
Eleena menarik tangan Pandu dan Guntur untuk memasuki ruangan, Nalendra menatap kedua pemuda menjengkelkan itu dengan tatapan garang seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Nalendra duduk di kursi kayu berwarna coklat dengan angkuh. Eleena duduk di samping Nalendra dengan tenang seolah iblis itu tidak menakutkan sama sekali. Pengurus kamar masuk secara perlahan untuk melayani tamu didalam kamar ini, ketika dia masuk ruangan didalamnya sangat hening dan tegang, pelayan itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meletakkan secangkir teh di atas meja. Eleena membuka mulutnya.
"Terimakasih kakak. "
Pelayan itu merasa canggung dipanggil kakak, dia melihat pemuda di samping gadis itu sedang menatapnya tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup. Merasa ditatap tajam pemuda itu menjawab cepat dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Baik nona jika ada yang diperlukan lagi nona bisa memanggil saya. "
Eleena tersenyum dan mengangguk mengerti, pelayan itu pergi meninggalkan ruangan yang mengerikan itu dengan cepat dia berharap gadis itu tidak memanggilnya lagi dan segera pergi dari tempat ini.
Bayu dan Guntur masih berdiri kaku seperti patung, mereka segera menghadap Tuannya dengan ragu-ragu.
"Tuan Wayan sudah mati, tadi pagi hamba menemukan mayatnya didekat sungai sepertinya dia sudah mati dari tadi malam.
Kepalanya sudah terpenggal, tapi yang anehnya mayat itu tangan satunya adalah tangan buatan, sepertinya sebelumnya tangan Wayan sudah dipotong sedemikian rupa. "Kata Guntur bibirnya bergetar
Eleena terkejut,
Nalendra melihat ekspresi terkejut di wajah Eleena, ekspresi itu berlangsung sekejap kemudian berubah menjadi kebingungan, dia tahu bahwa pria misterius yang telah membantai desanya adalah Wayan.
Nalendra mengangguk mengerti dia tidak bodoh dia sudah tahu jika Wayanlah yang membantai orang didesa Eleena, dia tahu semenjak Renata kembali dari Sarang Bulan Berdarah tanpa masalah dan kendala apapun itu karena Wayan mengenal Renata dan Nawang dengan baik, dia sengaja membebaskanya mereka untuk menyusun rencana lain dan rencana lain itu adalah Mayat yang dikendalikan, rencana itu hampir berhasil melukai Eleena. Tapi Nalendra tidak tahu kenapa Wayan mengincar Eleena karena kalau mengincar Giok Kematian yang bersemayan ditubuh Eleena itu tidak mungkin karena yang tahu keberadaan Giok tersebut hanya Guntur dan Banyu. Jadi yang dia inginkan adalah Eleena.
Eleena sangat marah dia tidak mengenal Wayan tapi kenapa Wayan membunuh orang didesanya. Itu sangatlah aneh, tanpa sadar Eleena sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Dia sangat membenci pria itu berharap suatu hari dialah yang membunuh pria misterius itu dengan tanganya sendiri tapi semuanya sia-sia dia sudah mati.
Seolah teringat dengan perkataan Guntur bahwa tangan Wayan adalah tangan buatan. Banyu kemudian bertanya kepada Guntur.
"Apa tangan itu terbuat dari kulit buatan tapi tulangnya asli. "
Guntur menjawab cepat,
"Benar, "
Banyu tercengang, sepertinya dia telah menyelidiki hal yang menakjubkan.
"Tuan, menurut hamba mayat yang dikendalikan itu adalah perbuatan Wayan melihat karateristiknya itu sangat sama dengan ratusan mayat yang dikendalikan, mereka bukanlah mayat melainkan boneka yang dikendalikan oleh sihir kuno. "Kata Banyu.
Orang yang berada di dalam ruangan saling bertatapan satu sama lain mereka terkejut dengan cara yang sama. Eleena merasa ada satu hal yang aneh dan terlupakan, dia melompat dari kursi.
