
Bunglon adalah julukan Pandu bukan hanya pandai menyamar tetapi pemuda ini juga bisa memanipulasi pikiran dan mengambil kenangan seseorang. Dia bisa merubah dan membentuk kenangan baru sesuai dengan jalan cerita yang dia inginkan. Keahlian Pandu sangatlah langka hanya segelintir orang yang bisa melakukan hal tersebut. Tak terkecuali dengan Eleena kenangan masa kecilnya sudah dimanipulasi oleh Pandu jadi untuk membuat Eleena semakin yakin dia berubah menjadi orang terdekatnya.
Pandu terkekeh pelan, dia menatap mata dingin Nalendra yang sedingin es.
"Tuan, lama tidak bertemu. Aku hanya ingin menemui perempuan ini sekali lagi. "
Nalendra menatap tajam Pandu, wajahnya tampannya yang mempesona sedikit memerah karena amarah.
"Apa maksudmu?"
Pandu tersenyum lebar. Dia merubah penampilannya dengan cepat dan berubah menjadi kakek tua berusia 60 tahunan.
"Apa kamu mengingatku Eleena, cucuku yang tersayang?"
Eleena membelalakkan matanya, tangan kanannya menggosok kedua matanya dengan kasar. Pemandangan di depannya tidak bisa membuat Eleena berkata-kata lagi. Orang yang gadis itu pikir sudah mati sedang berdiri dihadapannya dengan angkuh. Dia adalah orang yang menyelamatkannya dua tahun lalu dan membawanya pulang ke Dermaga Berbintang. Eleena membeku sejenak namun kemudian tersadar.
"Jadi kamu adalah Pandu pantas saja Bulan berdarah membantai Desa Dermaga Berbintang. Itu semua karena kamu telah menipu kami. "
Pandu tertawa keras melihat betapa frustasi nya gadis cantik di depannya. Pandu lantas berhenti tertawa dan menatap Eleena dengan ekspresi merendahkan.
"Benar, aku adalah kakekmu Eleena. Aku adalah orang yang menyelamatkanmu waktu itu dan membawamu pulang. Lama tidak berjumpa Eleena aku sangat merindukanmu. "
Di dahi Eleena muncul urat biru tetapi pada akhirnya, giginya masih terkatup untuk bertahan.
"Berhenti omong kosong dan katakan apa sebenarnya tujuanmu dan kenapa kamu melakukan ini semua dengan susah payah?"
Pandu merenung sejenak lalu berkata dengan ringan. Saking ringannya perkataan Pandu Eleena rasanya ingin mencekik leher pemuda sialan ini.
"Hanya untuk bersenang-senang saja, lagipula waktu itu aku belum tahu jika kamu adalah pemilik tubuh istimewa jika tahu begitu aku tidak akan meninggalkanmu dan menjual tubuhmu dengan harga yang sangat tinggi. "
Hati Nalendra semakin pahit dan hampir tersedak oleh emosi tetapi ekspresinya masih sangat tenang dan tenang, dia ingin langsung membunuh penghianat ini dengan mengenaskan tetapi sepertinya ia harus bersabar sebentar.
Eleena ingin membuka mulutnya lagi tetapi Nalendra memberi tanda Eleena untuk diam sejenak. Eleena menganggukkan kepala dan sedikit mundur kebelakang.
Nalendra melipat tangan di dada dengan arogan lalu bertanya dengan cepat.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?"
Pandu merubah dirinya menjadi seorang pemuda tampan berusia 20 tahunan, terdapat ornamen aneh seperti tulisan kuno diantara kedua alisnya, sebelah matanya buta. Dia tersenyum licik.
"Orang Kerajaan Akasia, aku tidak tahu namanya, aku hanya menjual jasa dan dia membeli jasaku dan aku melakukan permintaannya bukankah itu pertukaran yang sangat bagus? tetapi sepertinya dia orang yang berpengaruh di Kerajaan Akasia.
__ADS_1
"Kerajaan Akasia?" Nalendra mengambil dua kata untuk diulang dan nadanya mengejek. Nalendra diam sebentar kemudian mendengar situasi yang lucu tertawa terbahak-bahak.
"Benar, apa kamu bisa membiarkan aku pergi, aku sudah mengatakan semuanya dan aku tidak punya niat buruk terhadap kekasihmu. Lihatlah sendiri bukankah dia masih utuh dan hidup, apa kamu harus seperti ini?"
Nalendra menggertak giginya dan memutar bola matanya malas.
"Ingin pergi begitu saja, apa kau meremehkan Raja ini, Raja ini tidak akan melepaskanmu begitu saja. "
Nalendra melanjutkan
"Bawa penghianat ini ke Istana Kegelapan, awasi dia 24 jam dan jangan beri dia makanan selama seminggu. "
Pandu menghela nafas kasar.
