
Menjelang pernikahan yang hanya menghitung hari Eleena yang berencana melarikan diri tidak bisa kabur. Sudah beberapa hari gadis itu menjadi tahanan rumah yang di awasi selama 24 jam. Para penjaga mengawasi Eleena dengan ketat seolah mata mereka menempel di seluruh tubuhnya. Pemuda itu sudah gila dia tidak menyangka pernikahan akan di laksanakan tiga hari lagi.
Eleena menggigit kuku resah, sesekali dia mondar-mandir di dalam kamar seperti orang bodoh. Gadis itu berpikir sangat keras bagaimana cara untuk kabur tetapi semua tidak berguna. Tidak ada jalan keluar jalan yang ia miliki satu-satunya adalah menikah dengan Briyan.
Gadis itu menghentakkan kaki dan tangan kesal. Eleena mengusap perutnya pelan dan berkata lirih pada dirinya sendiri.
"Maafkan mama, mama akan mencari cara untuk kabur bersabarlah sebentar. Anak mama anak yang baik. "
Sarah datang memasuki ruangan membawa makanan dan minuman. Eleena yang sudah menunggu kedatangan Sarah melompat kegirangan. Di dalam ruangan ini beberapa pelayan melayani dengan sepenuh hati, mereka adalah orang yang bisa menghibur dan menghilangkan kebosanan Eleena.
Sarah meletakkan makanan perlahan di atas meja lalu menuangkan secangkir teh chamomile kesukaan gadis itu dengan hati-hati.
Eleena Mendekat ke arah Sarah dan menarik kursi di sampingnya. Sarah mencoba makanan itu terlebih dahulu, merasa makanan aman dan baik-baik saja Eleena dengan tidak sabar mengambil piring dan melayani dirinya sendiri. Sarah ingin melayani nona Eleena dengan baik, tetapi gadis ini menolak mentah-mentah dan lebih senang melayani dirinya sendiri.
Eleena menawarkan makanan kepada Sarah dengan lembut dan ramah.
"Sarah makanlah bersamaku, aku tidak bisa menghabiskan semua ini. "
Sarah menolak dengan sopan.
"Terimakasih nona Eleena, tetapi pelayan rendahan ini tidak lapar. "
Eleena menurunkan sudut bibirnya, hari ini dia tidak ingin makan sendiri. Kemudian gadis itu mengambil piring lain, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lalu meletakan piring di depan Sarah.
"Aku tidak peduli sekarang aku ingin kamu makan denganku. "
Sarah terperangah. Kagum dengan ketulusan dan kebaikan gadis itu. Sarah menatap piring itu sepintas lalu menatap wajah cantik di depannya dan berkata sungkan.
"Tapi nona, pelayan rendahan ini tidak sepantasnya makan bersama dengan nona Eleena. Nona terlalu baik. "
Eleena mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum lembut,
"Tidak usah sungkan. Aku bahagia bisa makan denganmu, lagipula makanan ini terlalu banyak. Sayang sekali jika tidak di habiskan. "
Pelayan tersenyum manis, ekspresi wajahnya dipenuhi dengan kegembiraan. Nona Eleena adalah orang yang baik hatinya, dia tidak merasa jijik dan terganggu dengan kehadiran Sarah, justru dia begitu senang dan bahagia. Pelayan mengambil piring ragu-ragu.
"Terimakasih nona Eleena. "
Eleena masih berkutat dengan makanan di depannya. Dia menatap Sarah sekilas dan melengkungkan bibirnya.
"Tidak masalah makanlah dengan pelan dan ayo kita habiskan semuanya. "
"Baik nona. "
Sarah tersenyum lebar, memasukkan makanan ke dalam mulut ragu-ragu.
Eleena tersenyum lebar lalu memasukkan makanan ke dalam mulut dan menyesap teh chamomile dengan pelan.
