
Nalendra pergi, Eleena yang mengetahui
pemuda itu pergi merasa lega dan bersyukur. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan pemuda itu jadi untuk sesaat dia merasa santai dan tenang. Banyu dan Guntur telah menunggu Eleena di pintu utama. Dermaga Berbintang sangat jauh dari Istana Kegelapan jadi mungkin dia akan sampai ke daerah itu selama setengah bulan. Setengah bulan lebih dari cukup untuk menghapus kecanggungan antara Eleena dan Nalendra.
Banyu dan Guntur berjalan beriringan bersama Eleena. Dia melewati hutan rimbun dan kehijauan, pohon-pohon tinggi menjulang ke atas, kicauan burung terdengar merdu di telinganya. Sesekali Eleena mengeluh dia sudah berjalan berkilo-kilo meter namun dia selalu berputar-putar di tempat yang sama.
"Banyu..Guntur bukankah ini sangat aneh kita bahkan sudah berjalan sampai sore hari tapi hutan ini seperti tak berujung. "Kata Eleena kesal.
Guntur yang juga merasakan keanehan di hutan ini berkata,
"Benar, Nona Eleena sepertinya ada yang aneh di hutan ini. Banyu jaga nona Eleena dengan baik tetap waspada jangan sampai lengah, aku akan melihat hutan ini dari atas . Hutan ini seperti labirin berhati-hatilah. " Guntur pergi meninggalkan mereka dan berlari ke dalam hutan.
Banyu yang melihat Eleena tersengal-sengal karena kecapekan segera menyuruh Eleena untuk beristirahat sejenak.
"Preman pasar, mari kita istirahat sejenak. "
Eleena yang kecapekan, langsung duduk sembarangan dibawah pohon besar, Eleena tidak peduli jika pakaian putihnya kotor. Banyu mencari kayu bakar disekitar dan membuat api unggun dengan sihirnya api itu menyala dalam sekejap mata.
Seketika itu juga kabut yang teramat tebal meyelimuti hutan ini, Banyu yang melihat kabut tebal yang datang secara tiba-tiba segera mendekat ke arah Eleena. Eleena yang merasa ada sesuatu langsung berdiri dibelakang Banyu. Terdengar suara perempuan yang cekikian dari arah lain. Suara itu sangat jelas terdengar ditelinga mereka, suara itu semakin mendekat dan mendekat. Eleena tidak menurunkan kewaspadaannya dia menajamkan telinganya dan berteriak lantang.
"Siapa kau?tunjukan dirimu. Aku tidak takut denganmu. "
Mendengar itu perempuan itu semakin tertawa cekikikan. Dia mendengarnya seperti lelucon, suara itu semakin dekat dan dekat menggema di seluruh hutan.
Dari samping Eleena munculah dua orang pemuda yang berpakaian hijau muda dan memakai topeng berwarna perak, dipunggungnya ada pedang berbilah satu, didepan dua pemuda yang memakai topeng, ada anak kecil berpakaian merah,dia seperti peri kecil, anak kecil itu tertawa cekikikan dia berusia sekitar sepuluh tahunan, matanya besar, pipinya bulat khas anak kecil yang memiliki lemak berlebih di wajah. Dia sangat lucu dan imut.
"Anak kecil apa kau tersesat?tanya Eleena lembut. Eleena berpikir anak ini mungkin diculik oleh dua pemuda bertopeng perak itu.
Anak kecil berpakaian merah itu menatap Eleena tidak suka, dia tidak suka jika dia dipanggil anak kecil, karena usianya sudah duapuluh lima tahun dia berbicara dengan cadel.
"Aku bukan anak kecil, panggil aku kakak umulku sudah dua puluh dua tahun, Hanggil aku kakak."
Mendengar itu Eleena tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin anak sekecil ini berusia dua pukul dua tahunan itu tidak mungkin.
