Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Pemakaman


__ADS_3

Guntur tidak melepaskan ikatan yang melingkari tubuh Briyan, dia menarik ikatan di tubuh pemuda itu dengan kasar. Lalu mendorong tubuh pemuda itu hingga berlutut. Mereka yang sedang asik bertarung seketika terdiam dan memandangi Briyan dengan tatapan tercengang sekaligus iba. Pakaian putih dan rambutnya yang di kuncir tinggi dengan mahkota emas berantakan. Sebagian badan dan wajahnya dipenuhi luka goresan.


Eleena dan Nalendra berhenti bertarung. Senyuman terpampang di wajah cantik Eleena yang bagaikan peri. Dia tahu bahwa pemuda itu masih hidup, karena Eleena percaya meski Nalendra tidak menyukai pemuda itu dia tidak akan membunuhnya begitu saja.


Bagi Nalendra membunuh mereka adalah perkara mudah tetapi Nalendra tahu jika itu bukan keinginan Eleena. Jadi dia hanya bermain-main sebentar dengan mereka. Lagipula, tubuhnya sudah lama tidak di gerakan. Namun, manusia rendahan dengan angkuh mengancamnya jika tidak ada Eleena di sampingnya mungkin Kerajaan ini sudah rata dengan tanah.


"Aku tahu kamu pasti tidak akan membunuhnya. " Nalendra tersenyum tipis saking tipisnya tidak ada yang tahu kalau pemuda itu tengah tersenyum tetapi Eleena tahu pemuda itu tersenyum.


"Inginnya juga begitu, tetapi mendengar dia melukai milik Raja ini, Raja ini sekarang jadi ingin membunuhnya. "


Eleena menggenggam tangan ramping Nalendra dan mengelus punggung tangan pemuda itu dengan lembut, lalu menggelengkan kepala sedikit.


"Jangan bunuh dia, aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir. "


Nalendra menatap tangan itu sekilas, lalu mengukur tubuh Eleena dari atas sampai bawah. Melihat gadis ini masih baik-baik saja Nalendra mengangguk lalu menarik Eleena ke dalam pelukannya, ia sedikit menunduk, dan berbisik lirih di telinga gadis itu.


"Jika Raja ini tidak membunuhnya apa Raja ini bisa mendapatkan hadiah?"


Eleena menjinjitkan kaki sedikit untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi pemuda itu. Namun, tetap saja tubuh mungilnya tidak mencapai ketinggian pemuda itu, tangannya menekan pundak Nalendra sedikit dan berbisik pelan di telinga pemuda itu dengan susah payah.


"Aku akan memberimu hadiah nanti. "


Nalendra tidak menjawab, dia menurunkan kepala sedikit, menganggukkan kepala dan terkekeh pelan. Dia mengangkat dagu, memalingkan muka dan menatap Briyan dengan tatapan tajam. Tatapan matanya seperti bilah pisau yang sangat tajam.

__ADS_1


Briyan yang melihat pasangan itu sedang bermesraan tersenyum sinis dan mendengus dingin. Briyan tidak mengira jika Iblis itu bisa tersenyum ketika bersama Eleena. Pemandangan yang sangat langka. Ternyata Nalendra sangat baik kepada gadis itu, pantas saja Eleena menyukai sang iblis. Ketika berbicara pada gadis itu pandangan matanya hanya fokus pada Eleena. Seolah gadis itu adalah dunianya. Eleena juga tidak merasa takut sedikitpun ketika bersama pemuda itu dan tatapan matanya sangat berbeda saat gadis itu menatapnya dirinya. Tatapan yang di berikan Eleena kepada Nalendra adalah tatapan seorang gadis kepada seorang pria berbeda dengan tatapan mata Eleena kepada Briyan yang hanya menatapnya seperti seorang kakak. Tanpa sadar Briyan merasa iri melihat kedekatan mereka. Dia sudah kalah.


Permaisuri tertegun kemudian tersadar ketika melihat putranya masih hidup, ia menjatuhkan pedang dengan tangan bergetar hebat. Saat mendengar putranya meninggal. Sebuah keberanian atau kebodohan muncul di hati kecilnya untuk melawan Raja iblis. Ia sangat ceroboh, kecerobohan bisa mangantarkan nyawanya kapanpun.


Permaisuri dan Rachel mendekat ke arah Briyan, membantunya berdiri lalu memeluknya dengan kasih sayang. Dia mengelus pundak pemuda itu lembut. Ekspresi di wajahnya di penuhi dengan kelegaan. Riana bertanya pada pemuda itu dengan cemas dan khawatir,


"Oh astaga! Apa kamu baik-baik saja? Lihatlah tubuhmu dipenuhi dengan luka yang menyedihkan, apa ini sakit?"


Bohong jika luka ini tidak sakit sama sekali, tatapi ketika melihat ibunya sangat khawatir. Briyan mengabaikan rasa sakit dan menjawab dengan tenang disertai dengan senyum yang agak di paksakan tapi membentuk senyum senatural mungkin,


"Jangan khawatir aku baik-baik saja ibu dan ini tidak sakit sama sekali. Semua salah Briyan karena tidak mendengarkan perkataan ibu. Briyan minta maaf. "


Riana menggelengkan kepala dan menatap wajah putranya dengan lembut, jemari rampingnya merapikan rambut panjang dan indah pemuda itu dengan perlahan.