"Bunuh saja aku, aku tidak takut mati, lagipula aku sudah tidak menginginkan atau menyesali apapun lagi. Mungkin sudah saatnya aku istirahat dengan tenang. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Mahesa akan datang menemuimu berhati-hatilah. "
Mata Nalendra menjadi dingin. Pandu melirik Nalendra sekilas. Pandangan matanya dipenuhi hawa permusuhan tersembunyi menyebabkan Pandu mundur selangkah ke belakang tetapi ia tidak bergerak sedikit hanya menatapnya dengan datar dan menunggu perkataanya. Bagaimana juga Pandu sedikit takut ketika melihat ekspresi mengerikan terpasang di wajah pemuda itu.
Namun Nalendra merajut alis dan berkata enteng.
"Membunuhmu adalah hal mudah kamu tidak berhak mati dengan mudah. Kau harus merasakan rasa sakit tak berujung setelah kau mencapai batasnya Raja ini akan membantumu untuk mengakhirinya. Jika Mahesa datang untuk mencari Raja ini biarkan saja lagipula Raja ini sudah lama tidak bertemu dengan Mahesa. Raja ini akan menyambutnya dengan sangat baik. "
Eleena mengerutkan alis, ingin bertanya tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Dia akan bertanya nanti jika sudah sampai di Istana Kegelapan.
"Ayo kita pulang. "
Eleena melengkungkan bibir dan menerima uluran tangan Nalendra dalam sekejap mata dia sudah berada di Aula Istana Kegelapan. Eleena menghela nafas lega dia pikir dia akan mati. Untung saja pemuda ini datang tepat waktu Eleena masih bingung dengan situasi tadi tapi kemudian ia berjalan menuju kamarnya mungkin dengan tidur rasa lelah dan penat akan hilang dengan sendirinya.
Tetapi Nalendra menahan tangan Eleena. Eleena berhenti seketika dan menatap mata dingin Nalendra dengan bingung.
"Ingin pergi kemana?"
Eleena mengerjabkan mata dan menghela nafas.
"Tidur, aku ingin tidur terlalu banyak pikiran. "
Nalendra melepaskan tangan dan menatap wajah cantik gadis itu.
"Ingin tidur lagi, kau bahkan belum makan seharian. Makanlah terlebih dahulu. "
Eleena menggelengkan kepala, dia merajuk seperti anak kecil.
__ADS_1
"Aku tidak lapar bisakah aku pergi tidur saja. Jika tidak aku pasti mati berdiri. "
Nalendra tertawa renyah, setelah dia mengalami peristiwa mengerikan seperti ini Eleena masih begitu tenang bahkan ia tidak takut sama sekali. Dia benar-benar gadis yang sangat aneh.
"Berhentilah merajuk, kau belum makan selama seharian apa kamu tidak memikirkan dia, dia pasti sudah lapar. "Nalendra menunjuk perut Eleena ragu-ragu. Seolah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Nalendra Eleena tertawa pelan lalu mengusap perutnya pelan.
"Kamu benar. Baiklah aku akan makan di kamar saja aku sudah tidak punya tenaga untuk berjalan terlalu jauh lagi. "
Secara tiba-tiba Nalendra menggendong Eleena dipelukannya.
"Bagaimana jika begini?" Eleena yang dikejutkan oleh gerakan tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget kemudian ia tertawa keras.
"Kamu mengagetkanku saja. Berhentilah bermain-main, aku bisa berjalan sendiri. "
Nalendra tersenyum,
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sekarang jadilah gadis yang patuh dan makan bersamaku. "
Eleena menjawab, dengan wajah yang bersemu merah
"Baik, aku akan menemanimu makan tetapi lepaskan aku dulu. "
Nalendra tertawa kecil dan berkata lembut.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu anggap saja ini permintaan maafku kepadamu karena kemarin telah membuatmu marah. Sungguh aku tidak tahu harus melakukan apa kemarin aku sangat panik. "
Eleena tersenyum lembut dan mengeratkan pelukan.
"Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu hanya saja melihat ekspresi cemberut di wajah dinginmu adalah sesuatu yang langka. Aku hanya ingin menggodamu. "
Alis Nalendra bergerak. Suaranya sedikit mengancam.
"Eleena aku tidak ingin kau melakukan itu lagi, menggodaku membuat nyawa semua orang dalam bahaya apa kau ingin aku membunuh mereka semua karena tindakan isengmu itu?"
Eleena menatap mata Nalendra yang samar-samar bersinar.
"Tidak, jangan lakukan itu aku tidak ingin melihat Istana Kegelapan yang megah ini menjadi lautan berdarah. Aku tidak akan melakukannya lagi. "
Nalendra tertawa keras mendengarkan perkataan Eleena.
"Jika ingin menggodaku lakukanlah di kamar maka aku akan senang menerimanya. Bagaimana?"
__ADS_1
Eleena tidak tahu harus menjawab apa lagi dia hanya tersenyum dan tertawa pelan. Wajahnya yang sudah merah semakin merah karena malu. Tetapi kemudian dia menjawab dengan cepat.
"Berhentilah menggodaku. "