Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Sarang Bulan Berdarah


__ADS_3

Sudah tiga hari Nawang dan Renata menyamar menjadi prajurit tapi mereka tidak menemukan Pandu dan Pria misterius. Mereka sekarang berada di sarang Bulan Berdarah. Mereka tidak bisa mengirim kabar atau menerima kabar dari luar. Bulan berdarah terletak di tengah hutan belantara.


Tempat ini seperti labirin bisa masuk dengan mudah tapi tidak bisa keluar. Malam itu Renata dan Nawang mengikuti Pria tua dan Pria misterius masuk kedalam hutan tapi anehnya mereka menghilang tiba-tiba. Renata dan Nawang memasuki hutan tapi mereka seakan tidak bergerak dan hanya berputar-putar saja. Mereka berada di hutan ini selama berhari-hari Renata tidak ingat sudah berapa hari telah berlalu. Nawang dan Renata sudah menyamar menjadi pohon, ilalang dan batu. Tapi hutan didepannya tidak menunjukan reaksi apapun. Hingga suatu ketika prajurit yang memakai baju zirah hendak pergi keluar, sepertinya mereka ingin menyampaikan pesan kepada seseorang.


Benar saja sarang ini ditutupi mantra yang aneh orang yang berada di pinggiran hutan tidak akan ada yang tahu bahwa di dalam hutan terdapat rumah yang sangat besar. Tidak ada yang bisa masuk kecuali orang didalam membuka penghalang itu. Orang yang berada di luar penghalang akan terus berputar-putar sekalipun mereka menyusuri hutan ini seratus tahun mereka tidak akan bisa masuk dan hanya berputar-putar saja. Didalam penghalang ada gerbang besar batu bermekanisme yang dijaga oleh dua orang bertubuh kekar.


Renata telah berganti pakaian dia sekarang memakai baju serba hitam dilengkapi baju zirah, pedang berbilah dua berbentuk bulan sabit di pinggang dan atributnya token giok berwarna hijau yang menunjukan kalau dia salah satu anggota. Dia mengelilingi rumah tua bercat kusam dan jelek itu hendak mencari Nawang. Rumah ini seperti rumah yang terbengkalai dan tidak layak huni tapi siapa sangka mereka memiliki puluhan prajurit yang siap bertarung kapanpun. Renata dan Nawang telah memakai mantra penyamaran dan menghapus hawa siluman ditubuhnya untuk sementara waktu. Walau begitu dia tetap harus berhati-hati misinya adalah mencari tahu dimana Pandu berada dan apa rencana mereka selanjutnya. Renata bisa membunuh mereka dengan mudah tapi Renata ingat perjanjian seribu tahun. Tidak boleh asal membunuh manusia yang tidak bersalah.


Sebelum mereka pergi Tuan Nalendra sudah memerintah kita untuk menyamar menjadi salah satu bagian mereka. Untuk mengawasi gerak gerik mereka dan mencari tahu rencana mereka. Tapi dia malah tidak bisa memberi kabar bahkan terjebak didalam sini.


Dihalaman yang luas didepan rumah tua tiga prajurit sedang menyalakan api unggun dan meletakkan ikan di atas bara api. Mereka sedang berbincang bincang. Renata yang sedang berdiri dibalik tembok mengintip diam-diam dan menajamkan pendengaran.


Pria yang menambahkan kayu berbicara kepada orang yang sedang membakar ikan, "Apa kalian tahu dua minggu lalu Pria misterius itu mengejar Pandu tapi dia gagal mengejarnya bahkan tangannya telah dipotong oleh Raja Iblis. "


"Bukankah Pandu adalah salah satu dari tiga pemimpin Bulan Berdarah, tapi kenapa pria misterius itu menghianati Pandu?"Prajurit yang membakar ikan bertanya sambil meniup api unggun didepan.


Prajurit lain menjawab singkat, "Itu karena Pandu dulu lah yang menghianati Bulan Berdarah dan juga karena Giok kematian. "


Mereka yang mendengar kata "Giok kematian" Saling bertatap tatapan satu sama lain mereka tahu bahwa Giok kematian adalah Giok yang memiliki kekuatan luar biasa. Giok itu bisa membalikan langit dan bumi.