"Banyu, lihatlah anak kecil itu sangat menggemaskan. Apa kau percaya jika dia berusia dua puluh dua tahun?"tanya Eleena menyikut lengan Banyu, Banyu yang sadari tadi terdiam untuk mengamati suasana sekitar tersadar dan ikut tertawa terbahak-bahak.
"Itu tidak mungkin, dia bahkan tidak bisa mengucapkan perkataan dengan benar.
Merasa ditertawakan anak kecil itu menjadi sangat marah dia mengangkat tangan memberi tanda kepada dua pemuda itu untuk menyerang gadis dan pemuda tidak tahu diri itu. Merasa terancam Eleena menarik pedangnya, Pemuda berpakaian hijau menyerang Eleena dan satunya menyerang Banyu. Eleena menangkis pedang pemuda itu, pemuda itu mundur selangkah, pemuda itu berlari menghunuskan pedang kearah Eleena, Eleena melompat keatas dia menendang perut pemuda itu dengan kekuatan penuh pemuda yang ditendang terlempar jauh dan terhuyung huyung ke belakang dan pingsan disana. Eleena mendekat kearah pemuda itu, mengambil tali dari kantongnya dan mengikat pemuda itu dengan kencang.
Banyu juga mengikat pemuda yang lainnya dan melempar pemuda itu disebelah pemuda pingsan. Anak itu menatap mereka tidak percaya dia mundur selangkah hendak kabur namun sayangnya dia sudah dihadang oleh pemuda berambut putih. Eleena berjalan kearah anak kecil berpakaian merah itu. Dia menunduk dan mengelus kepala anak itu dengan lembut.
"Katakan, kenapa kau menghalangi kami?Kata Eleena lembut.
Anak kecil itu menatap sekilas pemuda berambut putih, kemudian menatap Eleena dengan mata basahnya,
__ADS_1
"Itu kalena aku ingin melampok kalian. "
Eleena memegang kedua tangan mungil anak kecil itu dengan hati-hati,
"Kenapa, kau ingin merampok kami. "tanya Eleena.
"Itu kalena kami pikir kalian olang jahat kami biasanya melampok oranga jahat desa kami sangat miskin banyak anak-anak dan olang tua yang kelapalan, itu semua kalena wabah yang belkepanjangan yang menimpa desa kami banyak olang yang mati kalena lapar. "
"Dimana desa kalian?"tanya Eleena.
"Desa kami belada di sebelang hutan ini, kemana kalian akan pelgi? "
"Kami akan ke Dermaga berbintang. "Kata Eleena.
Anak kecil itu terkejut,
"Bukankah desa itu sudah tidak ada olangnya, aku mendengal bahwa penduduk desa itu telah dibantai oleh Olganisasi jahat Bulan Berdalah. "
Eleena mengangguk,ada kesedihan di hatinya.
"Benar, mereka sudah mati tapi aku ingin mengunjungi desa itu. "
Anak kecil itu merasa kasihan dia menatap gadis didepannya seolah mengerti apa yang terjadi,
"Baiklah, tapi hali sudah menjelang malam mampirlah ke desa kami untuk belistilahat, tapi aku mohon lepaskan meleka, Meleka tidak salah aku yang salah. "
Anak kecil yang melihat seseorang datang entah dari mana seketika membelalakan matanya, dia tertegun menatap ketampanan mereka.
Anak kecil itu berkata,
"Kami tidak punya banyak makanan, tapi kalena kau baik aku tidak akan melampok kalian. "
Eleena bertanya,
"Siapa namamu?"
"Yuan, panggil aku kakak Yuan badanku memang kecil tapi umulku sudah dua puluh dua tahun. "
Eleena mengamati anak itu dari atas hingga kaki, dia memang tidak seperti anak kecil pada umumnya dia terlihat seperti seorang gadis dengan lekuk tubuh yang ramping.
"Baik kak Yuan, namaku Retta Eleena panggil aku Eleena dan mereka."Kata Eleena menunjuk Banyu dan Guntur.