Setelah makan Sarah membantu Eleena untuk membersihkan diri. Eleena mandi air hangat dengan tenang. Dia merasa ototnya yang mengencang mulai melemas. Gadis itu menggenggam kalung berbentuk lingkaran dan berwarna merah yang dikenakan.
__ADS_1
Gadis itu Mengerucutkan bibir dan tersenyum muram pada kalung yang menggantung di leher cantiknya.
"Nalendra maafkan aku. aku berharap kamu baik-baik saja. "
Dia meneteskan air mata. Hatinya sakit dan sesak, di ruangan tak berujung seorang pemuda berpakaian hitam mendekat kepadanya. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan yang sangat mengerikan.
"Kau berani menghianati Raja ini, tidak tahu malu dan tidak tahu diri kau pikir kamu bisa menikah tanpa persetujuan Raja ini?!"
Eleena mencoba meraih tangan pemuda itu tetapi pemuda itu menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Tidak! Aku tidak ingin menghianati mu Nalendra. Maafkan aku...aku hanya mencintaimu Nalendra. Jangan pergi aku mohon. "
Nalendra bertolak pinggang dan berjalan semakin jauh. Eleena mencoba menggapai bayangan itu dengan cepat, dia tidak ingin kehilangan Nalendra. Namun, pemuda itu mengabaikannya.
"Pergilah! Raja ini tidak menginginkanmu lagi. Jangan kemari lagi Raja ini tidak ingin bertemu dan melihatmu lagi. Kau bukan milikku lagi! "
Mendengar itu dia tidak bisa menahan air matanya. Eleena menangis tersedu-sedu dia tidak menginginkan hal ini terjadi.
"Tidak! Jangan pergi Nalendra. "
Pemuda itu menghilang meninggalkan Eleena yang sedang menangis tanpa belas kasih. Lalu pemuda tampan berlesung pipi mendatangi gadis itu dan memeluknya erat.
"Ada aku jangan takut, aku akan selalu ada untukmu selamanya. "
Pemuda itu mengusap punggungnya dengan pelan. Sentuhan tangan lembut pemuda itu menenangkan gadis itu. Pemuda itu melepas pelukannya dan mengusap pipinya lembut.
Namun, tiba-tiba pemuda itu kepalanya putus seolah seperti layangan yang terputus. Tempat yang semula dramatis berubah menjadi tempat yang mengerikan. Eleena berteriak histeris melihat kejadian yang mengerikan di depan matanya.
"TIDAKK! JANGAN BUNUH DIA. "
Nalendra menyeringai dan tertawa mengerikan.
"Raja ini sudah bilang jika kamu berani macam-macam Raja ini akan membunuh orang itu dengan cara mengenaskan di hadapanmu. "
Nalendra mendekat ke arahnya dan berbisik pelan di telinganya. Suaranya dalam dan mengerikan.
"Kau harus ingat kamu adalah milikku, jangan lupakan itu Eleena. "
Eleena melebarkan matanya, tubuhnya terkulai lemas dia duduk di sebelah mayat Briyan dan menangis tersedu-sedu.
"TIDAKK BRIYAN! JANGAN PERGI. "
Gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh yang sudah tidak bernyawa. Dadanya sesak dia tidak bisa bernafas dengan baik.
"TIDAK! HENTIKAN AKU MOHON! INI TIDAK LUCU SAMA SEKALI! "
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak lalu berhenti, suaranya di penuhi dengan amarah.
"Kau memang gadis yang egois. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Jangan harap Raja ini akan melepaskanmu Eleena. "
__ADS_1
Tempat tak berujung berubah menjadi sebuah Istana Kerajaan yang sangat ramai, banyak orang yang berlalu lalang di jalanan yang lengang. Mereka tertawa dengan bahagia seolah tidak ada masalah sama sekali di hidupnya.
Nalendra berdiri di antara lautan manusia. Eleena berteriak dengan keras dan lantang.