Sungguh kekuatan yang mengerikan.


"Bukankah Giok itu sudah hilang?"Prajurit yang tadi menambahkan kayu bertanya heran dan penasaran.


Prajurit lain menjawab, "Giok itu tidak hilang hanya Raja Iblis yang tahu keberadaanya. "


"Jadi Pandu sengaja mengkhianati Bulan Berdarah dan menjadi mata-mata di Istana Kegelapan untuk mencari keberadaan Giok kematian?"


"Benar. Tapi Giok Kematian tidak ada di Istana Kegelapan."


"Pandu telah mengkhianati Bulan Berdarah dan Raja Iblis karena dia punya maksud tertentu, menurut rumor yang beredar Pandu sebenarnya bekerja sama dengan Organisasi lain. Pandu menganggap Bulan Berdarah hanya sebagai batu loncatan saja, orang itu tidak mudah dia munafik dan dipenuhi tipu daya jadi Pandu memang harus segera ditangkap.


"Prajurit lain berkata pelan, "Jika kita menangkap Pandu bukankah kita bisa mendapat hadiah dan mendapat promosi. "


"Benar. Tapi aku tidak yakin kau bisa melakukannya dia adalah pria yang mengerikan apa kau kesana akan mengantar nyawa. "

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak bodoh. "Jawab Prajurit yang membakar ikan singkat.


Renata yang mendengar itu segera mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah kaki mencari Nawang. Nawang yang sedang dicari Renata ternyata sedang duduk diatas genteng menikmati indahnya bulan dimalam hati.


Renata menghampiri Nawang yang sedang duduk santai menatap langit malam, "Kita harus segera pergi dari sini bodoh. "Renata memukul bahu Nawang dengan keras.


Orang yang dipukul bahunya hanya mengusap tanganya pelan. "Apa kau punya rencana?"


"Tentu saja. "Jawab Renata


"Apa yang kau rencanakan?"tanya Nawang dengan penasaran.


"Kita berpesta malam ini bagaimana?"Kata Renata singkat. Nawang mengerti apa yang dimaksud Renata, mereka tersenyum licik.


Nawang menyeringai dengan mata sabit. "Itu ide yang bagus sudah lama aku tidak menggila. "


Nawang turun dari atas dengan wujud beruangnya. Beruang itu berwarna coklat tingginya lebih besar dua kali lipat dari beruang biasa.


Salah satu prajurit berteriak dengan keras.


"ADA PENYUSUP..."


Semua para prajurit berkumpul mengelilingi beruang coklat. Mereka memandangi beruang itu dengan tatapan ngeri.


Beruang itu menggeram mengayunkan tangan besar berbulu nya secara acak. Prajurit itu berusaha menghindar dengan gesit.


Sementara Nawang mengalihkan perhatian Renata masuk ke dalam rumah tua itu, Renata menuju lantai atas untuk mencari Plakat Giok Naga Putih untuk membuka gerbang. Lantai atas terdapat banyak ruangan dia membuka ruangan itu satu persatu. Renata berhenti di sebuah pintu besi yang sangat besar pintu ini berbeda dari pintu lainnya. Dia membuka pintu itu perlahan, diruangan ini terdapat ranjang kecil yang hanya untuk satu orang disebelah ranjang terdapat meja persegi panjang yang dikhususkan untuk belajar. Renata mengobrak abrik meja dan membuka laci satu persatu tapi Plakat Giok Naga Putih tidak ada disana.


Dibelakangnya ada Pria berjubah hitam sedang terkekeh pelan dan berkata.


"Apa kau mencari ini?"Pria itu adalah Pria misterius dia menggoyangkan Plakat Giok Naga Putih itu seolah mengejek.


Renata membalikan badan dan merebut Plakat Giok Naga Putih itu tanpa kendala. Setelah mendapatkan Plakat itu Renata berlari kencang membenturkan badannya ke jendela dia terjatuh dari lantai atas dan memanggil Nawang dengan lantang. Nawang yang sudah menghabisi separuh prajurit segera berlari ke arah Renata dengan wujud manusia.