"Kalian pernah bilang bahwa Wayan adalah salah satu dari ketiga pemimpin Bulan Berdarah bukan. "
__ADS_1
Nalendra yang mendengar hal tersebut merenung sejenak, kemudian memiringkan kepalanya ke arah Eleena.
"Benar, jadi kau juga berpikir bahwa Pandu lah yang telah membunuh Wayan. "
Eleena menganggukan kepala,
"Sekarang semuanya semakin jelas dan jelas, Wayan lah yang telah mengendalikan boneka itu dia berencana untuk membunuhnya tapi tidak berhasil, Pandu dan Hans bersekongkol untuk membunuh Wayan. "
Nalendra mengedarkan pandangan ke atas dan kesamping seolah dia membayangkanya kembali. Merangkai semua kejadian satu persatu. Tapi ketika Wayan pergi ke Dermaga Berbintang untuk menangkap Pandu itu juga menjadi jalan yang buntu di kepalanya. Jadi siapa Pandu sebenarnya kenapa dia berada di Dermaga Berbintang?
"Mata Pandu salah satunya buta apa kau mengenalnya. "tanya Nalendra.
Eleena mengingat satu persatu orang yang tinggal didesanya, tapi setelah berpikir keras tetap saja tidak ada orang didesanya yang satu matanya buta, dia hanya menggelengkan kepalanya frustasi.
"Tidak ada, benar-benar tidak ada yang matanya buta. "
Banyu dan Guntur saling bertatapan seolah ada hal menarik yang dia lupakan,
"Apa mungkin Pandu menyamar menjadi seseorang yang ada didesa itu. "tanya Guntur.
"Benar, dia mungkin menyamar dengan menggunakan mantra kuno. "Kata Banyu lantang.
Nalendra dan Eleena menatap Banyu secara bergantian kini semuanya tahu bahwa Pandu telah menyamar menjadi salah satu orang di desanya, Kenapa dia melakukan itu?pantas saja Wayan membantai orang di desanya itu karena Pandu yang telah menyebabkan hal tersebut.
Nalendra menatap rumit Eleena seolah dia tahu dengan apa yang gadis itu pikirkan, jadi semua ini adalah konspirasi Pandu yang telah menyamar sebagai orang terdekatnya. Penghianat itu harus segera ditangkap kalau tidak dia akan menimbulkan banyak masalah yang merepotkan. Dia tidak bisa kembali ke Istana Kegelapan untuk sementara waktu dia harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Nalendra sangat marah dia menatap tajam kearah Banyu dan Guntur.
"Cari Pandu entah dia hidup atau mati seret orang itu kehadapan ku jangan kembali jika kalian belum menemukan Pandu jika dia memberontak potong kedua kakinya. "
"Baik. "
Banyu dan Guntur lekas pergi meninggalkan pasangan itu untuk mencari Pandu. Mereka berjalan dengan setengah berlari. Dia sangat takut rasanya jantungnya seakan keluar dari tenggorokannya. Aura membunuh yang teramat kental memenuhi ruangan itu mereka tidak berani berbalik jika mereka berbalik mungkin jiwa mereka telah terlepas dari raganya hal itu sangat mungkin terjadi mengingat Tuannya sangat sangat mengerikan saat marah seolah dia ingin memakan orang hidup-hidup, membuat mereka bergidik ngeri. Tuannya saat marah atau tidak marah sudah sangat mengerikan tapi jika dia marah hal itu bertambah mengerikan berkali kali lipat.
Nalendra menatap Eleena yang sedang menundukkan kepala, dia tahu gadis itu telah menahan emosinya sedemikian rupa. Nalendra berdiri mendekat kearah gadis itu dan berkata pelan,
"Menangislah jika kau ingin menangis. "
Eleena mengangkat dagunya untuk menatap Nalendra,
"Aku tidak apa-apa. "
__ADS_1
"Benarkah?"tanya Nalendra.
