yang didominasi oleh warna hijau dan putih. Dia sudah berada di atas ranjang besar berwarna putih, mata pemuda itu menggelap karena gairah. Tangan rampingnya mencengkeram kedua tangan Eleena dan meletakanya di atas kepala. Nalendra menekan tubuhnya diatas ranjang dengan kuat , Eleena menanggalkan pakaian pemuda itu satu persatu dengan jari lentiknya. Eleena menelan ludahnya melihat dada bidang pemuda itu tubuhnya ramping tapi juga berotot sangat proposal dengan bentuk tubuhnya. Eleena menyentuh luka tusuk Didada pemuda itu luka itu kecil tapi dalam. Eleena mengecup luka tersebut seolah ingin mengurangi rasa sakit yang ditimbulkanya. Sentuhan lembut Eleena membuat punggung Nalendra melengkung, dirobeknya pakaian gadis itu dengan giginya mencium, menggigit dan menjilat setiap inci tubuhnya dengan lembut, kulit porselinnya berubah kemerahan karena cengkraman tangan Nalendra. Tubuhnya menggigil kedinginan saat kelima jari itu menyentuh pinggangnya.
"Kau adalah milikku, Hanya aku yang bisa menidurimu"Kata Nalendra serak dan menggoda suaranya dipenuhi gairah kenikmatan. ******* dan lenguhan memenuhi ruangan ini, sentuhan Nalendra membakar inci demi inci tubuhnya dengan hebat. Bagian bawah tubuhnya menusuk dengan marah bagian bawah tubuh Eleena yang sudah basah. Eleena tersentak kaget menikmati setiap goyangan yang diberikan pemuda itu. Rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu di tengah malam, dia telah menyerah karena nafsu sejak lama. Dia tersihir oleh pesona iblis yang memabukkan sejak pertama kali bertemu dengannya, dia tahu jika dirinya tidak akan bisa kembali lagi. Tubuhnya dan hatinya telah menjadi milik iblis itu sepenuhnya.
__ADS_1
Eleena terbangun saat fajar badannya sakit semua, pemuda itu masih tertidur disampingnya, tangan rampingnya melingkar di pinggangnya dengan sangat erat seperti ular yang melilit mangsanya tanpa belas kasih, jubah hitam cantik yang dikenakan pria itu menyatu pas dengan tubuh proposal yang dimilikinya, Eleena memandangi wajah tampan itu tanpa berkedip menyusuri mata, hidung dan bibir tipis merahnya dia meneguk ludah dengan susah payah. Eleena menunduk memandangi tubuhnya yang dipenuhi gigitan dan tanda merah yang memalukan. Penampilanya sekarang seperti pelacur kecil yang haus akan sentuhan dan belaian pemuda itu.
Eleena baru tertidur dua jam sejak tengah malam. Entah berapa ronde pemuda itu melakukanya Eleena tidak ingat. Banyu dan Guntur belum juga kembali hal itu membuatnya lega dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi kedua pemuda itu ketika Tuannya tidur seranjang dengannya, mungkin mereka akan langsung pingsan ditempat. Eleena melepas tangan pemuda itu dengan hati-hati sebisa mungkin tidak membangunkan iblis itu, setelah tangan ramping pemuda itu terlepas dia segera berdiri dan berjalan dengan berjinjit tanpa menimbulkan suara seperti hantu yang melayang. Dia ingin mandi dengan air panas untuk menyegarkan tubuhnya. Eleena menceburkan dirinya ke dalam kolam air panas berbentuk persegi panjang. Uap panas dan bau harum bunga memenuhi ruangan ini menenangkan syaraf dan otot di tubuhnya. Tubuhnya dipenuhi aroma musk pemuda itu, sentuhan tanganya masih terasa ditubuhnya dia adalah pemuda yang sangat ahli dan lihai saat bercinta setiap sentuhanya membuatnya bergetar hebat. Eleena memejamkan matanya seolah dia pernah bertemu iblis itu sebelumnya tapi ketika dia menggali pikirannya lebih dalam dia tidak tahu kapan dan dimana.
Nalendra terbangun karena mendengar suara gaduh diluar ruangan, gadis itu sudah tidak ada disampingnya dia tertidur sangat nyenyak setelah melakukan pertarungan yang memuaskan semalam. Suara gaduh itu berasal dari Banyu dan Guntur mereka sedang memperdebatkan siapa yang membuka pintu didepannya. Mereka takut kalau Tuannya marah karena bersifat tidak sopan.
"Buka pintunya. "Kata Guntur mendorong Banyu kearah pintu itu terletak.
"Kau saja aku tidak berani. "Kata Banyu mendorong dengan keras ke arah pintu. Guntur yang didorong kearah pintu tidak terima. Mereka seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Nalendra yang mendengar kegaduhan dari arah luar nengerutkan dahinya kesal. Dibukanya pintu itu dengan kasar oleh Nalendra. Guntur yang didorong Banyu dengan kuat menubruk tubuh Nalendra dengan keras tubuh Nalendra terhuyung kebelakang. Banyu dan Guntur yang melihat wajah Tuannya yang telah merah padam karena marah segera berlutut sampai lututnya berbunyi BRUUK
Mereka menundukan kepala tidak berani menatap wajah galak Tuannya, Nalendra menghela nafas panjang, mengatupkan giginya rapat menahan amarah.
"Berdiri. "Kata Nalendra galak dan lantang.
Eleena yang datang dari arah belakang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya. Melihat dua pemuda yang seperti tengah dalam bahaya dan meminta untuk diselamatkan.
Eleena menarik tangan Pandu dan Banyu untuk berdiri dan berkata pelan,
"Tidak bisakah kau tidak marah-marah seperti ini dipagi hari. "
__ADS_1
Nalendra tidak menjawab dia menatap Eleena sekilas kemudian menatap tajam ke arah kedua pemuda yang menjengkelkan itu dia berbalik pergi meninggalkan mereka bertiga.
Pandu dan Guntur merasa terselamatkan, jika tidak ada Eleena mungkin sekarang kulit mereka sudah dikuliti dijadikan ikat pinggang dan pakaian hangat musim dingin. Mereka tidak bisa membayangkannya.