Pria misterius tertawa jahat,

__ADS_1


"Aku akan membiarkan kalian lolos kali ini, karena ini adalah bagian dari rencana ku."


Dia membuka penutup wajahnya dan jubah hitam yang menutupi tubuhnya satu persatu.Wajah tampan pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan dengan tahi lalat di atas mulut tergambar di cermin dia adalah Wayan. Di cermin itu terdapat senyum licik dan jahat yang sesungguhnya.


Hans mendekati pria yang sedang menatap cermin dan menepuk bahu pemuda itu dua kali.


"Boneka itu bekerja dengan sangat baik bahkan Raja Iblis tertipu olehmu dia tidak tahu kalau itu palsu, kau benar-benar pria licik kecil yang sesungguhnya."


...****************...


Nawang dan Renata sudah berada di aula Istana Kegelapan. Renata berlutut kearah pemuda yang sedang duduk di singgasana hitam.Sesekali ia mencuri pandang kepada gadis disebelah Tuannya, dia adalah Eleena. Eleena sedang mengipasi Nalendra Kadang-kadang tubuhnya terhuyung-huyung ke depan dan ke belakang karena menahan kantuk.Nalendra yang melihat Eleena terkantuk-kantuk menyuruh Eleena untuk kembali ke kamar. Eleena yang merasa diusir langsung pergi meninggalkan Aula Kegelapan tanpa mengatakan apapun.


Renata yang melihat itu tertegun sejenak kemudian dia mulai membuka mulutnya. Dia berbicara dengan pelan dan hati-hati,


"Tuan Pandu tidak ada di sarang Bulan Berdarah dia telah melarikan diri sebelum Pria Misterius itu menangkapnya, Menurut yang saya dengar Pandu adalah satu dari tiga pemimpin Bulan Berdarah, dua orang lainnya adalah seorang pria tua dan pemuda misterius berjubah hitam. Pria misterius ke Dermaga Berbintang karena dia juga ingin menangkap Pandu karena Pandu telah menghianati Bulan berdarah. Mereka tidak mempunyai niat lain selain menangkap Pandu, untuk kejadian Nona Eleena mungkin karena itu kebetulan saja. "


Nalendra yang mendengar penjelasan itu hanya memasang wajah datar,


"Raja ini sudah tahu. "Kata Nalendra acuh tak acuh.


Nalendra merenung sejenak dan bertanya,


"Tapi bagaimana kalian bisa keluar dengan mudah dari sarang itu bukankah itu sangat aneh? "


Renata yang memang merasakan ada keanehan di tempat itu segera mengangguk,


"Itu benar sekali Tuan, Saya tidak tahu kenapa Pria Misterius itu melepaskan kami dengan begitu mudah padahal Nawang sudah membunuh separuh prajuritnya.Yang anehnya lagi pria itu tetap membiarkan kita pergi tanpa kendala apapun. "


Nalendra yang mendengarkan penjelasan itu menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar. Senyum itu bukan senyum pada umumnya, sangat aneh dan tidak biasa.


Renata yang melihat Tuannya tersenyum hanya menundukan kepalanya.


Nalendra yang melihat Renata menundukan kepalanya hanya mengatakan, "Pergilah. "


Renata yang diusir pergi segera berdiri dan meninggalkan Aula Kegelapan. Wajah cantiknya memerah antara takut dan kagum kepada Tuannya. Renata adalah pengagum rahasia Nalendra tapi Renata sadar diri dia tidak mungkin bisa bersanding dengan Tuan Nalendra tapi melihat Tuan Nalendra memperlakukan gadis itu dengan sangat baik entah mengapa hatinya merasa sangat kesal dan marah. Itu sangat aneh Tuannya tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, membunuh gadis itu perkara mudah tapi Tuannya tidak melukainya seujung jaripun. Renata sedikit iri dan cemburu. Gadis itu memang sangat cantik matanya besar dan bulat wajahnya seperti dewi yang turun dari surga tapi kelakuanya berbanding terbalik dari wajah cantiknya. Sangat berbeda.....

__ADS_1


__ADS_2