Riana tidak berani melanjutkan ucapannya, dia menangis dalam diam. Dia hanya memeluknya erat-erat. Briyan ini mengelus punggung ibunya tetapi tidak bisa tangannya masih terikat. Dia tidak ingin berbicara pada ibunya lagi karena Briyan tahu jika berbicara ibunya semakin sedih.


Briyan mengingat semua dengan jelas, ia awalnya ingin kembali ke kamar Eleena untuk melihat keadaan gadis itu setelah berpisah dengan ibunya, tetapi ketika dia masuk kedalam kamar. Iblis itu sudah berdiri disana dengan angkuh lalu dalam secepat kilat pemuda itu sudah berada di belakangnya dan memukul tengkuknya dengan kuat dan keras. Ketika Briyan tersadar dia sudah berada di tempat antah berantah dalam posisi tangan dan kaki sudah terikat, Briyan tidak tahu dimana tepatnya karena matanya ditutupi kain dan mulutnya sudah dibungkam dengan sesuatu.


Namun, Briyan mendengar suara langkah kaki kuda, tubuhnya diikatkan pada kuda tersebut lalu kuda itu menariknya dengan keras dan kencang, tubuhnya sebagian terseret di tanah. Menimbulkan goresan yang memenuhi tubuh. Briyan pingsan dan saat terbangun. Ia sudah berada di aula istana. Kejadian itu begitu cepat. Untungnya nyawanya masih selamat tidak tahu mengapa Raja Iblis tidak membunuhnya dan hanya mengerjainya.


Rachel mengelilingi Guntur, terpesona dengan kecantikan pemuda itu. Tanpa sadar dia sudah menutup mulut dengan tangan. Guntur menatap tajam tuan putri yang sedang mengelilingi mereka. Rachel menghentikan kaki dan berdiri di depan pemuda itu dan berkata galak.


"Kamu pria cantik, apa yang kamu lakukan dengan kakakku? Aku ingin kamu melepaskan ikatan itu!"

__ADS_1


Guntur tidak menjawab pertanyaan Rachel dan hanya melemparkan pandangan pada Nalendra yang berdiri jauh darinya untuk memohon ijin. Nalendra seolah mengerti dengan maksud Guntur lantas menganggukkan kepala dan mengiyakan hal tersebut.


Guntur melepaskan ikatan di tubuh pemuda itu dengan cepat. Setelah melepaskan ikatan. Guntur mendekat kearah Damian dan mengajaknya untuk pergi. Damian menganggukkan kepala dan menarik hantu itu seperti menarik seekor anjing. Hantu ganas merintih kesakitan rantai jiwa melukai seluruh tubuh manusia. Luka itu mengerikan dan memenuhi tubuhnya.


Penatua dan Juna tidak bisa kalah terkejut lagi. Wajahnya yang diliputi oleh amarah berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa. Juna lalu mengisyaratkan pasukan yang tersisa untuk mundur dengan tangannya. Para pasukan yang terdiam lantas tersadar dan pergi satu persatu meninggalkan ruangan yang mengerikan ini. Meski tidak ada orang yang mati karena pertarungan yang sengit 98 persen orang terluka parah. Mereka membantu sebagian anggota dan berjalan cepat meninggalkan aula istana.


Ruangan yang panas menjadi sejuk, Seolah salju dari kutub utara mencair di atas kepala dan mendinginkan pikiran. Eleena bahagia karena hari ini mereka semua masih hidup. Dia tidak bisa membayangkan jika pertarungan ini akan berubah menjadi tempat pemakaman.


Nalendra melepas pelukannya dengan lembut, lalu memanggil sesuatu dengan siulan. Tak memerlukan waktu lama anjing berkepala tiga berhenti di depan mereka. Orang yang berdiri di sana membelalakkan mata, Nalendra mendekat ke arah Eleena. dia sedang menatap takjub hewan itu dengan mata yang bersinar.


"Ini, mengapa Carberus ada disini, bukankah kamu membuat mereka semakin takut. "


Nalendra melemparkan pandangan tajam kepada mereka, disana dia melihat ekspresi ketakutan yang tergambar jelas di pupil mata hitam mereka. Tetapi sekali lagi Nalendra tidak peduli.


"Raja ini tidak peduli, pada manusia rendahan seperti mereka. " Nalendra mengulurkan tangan dan berkata.


"Ayo kita pulang. "


Eleena tersenyum dan menerima uluran tangan Nalendra.


Namun, tidak semudah itu Penatua Jang sepertinya telah kehilangan akal sehatnya. Ia sangat membenci Eleena merasa harga diri dan martabatnya sudah hilang sebagai Penatua.


"Bawa Gilang kesini dan bunuh dia di hadapan ****** itu. Aku ingin dia mati hari ini!"

__ADS_1


Senyum yang terpampang di wajah Eleena menghilang, disana ia melihat ayahnya ditarik paksa oleh beberapa prajurit dengan kasar. Prajurit menebas kepala Gilang.


__ADS_2