"Mereka adalah temanku, yang berpakaian putih Banyu dan yang berpakaian hitam Guntur. Kata Eleena pelan.
Yuan mengangguk dan menatap mereka sekilas.
__ADS_1
"Baik adik Eleena, bela diri kalian sangat bagus maafkan atas tindakan kami."
Eleena tersenyum manis,
"Tidak apa-apa kak Yuan, kita berkumpul karena berjodoh. "
Yuan yang melihat Eleena tersenyum berbalik melempar senyum kepada Eleena, Yuan menarik tangan Eleena,
"Baiklah, ikuti aku."
Desa Hijau Hutan Bambu
Desa ini sangat kecil mungkin hanya terdiri dari enam belas kepala keluarga, desa ini seperti pemukiman kumuh banyak sampah berserakan, rumah mereka terbuat dari bambu dan pintunya terbuat dari kain. Eleena berpikir pasti saat hujan dan musim dingin desa ini sangat dingin. Namun penduduk desa ini terlihat sangat tentram dan bahagia. Yuan membawa Eleena ke salah satu rumah yang terbuat dari bambu rumah ini lebih besar dari rumah lainnya.
Yuan memanggil Naya dan Noah, Naya dan Noah adalah adik Yuan usia mereka sekitar sembilan tahunan. Mereka yang dipanggil masuk kedalam rumah.
"Kakak. "Panggil anak kecil laki-laki yang bernama Noah, Noah memakai baju coklat lusuh yang banyak tembelan di bajunya sangat kontras dengan yang dipakai Eleena dan kedua pemuda itu. Pakaian mereka terlihat sangat mewah. Dari belakang seorang anak kecil yang berusia sekitar tuju tahunan memeluk kaki Eleena. Eleena yang merasa di peluk kakinya dia berjongkok untuk menyamai tinggi anak kecil itu dia mengelus kepala Naya dengan sangat lembut. Merasa adiknya tidak sopan Yuan berbicara kepada Naya dengan lembut,
"Jangan mengganggu kakak Eleena. "Kata Yuan menarik lembut Naya. Naya yang tidak mau melepaskan Eleena menangis keras.
Eleena mengangkat Naya dipelukanya, menenangkannya dan berdiri,
"Tidak apa-apa kok kakak Yuan mereka sama sekali tidak menggangguku. "
Yuan merasa tidak enak kepada Eleena tapi dia membiarkan saja.
Banyu dan Guntur yang sedang memapah kedua pemuda itu segera meletakkan mereka di atas tempat tidur tanpa alas.
"Terimakasih. "Kata Yuan lembut.
Banyu dan Guntur hanya mengangguk dia berdiri di samping Eleena.
"Kalian duduklah disini dulu aku akan menyiapkan sesuatu."Kata Yuan sambil membawa Noah pergi bersamanya.
"Baik. "Kata Eleena.
Melihat Yuan sudah pergi. Banyu berbisik kepada Eleena, "Apa kita akan menginap disini?"tanya Banyu memandangi rumah yang berantakan dan sempit ini. Banyu tidak terbiasa tidur di tempat yang antah berantah masih lebih baik dia tidur di bawah pohon dan semak-semak. Guntur yang mendengar Banyu mengatakan hal yang tidak sopan memukul kepalanya dengan keras.
Banyu menengadahkan kepalanya dan memelototi Guntur,
"Kau. "
Guntur yang dipelototi Banyu memalingkan wajah,
"Jangan berlaku tidak sopan. "
__ADS_1
Eleena yang melihat mereka berkelahi hanya menggelengkan kepala, dia melenggang pergi meninggalkan Banyu dan Guntur bersama Naya dipelukannya. Merasa Nonanya pergi dia segera berlari menyusul Nona Eleena mereka takut jika tidak menjaga Eleena dengan baik dia akan dikuliti kulitnya oleh Tuan Nalendra.