"Benar, ayo kita segera bersiap menuju Dermaga Berbintang mungkin di sana ada petunjuk. "
Nalendra tidak berbicara dia hanya menganggukan kepalanya itu memang sudah ciri khasnya, Nalendra adalah pria yang tidak banyak berbicara, dingin dan acuh tak acuh dia sejenis pria yang langsung bertindak daripada banyak berbicara. Dia bersyukur bertemu dengan Nalendra. Dia memang pria kejam yang tidak punya hati tapi ketika Eleena mendapat masalah orang itu akan selalu ada dibelakangnya merengkuhnya dan memeluknya. Eleena mengejek dirinya sendiri setelah dia kabur dari rumah tidak ada orang yang memedulikannya sedemikian rupa, dia ingat tatapan ayahnya yang kecewa dan tidak percaya padanya tatapan itu selalu iya ingat selama hidupnya. Orang terdekatnya yang dia percayai sudah pergi satu persatu. Sejenak dia teringat dengan Briyan, Briyan dulu adalah orang yang selalu ada untuknya tapi sekarang dia juga telah meninggalkan Eleena. Briyan pernah berjanji jika Eleena pergi dia akan mencarinya tapi janji itu hanya omong kosong saja, dia berharap tidak akan bertemu pria itu lagi. Masa lalu adalah masa lalu. Eleena ingin Briyan menjalani hidup dengan bahagia tanpa perlu repot-repot mencarinya.
Gadis itu telah berganti pakaian berwarna merah muda, rambut panjangnya dibiarkan terurai, aroma khas bunga gardenia ditubuhnya menerpa hidungnya, dia sangat cantik, Pakaian merah mudanya mengingatkannya dengan pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Saat dia terjatuh dari tebing ratusan kaki dia seperti kupu-kupu yang terbang bebas.
Eleena berpamitan kepada pemilik penginapan dan menyelipkan beberapa koin tembaga ditangan pemilik penginapan.
"Terimakasih telah mengurus kami dengan baik selama beberapa hari ini, makanan di tempat bibi sangat enak. "
Pemilik penginapan tersenyum lebar, dia menerima koin itu dan memasukan kedalam laci penyimpanan,
"Mampirlah lagi lain kali, semoga perjalanan kalian menyenangkan, apa dia suamimu?"
Eleena tersipu malu,
Pemilik penginapan berbisik pelan ditelinga Eleena,
"Dia sangat tampan, tapi sepertinya dia bukan orang yang baik, apa dia baik kepadamu? "
Eleena tertawa pelan,
"Dia memang seperti itu bibi tapi dia sangat baik. "
"Baiklah, aku berdoa semoga kalian hidup bahagia selamanya, oh ya ini ada sedikit makanan untukmu, ini akan cukup sampai malam kau tidak akan kelaparan. "Kata Bibi Dong sambil menyodorkan kotak makanan kepada Eleena."
Nalendra yang berdiri di depan pintu menatap galak pemilik penginapan. Tatapan matanya setajam belati, Melihat hal tersebut bibi itu segera menyuruh Eleena pergi,
"Pergilah, dia sepertinya menyuruhmu untuk segera pergi, kalau kau tidak segera pergi mungkin dia akan membunuhku. "
Eleena menerima kotak makanan itu dan tersenyum lebar,
"Terimakasih bibi, Eleena pamit dulu. "
Eleena sangat senang bibi dong sangat baik kepada Eleena jadi jika dia tidak berpamitan itu akan terlihat tidak sopan.
Matahari telah terbit dari ufuk timur, kicauan burung terdengar merdu di telinga.
__ADS_1
Di pagi yang cerah Eleena dan Nalendra melanjutkan perjalananya.
Terimakasih untuk orang yang telah membaca novel saya jangan lupa vote nya peluk dan cium dari saya 😘😘😘