"PERGI! SEMUA PERGI DARI SINI! DIA AKAN MEMBUNUHMU! "
Namun, lautan manusia hanya mengabaikan perkataan gadis itu dan tetap berjalan seperti biasa dengan santai dan tenang. Benar saja tidak membutuhkan waktu lama pemuda itu sudah membunuh semua orang dengan kejam dan mengenaskan. Mayat itu bergelimpangan memenuhi jalanan, darah yang masih hangat mengalir deras seperti sungai di bawah kakinya.
Eleena tercengang matanya membelalak sempurna.
"TIDAKK! TIDAKK! HENTIKAN AKU MOHON. "
Nalendra tertawa keras wajahnya di penuhi darah dia menatap gadis itu tajam dan mendekat ke arahnya secepat kilat.
"Lihat, ini semua karena kamu! Kamu yang membuatnya menjadi sulit. Bagaimana bukankah ini pemandangan yang sangat cantik?"
"KAMU GILA AKU TIDAK MENYANGKA KAMU AKAN MEMBUNUH MEREKA SEMUA, KAMU GILA NALENDRA. "
Sang iblis tertawa keras kemudian pemandangan mengerikan itu pecah berkeping-keping. Di depannya seorang gadis cantik berambut putih tersenyum lebar padanya dia berbicara pelan.
"Bagaimana apakah itu terlihat sangat mengerikan?"
Eleena mengerutkan dahinya dan berbicara keras.
"Kamu, kenapa kamu datang lagi apa yang kamu inginkan sebenarnya hentikan semuanya. Ini tidak lucu sama sekali. "
Wanita berambut putih tertawa terbahak-bahak.
"Aku datang untuk menjemputmu. Aku ingin kamu mati. "
Eleena menjawab yakin.
"Aku tidak akan ikut denganmu. Jangan mimpi! "
Wanita berambut putih melengkungkan bibir merah cantiknya.
"Apa kamu bodoh? Nalendra telah meninggalkanmu dan membuangmu, dia tidak mencintaimu Eleena sadarlah jangan bodoh. Jika dia mencintaimu dia akan menjemputmu tapi apa dia tidak datang kepadamu. Sadarlah buka matamu jangan di butakan olehnya. Dia menipumu, dia membohongimu. "
Eleena menatap gadis itu marah.
"Keluarkan aku dari sini, aku tidak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong. Aku sudah tahu siapa kamu, hentikan semua pertunjukan konyol ini. "
Wanita itu tertawa keras dia menatap wajah yang sama dengan dirinya. Dia sangat membenci wanita ini. Di dunia hanya ada satu Eleena yaitu dirinya, dia tidak akan membiarkan wanita ini menang darinya. Wanita berambut putih berkata lantang dan keras suaranya mengerikan.
"Kamu sangat sombong dan angkuh Eleena! Sekarang berikan tubuh itu kepadaku! Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari tempat ini kecuali kamu mati. "
Wanita berambut putih mengeluarkan cambuk dari belakang punggung. Cambuk diarahkan kepada gadis di depannya, Eleena menghindari cambuk dengan cepat, wanita berambut putih muncul secara tiba-tiba di belakang gadis itu. Eleena membelalakkan mata dan memutar tubuh, dia tidak bisa menghindari cambuk yang sebentar lagi akan melukainya. Gadis itu menutupi wajahnya menggunakan kedua lengan.
Cambuk membelah udara dan mengenai gadis itu tetapi tubuh Eleena tiba-tiba di selimuti cahaya aneh berwarna kemerahan. Cambuk memantul dan terlempar jauh. Wanita berambut putih terkejut. Wajahnya yang cantik berubah menjadi sangat jelek.
__ADS_1
Eleena melebarkan mata cahaya itu berasal dari kalung merah yang tergantung di lehernya. Wanita berambut putih sangat marah lalu ia memaki dan mengumpat.
"Sialan! Itu adalah darah dari jantung Raja Iblis. "